Situs Kutai Lama merujuk kepada beberapa objek cagar budaya yang berlokasi di Desa Kutai Lama, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kutai Lama adalah pusat awal berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara dan berada di sekitar hilir Sungai Mahakam dan menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah perkembangan politik dan budaya di Kalimantan Timur. Adapun beberapa objek cagar budaya yang telah diidentifikasi meliputi Makam Tuan Tunggang Parangan, Makam Aji Makota, Jahitan Layar, Sungai Keramat, Sungai Kutai, Sungai Tempurung, Gunung Gong, dan Tambora.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Situs Kutai Lama merujuk kepada beberapa objek cagar budaya yang berlokasi di Desa Kutai Lama, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kutai Lama adalah pusat awal berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara dan berada di sekitar hilir Sungai Mahakam dan menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah perkembangan politik dan budaya di Kalimantan Timur. Adapun beberapa objek cagar budaya yang telah diidentifikasi meliputi Makam Tuan Tunggang Parangan, Makam Aji Makota, Jahitan Layar, Sungai Keramat, Sungai Kutai, Sungai Tempurung, Gunung Gong, dan Tambora.
Makam Tuan Habib Tunggang Parangan adalah tokoh penyebar agama Islam pertama di Kerajaan Kutai Kertanegara pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota (1525–1589).[1] Tidak jauh dari Makam Tuan Habib Tunggang Parangan, terdapat makam Aji Mahkota.[2]
Situs-situs lainnya seperti Jahitan Layar, Sungai Keramat, Sungai Kutai, Sungai Tempurung, Gunung Gong, dan Tambora merupakan bagian dari kawasan bersejarah di sekitar Kutai Lama. Masing-masing situs memiliki latar tradisi lokal yang menggambarkan aktivitas masyarakat dan keluarga bangsawan pada masa lalu. Situs Jahitan Layar, misalnya, berkaitan dengan kisah kedatangan seorang saudagar Tiongkok yang dikisahkan terdampar dan memperbaiki layar kapalnya di kawasan yang kemudian dinamakan Gunung Layar. Letaknya yang menonjol membuatnya disebut sebagai titik pertama yang terlihat oleh pelaut yang datang dari arah Jawa atau Sulawesi. Sementara itu, kawasan Sungai Keramat dikenal sebagai tempat bermukim keluarga raja yang berada di seberang Kutai Lama, sedangkan Sungai Kutai (anak sungai dari Sungai Kutai Lama) menjadi lokasi penting bagi penyelenggaraan tradisi Erau pada masa Kerajaan Kutai Kertanegara, terutama sejak awal 2000-an.[3]
Situs lain di kawasan ini juga memiliki fungsi khusus dalam tradisi kerajaan. Sungai Tempurung, yang berbatasan dengan Sungai Karang Mumus, dikenal sebagai tempat berburu dan mengembara bagi para sultan. Adapun Gunung Gong, yang berjarak sekitar empat kilometer dari Kutai Lama, digunakan sebagai lokasi peristirahatan dan berburu, serta memiliki tradisi lokal mengenai bunyi gong yang dipercaya muncul pada waktu tertentu, termasuk pada Jumat siang. Situs Tambora, yang menjadi bagian terakhir dari rangkaian lokasi bersejarah tersebut, kini berfungsi sebagai area rekreasi bagi keluarga keturunan kerajaan.