Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Tuanku Hasyim Banta Muda

Sri Paduka Bangta Muda Tuanku Hasyim atau lebih dikenal dengan Tuanku Hasyim Banta Muda atau Tuanku Rajeu adalah seorang tokoh militer dan politik penting dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Ia menjabat sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Aceh, Wali Sultan, dan Mangkubumi atau Wazir pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah II dan Sultan Muhammad Daud Syah. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam Perang Aceh melawan kolonialisme Belanda dan dipandang sebagai figur pemersatu rakyat dalam menghadapi invasi asing.

Wikipedia article
Diperbarui 17 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tuanku Hasyim Banta Muda
Banta Muda, Tuanku (Twk)
Panglima Hasyim
Sri Paduka Banta Muda Tuanku Hashim
سري ڤادوکا بنتا مودا توانکو هاشيم
Tuanku Hasyim Banta Muda
Perdana Menteri Kesultanan Aceh
Masa jabatan
1878–1894
Penguasa monarkiMuhammad Daud Syah II
Sebelum
Pendahulu
Abdurrahman az-Zahir
Pengganti
Tuanku Mahmud Banta Kecik
Sebelum
Wakil Sultan
Masa jabatan
1874–1878
Penguasa monarkiMuhammad Daud Syah II
Sebelum
Pendahulu
Tuanku Ibrahim
Pengganti
Tuanku Mahmud Banta Kecik
Sebelum
Wali Negara Aceh ke-1
Masa jabatan
1873–1874
Penguasa monarkiSultan Mahmud Syah, Muhammad Daud Syah II
Sebelum
Pendahulu
Jabatan dibentuk
Pengganti
Teungku Chik di Tiro)
Sebelum
Gubernur Aceh Timur & Sumatera Timur
Masa jabatan
sebelum 1858 – 1869
Penguasa monarkiAlauddin Ibrahim Mansur Syah
Sebelum
Pendahulu
Laksamana Tuanku Abdul Kadir
Pengganti
Jabatan dihapuskan
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir1834
Gampong Lambada, Mukim XXVI, Aceh Besar,  Kesultanan Aceh
Meninggal22 Januari 1897
Padang Tiji, Mukim VII, Pedir,  Kesultanan Aceh
MakamMesjid Padang Tiji, Pidie, Aceh
Suami/istri
  • Tengku Ubang Maimuna dari Langkat
  • Cut Nyak Puan
AnakTeungku Ratna Keumala
Orang tuaLaksamana Tuanku Abdul Kadir Shah
Dikenal karenaPahlawan Perang Aceh
Julukande Todleben der Acehers[1]
Karier militer
Pihak Kesultanan Aceh
Dinas/cabangAngkatan Darat Kesultanan Aceh
Masa dinashingga 1897
PangkatPerdana Menteri
Jenderal
Panglima
Pertempuran/perangPerang Aceh
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Sri Paduka Bangta Muda Tuanku Hasyim atau lebih dikenal dengan Tuanku Hasyim Banta Muda atau Tuanku Rajeu (lahir di Aceh, abad ke-19 – wafat di akhir abad ke-19) adalah seorang tokoh militer dan politik penting dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Ia menjabat sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Aceh, Wali Sultan, dan Mangkubumi atau Wazir (perdana menteri) pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah II dan Sultan Muhammad Daud Syah. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam Perang Aceh melawan kolonialisme Belanda dan dipandang sebagai figur pemersatu rakyat dalam menghadapi invasi asing.[2][3][4]

Kehidupan Awal dan Keluarga

Tuanku Hasyim dilahirkan dari kalangan bangsawan Kesultanan Aceh pada tahun 1834 di Gampong Lambada, kawasan Sagi Mukim XXVI, Aceh Besar. Ia adalah putra dari Laksamana Tuanku Abdul Kadir yang sebelumnya menjabat sebagai perwakilan sultan di wilayah Sumatera Timur Timur. Sejak kecil, Tuanku Hasyim dididik dengan keras oleh ayahnya, membentuknya menjadi pribadi yang cerdas dan berwibawa. Kemampuannya ini membuatnya dipercaya sebagai perwakilan Sultan Aceh dan gubernur di Sumatera Timur pada tahun 1858.[4]

