Tata Perayaan Ekaristi adalah buku panduan liturgi Ritus Romawi yang menjabarkan secara terperinci tahap demi tahap misa atau perayaan Ekaristi Gereja Katolik berbahasa Indonesia. TPE tersebut sejatinya merupakan karya terjemahan berdasarkan buku Misale Romawi yang menjadi buku panduan liturgi resmi bagi seluruh Gereja Katolik Roma Ritus Romawi saat ini. TPE ini dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menjadi buku panduan resmi atas seluruh misa Katolik berbahasa Indonesia di seluruh Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Tata Perayaan Ekaristi (disingkat TPE) adalah buku panduan liturgi Ritus Romawi yang menjabarkan secara terperinci tahap demi tahap misa atau perayaan Ekaristi Gereja Katolik berbahasa Indonesia. TPE tersebut sejatinya merupakan karya terjemahan berdasarkan buku Misale Romawi (bahasa Latin: Missale Romanumcode: la is deprecated ) yang menjadi buku panduan liturgi resmi bagi seluruh Gereja Katolik Roma Ritus Romawi saat ini. TPE ini dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menjadi buku panduan resmi atas seluruh misa Katolik berbahasa Indonesia di seluruh Indonesia.
Sebelum tahun 1960, seluruh tahapan perayaan misa di Indonesia menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa pengantar. Kemudian sejak tahun 1960, perayaan Ekaristi di Indonesia mulai dirayakan dalam bahasa Indonesia secara tidak resmi, meskipun bagian Doa Syukur Agung (prex eucharistica) masih didoakan oleh Imam dalam bahasa Latin. Pada tahun 1964, Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI; sekarang disebut Konferensi Waligereja Indonesia atau disingkat KWI) memohon secara resmi kepada Takhta Suci (yang saat itu dipimpin oleh Paus Paulus VI) agar Gereja Katolik Indonesia dapat merayakan Ekaristi dalam bahasa Indonesia, sehingga tahun tersebut menjadi tahun resmi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar misa di Indonesia. Dua tahun setelahnya, MAWI kembali meminta izin kepada Takhta Suci, tetapi kali ini untuk membacakan Doa Syukur Agung dalam bahasa Indonesia.
Pada tahun 1971, Panitia Waligereja Indonesia bidang Liturgi MAWI (PWI-Liturgi MAWI; sekarang disebut Komisi Liturgi KWI) menerbitkan buku Aturan Upacara Misa yang berisi seluruh tata perayaan misa, prefasi-prefasi, dan Doa Syukur Agung. Buku tersebut merupakan terjemahan atas Misale Romawi editio typica (edisi khas) pertama (1970) yang sebelumnya mendapat promulgatio dari Paus Paulus VI dengan konstitusi apostolik "Missale Romanum" yang dikeluarkan pada tanggal 3 April 1969. Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat beberapa tambahan atau perubahan doa-doa, aklamasi-aklamasi, dan prefasi-prefasi dalam bahasa Indonesia yang ditambahkan bersama Aturan Upacara Misa untuk perayaan misa di Indonesia.
Pada tahun 1977, naskah terjemahan Misale Romawi editio typica kedua (1975) mendapat persetujuan ad experimentum (sebagai percobaan) oleh MAWI dalam penggunaan pada perayaan misa. Pada tahun 1979, naskah tersebut diterbitkan oleh PWI-Liturgi dengan nama Tata Perayaan Ekaristi (TPE). Buku TPE ini menggantikan buku Aturan Upacara Misa sehingga buku tersebut tidak berlaku lagi. Belasan tahun kemudian, tepatnya mulai pada tahun 1993, TPE dengan beberapa pengubahan digabung dan dimasukkan ke dalam buku madah Puji Syukur, yaitu di antara kumpulan doa-doa dan kumpulan nyanyian-nyanyian misa.

