Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Teungku Tapa Abdullah Pakeh

Teungku Tapa adalah seorang tokoh perlawanan terhadap Belanda dalam masa Konflik Aceh–Belanda pada akhir abad ke-19. Ia berasal dari Tilatang Kamang, Minangkabau, dan dikenal karena memimpin gerakan perang sabil di Aceh Utara dan Aceh Timur sekitar tahun 1898. Gerakannya menarik ribuan pengikut melalui kombinasi kepemimpinan karismatik, propaganda religius, serta kepercayaan rakyat bahwa ia adalah jelmaan tokoh legenda Aceh, Malem Diwa.

Wikipedia article
Diperbarui 20 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Teungku Tapa (nama asli Abdullah Pakih Nagari atau Abdullah Pakeh) adalah seorang tokoh perlawanan terhadap Belanda dalam masa Konflik Aceh–Belanda pada akhir abad ke-19. Ia berasal dari Tilatang Kamang, Minangkabau, dan dikenal karena memimpin gerakan perang sabil di Aceh Utara dan Aceh Timur sekitar tahun 1898. Gerakannya menarik ribuan pengikut melalui kombinasi kepemimpinan karismatik, propaganda religius, serta kepercayaan rakyat bahwa ia adalah jelmaan tokoh legenda Aceh, Malem Diwa.[1][2]

Latar belakang

Teungku Tapa lahir dengan nama Abdullah Pakih Nagari di Tilatang Kamang dekat Bukittinggi, wilayah Minangkabau. Pada tahun 1885 ia ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena terlibat kerusuhan di wilayah Padang Atas dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama dua puluh tahun di Aceh. Setelah beberapa waktu menjalani hukuman tersebut, ia berhasil melarikan diri dan kemudian hidup di wilayah pedalaman Aceh.[2]

Dalam kehidupan selanjutnya ia dikenal sebagai tabib tradisional dan pembuat azimat. Kemampuannya dalam pengobatan membuatnya diterima di lingkungan masyarakat Aceh. Ia pernah tinggal di wilayah Tanah Gayo dan menikah di sana. Setelah terlibat pertengkaran keluarga yang berujung pembunuhan saudara istrinya, ia melarikan diri ke Bulue Biang dan hidup menyepi. Dari kebiasaan bertapa inilah ia kemudian dikenal sebagai Teungku Tapa.[2]

Kemunculan sebagai pemimpin perlawanan

Pada pertengahan dekade 1890-an, muncul kekosongan kepemimpinan dalam beberapa kelompok perlawanan Aceh setelah wafatnya sejumlah tokoh ulama. Dalam situasi tersebut, Teungku Tapa tampil sebagai pemimpin baru yang berhasil menarik dukungan rakyat di Aceh Utara dan Aceh Timur.[2]

Para pengikutnya menyebarkan kabar bahwa ia adalah Malem Diwa, tokoh legendaris Aceh yang diyakini memiliki kekuatan gaib dan kembali ke dunia untuk menolong umat Islam melawan penjajah. Kepercayaan tersebut memperkuat pengaruhnya dan menarik ribuan pengikut dari wilayah Pasai, Idi, Julok, dan Simpang Ulim.[2]

Dalam waktu singkat ia mampu menghimpun lebih dari sepuluh ribu orang pengikut yang membentuk suatu laskar besar yang kemudian dikenal sebagain Gerakan Teungku Tapa. Demonstrasi kesaktian, cerita mukjizat, serta simbol-simbol religius digunakan untuk membangun legitimasi kepemimpinannya di tengah masyarakat pedalaman Aceh.[2]

Gerakan tahun 1898

Pada tahun 1898 gerakan Teungku Tapa mencapai puncaknya. Ia menyerukan perang sabil melawan Belanda dan melancarkan serangan terhadap pos-pos militer kolonial serta wilayah yang dikuasai uleebalang pro-Belanda di pesisir utara dan timur Aceh.[2]

Keberhasilan awal gerakan ini membuat Belanda mengirimkan pasukan tambahan untuk menumpasnya. Pertempuran terjadi di beberapa wilayah Aceh Timur, terutama di sekitar Idi dan Perlak. Pasukan Teungku Tapa yang sebagian besar bersenjata tradisional menghadapi tentara kolonial yang lebih terlatih dan memiliki persenjataan modern.[2]

