Thrasymakos adalah seorang filsuf yang digolongkan sebagai kaum sofis. Sebagaimana kaum sofis umumnya, ia bekerja sebagai guru dan mendapat upah dari pengajarannya itu. Kemudian ia juga berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajar. Selain itu, ia terkenal dalam bidang retorika dan juga berbicara dalam bidang etika. Dalam bidang retorika, Thrasymakos adalah salah seorang sofis yang menjadi pionir. Aristoteles menyebutnya sebagai penerus dari Tisias.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Thrasymakos adalah seorang filsuf yang digolongkan sebagai kaum sofis.[1] Sebagaimana kaum sofis umumnya, ia bekerja sebagai guru dan mendapat upah dari pengajarannya itu.[2] Kemudian ia juga berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajar.[2][3] Selain itu, ia terkenal dalam bidang retorika dan juga berbicara dalam bidang etika.[2] Dalam bidang retorika, Thrasymakos adalah salah seorang sofis yang menjadi pionir.[2] Aristoteles menyebutnya sebagai penerus dari Tisias.[2]
Thrasymakos meninggalkan karya-karya tulisan dalam jumlah besar, seperti "Panduan Utama" (The Great Text-Book), "Subyek-subyek bagi Seni Berpidato" (Subjects for Oratory), Prooemia, "Jumlah yang berlebih-lebihan" (Preponderance), dan karya-karya lain yang berkaitan dengan retorika.[4] Akan tetapi, saat ini hanya ada sedikit sumber yang tersisa mengenai Thrasymakos dan pemikirannya.[5] Satu-satunya fragmen tulisan langsung dari Thrasymakos yang tersisa kini adalah sebuah pidato yang menampilkan gaya retorika Thrasymakos.[2][4]

Thrasymakos berasal dari kota Chalcedon di Bosporus, yang merupakan koloni dari Megara.[2] Ia diketahui hidup dan berkarya pada pertengahan kedua dari abad ke-5 SM.[4] Hanya ada dua sumber kuno yang berbicara soal periode kehidupan dari Thrasymakos.[2] Pertama, buku The Banqueters karya Aristophanes menyinggung keberadaan Thrasymakos.[2] Buku tersebut ditulis pada tahun 427 SM sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tahun tersebut Thrasymakos telah dikenal di Athena.[1][2] Kedua, di dalam karya Plato yang berjudul "Republik", terdapat sebuah kalimat dari perkataan-perkataan Thrasymakos yang menunjukkan ia hidup pada saat Arkhelaos, raja Macedonia, melakukan serangan ke Thessaly.[1][2] Serangan tersebut dilakukan antara tahun 413 SM hingga 399 SM.[2]
Di dalam bidang retorika, Thrasymakos terkenal karena menemukan gaya yang dinamakan "jalan tengah".[2][3] Dalam caranya membuat suatu tulisan, ia memperhatikan teknik dengan saksama dan juga berupaya menggugah emosi dari para pendengarnya.[2] Selain itu, ia juga bereksperimen dengan menggunakan irama prosa.[2]
Satu-satunya sumber kuno yang berbicara tentang pandangan politik Thrasymakos adalah buku "Republik" dari Plato.[3] Akan tetapi, pandangan Plato yang negatif terhadap Thrasymakos di dalamnya membuat otentisitas historisnya diragukan.[2][3] Di situ, Thrasymakos digambarkan sebagai lawan Sokrates yang menyatakan bahwa "keadilan hanya membawa keuntungan bagi yang kuat".[1][2][3] Pihak yang kuat yang dimaksud di sini adalah yang berkuasa.[3]
Menurut W.C.K. Guthrie, Thrasymakos berbicara demikian untuk melawan pandangan Sokrates yang terlalu optimi terhadap keadilan.[2] Thrasymakos ingin menunjukkan bagaimana kenyataan yang terjadi ternyata berbeda.[2] Para penguasa memerintah untuk memperluas kekuasaannya, dan bila hukum-hukum yang mereka buat ditaati, hal itu disebut sebagai keadilan.[2] Akan tetapi, bila hukum-hukum ditaati, maka kepentingan orang lain juga akan terpenuhi.[2] Thrasymakos mengatakan bahwa jikalau ada subjek yang hanya ingin memenuhi kepentingan sendiri dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain, subjek tersebut tidak adil.[2] Karena itu, untuk menjadi adil, seseorang harus mengikuti hukum yang dibuat penguasa, meskipun penguasa itu sendiri tidak adil sebab mencari kepentingannya sendiri.[2] Dengan demikian, meskipun penguasa tersebut 'tidak adil', tetapi kita harus tetap menaati hukum dan menjadi adil.[2] Penguasa yang 'tidak adil' itu, bagaimanapun juga akan dipandang sebagai penguasa yang berhasil sehingga disanjung oleh masyarakat, walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki keadilan tersebut.[2]