Pada awal-awal tahun 2000-an, beberapa ensiklik dan dokumen resmi Gereja mengenai liturgi dan Ekaristi dikeluarkan oleh Takhta Suci. Salah satu di antaranya adalah dokumen Misale Romawi editio typica ketiga yang dikeluarkan pada tahun 2002. Pada tahun 2003–2004, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) berusaha menerjemahkan Misale Romawi terbaru dan mengimplementasikannya dalam bentuk revisi TPE. TPE edisi 2005 mendapatkan approbatio oleh para uskup dalam Sidang KWI November 2003, recognitio dari Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen dari Kuria Roma, serta promulgasi dari Presidium KWI [ada tanggal 29 Mei 2005. TPE edisi 2005 diterbitkan dalam buku yang terpisah dari Puji Syukur dan dicetak dalam dua versi, yaitu Buku Umat (yang memuat garis besar Perayaan Ekaristi) dan Buku Imam (yang memuat seluruh tata cara Perayaan Ekaristi sesuai Misale Romawi).
Pada tahun 2008, Takhta Suci kembali mengeluarkan Misale Romawi editio typica ketiga versi revisi reimpressio emendata ("penekanan yang diperbaiki"). Pada tahun 2021, KWI mengeluarkan TPE edisi 2020 yang merupakan terjemahan dari versi Misale Romawi 2008 sekaligus revisi dari TPE edisi 2005, yang telah mendapatkan imprimatur dari Presidium KWI pda tanggal 18 Oktober 2020. Sama seperti sebelumnya, TPE edisi 2020 juga dicetak dalam dua versi, yaitu "Buku Umat" dan "Buku Imam".
TPE edisi 2020 merupakan terjemahan Misale Romawi versi editio typica ketiga dengan revisi reimpressio emendata yang dikeluarkan oleh Takhta Suci pada tahun 2008. Seperti halnya Misale Romawi, TPE mengikuti liturgi Novus Ordo dari Ritus Roma.
Berdasarkan TPE, Misa dibagi menjadi empat bagian besar.[1]
Ritus Pembuka dimulai dari perarakan masuk imam dan pelayan, hingga doa kolekta selesai didaraskan oleh imam. Ritus Pembuka bertujuan mempersatukan dan mempersiapkan umat yang berhimpun agar dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.[2]
Selama Ritus Pembuka, semua umat berdiri.
Langkah-langkah prosesi perarakan masuk adalah sebagai berikut.
Perarakan masuk dapat diiringi nyanyian.
Setelah perarakan selesai dan nyanyian berakhir, selebran membuat Tanda Salib.
Imam mengucapkan salam pembuka dan umat menjawab salam.
| I | : | Tuhan bersamamu. atau Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu. atau Rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan kita Yesus Kristus, bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
Khusus untuk uskup:
Imam, diakon, atau pelayan memberi arahan atas inti dari perayaan misa tersebut kepada umat.
Imam dan umat mengaku dosa secara singkat di hadapan Allah dengan menyatakan tobat.
Langkah-langkah prosesi pernyataaan tobat adalah berikut ini.
| I | : | Saudara-Saudari, marilah mengakui dosa-dosa kita, supaya kita layak merayakan misteri suci. |
|
|
|
| I | : | Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal. |
| U | : | Amin. |
Setelah Doa Tobat, misa dilanjutkan dengan Tuhan Kasihanilah Kami, yang diikuti dengan Madah Kemuliaan dan doa kolekta (atau langsung ke doa kolekta tergantung penanggalan liturgi). Namun jika menggunakan kedua seruan pernyataan tobat yang lain, misa langsung dilanjutkan ke Madah Kemuliaan lalu ke doa kolekta (atau langsung ke doa kolekta tergantung penanggalan liturgi).
Imam dan umat silih berganti mendaraskan atau menyanyikan Tuhan Kasihanilah Kami.
Imam dan/atau umat menyanyikan atau mengucapkan Madah Kemuliaan. Kalimat awal "Kemuliaan kepada Allah di surga" diucapkan oleh imam. Setelah itu, imam dan umat, kor dan umat, solis (penyanyi tunggal) dan umat, atau umat bagian kiri dan bagian kanan secara silih berganti; atau seluruh umat secara bersahut-sahutan menyanyikan kalimat-kalimat selanjutnya hingga selesai.
