Zohran Kwame Mamdani adalah seorang politikus asal Amerika Serikat. Ia tergabung dalam Partai Demokrat dan Sosialis Demokrat Amerika. Pada tanggal 5 November 2025, ia menjadi wali kota terpilih Kota New York, dan resmi diangkat sebagai Wali Kota New York ke-112 pada tanggal 1 Januari 2026. Dari tahun 2021 hingga 2025, ia menjabat sebagai perwakilan dari distrik ke-36 Majelis Negara Bagian New York yang terletak di wilayah Queens.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Zohran Mamdani | |
|---|---|
Mamdani pada 2025 | |
| Wali Kota New York ke-112 | |
| Mulai menjabat 1 Januari 2026 | |
Pendahulu Eric Adams Pengganti Petahana | |
| Anggota Majelis New York Negara Bagian dari | |
| Masa jabatan 1 Januari 2021 – 31 Desember 2025 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Zohran Kwame Mamdani 18 Oktober 1991[1][2] Kampala, Uganda |
| Kewarganegaraan | Amerika Serikat |
| Partai politik | Demokrat |
| Afiliasi politik lainnya | Sosialis Demokratik Amerika Partai Keluarga Pekerja |
| Suami/istri | Rama Duwaji (m. 2025) |
| Pendidikan | Bowdoin College (BA) |
| Tanda tangan | |
| Situs web | Situs kampanye wali kota Situs kampanye untuk Majelis Situs resmi Majelis Negara Bagian |
|
| |
Zohran Kwame Mamdani (lahir 18 Oktober 1991) adalah seorang politikus asal Amerika Serikat. Ia tergabung dalam Partai Demokrat dan Sosialis Demokrat Amerika. Pada tanggal 5 November 2025, ia menjadi wali kota terpilih Kota New York, dan resmi diangkat sebagai Wali Kota New York ke-112 pada tanggal 1 Januari 2026. Dari tahun 2021 hingga 2025, ia menjabat sebagai perwakilan dari distrik ke-36 Majelis Negara Bagian New York yang terletak di wilayah Queens.
Mamdani lahir di Kampala, Uganda, dalam keluarga keturunan India, dari pasangan akademisi Mahmood Mamdani dan pembuat film Mira Nair. Ibunya beragama Hindu, sementara ayahnya Muslim. Keluarga Mamdani berimigrasi ke Afrika Selatan saat ia berusia lima tahun, lalu pindah ke Amerika Serikat ketika ia berumur tujuh tahun, dan menetap di New York City. Mamdani lulus dari Bronx High School of Science dan dari Bowdoin College dengan gelar sarjana dalam bidang kajian kulit hitam.
Mamdani pernah bekerja sebagai konselor perumahan dan musisi hip-hop. Ia memulai karier politiknya sebagai manajer kampanye untuk Khader El-Yateem dan Ross Barkan. Mamdani pertama kali terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York pada tahun 2020, mengalahkan petahana empat periode Aravella Simotas dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Ia terpilih kembali tanpa lawan pada tahun 2022 dan 2024.
Pada Oktober 2024, Mamdani mengumumkan pencalonannya sebagai wali kota New York City dalam pemilihan wali kota New York City 2025. Ia berkampanye dengan platform yang berfokus pada keterjangkauan yang mendukung bus kota gratis, penitipan anak publik universal, toko kelontong milik kota, pembekuan sewa pada unit-unit yang distabilkan sewanya, tambahan unit perumahan terjangkau, dan upah minimum sebesar $30 pada tahun 2030. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap hak-hak LGBTQ di Amerika Serikat, reformasi menyeluruh terkait keamanan publik, dan peningkatan pajak pada perusahaan serta mereka yang berpenghasilan di atas $1 juta per tahun. Ia sering kali mengkritik perlakuan Israel terhadap warga Palestina, yang ia sebut sebagai genosida di Gaza, ia berjanji akan menangkap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, jika ia menginjakkan kakinya di Kota New York dengan dalil telah mematuhi surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional terhadap para pemimpin Israel Ia memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk wali kota New York City 2025 pada Juni 2025, mengalahkan mantan gubernur Andrew Cuomo, dan terpilih sebagai wali kota pada pemilihan umum bulan November. Ia menjadi orang Asia Selatan pertama,[3][4] Muslim pertama,[4] sosialis demokrat kedua setelah David Dinkins,[5] dan Milenial pertama yang terpilih menjadi wali kota New York.[6] Ia akan dilantik pada 1 Januari 2026.[7]
