Teori kucing buatan Deng Xiaoping adalah sebuah filsafat ekonomi yang menyiatakan, "tidak masalah jika seekor kucing itu hitam atau putih, jika ia menangkap tikus, ia adalah kucing yang baik ". Deng berpendapat bahwa ekonomi terrencana atau ekonomi pasar hanyalah alat untuk membagikan sumber daya dan tidak dilakukan dengan lembaga-lembaga politik. Dalam kata lain, sosialisme dapat memiliki ekonomi pasar, dan kapitalisme dapat memiliki ekonomi terrencana. Teori kucing menerima pengakuan luas dalam masyarakat Tiongkok setelah perjalanan keliling selatan Deng Xiaoping pada 1992 dan menjadi ideologi reformasi dan pembukaan Tiongkok.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Teori kucing buatan Deng Xiaoping (Hanzi sederhana: 猫论; Hanzi tradisional: 貓論) adalah sebuah filsafat ekonomi yang menyiatakan, "tidak masalah jika seekor kucing itu hitam atau putih, jika ia menangkap tikus, ia adalah kucing yang baik (不管黑猫白猫,能捉到老鼠就是好猫code: zh is deprecated )".[1][2][3] Deng berpendapat bahwa ekonomi terrencana atau ekonomi pasar hanyalah alat untuk membagikan sumber daya dan tidak dilakukan dengan lembaga-lembaga politik. Dalam kata lain, sosialisme dapat memiliki ekonomi pasar, dan kapitalisme dapat memiliki ekonomi terrencana.[4] Teori kucing menerima pengakuan luas dalam masyarakat Tiongkok setelah perjalanan keliling selatan Deng Xiaoping pada 1992 dan menjadi ideologi reformasi dan pembukaan Tiongkok.[5][6][7]

Pada 1962, Deng Xiaoping, wakil perdana menteri Tiongkok saat itu, mengutip peribahasa Tiongkok, "tidak masalah jika seekor kucing itu hitam atau kucing sepanjang ia menangkap tikus" sebagai dorongan untuk kebijakan reformasi ekonomi "sanzi yibao (三自一包code: zh is deprecated , 'Tiga kemandirian, satu kontrak', merujuk kepada rencana rumah tangga, pasar bebas pedesaan, swa-pendanaan dan kuota pengeluaran tetap)".[8][9] Reformasi ekonomi diinisiasi setelah musibah Lompatan Jauh Kedepan, yang berujung pada Bencana Kelaparan Besar Tiongkok.[10] Pada 7 Juli 1962, Deng kemudian menyatakannya dalam sebuah artikel "Cara Memulihkan Produksi Pertanian (怎样恢复农业生产code: zh is deprecated )":
Kamerad Liu Bocheng seringkali mengutip sebuah peribahasa dari Sichuan, "kucing kuning atau kucing hitam, sepanjang ia menangkap tikus, ia adalah kucing yang baik". Itu artinya, alasan kenapa kita dapat mengalahkan Chiang Kai-shek yang tak mengikuti aturan lama atau susunan lama, namun beradaptasi pada skenario spesifik. Sama halnya dalam rangka untuk memulihkan produksi pertanian saat ini, kita perlu beradaptasi untuk situasi berbeda alih-alih mengikuti satu susunan tetap dalam hubungan produksi. Kita perlu memakai metode apapun yuang dapat meningkatkan keantusiasan rakyat.[8][11]
Namun, pada Revolusi Kebudayaan (1966–1976), teori kucing menjadi salah satu "kejahatan" Deng, dan ia disingkirkan dua kali oleh Mao Zedong.[5][11][12]
Cikal bakal peribahasa itu sendiri berasal dari buku Strange Tales from a Chinese Studio, yang ditulis oleh Pu Songling pada masa dinasti Qing.[13]
Teori kucing bangkit setelah Deng Xiaoping menjadi pemimpin tertinggi Tiongkok pada Desember 1978, saat ia dan sekutunya meluncurkan "reformasi dan pembukaan" Tiongkok.[8][11][14] Setelah unjuk rasa Lapangan Tiananmen pada 1989, program reformasi dan pembukaan memasuki periode stagnasi, dan perhatian timbul dalam Partai Komunis Tiongkok bahwa reformasi lanjutan dapat membuat Tiongkok menjadi negara kapitalis.[15][16] Menanggapi hal tersebut, saat mengunjungi Shanghai pada 1991, Deng berkata bahwa "reformasi dan pembukaan meliputi pengembalian atas hal-hal kapitalis berguna."[2] Kemudian, setelah perjalanan keliling selatan Deng Xiaoping pada 1992, program reformasi dan pembukaan berlanjut, dan teori kucing menjadi banyak dikenal di Tiongkok dan diterima sebagai filsafat reformasi ekonomi, namun "kucing kuning" dalam versi populer dari peribahasa tersebut menjadi "kucing putih".[5][6][11][17]
Deng, however, sponsored the 'cat theory,' namely, that 'a cat, whether it is white or black, is good as long as it is able to catch mice.'