Ziarah Shikoku atau Shikoku Junrei adalah rangkaian ziarah multisitus yang meliputi 88 wihara yang terkait dengan biksu Buddha Kūkai di Shikoku, Jepang. Ziarah bernilai sejarah yang menjadi ciri khas kebudayaan Shikoku ini mengundang sejumlah besar peziarah, yang dikenal sebagai henro untuk tujuan asketis maupun wisata. Ziarah ini secara tradisional dilakukan dengan berjalan kaki, tetapi peziarah modern menggunakan mobil, taksi, bus, sepeda, atau sepeda motor, dan sering kali menyelingi perjalanan mereka dengan bertransportasi umum. Rute berjalan kaki standar memiliki panjang sekitar 1.200 kilometer (750 mi) dengan menghabiskan waktu antara 30 hingga 60 hari untuk diselesaikan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia







Ziarah Shikoku (四国遍路code: ja is deprecated , Shikoku Henro) atau Shikoku Junrei (四国巡礼code: ja is deprecated ) adalah rangkaian ziarah multisitus yang meliputi 88 wihara yang terkait dengan biksu Buddha Kūkai (Kōbō Daishi) di Shikoku, Jepang. Ziarah bernilai sejarah yang menjadi ciri khas kebudayaan Shikoku ini mengundang sejumlah besar peziarah, yang dikenal sebagai henro (遍路code: ja is deprecated ) untuk tujuan asketis maupun wisata.[1] Ziarah ini secara tradisional dilakukan dengan berjalan kaki, tetapi peziarah modern menggunakan mobil, taksi, bus, sepeda, atau sepeda motor, dan sering kali menyelingi perjalanan mereka dengan bertransportasi umum. Rute berjalan kaki standar memiliki panjang sekitar 1.200 kilometer (750 mi) dengan menghabiskan waktu antara 30 hingga 60 hari untuk diselesaikan.
Selain 88 kuil "resmi", terdapat 20 kuil bekkaku (別格code: ja is deprecated ), yang secara resmi terkait dengan Ziarah Shikoku (beserta ratusan kuil bangai (番外code: ja is deprecated ) yang artinya "di luar angka", yang tidak dianggap sebagai bagian dari daftar resmi 88 wihara).[2][3] Untuk menyelesaikan ziarah, tidak perlu mengunjungi kuil-kuil secara berurutan; dalam beberapa kasus, peziarah menyelesaikan perjalanan secara terbalik, sebuah praktik yang dikenal sebagai gyaku-uchi (逆うちcode: ja is deprecated ).[4]
Henro (遍路code: ja is deprecated ) adalah istilah dalam bahasa Jepang yang berarti peziarah,[5] di mana warga setempat di sepanjang rute memanggil para peziarah sebagai o-henro-san (お遍路さんcode: ja is deprecated ). Mereka mudah dikenali dari pakaian putih, caping, dan kongō-zue atau tongkat. Sedekah atau osettai (お接待code: ja is deprecated ) sering diberikan kepada para peziarah oleh penduduk Shikoku.
Sebelum mencapai Kuil ke-88, para peziarah yang berjalan kaki dan bersepeda dapat menerima sertifikat "Duta Henro Ziarah Kuil Shikoku 88" dari Maeyama Ohenro Koryu Salon. Di Kuil ke-88, seseorang dapat membeli sertifikat penyelesaian ziarah yang disebut kechi-gan-shō (結願証code: ja is deprecated ).[6] Banyak peziarah juga memulai dan mengakhiri perjalanan dengan mengunjungi Gunung Kōya di Prefektur Wakayama, yang didirikan oleh Kūkai sebagai pusat aliran Buddhisme Shingon. Jalur pendakian sepanjang 21 kilometer (13 mi) menuju Kōya-san masih ada, tetapi sebagian besar peziarah sudah menggunakan kereta api.
Ziarah (巡礼 (Junreicode: ja is deprecated )) telah memainkan peran penting dalam praktik keagamaan di Jepang setidaknya sejak zaman Heian. Ziarah umumnya berpusat pada gunung keramat, dewa-dewa tertentu, atau individu karismatik, yang biasanya dilakukan dengan menyambangi situs-situs Buddha dengan pengecualian ziarah ke kuil Shinto Kumano Kodō dan Ise.[1][7]
Kūkai, lahir di Zentsū-ji (Kuil 75) pada tahun 774, sempat belajar di Tiongkok, dan sekembalinya ke Jepang, berpengaruh dalam pengajaran Buddhisme esoteris. Ia mendirikan tempat retret Shingon di Kōya-san, menjadi seorang penulis yang aktif, melaksanakan program pekerjaan umum, dan saat berkunjung ke pulau kelahirannya disebut telah mendirikan atau mengunjungi banyak kuil dan mengukir banyak patung. Ia dikenal secara anumerta sebagai Kōbō Daishi.[8][9]