Zohran Mamdani lahir di Kampala, Uganda.[8] Orang tuanya adalah Mahmood Mamdani, seorang profesor kajian pascakolonial berdarah India-Uganda di Universitas Columbia yang berasal dari keturunan Khoja,[butuh rujukan] dan Mira Nair, seorang pembuat film India-Amerika.[9][10][11] Nama tengah "Kwame" diberikan oleh ayahnya untuk menghormati Kwame Nkrumah, perdana menteri pertama Ghana.[11][12]
Mamdani dan keluarganya pindah ke Cape Town, Afrika Selatan, saat ia berusia lima tahun. Ia bersekolah di St. George’s Grammar School saat ayahnya bekerja di Universitas Cape Town.[12] Keluarganya kemudian pindah ke New York saat Mamdani berusia tujuh tahun. Ia lulus dari Bank Street School for Children, dan kemudian dari Bronx High School of Science.[13] Mamdani menempuh pendidikan di Bowdoin College, di mana ia turut mendirikan cabang kampus dari Students for Justice in Palestine. Ia lulus pada tahun 2014 dengan gelar sarjana di bidang Studi Afrika.[14]
Sebelum mencalonkan diri untuk jabatan publik, Mamdani bekerja sebagai konselor perumahan dan pencegahan penyitaan properti. Di sana, ia membantu para pemilik rumah imigran berpenghasilan rendah di Queens yang menghadapi surat penggusuran dan berupaya agar mereka dapat tetap tinggal di rumah mereka.[15] Ia mengatakan bahwa pengalaman tersebut memotivasinya untuk mencalonkan diri agar dapat mengatasi krisis perumahan dan keterjangkauan.[15]

Sebelum terjun ke dunia politik, ia menekuni karier di bidang musik. Ia merupakan penggemar musik hip-hop dan pernah menggubah serta memproduksi musik rap.[16] Pada tahun 2016, dengan nama panggung Young Cardamom, ia berkolaborasi dengan rapper Uganda HAB dalam sebuah EP berjudul Sidda Mukyaalocode: lg is deprecated , yang berarti "Tidak kembali ke desa" dalam bahasa Luganda.[17] Duo tersebut tampil pada festival Nyege Nyege tahun itu di Jinja, Uganda.[18] Mereka mulai bekerja sama pada tahun 2015, dan lagu pertama mereka berjudul Kanda [Chap Chap], yang membahas tentang chapati, makanan India yang telah menjadi makanan pokok di Uganda. Keduanya melakukan rap dalam bahasa Inggris dan Luganda (HAB juga merap dalam bahasa Nubi dan Swahili). Mamdani mengatakan bahwa "lirik dan pilihan bahasa kami adalah bentuk perlawanan terhadap ekspektasi masyarakat Uganda, bahwa seseorang yang memiliki akar Sudan Selatan akan selamanya dianggap 'Nubi', dan bahwa orang India-Uganda sebenarnya hanyalah orang India yang tinggal di Uganda".[19] Ia juga memberi kredit kepada produser Uganda Hannz Tactiq, yang menyediakan beat serta melakukan "rekam, mixing, dan mastering" untuk mereka, dan di studio miliknya mereka bekerja hingga larut malam.[18][19]
Pada tahun 2019, Mamdani merilis sebuah singel berjudul "Nani" dengan nama panggung Mr. Cardamom, sebagai penghormatan kepada nenek dari pihak ibunya,[20] yang ia gambarkan sebagai "sumber kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang".[21] Penulis buku masakan sekaligus aktris Madhur Jaffrey berperan sebagai neneknya dalam video musik lagu tersebut.[22][23]
Mamdani juga menjadi kurator dan produser album lagu latar untuk film ibunya, Mira Nair, berjudul Queen of Katwe (2016).[24][25] Sebagai pengawas musik film tersebut, ia dinominasikan dalam Guild of Music Supervisors Awards 2017.[26] Ia juga menjadi asisten sutradara ketiga film itu dan tampil sebagai pemeran kecil dengan peran "Bookie Student".[27]
