Traktat Paris adalah traktat yang ditandatangani pada 30 Mei 1814 dan mengakhiri perang antara Prancis dan Koalisi Keenam. Traktat ini adalah salah satu dari traktat yang mengakhiri era Napoleon. Pada traktat ini terdapat pembagian wilayah, seperti pembagian wilayah Jerman, Italia dan beberapa negara lainnya, sementara Swiss mendapat kemerdekaannya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Februari 2023) |
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Traktat Paris adalah traktat yang ditandatangani pada 30 Mei 1814 dan mengakhiri perang antara Prancis dan Koalisi Keenam. Traktat ini adalah salah satu dari traktat yang mengakhiri era Napoleon. Pada traktat ini terdapat pembagian wilayah, seperti pembagian wilayah Jerman, Italia dan beberapa negara lainnya, sementara Swiss mendapat kemerdekaannya.
Trakat ini ditandatangani pada 30 Mei 1814, menyusuli gencatan senjata yang ditandatangani oleh Charles dari Bourbon, Count Artois selaku Letnan Jenderal Kekaisaran bersama dengan pihak Koalisi.[1] Napoleon Bonaparte pada 6 April menandatangani surat pengunduran dirinya setelah proses negosiasi di Istana Fontainebleau.
Perundingan perdamaian dimulai pada 9 Mei oleh Talleyrand bersama pihak Koalisi. Talleyrand mewakili Louis XVIII dari Prancis yang diasingkan akibat Revolusi Prancis. Kedua belah pihak bernegosiasi di Chaumont. Perundingan tersebut menghasilkan Trakat Paris yang menandakan perdamaian antara Prancis dengan Britania Raya, Rusia, Austria, dan Prusia yang pada Maret sudah menentukan arah tujuan perang di Chaumont.[2] Mereka yang menandatangani trakat ini antara lain:
Trakat ini juga ditandatangani oleh Portugal dan Swedia sementara Spanyol meratifikasi trakat ini kemudian pada Juli.[4] Pihak koalisi tidak menandatangani satu dokumen bersama, namun merundingkan perjanjian perdamaian yang berbeda dengan Prancis agar mendapatkan amandemen tertentu.[4]
Berdasarkan trakat ini, pihak koalisi mengakui wilayah kedaulatan Prancis kembali pada perbatasan tahun 1792 dan Prancis harus membebaskan wilayah tetangganya setelah kekalahan Napoleon Bonaparte.[2] Selain perbatasan 1792, Prancis diperbolehkan tetap menguasai Saarbrücken, Saarlouis, Landau in der Pfalz, Montbéliard, bagian Savoia dengan Annecy dan Chambéry, Avignon dan Comtat Venaissin beserta seluruh artefak yang disimpan Prancis selama perang. Namun di sisi lain, Prancis harus menyerahkan sebagian dari wilayah jajahan mereka.[2]
Selain perdamaian dan penghentian perang, trakat ini juga merupakan sebuah draft untuk perjanjian perdamaian akhir yang menurut pasal 32 trakat tersebut menyatakan bahwa perundingan akan diselesaikan dalam waktu dua bulan kemudian bersama dengan seluruh pihak yang bertempur di Perang Napoleon.[5] Provisi ini menghasilkan Kongres Wina yang akan diselenggarakan diantara September 1814 sampai Juni 1815.[6]
Koalisi menyatakan bahwa tujuan Kongres Wina adalah untuk mencapai perdamaian abadi berdasarkan keseimbangan kekuatan antar kekuasaan. Prancis tidak akan diberikan hukuman berat karena Prancis telah merestorasikan sistem monarki.[3] Maka, pra-syarat perjanjian yang disetujui di Paris merupakan hukuman ringan dari koalisi karena pihak koalisi tidak mau menganggu proses restorasi monarki yang berlangsung.
Trakat ini mengakui keabsahan Wangsa Bourbon sebagai wangsa penguasa Prancis. Raja Prancis akan diduduki oleh Louis XVIII dari Prancis karena berdasarkan pembukaan, trakat ini merupakan trakat antara Louis XVIII dan negara koalisi.