Legenda dan pemujaan Kōbō Daishi, seperti Emon Saburō, dipelihara dan dikembangkan oleh para biksu di Kōya-san yang melakukan perjalanan untuk mewartakan Shingon dan aktif bersama para biksu lainnya di Shikoku.[10] Selama zaman Edo, kebijakan tochi kinbaku (土地緊縛code: ja is deprecated ) membatasi dan mengatur pergerakan orang awam. Para peziarah diharuskan memiliki izin perjalanan, mengikuti jalur utama, dan melewati daerah dalam batas waktu tertentu, dengan buku stempel kuil atau nōkyō-chō sebagai bukti kunjungan.[11]
Shikoku secara harfiah berarti "empat provinsi", yaitu Awa, Tosa, Iyo, dan Sanuki, yang direorganisasi pada zaman Meiji menjadi Prefektur Tokushima, Kōchi, Ehime, dan Kagawa. Perjalanan ziarah melalui empat wilayah ini melambangkan empat tahap menuju pencerahan, dengan kuil 1–23 berarti kebangkitan (発心 (hosshincode: ja is deprecated )), 24–39 pertapaan dan kedisiplinan (修行 (shugyōcode: ja is deprecated )), 40–65 pencerahan (菩提 (bodaicode: ja is deprecated )), dan 66–88 nirwana (涅槃 (nehancode: ja is deprecated )).[12]
Peziarah memakai pakaian tradisional yang terdiri dari kemeja putih (白衣 (oizurucode: ja is deprecated )), caping (すげ笠 (suge-kasacode: ja is deprecated )), dan tongkat (金剛杖 (kongō-zuecode: ja is deprecated )). Perlengkapan lainnya seperti selempang (輪袈裟 (wagesacode: ja is deprecated )), tas (頭陀袋 (zuda-bukurocode: ja is deprecated )) berisi kertas nama (納札 (osame-fudacode: ja is deprecated )), japamala (数珠 (juzucode: ja is deprecated )), buku kecil (納経帳 (nōkyō-chōcode: ja is deprecated )) untuk mengumpulkan cap (朱印 (shuincode: ja is deprecated )), dupa (線香 (senkōcode: ja is deprecated )), dan koin persembahan (お賽銭 (o-saisencode: ja is deprecated )). Peziarah yang lebih religius bisa juga membawa kitab sutra (経本 (kyōboncode: ja is deprecated )) dan lonceng (go-eika (ご詠歌code: ja is deprecated )).[13]
Setibanya di kuil, peziarah menyucikan diri sebelum masuk ke Hondō. Setelah menyerahkan koin, dupa, dan osame-fuda, Sutra Hati (般若心経 (Hannya Shingyōcode: ja is deprecated )) dibacakan bersama dengan Mantra rupa utama (本尊 (honzoncode: ja is deprecated )) dan Mantra Cahaya (光明真言 (Kōmyō Shingoncode: ja is deprecated )). Setelah kigan dan ekō (doa dan pelimpahan jasa), peziarah melanjutkan ke kuil Kobo Daishi (大師堂 (Daishidōcode: ja is deprecated )). Koin dan fuda dipersembahkan dengan cara yang sama, dan sekali lagi Sutra Hati dilantunkan, bersamaan dengan perapalan Mantra.[13]
Sejak tahun 2010, pemerintah prefektur di Shikoku, anggota LSM, dan pemimpin lokal telah berupaya untuk meraih status Warisan Dunia UNESCO untuk Ziarah Shikoku. Saat ini, ziarah ini diakui sebagai "Calon Tentatif" oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang, atau kekayaan budaya yang belum ditambahkan ke Daftar Tentatif Warisan Dunia Jepang karena harus 'dilanjutkan persiapannya.'[14]
Sebagai bukti popularitas ziarah Shikoku, sejak abad ke-18 sejumlah versi tiruan yang lebih kecil telah diselenggarakan.[7] Termasuk sirkuit sepanjang 150 kilometer (93 mi) di Pulau Shōdo di timur laut Takamatsu;[15] rute sepanjang 3 kilometer (1,9 mi) di sekitar Ninnaji di Kyoto;[16] rute di Semenanjung Chita, dekat Nagoya;[17] dan rute sirkuit di Edo dan Prefektur Chiba.[7] Di luar Jepang, versi lain terdapat di Kauai, Hawaii.[18]
Secara kolektif ke-88 kuil disebut sebagai Shikoku Hachijūhakkasho (四国八十八箇所code: ja is deprecated ).
| Nomor | Nama Kuil | Lokasi | Gambar |
|---|---|---|---|
| 1 | Taisan-ji (大山寺) | Kamiita, Tokushima | |
| 2 | Dōgaku-ji (童学寺) | Ishii, Tokushima | |
| 3 | Jigen-ji (慈眼寺) | Kamikatsu, Tokushima | |
| 4 | Yasaka-dera (八坂寺) | Kaiyō, Tokushima | |
| 5 | Daizen-ji (大善寺) | Susaki, Kouchi | |
| 6 | Ryuukou-in(龍光院) | Uwajima, Ehime | |
| 7 | Shusseki-ji(出石寺) | Oozushi, Ehime | |
| 8 | Eitoku-ji (永徳寺) | Oozushi, Ehime | |
| 9 | Monju-in (文珠院) | Matsuyama, Ehime | |
| 10 | Nishiyama Kouryuu-ji (西山興隆寺) | Saijou, Ehime | |
| 11 | Shouzen-ji (正善寺) | Saijou, Ehime | |
| 12 | Enmei-ji (延命寺) | Shikoku Chuuou, Ehime | |
| 13 | Senryuu-dera (仙龍寺) | Shikoku Chuuou, Ehime | |
| 14 | Joufuku-ji (常福寺) | Shikoku Chuuou, Ehime | |
| 15 | Hashikura-ji (箸蔵寺) | Myoushi, Tokushima | |
| 16 | Hagiwara-ji (萩原寺) | Kannon-ji, Kagawa | |
| 17 | Kanno-ji (神野寺) | Man'nou, Kagawa | |
| 18 | Kaigan-ji (海岸寺) | Tadotsu, Kagawa | |
| 19 | Kouzai-ji (香西寺) | Takamatsu, Kagawa | |
| 20 | Ootaki-ji(大瀧寺) | Mima, Tokushima |