Pada tahun 2017, Mamdani bergabung dengan Demokratik Sosialis Amerika dan bekerja untuk kampanye kandidat Dewan Kota New York Khader El-Yateem.[11] Mamdani menjabat sebagai manajer kampanye untuk pencalonan Ross Barkan pada pemilihan Senator Negara Bagian New York pada tahun 2018 dan juga menjadi penyelenggara lapangan untuk kampanye sesama demokrat sosialis Tiffany Cabán pada pemilihan Queens County District Attorney tahun 2019.[11][28]

Pada Oktober 2019, Mamdani mengumumkan kampanyenya untuk mewakili Distrik ke-36 Majelis Negara Bagian New York, yang mencakup wilayah Astoria dan Long Island City di Queens.[29][30] Ia mendapat dukungan dari DSA,[31] mencalonkan diri dengan program reformasi perumahan, reformasi kepolisian dan penjara, serta kepemilikan publik atas layanan utilitas.[29] Kemenangan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Juni 2020 melawan petahana Demokrat empat periode Aravella Simotas memerlukan waktu hampir sebulan untuk dipastikan,[32] dan ia memenangkan pemilu umum pada November tanpa lawan dari Partai Republik.[33] Mamdani terpilih kembali tanpa lawan pada 2022[34] dan lagi pada 2024.[35]
Saat Mamdani menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian di Distrik Queens, New York. Karena mendukung gerakan pro-Palestina, ia kerap berseberangan dengan sebagian besar kalangan Demokrat.[36]
| Kandidat | Zohran Mamdani |
|---|---|
| Afiliasi | Partai Demokrat |
Pada 23 Oktober 2024, Mamdani mengumumkan pencalonannya sebagai wali kota New York pada pemilihan 2025.[37] Ia maju dengan slogan "Zohran for New York City".[38] Platformnya mencakup dukungan untuk bus kota gratis dan pembekuan sewa pada perumahan yang sewanya distabilkan.[39][40][41] Mamdani juga ingin pemerintah kota mengoperasikan lima toko kelontong, masing-masing satu di setiap borough untuk menurunkan harga bahan makanan. Platform Mamdani mendukung penyediaan penitipan anak universal dan pembangunan 200.000 unit hunian terjangkau baru.[42] Ia juga mendukung reformasi keamanan publik dan kenaikan upah minimum menjadi 30 dolar per jam pada 2030.[43] Platformnya menyerukan kenaikan pajak bagi korporasi dan individu yang berpenghasilan di atas 1 juta dolar per tahun.[44] Ia telah mengkritik perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina, dan berjanji akan mematuhi surat perintah Pengadilan Kriminal Internasional dengan menangkap Benjamin Netanyahu jika ia berkunjung ke New York.[45][46]
Ia pun maju dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk Wali Kota New York, melawan dengan sepuluh kandidat lainnya. Rival terkuatnya dalam kontestasi tersebut adalah mantan gubernur New York, Andrew Cuomo. Anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez,[47][48] serta senator asal Vermont, Bernie Sanders,[49] telah memberi dukungan kepada Zohran Mamdani. Bahkan, lawannya pada pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, Brad Landers, memberi dukungan padanya.[50]
Selama sebagian besar masa kampanye pendahuluan, Mamdani berada di belakang mantan gubernur New York Andrew Cuomo dalam jajak pendapat. Ia dan Cuomo mengumpulkan jumlah dana yang serupa, tetapi basis donornya jauh lebih besar dibandingkan milik Cuomo.[51] Sebuah jajak pendapat yang dilakukan beberapa hari sebelum pemilihan pendahuluan 24 Juni 2025 menunjukkan bahwa Mamdani telah menyusul Cuomo.[52] Hasil pilihan pertama pada malam pemilihan menunjukkan Mamdani memiliki keunggulan besar atas Cuomo,[53][54] yang mengakui kekalahannya malam itu.[55] Margin perolehan suaranya meningkat berkat voting berperingkat, terutama karena ia dan kandidat favorit ketiga, Brad Lander, saling memberikan dukungan dengan meminta para pemilih untuk menempatkan satu sama lain sebagai pilihan kedua.[56][57][58][59] Mamdani dan Michael Blake juga saling mendukung beberapa hari kemudian.[60] Pada 16 Juni, dewan editorial The New York Times menasihati pemilih untuk tidak memberikan peringkat kepada Mamdani sambil mengkritik Cuomo.[61]

