Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Teuku Jacob

Teuku Jacob merupakan guru besar emeritus dalam bidang antropologi ragawi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal luas sebagai tokoh penting dalam pengembangan paleoantropologi di Indonesia dan sering dijuluki sebagai "Bapak Paleoantropologi Indonesia". Sepanjang kariernya, Teuku Jacob melakukan berbagai penelitian terhadap fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Wikipedia article
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Teuku Jacob
Teuku Jacob
Rektor Universitas Gadjah Mada ke-7
Masa jabatan
1981 – 1986
Sebelum
Pendahulu
Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, MA
Pengganti
Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, LLM
Informasi pribadi
Lahir(1929-12-06)6 Desember 1929
Peureulak, Aceh, Hindia Belanda
Meninggal17 Oktober 2007(2007-10-17) (umur 77)
Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia
AlmamaterUniversitas Utrecht (Ph.D.; 1967)
Dikenal karenaantropologi biologis
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Teuku Jacob (6 Desember 1929 – 17 Oktober 2007) merupakan guru besar emeritus dalam bidang antropologi ragawi di Universitas Gadjah Mada (UGM).[1] Ia dikenal luas sebagai tokoh penting dalam pengembangan paleoantropologi di Indonesia dan sering dijuluki sebagai "Bapak Paleoantropologi Indonesia". Sepanjang kariernya, Teuku Jacob melakukan berbagai penelitian terhadap fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Selain kegiatan akademiknya, ia juga berperan sebagai penggagas pendirian Museum Trinil di Ngawi, yang menjadi salah satu pusat pelestarian dan penelitian fosil manusia purba di Indonesia. Dalam bidang ilmiah, Teuku Jacob dikenal memiliki pandangan yang kritis terhadap sejumlah temuan paleoantropologi, termasuk mengenai asal-usul Homo floresiensis.[2][3]

Kehidupan

Teuku Jacob merupakan antropolog ragawi ternama Indonesia dan guru besar emeritus di UGM. Ia adalah putra bungsu dari tiga bersaudara, anak dari Teuku Sulaiman. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas di Banda Aceh pada tahun 1949, Jacob melanjutkan studi kedokteran di Fakultas Kedokteran UGM dan lulus pada tahun 1956. Ia kemudian menempuh pendidikan di Universitas Amerika, Washington D.C., dan meraih gelar doktor di Rijksuniversiteit Utrecht, Belanda, pada tahun 1970. Dalam masa studinya, Jacob dibimbing oleh dua tokoh arkeologi dunia, Prof. Dr. W. Montague Cobb dan Prof. Dr. G.H.R. Koenigswald.[1]

Dalam bidang pendidikan, Teuku Jacob dikenal sebagai pemikir orisinal dan progresif. Ia pernah mengusulkan agar lulusan SMA jurusan IPS dapat diterima di fakultas kedokteran. Ia juga menyoroti ketimpangan sebaran profesi teknik di Indonesia dengan menyatakan bahwa sebagaimana dokter dapat menjadi "dokter Inpres", seharusnya insinyur pun dapat mengabdi di daerah terpencil. Namun, ia mengakui kesulitan dalam mencetak penerus di bidang paleoantropologi karena bidang ini bersifat multidisipliner, yang mencakup ilmu kedokteran, biologi, arkeologi, dan antropologi budaya, serta hasilnya tidak langsung terasa bagi masyarakat.

Teuku Jacob aktif di berbagai organisasi ilmiah internasional dan menulis sejumlah karya ilmiah penting. Ia menolak pandangan para ahli Barat yang beranggapan bahwa manusia purba di kawasan Sangiran, Solo, memiliki tradisi mengayau. Menurut Jacob, kerusakan pada tengkorak manusia purba di kawasan tersebut disebabkan oleh faktor alam, bukan kekerasan antarindividu. Ia juga berpendapat bahwa manusia purba tidak memiliki dorongan kuat untuk membunuh karena kebutuhan hidup mereka dapat dipenuhi dengan mudah.

Dalam kehidupan pribadi, Teuku Jacob menikah dengan Nuraini dan dikaruniai seorang anak perempuan. Ia dikenal memiliki kegemaran membaca serta kerap bepergian dengan membawa fosil dalam jumlah besar untuk keperluan penelitian. Salah satu pengalamannya yang terkenal terjadi pada tahun 1977 ketika ia membawa fosil ke Tokyo dan mendapatkan pengawalan ketat dari pihak keamanan.

Meski dikenal sebagai sosok ilmuwan serius, Jacob memiliki selera humor dan pandangan unik tentang wibawa seorang peneliti. Ia pernah berkelakar bahwa di dunia ilmiah, semakin lusuh pakaian seorang peneliti, semakin tinggi pula kewibawaannya. Sebagai tokoh ilmiah asal Aceh, Teuku Jacob diakui sebagai salah satu ilmuwan antropologi internasional dan dikenal karena perannya dalam penelitian kontroversial mengenai Homo floresiensis atau manusia purba Flores.[2][3]

Pendidikan

Pendidikan Teuku Jacob dimulai di Langsa, tempat ia menyelesaikan Sekolah Dasar pada tahun 1943. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama di Kutaraja (kini Banda Aceh) dan lulus pada tahun 1946, dilanjutkan dengan sekolah menengah atas di kota yang sama hingga tamat pada tahun 1949.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Jacob melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana kedokteran pada tahun 1956. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat, belajar di Universitas Amerika, Washington D.C., pada tahun 1960.