Karier Militer dan Politik

Tuanku Hasyim diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang oleh Sultan Mahmud Syah karena kepemimpinan dan loyalitasnya terhadap kerajaan. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap pasukan Belanda, khususnya setelah proklamasi perang oleh Belanda terhadap Kesultanan Aceh pada tahun 1873.[5] Dalam berbagai catatan, ia disebut sebagai tokoh yang mengorganisir strategi pertahanan Aceh secara sistematis dan militan, termasuk melalui konsolidasi kekuatan adat, agama, dan militer lokal.[4][6]

Sebagai Wali Sultan dan Mangkubumi, Tuanku Hasyim juga memainkan peran penting dalam pemerintahan. Ia menjadi penengah dalam konflik internal dan penghubung antara istana dan rakyat. Ia turut berperan dalam pengangkatan Sultan Mahmud Syah dan mempertahankan kedaulatan Aceh dalam situasi politik yang genting.[3][7]

Gubernur Sumatera Timur

Sebagai wali sultan di wilayah Sumatera Timur, Tuanku Hasyim memiliki kekuasaan atas kawasan dari Simpang Ulim hingga Serdang. Ia mendirikan pos-pos militer strategis dan memperkuat pertahanan di garis depan. Salah satu pusat pertahanannya terletak di Pulau Kampai yang ia perkuat seperti sebuah benteng, mengingat lokasi pulau tersebut berada di jalur penting pelayaran Selat Malaka.[4]

Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, Tuanku Hasyim mendorong penanaman lada yang saat itu sangat diminati pasar internasional. Langkah ini tak hanya mendongkrak perekonomian rakyat, tetapi juga memperluas jaringan perdagangan hingga ke Pulau Penang di Semenanjung Malaya, tempat pedagang Aceh mulai membuka cabang usaha.[4]

Perjuangan Melawan Kolonialisme

Kondisi Kesultanan Aceh mulai terguncang ketika Sultan Alauddin Ibrahim Mansur Syah wafat pada 1870, menciptakan kekosongan kekuasaan. Sementara itu, Inggris dan Belanda merevisi isi Traktat London 1824, yang semula menjanjikan perlindungan Inggris terhadap Aceh, menjadi kesepakatan baru yang membiarkan Belanda menyerang Aceh tanpa intervensi.[4]

Dalam situasi genting tersebut, para tokoh Aceh termasuk Panglima Polem, Tgk Imum Luengbata, Panglima Masjid Raya, dan Tuanku Hasyim sendiri berkumpul untuk memilih sultan baru. Meski sempat diminta menjadi sultan, Tuanku Hasyim menolak dan memilih tetap menjadi panglima perang. Ia mengusulkan Mahmud Syah sebagai sultan, dan dirinya bertindak sebagai wali negara yang membimbing sang sultan.[4]

Belanda memulai invasi ke Aceh pada 1873, namun serangan pertama mereka gagal setelah Jenderal Kohler tewas di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Pada serangan kedua tahun berikutnya, Belanda berhasil memasuki wilayah ibu kota yang telah dikosongkan. Meski demikian, Tuanku Hasyim berhasil menyelamatkan Sultan Mahmud Syah dari kejaran.[4]

Sayangnya, Sultan Mahmud Syah wafat pada tahun yang sama akibat wabah kolera dan penyakit yang diyakini tersebar lewat strategi Belanda. Setelah itu, tampuk kekuasaan diberikan kepada Sultan Muhammad Daud Syah, dengan Tuanku Hasyim tetap melanjutkan perlawanan.[4]

Tuanku Hasyim dikenal sebagai salah satu panglima besar yang paling konsisten melawan kolonialisme Belanda. Ia tidak hanya memimpin perang secara langsung, tetapi juga menjadi simbol moral dan spiritual bagi rakyat Aceh. Belanda menyadari bahwa selagi Tuanku Hasyim masih hidup dan berpengaruh, perlawanan Aceh tidak akan surut.[4][8]

Dalam masa perangnya, ia dikenal sering berpindah-pindah untuk menghindari pengepungan Belanda dan tetap mempertahankan komunikasi dengan panglima-panglima lokal di berbagai wilayah Aceh, termasuk Teuku Umar dan Panglima Polem.