Madah ini dinyanyikan pada hari-hari tertentu menurut penanggalan liturgi, yaitu pada hari Minggu di luar masa Prapaskah dan Adven, serta pada perayaan dengan tingkat hari raya (tak terkecuali yang jatuh dalam masa Prapaskah dan Adven). Selain itu, penanggalan liturgi umumnya menghendaki Madah Kemuliaan tidak dinyanyikan dan langsung menuju ke doa kolekta.
Imam mendoakan doa kolekta, yaitu mendoakan secara ringkas apa yang menjadi intensi-intensi misa dan permohonan-permohonan umat yang dikumpulkan dalam misa tersebut. Doa ditutup dengan pengucapan "Amin" oleh umat.
Liturgi Sabda dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Kitab Suci dan diakhiri dengan pembacaan doa umat.
Leksionarium yang digunakan dalam misa dikelompokkan menjadi beberapa siklus per tahun sebagai berikut.
Lektor membacakan bacaan yang pertama di mimbar. Bacaan pertama tersebut diambil dari Perjanjian Lama atau dari Kitab Kisah Para Rasul dalam Masa Paskah. Pada misa hari-hari biasa, bacaan pertama juga dapat diambil dari surat-surat Perjanjian Baru dan terkadang dari Kitab Wahyu.
Selama Bacaan Pertama, semua umat duduk dalam posisi mendengarkan. Bacaan diakhiri dengan seruan lektor dan tanggapan umat seperti berikut ini.
| L | : | Demikianlah Sabda Tuhan. |
| U | : | Syukur kepada Allah. |
Pemazmur mendaraskan atau menyanyikan ayat-ayat mazmur di mimbar, sementara umat menjawabnya dengan mendaraskan atau menanyikan ulangan mazmur sambil tetap duduk dalam posisi mendengarkan.
Jika ada, lektor membacakan bacaan yang kedua di mimbar, yang diambil dari surat-surat Perjanjian Baru dan terkadang dari Kitab Wahyu. Bacaan kedua hanya dibacakan pada misa-misa hari Minggu dan hari raya.
Selama Bacaan Kedua, semua umat tetap duduk. Bacaan ini juga diakhiri dengan seruan lektor dan tanggapan umat seperti pada Bacaan Pertama.
Solis atau kor menyanyikan ayat-ayat yang menjadi pengantar Injil, dan dijawab dengan ayat ulangan oleh umat. Bagian Bait Pengantar Injil harus dinyanyikan, sehingga boleh dihilangkan jika tidak dinyanyikan. Umat diharapkan berdiri selama Bait Pengantar Injil.
Ayat pertama bagi solis/kor berupa madah Aleluya, yang dijawab dengan ayat ulangan bagi umat yang berupa madah yang sama. Ayat kedua sekaligus terakhir bagi solis/kor berisi suatu kalimat pengantar yang menjelaskan Injil yang akan dibacakan, setelah itu ditutup oleh umat dengan madah Aleluya sebelumnya.
Pada Masa Prapaskah, madah Aleluya tidak digunakan dan diganti dengan madah lain, umumnya dengan ayat "Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal".[3]
Imam atau diakon (bukan umat awam) membacakan bacaan dari kitab-kitab Injil. Umat tetap berdiri dan berada dalam sikap siap mendengarkan Injil.
Pada misa-misa hari Minggu atau hari raya, Injil Matius digunakan untuk bacaan tahun A, Injil Markus untuk bacaan tahun B, Injil Lukas untuk tahun C, dan Injil Yohanes khusus untuk bacaan pada Masa Paskah dan sesekali pada masa-masa khusus lainnya. Pada misa-misa hari biasa (hari-hari selain Minggu dan hari raya), Injil Matius, Markus, dan Lukas dibacakan bergilir dalam satu tahun liturgi, kecuali dalam Masa Paskah dan untuk hari-hari khusus tertentu yang menggunakan Injil Yohanes.