Ia menang pada 1 Juli 2025 di rode ketiga, mengalahkan Andrew Cuomo dan kesembilan kandidat lainnya.[62] Hal itu dianggap sebagai kejutan besar.[63] Ia meraih sekitar 56% suara di ronde ketiga dibandingkan dengan 44% milik Cuomo. Sebelum pemenang sah diumumkan, tepatnya saat penghitungan suara dengan sistem ranked-choice mendekati final, Cuomo menyatakan kekalahannya, menjadikan Mamdani calon resmi Partai Demokrat.[64][65] Sebuah jajak pendapat pada Juli 2025 menunjukkan perubahan dalam sikap politik orang Yahudi Amerika, dengan 43% pemilih Yahudi New York dan 67% pemilih Yahudi di bawah usia 44 berencana mendukung Mamdani, tingkat dukungan yang menunjukkan melemahnya keterikatan pada politik tradisional pro-Israel. Namun, banyak pemimpin dan pemilih Yahudi tetap kritis terhadapnya.[66] Peluncuran kampanye Mamdani menarik perhatian media karena penggunaan lagu dan referensi budaya Bollywood, yang bertujuan menarik pemilih muda dan imigran.[67][68]
Selama pemilihan pendahuluan, kampanye Mamdani didukung oleh super PAC New Yorkers for Lower Costs, yang menghabiskan sekitar US$1,3 juta untuk mendukungnya dan menentang Cuomo sebelum pemilihan pendahuluan, serta mengumpulkan tambahan US$1 juta setelahnya. Super PAC tersebut menerima kontribusi sebesar US$100.000 dari Unity and Justice Fund pada Mei dan Juni 2025. Cuomo menuduh Mamdani menerima "uang kotor", dengan mengatakan bahwa Unity and Justice Fund terhubung dengan Council on American-Islamic Relations.[69]
Setelah Mamdani memenangkan pemilihan pendahuluan, kritik dan serangan terhadapnya menggunakan narasi rasis, xenofobik, dan Islamofobik, terutama merujuk pada serangan 11 September dan terorisme.[70][71] Serangan ini datang dari berbagai spektrum politik dan memicu kekhawatiran serta perdebatan tentang Islamofobia dalam politik arus utama Amerika.[72][73][74][75]
Presiden Donald Trump mengancam akan menangkap Zohran Mamdani jika ia berupaya menghentikan operasi deportasi oleh ICE (Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai A.S.) di Kota New York. Trump juga menyebut Mamdani sebagai seorang komunis. Saat berbicara di pusat penahanan migran baru di Florida, Trump menyebut banyak orang mengatakan Mamdani berada di AS secara ilegal, walaupun Mamdani sudah menjadi warga negara AS sejak 2018. Trump juga mengancam akan memotong pendanaan untuk New York jika Mamdani tidak "berbuat yang benar."[76]

Sebagai tanggapan, Mamdani menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk intimidasi terhadap demokrasi dan warga New York. Ia menegaskan hanya akan bekerja sama dengan pemerintahan Trump jika itu bermanfaat bagi rakyat New York, dan tidak akan mendukung kebijakan deportasi yang menyakiti komunitas migran.[76]
Ia lalu memenangkan pemilihan umum wali kota New York pada 4 November 2025,[77][78][79] mengalahkan kandidat independen Andrew Cuomo dan kandidat Partai Republik Curtis Sliwa. Ia menjadi orang Asia Selatan pertama,[3][4] Muslim pertama,[4] sosialis demokrat kedua setelah David Dinkins,[5] dan Milenial pertama yang terpilih menjadi wali kota New York.[6] Ia direncanakan diangkat pada 1 Januari 2026.[7] Merespon kemenangannya, Presiden Donald Trump mengancam akan menarik dana federal untuk Kota New York jika Mamdani terpilih sebagai wali kota.[80]
Pada 5 November 2025, sehari setelah pemilihan, Mamdani mengumumkan anggota pertama dari tim transisi wali kotanya, dengan Elana Leopold sebagai direktur eksekutif, serta para ketua bersama Maria Torres-Springer, mantan wakil wali kota pertama; Lina Khan, mantan ketua Komisi Perdagangan Federal; serta para eksekutif organisasi nirlaba Melanie Hartzog dan Grace Bonilla.[81] Pada 10 November, ia mengumumkan pilihannya terhadap mantan wakil wali kota pertama Dean Fuleihan sebagai wakil pertamanya, serta mantan kepala staf Majelis dan manajer kampanyenya, Elle Bisgaard-Church, sebagai kepala stafnya.[82]
