Tuan Tunggang Parangan adalah seorang ulama dari Minangkabau yang mengislamkan penduduk Makassar dan kemudian menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara di timur Pulau Kalimantan pada 1575. Ia berhasil mengajak Raja Makota (1525–1600) masuk Islam. Ia juga juga melakukan Islamisasi bersama Raja Aji Dilanggar (1600–1605) yang memerintah setelah Raja Makota.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Tuan Tunggang Parangan | |
|---|---|
| Lahir | Abad 16 |
| Meninggal | Abad 17 Kutai, Kerajaan Kutai, Kalimantan |
| Pekerjaan | Ulama |
| Dikenal atas | Penyebar Islam di Kerajaan Kutai, Kalimantan |
Tuan Tunggang Parangan adalah seorang ulama dari Minangkabau yang mengislamkan penduduk Makassar dan kemudian menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara di timur Pulau Kalimantan pada 1575. Ia berhasil mengajak Raja Makota (1525–1600) masuk Islam. Ia juga juga melakukan Islamisasi bersama Raja Aji Dilanggar (1600–1605) yang memerintah setelah Raja Makota.[1]
Pada abad ke-16 Kesultanan Aceh Darussalam menerima permintaan dari Raja Tanete di Sulawesi Selatan untuk meredakan perselisihan akibat perbedaan keyakinan. Kesultanan Aceh pun mengutus tiga ulama, yakni Abdullah Makmur (Datuk Ri Bandang), Sulaiman (Datuk Ri Pattimang), dan Abdul Jawad (Datuk Ri Tiro). Saat di Gresik, Jawa Timur, mereka bertemu dengan Tuan Tunggang Parangan, ulama yang memiliki misi serupa. Keempatnya sepakat untuk berdakwah bersama di Pulau Sulawesi. Mereka tiba di Kerajaan Tanete dan berhasil mengislamkan penduduknya.[2]
Datuk Ri Bandang dan Tunggang Parangan kemudian melanjutkan perjalanan ke Makassar, dan kembali menuai kesuksesan dalam mengislamkan penduduk. Tunggang Parangan dan Datuk Ri Bandang kemudian menyeberangi Selat Makassar, menuju Pulau Kalimantan. Mereka memasuki muara Sungai Mahakam, menuju Pelabuhan Kutai. Namun, di tengah perjalanan mereka mendapat kabar dari orang Makassar, bahwa sebagian penduduk Makassar yang telah memeluk Islam kembali ke kepercayaan asalnya. Datuk Ri Bandang kembali ke Makassar untuk meyakinkan penduduk agar kembali memeluk Islam, sementara Tunggang Parangan melanjutkan dakwahnya di Kalimantan.[2][1][3]
Proses masuk Islamnya Raja Kutai Kertanegara ke-6 pada 1575 terjadi melalui peran guru atau wali pengembara secara damai tanpa kekerasan. Tunggang Parangan menjadi tokoh sufi juru dakwah utama penyebaran Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara. Adapun tokoh Datuk Ri Bandang yang semula menemani Tunggang Parangan berlayar, urung berdakwah di timur Kalimantan karena fokus berdakwah di Makassar.[1]
Dalam manuskrip Salasilah Kutai dikisahkan terjadi adu kesaktian antara Tunggang Parangan dan Raja Makota untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yang dibawa Tunggang Parangan. Sejarawan publik Muhammad Sarip mengungkapkan interpretasi terhadap cerita mitologis tersebut bahwa Islamisasi di Kutai Kertanegara berlangsung melalui dialektika yang egaliter antara Tuan Tunggang Parangan dan Raja Makota.[2]
Setelah di ibu kota kerajaan di Kutai Lama, pengislaman yang dilakukan Tunggang Parangan atas seizin Raja Makota terjadi di sepanjang pesisir timur Kalimantan sampai ke Sangkulirang di bagian utara dan Balikpapan di bagian selatan. Ajaran Islam yang didakwahkan dapat beradaptasi dengan masyarakat Kutai karena tidak menghapuskan tradisi dan adat istiadat lama.[4]
Tuan Tunggang Parangan melakukan syiar Islam di Kutai sampai wafat. Jasadnya dimakamkan di Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sekarang.[5]