Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Zaman Taishō

Zaman Taishō atau Periode Taishō adalah salah satu nama zaman pemerintahan Kaisar Jepang sewaktu Kaisar Taishō (Yoshihito) memerintah Jepang, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shōwa. Kaisar Yoshihito tidak berada dalam kondisi kesehatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari negarawan senior (genrō) ke Parlemen Jepang dan partai-partai politik. Oleh karena itu, periode ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut demokrasi Taishō. Istilah demokrasi Taishō dipakai untuk membedakan periode ini dari kekacauan zaman Meiji dan paruh pertama zaman Shōwa ketika Jepang jatuh ke dalam militerisme.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Zaman Taishō
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Jepang
Periode
Paleolitiksebelum 14.000 SM
Jōmon14.000–300 SM
Yayoi300 SM – 250 M
Kofun250–538
Asuka538–710
Nara710–794
Heian
  • Perang Zenkunen
  • Perang Gosannen
  • Perang Genpei
794–1185
Kamakura
  • Perang Jōkyū
  • Invasi Mongol
  • Perang Genkō
  • Restorasi Kenmu
1185–1333
Muromachi (Ashikaga)
  • Zaman Nanboku-chō
  • Zaman Sengoku
1336–1573
Azuchi–Momoyama
  • Perdagangan Nanban
  • Perang Imjin
  • Pertempuran Sekigahara
1573–1603
Edo (Tokugawa)
  • Keshogunan Tokugawa
  • Invasi Ryukyu
  • Pengepungan Osaka
  • Sakoku
  • Ekspedisi Perry
  • Persetujuan Kanagawa
  • Bakumatsu
  • Restorasi Meiji
  • Perang Boshin
1603–1868
Meiji
  • Penghapusan Ryukyu
  • Invasi Taiwan (1874)
  • Pemberontakan Satsuma
  • Perang Tiongkok-Jepang Pertama
  • Perjanjian Shimonoseki
  • Intervensi Tiga Negara
  • Invasi Taiwan (1895)
  • Penjajahan Taiwan
  • Pemberontakan Boxer
  • Perang Jepang-Rusia
  • Perjanjian Portsmouth
  • Perjanjian Jepang-Korea
  • Penjajahan Korea
1868–1912
Taishō
  • Demokrasi Taisho
  • Perang Dunia I
  • Intervensi di Siberia
  • Gempa Besar Kantō
1912–1926
Shōwa
  • Militerisme
  • Krisis keuangan
  • Insiden Nanking
  • Insiden Mukden
  • Invasi Manchuria
  • Insiden 15 Mei
  • Insiden 26 Februari
  • Pakta Anti-Komintern
  • Pakta Tripartit
  • Perang Tiongkok-Jepang Kedua
  • Perang Dunia II
  • Pengeboman Pearl Harbor
  • Perang Pasifik
  • Serangan bom atom
  • Perang Soviet–Jepang
  • Menyerahnya Jepang
  • Pendudukan
  • Pascapendudukan
  • Unjuk rasa Anpo
  • Keajaiban ekonomi
  • Gelembung ekonomi
1926–1989
Heisei
  • Dasawarsa yang Hilang
  • Serangan gas sarin Tokyo
  • Gempa Besar Hanshin
  • Cool Japan
  • Gempa bumi Tōhoku
  • Pergantian takhta
1989–2019
Reiwa
  • Pandemi COVID-19
  • Pembunuhan Abe
  • Gempa bumi Noto
2019–sekarang
Topik
  • Mata uang
  • Gempa bumi
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kekaisaran
  • Historiografi
  • Militer
  • Angkatan Laut
  • Pascaperang
  • Istilah
  • Garis waktu
  • l
  • b
  • s

Zaman Taishō (大正code: ja is deprecated ) atau Periode Taishō (30 Juli 1912–25 Desember 1926) adalah salah satu nama zaman pemerintahan Kaisar Jepang sewaktu Kaisar Taishō (Yoshihito) memerintah Jepang, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shōwa. Kaisar Yoshihito tidak berada dalam kondisi kesehatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari negarawan senior (genrō) ke Parlemen Jepang dan partai-partai politik. Oleh karena itu, periode ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut demokrasi Taishō. Istilah demokrasi Taishō dipakai untuk membedakan periode ini dari kekacauan zaman Meiji dan paruh pertama zaman Shōwa ketika Jepang jatuh ke dalam militerisme.

