2 Timotius 1 adalah bagian pertama dari Surat Paulus yang Kedua kepada Timotius dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Digubah oleh rasul Paulus dan ditujukan kepada Timotius.
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus[3]
Ayat 2
Kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.[4]
Ayat 5
Sebab aku teringat akan imanmu ang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.[5]
1) Mereka harus mempertahankannya terhadap serangan sambil menantang gereja jikalau dicobainya mengesampingkan kebenarannya. Tugas ini penting untuk menjamin keselamatan bagi dirinya dan mereka yang dibinanya (lihat 2 Timotius 3:14–16).
2) Memelihara iman yang indah itu harus dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Dialah yang mengilhamkan kebenaran yang tidak dapat bersalah dari Alkitab (lihat 2 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:21) dan Dialah yang membimbing dan membela kebenaran (Yohanes 16:13). Mempertahankan iman yang telah dipercayakan kepada orang-orang kudus (Yudas 1:3) berarti tetap setia berdampingan dengan Roh Kudus (Yohanes 14:17; 15:26–27; 16:13).[8]
Ayat 16-18
Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.[9]
Paulus menyapa "keluarga Onesiforus" (sebagaimana dilakukan Paulus kembali dalam 2 Timotius 4:19, tanpa merujuk pada orang itu sendiri) dan menyebutkan pelayanan-pelayanan setia yang telah ia lakukan, setelah itu Paulus tampaknya berdoa baginya (ayat 18a). Gereja Katolik memandang ayat-ayat ini sebagai implikasi bahwa Onesiforus telah meninggal dunia pada saat itu, karena pandangan ini merupakan "hipotesis yang paling mudah dan paling wajar".[10]
Referensi
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 9794159050.