Wafat dan Warisan

Tuanku Hasyim setelah berpindah ke Reubee pada 1894, ia menetap di Padang Tiji pada 1896 dan terus merancang strategi menghadapi penjajahan. Ia wafat pada 22 Januari 1897 dan dimakamkan di dekat Masjid lama Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Makamnya ditemukan kembali pada tahun 2022 dan diduga kuat sebagai kompleks pemakaman raja dan ulama besar Kesultanan Aceh.[2][6][9] Lembaga kebudayaan seperti Darud Donya mengusulkan agar makamnya ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional.[9][10]

Nama Tuanku Hasyim kini diabadikan sebagai nama jalan di Banda Aceh, dan muncul kembali dalam wacana publik sebagai tokoh yang layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.[7][11]

Pengaruh dan Pengakuan

Sejumlah penulis dan sejarawan lokal menyebut Tuanku Hasyim sebagai “Wali Nanggroe” pertama karena perannya dalam menjaga integritas dan kehormatan Kesultanan Aceh.[3] Namun, sejarah kepahlawanannya masih kurang dikenal secara luas dan belum mendapatkan pengakuan setara dengan tokoh-tokoh Aceh lainnya seperti Cut Nyak Dhien atau Teuku Umar.

Lihat Juga

  • Kesultanan Aceh Darussalam
  • Perang Aceh
  • Teuku Umar
  • Cut Nyak Dhien

Referensi

  1. ↑ https://tengkuputeh.com/2017/11/19/tuanku-hasyim-wali-nanggroe/
  2. 1 2 developer, medcom id (2021-02-10). "Situs Makam Raja dan Ulama Besar Era Kesultanan Aceh Darussalam Ditemukan". medcom.id. Diakses tanggal 2025-05-04.
  3. 1 2 3 Maulana, Arif (2025-10-3). "Panglima Teuku Nyak Makam". pikiranmerdeka.co. Diakses tanggal 2025-05-04.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Subroto, Lukman Hadi; Nailufar, Nibras Nada (2022-08-07). "Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Besar Angkatan Perang Aceh". kompas.com. Diakses tanggal 2025-05-04.
  5. ↑ tengkuputeh (2017-11-19). "TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH". Tengkuputeh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-04.
  6. 1 2 Ago, Isnormanin #story • 6 Years (2019-06-08). "Kisah Tuanku Hasyim Banta Muda Melawan Kolonialis Belanda". Steemit (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-04. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  7. 1 2 Mursalin (2020-09-19). "Kisah Jalan Tuwanku Hasyim Banta Muda". Pos Aceh. Diakses tanggal 2025-05-04.
  8. ↑ ""Tuanku Hasyim Banta Muda: Sang Panglima Angkatan Perang Kerajaan Aceh, Wali Sultan, dan Mangkubumi"". mbizmarket.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-04.
  9. 1 2 "Darud Donya Minta Makam Tuwanku Hasyim Banta Muda Resmi Jadi Cagar Budaya". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-05-04.
  10. ↑ Ago, Beulangongtanohin #indonesia • 7 Years (2018-01-30). "Tuanku Hasyim Banta Muda, Pahlawan Yang Terlupakan". Steemit (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-04. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  11. ↑ "Darud Donya Minta Makam Tuanku Hasyim Banta Muda Resmi Jadi Cagar Budaya". Diakses tanggal 2025-05-04.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan Awal dan Keluarga
  2. Karier Militer dan Politik
  3. Gubernur Sumatera Timur
  4. Perjuangan Melawan Kolonialisme
  5. Wafat dan Warisan
  6. Pengaruh dan Pengakuan
  7. Lihat Juga
  8. Referensi

Artikel Terkait

Tuanku Mahmud Banta Kecik

kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Ia dikenal sebagai adik dari Tuanku Hasyim Banta Muda dan pernah diangkat sebagai Wakil Sultan dalam struktur kepemimpinan

Panglima Polem IX

Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan salah seorang puteri dari Tuanku Hasyim Bantamuda, tokoh Aceh yang seperjuangan dengan ayahnya. Dia diangkat

Wali Negara Aceh

Kepala Negara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026