Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Tuan Tunggang Parangan

Tuan Tunggang Parangan adalah seorang ulama dari Minangkabau yang mengislamkan penduduk Makassar dan kemudian menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara di timur Pulau Kalimantan pada 1575. Ia berhasil mengajak Raja Makota (1525–1600) masuk Islam. Ia juga juga melakukan Islamisasi bersama Raja Aji Dilanggar (1600–1605) yang memerintah setelah Raja Makota.

Wikipedia article
Diperbarui 28 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tuan Tunggang Parangan
LahirAbad 16
MeninggalAbad 17
Kutai, Kerajaan Kutai, Kalimantan
PekerjaanUlama
Dikenal atasPenyebar Islam di Kerajaan Kutai, Kalimantan

Tuan Tunggang Parangan adalah seorang ulama dari Minangkabau yang mengislamkan penduduk Makassar dan kemudian menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara di timur Pulau Kalimantan pada 1575. Ia berhasil mengajak Raja Makota (1525–1600) masuk Islam. Ia juga juga melakukan Islamisasi bersama Raja Aji Dilanggar (1600–1605) yang memerintah setelah Raja Makota.[1]

Asal-usul

Pada abad ke-16 Kesultanan Aceh Darussalam menerima permintaan dari Raja Tanete di Sulawesi Selatan untuk meredakan perselisihan akibat perbedaan keyakinan. Kesultanan Aceh pun mengutus tiga ulama, yakni Abdullah Makmur (Datuk Ri Bandang), Sulaiman (Datuk Ri Pattimang), dan Abdul Jawad (Datuk Ri Tiro). Saat di Gresik, Jawa Timur, mereka bertemu dengan Tuan Tunggang Parangan, ulama yang memiliki misi serupa. Keempatnya sepakat untuk berdakwah bersama di Pulau Sulawesi. Mereka tiba di Kerajaan Tanete dan berhasil mengislamkan penduduknya.[2]

Datuk Ri Bandang dan Tunggang Parangan kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar, dan kembali menuai kesuksesan dalam mengislamkan penduduk. Tunggang Parangan dan Datuk Ri Bandang kemudian menyeberangi Selat Makassar, menuju Pulau Kalimantan. Mereka memasuki muara Sungai Mahakam, menuju Pelabuhan Kutai. Namun, di tengah perjalanan mereka mendapat kabar dari orang Makassar, bahwa sebagian penduduk Makassar yang telah memeluk Islam kembali ke kepercayaan asalnya. Datuk Ri Bandang kembali ke Makassar untuk meyakinkan penduduk agar kembali memeluk Islam, sementara Tunggang Parangan melanjutkan dakwahnya di Kalimantan.[2][1][3]

Islamisasi di Kutai

Proses masuk Islamnya Raja Kutai Kertanegara ke-6 pada 1575 terjadi melalui peran guru atau wali pengembara secara damai tanpa kekerasan. Tunggang Parangan menjadi tokoh sufi juru dakwah utama penyebaran Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara. Adapun tokoh Datuk Ri Bandang yang semula menemani Tunggang Parangan berlayar, urung berdakwah di timur Kalimantan karena fokus berdakwah di Makassar.[1]

Dalam manuskrip Salasilah Kutai dikisahkan terjadi adu kesaktian antara Tunggang Parangan dan Raja Makota untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yang dibawa Tunggang Parangan. Sejarawan publik Muhammad Sarip mengungkapkan interpretasi terhadap cerita mitologis tersebut bahwa Islamisasi di Kutai Kertanegara berlangsung melalui dialektika yang egaliter antara Tuan Tunggang Parangan dan Raja Makota.[2]

Setelah di ibu kota kerajaan di Kutai Lama, pengislaman yang dilakukan Tunggang Parangan atas seizin Raja Makota terjadi di sepanjang pesisir timur Kalimantan sampai ke Sangkulirang di bagian utara dan Balikpapan di bagian selatan. Ajaran Islam yang didakwahkan dapat beradaptasi dengan masyarakat Kutai karena tidak menghapuskan tradisi dan adat istiadat lama.[4]

Tuan Tunggang Parangan melakukan syiar Islam di Kutai sampai wafat. Jasadnya dimakamkan di Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sekarang.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 Sarip, Muhammad (21 Agustus 2021). "Islamisasi Kerajaan Kutai Kertanegara Abad Ke-16: Studi Historiografi Naskah Arab Melayu Salasilah Kutai". Yupa: Historical Studies Journal. 5 (1). doi:10.30872/yupa.v5i1.573.
  2. 1 2 3 Sarip, Muhammad (2023). Histori Kutai: Peradaban Nusantara di Timur Kalimantan dari Zaman Mulawarman hingga Era Republik. Samarinda: RV Pustaka Horizon. ISBN 978-623-6805-61-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Rifandi, Ahmad (14 Maret 2024). "Menelusuri jejak Islam masuk ke Tanah Kutai". ANTARA. Diakses tanggal 22 Februari 2024.
  4. ↑ Sarip, Muhammad; Nandini, Nabila (2021). "Akomodasi Islam atas Warisan Budaya Hindu dalam Masyarakat Banjar dan Kutai: Tinjauan Manuskrip Hikayat Banjar dan Salasilah Kutai". Prosiding International Symposium “Cosmopolitanism of Islam Nusantara: Spiritual Traces and Intellectual Networks on the Spice Route”.
  5. ↑ http://www.sapos.co.id Ada Tiga Makam Keramat di Desa Kutai Lama

Pranala luar

  • Kedaton Kutai Kartanegara-TENGGARONG, Kaltim Diarsipkan 2010-12-27 di Wayback Machine.
  • Resistensi atas Islamisasi Di Kutai Kartanegara Ing Martadipura Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Asal-usul
  2. Islamisasi di Kutai
  3. Referensi
  4. Pranala luar

Artikel Terkait

Datuk ri Bandang

melaksanakan syiar Islam bersama temannya, Tuan Tunggang Parangan di kerajaan tersebut. Temannya, Tuan Tunggang Parangan tetap bertahan di Kutai, dan akhirnya

Suku Kutai

kelompok etnik pribumi yang berasal dari daerah-daerah Kutai di Kalimantan Timur

Situs Kutai Lama

situs bersejarah di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026