Pendidikan akademiknya mencapai puncak di Rijksuniversiteit Utrecht, Belanda, tempat ia meraih gelar doktor dalam bidang antropologi ragawi pada tahun 1967.

Karier

Karier akademik dan profesional Jacob dimulai ketika ia menjadi Asisten Ahli Antropologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada periode 1954–1963. Setelah itu, ia menjabat sebagai Lektor Muda dan kemudian Lektor Kepala Antropologi di universitas yang sama dari tahun 1963 hingga 1971.

Di luar negeri, Jacob pernah menjadi Asisten Anatomi di Universitas Amerika, Washington D.C., pada tahun 1959–1960, serta Guru Besar Tamu Paleontologi Manusia di San Diego pada tahun 1968. Setelah kembali ke Indonesia, ia diangkat menjadi Guru Besar Antropologi UGM pada tahun 1971.

Selain mengajar dan meneliti, Jacob juga memegang berbagai jabatan administratif di lingkungan UGM. Ia menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Kedokteran UGM pada periode 1973–1975, kemudian menjadi Ketua Bidang Ilmu Kedokteran di Lembaga Pendidikan Doktor UGM sejak 1977. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi anggota Komisi Kerja Senat UGM.

Puncak karier akademiknya di UGM tercapai ketika ia dipercaya menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada pada periode 1981–1986.[4]

Karya

  • The Sixth Skull Cap of Pithecanthropus Erectus, American Journal of Physical Anthropology (1966)
  • Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesia Region, Neerlandia, Utrecht (1967)
  • The Phitecanthropus of of Indonesia, Bulletins et Mémoires de Société d’Anthropologie de Paris (1975)
  • Menuju Teknologi Berperikemanusiaan (1996)
  • Tahun-Tahun Yang Sulit (2001)
  • Tragedi Negara Kesatuan Kleptokratis (2004)
  • Pygmoid Australomelanesian Homo sapiens skeletal remains from Liang Bua, Flores: Population affinities and pathological abnormalities (2005)

Referensi

  1. 1 2 "TEUKU JACOB". data.tempo.co. Diakses tanggal 4 November 2025.
  2. 1 2 "Teuku Jacob dan Koleksi Manusia Purba". Universitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 4 November 2025. Pengabdiannya pada bidang inilah yang mengantarkannya membuka pengetahuan baru bagi umat manusia dengan penemuan fosil Homo erectus Jawa di Sangiran pada 1962 dan Homo floresiensis di Liang Bua, Pulau Flores.
  3. 1 2 Setiawan, Verda Nano. "Manusia Flores Masih Hidup Berkeliaran, Ahli Ungkap Faktanya". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 4 November 2025.
  4. ↑ "Teuku Jacob dan Koleksi Manusia Purba". Universitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 4 November 2025.
Jabatan akademik
Didahului oleh:
Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, MA
Rektor Universitas Gadjah Mada
1981 - 1986
Diteruskan oleh:
Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH,ML
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Republik Ceko
  • Belanda
Akademik
  • CiNii
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX
  • l
  • b
  • s
Universitas Gadjah Mada
  • Rektor: Ova Emilia
Fakultas dan
sekolah
  • Fakultas
    • Biologi
    • Ekonomika dan Bisnis
    • Farmasi
    • Filsafat
    • Geografi
    • Hukum
    • Ilmu Budaya
    • Isipol
    • Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan
    • Kedokteran Gigi
    • Kedokteran Hewan
    • Kehutanan
    • MIPA
    • Pertanian
    • Peternakan
    • Psikologi
    • Teknik
    • Teknologi Pertanian
  • Sekolah
    • Vokasi
    • Pascasarjana
Kampus
Bulaksumur
Tokoh penting
  • Alumni
  • Rektor
Lokasi dan
bangunan
  • Balairung
  • Gedung Panca Dharma
  • Grha Sabha Pramana
  • Masjid (Masjid Kampus UGM
  • Masjid Mardliyyah)
  • Rumah Sakit Akademik
  • Sunday Morning
  • Pusat Jajanan Lembah
  • UGM Press
Kategori
  • l
  • b
  • s
Rektor Universitas Gadjah Mada
Universitas Gadjah Mada
  • Sardjito (1941-1961)
  • Herman Johannes (1961-1966)
  • Muhammad Nazr Alwie (1966-1967)
  • Soepojo Padmodipoetro (1967-1968)
  • Soeroso Prawirohardjo (1968-1973)
  • Sukadji Ranuwihardjo (1973-1981)
  • Teuku Jacob (1981-1986)
  • Koesnadi Hardjasoemantri (1986-1990)
  • Mochamad Adnan (1990-1994)
  • Soekanto Reksohadiprodjo (1994-1998)
  • Ichlasul Amal (1998-2002)
  • Sofian Effendi (2002-2007)
  • Sudjarwadi (2007-2012)
  • Pratikno (2012-2014)
  • Dwikorita Karnawati (2014-2017)
  • Panut Mulyono (2017-2022)
  • Ova Emilia (2022-)
Kategori

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan
  2. Pendidikan
  3. Karier
  4. Karya
  5. Referensi

Artikel Terkait

Julian Jacob

penyanyi dan model asal Indonesia

Konflik Aceh–Belanda

kalangan ulama dan bangsawan lokal, seperti Teungku Peukan, Teuku Raja Angkasah dan Teuku Cut Ali. Kerugian materiil yang diderita Belanda dalam Konflik

Daftar tokoh suku Aceh

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026