Mamdani bertemu dengan Presiden Trump di Gedung Putih pada 21 November. Seorang juru bicara mengatakan bahwa pembahasan akan berfokus pada keselamatan publik, keamanan ekonomi, dan keterjangkauan.[83][84] Setelah pertemuan, Trump memuji Mamdani dan mengatakan bahwa mereka menemukan lebih banyak titik temu daripada yang diperkirakan, setelah berbulan-bulan saling mengkritik.[85]
Menurut laporan Liga Anti-Fitnah yang dirilis pada Desember 2025, sekitar 20% dari tim transisi Mamdani berafiliasi dengan organisasi antizionisme.[86][87][88] Sebuah laporan oleh Liga Anti-Fitnah empat hari sebelumnya ini menggali postingan media sosial antisemitisme, seperti yang menggambarkan orang Yahudi yang "haus uang", dari direktur penunjukan Mamdani. Dia mengundurkan diri setelah postingan itu dipublikasikan.[86]
Masa jabatan wali kota Mamdani dimulai pada pukul 12.01 dini hari tanggal 1 Januari 2026 di waktu setempat, dengan Jaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James yang memimpin pengucapan sumpah jabatan di stasiun kereta bawah tanah City Hall yang telah ditinggalkan. Mamdani mengucapkan sumpah jabatan di atas Al-Qur'an, menjadikannya wali kota pertama dalam sejarah kota tersebut yang melakukannya. Selain itu, ia mengucapkan sumpah di atas dua Al-Qur'an, salah satunya merupakan milik kakeknya dan satu lainnya pernah dimiliki oleh Arturo Alfonso Schomburg.[89] Kemudian pada hari yang sama pukul 13.00, sebuah pelantikan publik akan diselenggarakan, di mana ia akan secara seremonial diambil sumpahnya oleh Senator Amerika Serikat Bernie Sanders.[90]
| Bagian dari seri |
| Sosialisme |
|---|
| Bagian dari seri politik tentang |
| Progresivisme |
|---|
| Ide |
| Sejarah |
| Politikus |
| Intelektual |
|
Mamdani mengidentifikasi dirinya sebagai seorang sosialis demokrat.[91] Ia merupakan anggota Sosialis Demokrat Amerika[92] dan Partai Keluarga Pekerja. Mamdani juga digambarkan sebagai seorang progresif dan populis kiri,[93][94] dan kebijakannya dikategorikan sebagai sayap kiri.[95][96] Namun, lawan politiknya kerap mencemoohnya sebagai seorang komunis.[97][98]
Mamdani berterima kasih kepada orang tuanya yang telah menumbuhkan minatnya pada politik dan urusan dunia, serta membentuk pandangannya terhadap hal-hal tersebut. Ia mencatat bahwa, semasa kecil, keluarganya sering membahas topik-topik ini.[99] Ia juga menyatakan bahwa Bernie Sanders memengaruhinya menjadi sosialis demokrat, memandang Sanders sebagai sumber inspirasi.[100] Mamdani juga dipengaruhi oleh "sosialis selokan" Amerika abad ke-20 seperti Walikota Milwaukee Daniel Hoan dan Anggota Kongres Victor L. Berger, serta Walikota New York City yang populis Fiorello La Guardia.[101]
Dalam kampanye pemilihan wali kota, Mamdani menyatakan bahwa ia ingin meniru kebijakan Wali Kota Boston Michelle Wu dan Wali Kota Baltimore Brandon Scott ketimbang mengikuti kebijakan Wali Kota Chicago Brandon Johnson.[102] Ia kerap mengutip Michelle Wu yang ia puji sebagai politikus Partai Demokrat yang paling efektif,[103] dan menjadi model idaman terhadap kinerjanya sebagai wali kota dan pekerjaannya sebagai anggota dewan kota.[104][105]
Mamdani mendukung Proposal 1, sebuah amendemen tahun 2024 terhadap Konstitusi Negara Bagian New York yang menjadikan tindakan diskriminasi berdasarkan etnis, asal kebangsaan, usia, disabilitas, jenis kelamin (termasuk orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender), kehamilan serta hasil yang berkaitan dengan kehamilan, serta layanan dan otonomi kesehatan reproduksi sebagai hal yang inkonstitusional.[106][107][108]