Langkah-langkah prosesi pembacaan Injil adalah berikut ini.
| D/I | : | Tuhan bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
| D/I | : | Inilah Injil Suci menurut [Matius/Markus/Lukas/Yohanes]. |
| U | : | Dimuliakanlah Tuhan. |
Imam memberikan homili, yakni penjelasan atas bacaan-bacaan yang telah dibacakan sebelumnya. Umat dipersilahkan duduk dengan sikap mendengarkan. Setelah homili, saat untuk hening sejenak dapat diadakan.
Imam dan umat bersama-sama mendaraskan syahadat iman Kristen. Rumusan yang digunakan adalah Syahadat Nikea–Konstantinopel atau Syahadat Para Rasul. Umat dalam posisi berdiri.
Diakon, solis, lektor, atau anggota jemaat membacakan ujud-ujud dan permohonan-permohonan umat di mimbar atau tempat lain yang cocok. Sementara itu, umat tetap berdiri.
Di akhir tiap ujud, pembaca ujud menutup dengan seruan dan umat menjawab dengan rumusan seperti berikut atau dengan rumusan-rumusan lain yang serupa.
Dalam perayaan meriah, seluruh Doa Umat dan/atau aklamasinya dapat dinyanyikan.
Liturgi Ekaristi terdiri dari tiga bagian besar, yaitu Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, dan Ritus Komuni.
Imam, pelayan, dan umat mempersiapkan peralatan dan bahan untuk Ekaristi, serta mempersiapkan diri dan hati masing-masing. Bahan yang terutama dipersiapkan adalah bahan-bahan yang akan dikonsekrasikan dalam misa, yaitu:
Langkah-langkah prosesi persiapan persembahan adalah sebagai berikut.
| I | : | Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti, yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil bumi dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan. |
Bila nyanyian untuk Persiapan Persembahan tidak ada, imam dapat menyebutkan rumusan tersebut dengan lantang, kemudian dijawab oleh umat dengan tanggapan berikut.
| U | : | Terpujilah Allah selama-lamanya. |
| D/I | : | Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami layak mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami. |
Imam lalu mengangkat piala sambil mengucapkan rumusan berikut dengan suara pelan.
| I | : | Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur, yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil pokok anggur dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani. |
| I | : | Tuhan, dengan rendah hati dan jiwa yang menyesal, kami menghadap kepada-Mu; terimalah kami dan semoga persembahan yang kami siapkan hari ini berkenan pada-Mu. |
| I | : | Tuhan, basuhlah aku dari kesalahanku, dan sucikanlah aku dari dosaku. |
| I | : | Berdoalah, Saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang Mahakuasa. |
| U | : | Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang Kudus. |
Dalam TPE 2020, terdapat sepuluh jenis Doa Syukur Agung (DSA) yang dikelompokkan dalam tiga bagian.[4]
Bagian-bagian utama dari Doa Syukur Agung secara umum adalah sebagai berikut. Perlu diingat bahwa urutan bagian-bagian setelah kudus dan sebelum doksologi (nomor 3–7) dapat berbeda-beda tergantung jenis DSA yang digunakan, tetapi anamnesis selalu berada setelah institusi dan konsekrasi.
| I | : | Tuhan bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
| I | : | Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan. |
| U | : | Sudah kami arahkan. |
| I | : | Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita. |
| U | : | Sudah layak dan sepantasnya. |
Terimalah dan makanlah, kamu semua: Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu.
