Virus Nipah yang teridentifikasi pada tahun 1999 telah menyebabkan penyakit pernapasan dan neurologis di peternakan babi di Semenanjung Malaysia, yang mengakibatkan 105 kematian manusia dan pembuangan sejuta ekor babi. Di Singapura, 11 kasus termasuk satu kematian terjadi di antara para pekerja rumah pemotongan hewan yang terpapar babi impor dari Malaysia. Virus Nipah diklasifikasikan oleh CDC sebagai agen Kategori C.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Virus Nipah | |
|---|---|
| Mikrograf elektron berwarna semu yang menunjukkan partikel virus Nipah (ungu) dari sel Vero yang terinfeksi (cokelat). | |
| Klasifikasi virus | |
| (tanpa takson): | Virus |
| Dunia: | Riboviria |
| Kerajaan: | Orthornavirae |
| Filum: | Negarnaviricota |
| Kelas: | Monjiviricetes |
| Ordo: | Mononegavirales |
| Famili: | Paramyxoviridae |
| Genus: | Henipavirus |
| Spesies: | Henipavirus nipahense |
Virus Nipah yang teridentifikasi pada tahun 1999 telah menyebabkan penyakit pernapasan dan neurologis di peternakan babi di Semenanjung Malaysia, yang mengakibatkan 105 kematian manusia dan pembuangan sejuta ekor babi.[1] Di Singapura, 11 kasus termasuk satu kematian terjadi di antara para pekerja rumah pemotongan hewan yang terpapar babi impor dari Malaysia. Virus Nipah diklasifikasikan oleh CDC sebagai agen Kategori C.

Virus Nipah telah diisolasi dari kelelawar buah Lyle (Pteropus lylei) di Kamboja,[2] dan RNA virus ditemukan dalam urin dan air liur dari P. lylei dan kelelawar daun bulat Horsfield (Hipposideros larvatus) di Thailand.[3] Bentuk virus yang tidak efektif juga telah diisolasi dari sampel lingkungan berupa urin kelelawar dan buah yang sebagian dimakan di Malaysia.[4] Antibodi terhadap henipavirus juga telah ditemukan pada kelelawar buah di Madagaskar (Pteropus rufus, Eidolon dupreanum) dan Ghana (Eidolon helvum) yang menunjukkan distribusi geografis virus yang luas.[5] Tidak ada infeksi pada manusia atau spesies lain yang diamati di Kamboja, Thailand, atau Afrika hingga Mei 2018. Pada September 2023, India melaporkan setidaknya lima infeksi dan dua kematian. Pada Juli 2024, infeksi baru terjadi dan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun meninggal akibatnya.[6] Pada Januari 2026, lima kasus Nipah dikonfirmasi di negara bagian Benggala Barat di India.[7]