Mamdani mendukung hak-hak LGBTQ+.[109][110] Ia berupaya menjadikan New York City sebagai kota perlindungan bagi LGBTQ+ serta membentuk Kantor Urusan LGBTQIA+ untuk “memperluas dan memusatkan layanan, program, serta dukungan yang dibutuhkan warga LGBTQIA+ New York dalam bidang perumahan, pekerjaan, dan lainnya.”[111][112] Mamdani mengatakan bahwa orang-orang LGBTQ+ yang kehilangan tempat tinggal akibat identitas mereka akan mendapat manfaat dari kebijakan biaya hidup yang ia usulkan.[110]
Mamdani mengecam Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebagai diktator, tetapi ia juga mengkritik tindakan pemerintah pusat Amerika Serikat, termasuk embargo ekonomi terhadap kedua negara tersebut karena embargo tersebut tidak membantu memperbaiki citra Amerika Serikat dan hanya membuat rakyat Kuba dan Venezuela sengsara.[113]
Mamdani menyatakan bahwa ia tidak sudi bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi jika Modi mengunjungi New York karena ia menganggap Modi sebagai pejahat perang dan menuduhnya sebagai dalang pembantaian umat Muslim di Gujarat pada kerusuhan 2002 di mana 790 umat Muslim dan 254 umat Hindu terbunuh.[114] Ia menyamakan Modi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.[115] Mamdani menyatakan bahwa pasca kerusuhan sebagian besar umat Muslim telah meninggalkan Gujarat dan kehadiran Islam di sana ia anggap sudah punah pada saat ini. Pernyataannya dibantah oleh pemerintah India.[116]
Pada 2025, Mamdani menyatakan bahwa ia akan menangkap Presiden Rusia Vladimir Putin jika ia mengunjungi New York sesuai dengan perintah Mahkamah Pidana Internasional.[117]
Mamdani mendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) serta berpendapat bahwa antizionisme bukanlah antisemitisme. Ketika diminta untuk menegaskan atau menolak “hak Israel untuk ada sebagai negara Yahudi,” Mamdani menyatakan bahwa Israel memiliki hak untuk ada sebagai negara yang didirikan atas dasar “kesetaraan hak.”[118]
Pada awal tahun 2023, Mamdani mengajukan rancangan undang-undang berjudul "Bukan dengan Uang Kita: Undang-Undang Mengakhiri Pendanaan New York untuk Kekerasan Pemukim Israel", yang mengatur larangan bagi organisasi amal yang terdaftar di negara bagian tersebut untuk memberikan sumbangan kepada pihak-pihak yang mendukung pemukim Israel ilegal di wilayah Palestina yang diduduki. Pada November 2023, Mamdani bergabung dengan Cynthia Nixon dalam mogok makan selama lima hari di luar Washington, D.C., untuk mendukung gencatan senjata segera dan menentang dukungan Presiden Biden terhadap Israel dalam perang di Gaza. Pada tahun 2024, ia menyelenggarakan buka puasa untuk gencatan senjata di Gaza selama bulan Ramadan.[119][120]
Pada tahun 2018, Mamdani menjadi warga negara Amerika Serikat melalui naturalisasi.[121] Ia merupakan seorang Syiah yang menganut ajaran Syiah Dua Belas Imam.[122][123][124] Ia menikah dengan seniman keturunan Suriah Rama Duwaji pada awal 2025.[125] Per 2025, keduanya tinggal di sebuah apartemen di Astoria.[126] Mamdani mendukung tim sepak bola Inggris Arsenal, serta merupakan penggemar tim New York Mets (baseball) dan New York Giants (football Amerika).[127][128]
Selain bahasa Inggris, Mamdani menggunakan bahasa lain dalam kampanye pemilihan wali kota, dengan tingkat kefasihan yang berbeda dalam Hindi-Urdu, Bengali, dan Spanyol.[129][130][131][132][133]
If Mamdani wins, he will become the first Muslim, first Asian, and first millennial mayor of New York City
Zohran Mamdani, seorang sosialis demokrat yang naik dalam jajak pendapat dalam pemilihan wali kota New York City, memilih pendekatan yang berbeda.
Political scientists and experts agree that the 'communist' label is inaccurate...
Zohran Mamdani, 34, has been elected the 111th mayor of New York City...
He's a practicing Muslim, he speaks Hindi in campaign videos, he talks openly about being an immigrant.