Ekspedisi Idi adalah ekspedisi Belanda ke Idi, sebuah negara kecil di pesisir timur Aceh. Jenderal Belanda di Kutaradja mengutus pasukannya di bawah komando Jendral J.B. van Heutsz ke Idi pada 6 Juli 1898 hingga 24 Juli 1898. Sandi operasi tersebut adalah Het bedwingen van Teungkoe Tapa beweging (Memukul gerakan Teungku Tapa).[3]

“Teungkoe Tapa, de bedriegelijke herrijzen Malim Dewa, de z.g. onkwetsbare held uit de Atjehsche hikayat, had zich een enorme aanhang weten te verschaffen door den heiligen oorlog te prediken.”[4]

Dalam pertempuran besar yang terjadi pada 1899, pasukan Teungku Tapa mengalami kekalahan dan terpaksa mundur. Ia bersama pengikutnya kemudian melarikan diri ke pedalaman Gayo, wilayah pegunungan yang sulit dijangkau oleh pasukan kolonial.[2]

Kematian

Sekitar tahun 1900–1901, Teungku Tapa kembali mencoba melancarkan perang sabil dengan sisa pengikutnya. Namun dalam salah satu kontak senjata dengan tentara Belanda, ia akhirnya ditembak mati.[2]

Kematian Teungku Tapa mengakhiri salah satu gerakan karismatik dalam sejarah perlawanan Aceh terhadap kolonial Belanda. Meskipun gerakannya tidak bertahan lama, kisahnya tetap menjadi bagian penting dari sejarah sosial Perang Aceh.[2]

Kronologi

Tahun Peristiwa
1885 Abdullah Pakih Nagari ditangkap Belanda dan dihukum kerja paksa di Aceh.
1880-an akhir Ia melarikan diri dan hidup di wilayah Gayo.
1890-an Dikenal sebagai Teungku Tapa setelah menjalani kehidupan bertapa.
1898 Memimpin gerakan besar melawan Belanda dan dianggap sebagai Malem Diwa.
1899 Pasukannya kalah dalam pertempuran di Aceh Timur dan mundur ke Gayo.
±1900 atau 1901 Teungku Tapa tewas ditembak dalam kontak senjata dengan tentara Belanda.

Lihat pula

  • Konflik Aceh–Belanda
  • Teungku Chik di Tiro
  • Teungku Fakinah

Referensi

  • Ibrahim Alfian. Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912.
  • Koloniaal Verslag 1899.
  • Suryadi. Kajian tentang Abdullah Pakih Nagari dalam sejarah Perang Aceh.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
  1. ↑ Ibrahim Alfian. Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Said, H. M. (2007). Aceh sepanjang abad (Jilid 2). Medan: Waspada.
  3. ↑ Ibrahim Alfian. Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912.
  4. ↑ "Kisah Teungku Tapa Menaklukkan Belanda – PORTALSATU.com" (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-12. Diakses tanggal 2020-06-12.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Kemunculan sebagai pemimpin perlawanan
  3. Gerakan tahun 1898
  4. Kematian
  5. Kronologi
  6. Lihat pula
  7. Referensi

Artikel Terkait

Gerakan Teungku Tapa

Aceh. Konflik Aceh–Belanda Perang Aceh Teungku Chik di Tiro Teungku Chik Kutakarang Teungku Tapa Abdullah Pakeh Ibrahim Alfian. Perang di Jalan Allah:

Konflik Aceh–Belanda

gagal merebut kembali kedua wilayah tersebut. Teungku Tapa (nama asli Abdullah Pakih Nagari atau Abdullah Pakeh) adalah seorang tokoh perlawanan terhadap

Tokoh dan Pemimpin Konflik Aceh-Belanda

Pidie Teungku Pakeh, Gugur di Pidie Teungku Meurandeh, Gugur di Pidie. Teungku Chik Di Jambi, Gugur di Pidie. Teungku Di Samad, Gugur di Pidie. Teungku Ma’

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026