Peninggalan zaman Meiji

Setelah Kaisar Meiji wafat pada 30 Juli 1912, Putra Mahkota Yoshihito naik takhta sebagai Kaisar Jepang yang baru dan dimulai zaman baru yang disebut zaman Taishō. Akhir zaman Taishō ditandai dengan besarnya investasi pemerintah di dalam negeri dan luar negeri, serta proyek-proyek pertahanan yang hampir menguras kas negara, dan kurangnya devisa untuk membayar utang.

Di bidang kebudayaan, pengaruh kebudayaan Barat yang dirasakan Jepang pada zaman Meiji terus berlanjut. Kobayashi Kiyochika menerapkan gaya-gaya lukisan barat untuk ukiyo-e, sementara Okakura Kakuzō terus mempertahankan seni lukis tradisional Jepang. Mori Ōgai dan Natsume Sōseki ditugaskan belajar di negara Barat, dan membawa pulang pemikiran yang lebih modern.

Restorasi Meiji tahun 1868 tidak hanya membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi dan politik di Jepang, namun tanpa harus menjadi korban kolonialisme seperti halnya negara-negara lain di Asia. Selain itu, Restorasi Meiji juga meletakkan landasan bagi pemikiran-pemikiran baru di Jepang seiring dengan perkembangan sosialisme dan proletarianisme di dunia internasional. Kalangan sayap kiri mengumandangkan tuntutan hak suara universal bagi laki-laki, kesejahteraan sosial, hak-hak buruh, dan unjuk rasa tanpa kekerasan. Penindasan kegiatan sayap kiri di Jepang menyebabkan aksi sayap kiri yang semakin radikal, dan berakibat pemerintah mengambil tindakan yang makin keras. Peristiwa ini berpuncak dengan dibubarkannya Partai Sosialis Jepang (日本社会党 Nihon Shakaitō) hanya setahun setelah partai ini didirikan pada tahun 1906 dan menandai kegagalan gerakan sosialis.

Awal zaman Taishō ditandai oleh krisis politik 1912-1913. Ketika Saionji Kinmochi mencoba memotong anggaran militer, Menteri Angkatan Darat mengundurkan diri, dan berakibat pada jatuhnya kabinet Rikken Seiyūkai. Yamagata Aritomo dan Saionji keduanya menolak untuk meneruskan jabatan mereka. Para negarawan senior (genrō) juga tidak dapat menemukan pemecahan masalah. Kemarahan publik atas manipulasi kabinet yang dilakukan militer, dan dipanggil kembalinya Katsura Tarō sebagai Perdana Menteri untuk ketiga kalinya membuat rakyat menuntut diakhirinya permainan politik para genrō. Walaupun ditentang oleh politikus yang ingin mempertahankan sistem lama, kalangan konservatif membentuk sebuah partai politik sendiri pada tahun 1913. Partai politik konservatif yang diberi nama Rikken Dōshikai tersebut memenangi mayoritas kursi parlemen pada akhir 1914 dari Rikken Seiyūkai.

Pada 12 Februari 1913, Yamamoto Gonbei menggantikan Katsura Tarō sebagai perdana menteri Jepang. Pada April 1914, Ōkuma Shigenobu diangkat sebagai perdana menteri sebagai pengganti Yamamoto.

Rujukan

  •  Artikel ini berisi bahan berstatus domain umum dari situs web atau dokumen Library of Congress Country Studies.—Japan
Jepang

Artikel bertopik Jepang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Jepang
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Peninggalan zaman Meiji
  2. Rujukan
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026