Terimalah dan minumlah, kamu semua: Inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari ritus komuni.
| I | : | Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa. |
Imam dan umat kemudian mengucapkan atau menyanyikan Doa Bapa Kami. Setelah doa, imam menambahkan Embolisme, lalu umat menyebutkan Doksologi Doa Bapa Kami.
| I | : | Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para Rasul-Mu: Damai-Ku Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu: janganlah memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu; dan berilah kami damai dan kesatuan sesuai dengan kehendak-Mu. Engkau yang hidup dan meraja sepanjang segala masa. |
| U | : | Amin. |
Kemudian imam dan umat melakukan dialog salam damai berikut.
| I | : | Semoga damai Tuhan selalu bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
| D/I | : | Marilah kita saling memberikan salam damai. |
| I | : | Semoga pencampuran Tubuh dan Darah Tuhan kami Yesus Kristus ini, memberikan kehidupan abadi bagi kami yang menyambut-Nya. |
| I | : | Tuhan Yesus Kristus, semoga penerimaan Tubuh dan Darah-Mu, tidak menjadi hukuman dan siksaan bagiku: tetapi melindungi dan menyehatkan jiwa ragaku karena kasih sayang-Mu. |
Kemudian sambil imam mengangkat tinggi hosti yang telah dipecah dan piala berisi anggur, imam dan umat melakukan dialog berikut.
| I | : | Lihatlah, Anak Domba Allah, lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah Saudara-Saudari yang diundang ke Perjamuan Anak Domba. |
| I+U | : | Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. |
Setelah menyambut komuni, umat kembali ke tempat duduk dan diharapkan untuk berdoa.
Pada beberapa kesempatan, umat dapat diberikan komuni dua rupa, yaitu hosti dan anggur sekaligus. Pelayan mengambil hosti, mencelupkannya ke anggur, lalu mengangkat hosti sambil menyebutkan "Tubuh dan Darah Kristus", lalu memasukkan ke mulut umat. Umat tidak diperbolehkan mengambil sendiri komuni, baik satu rupa maupun dua rupa. (PUMR 160, 287)[7][8]
Selama pelayanan komuni, nyanyian atau musik yang sesuai dapat dibawakan oleh solis atau kor.
| I/D | : | Tuhan, semoga Tubuh dan Darah yang kami santap ini kami pahami dengan pikiran yang murni, dan kiranya anugerah saat ini menjadi kesembuhan bagi kami untuk selamanya. |
Ritus penutup terdiri dari berkat, pengutusan, dan perarakan keluar, sembari umat dalam posisi berdiri. Sebelumnya, gereja setempat dapat memberikan pengumuman seputar kegiatan pastoral dan kegerejaan, serta imam dapat memberikan amanat pengutusan, yaitu amanat dari perayaan misa tersebut, sembari umat duduk dengan sikap mendengarkan. Pada hari-hari khusus tertentu, misalnya Trihari Suci sebelum Paskah, dan apabila setelah Misa diadakan kegiatan liturgi lain, ritus penutup dihilangkan.
Imam merentangkan tangan dan mengucapkan salam, sementara umat menjawab, kemudian imam melakukan posisi memberkati sambil mengatakan berkat berikut, diikuti tanda salib pada bagian rumusan Tritunggal.
| I | : | Tuhan bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
| I | : | Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa ✠ dan Putra dan Roh Kudus. |
| U | : | Amin. |
Dalam misa pontifikal, uskup menerima dan mengenakan mitra lalu merentangkan tangan sambil mengucapkan salam dan pujian kepada Tuhan, sambil umat menjawab, kemudian uskup menerima tongkat gembala (bila ada) lalu mengucapkan berkat, diikuti tanda salib masing-masing pada tiga pribadi Tritunggal.
| Usk. | : | Tuhan bersamamu. |
| U | : | Dan bersama rohmu. |
| Usk. | : | Semoga nama Tuhan dimuliakan. |
| U | : | Dari sekarang ini sampai selamanya. |
| Usk. | : | Pertolongan kita dalam nama Tuhan. |
| U | : | Yang menjadikan langit dan bumi. |
| Usk. | : | Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa ✠ dan Putra ✠ dan Roh ✠ Kudus. |
| U | : | Amin |
Diakon atau, kalau tidak ada diakon, imam memberi pengutusan kepada umat.
Imam mencium altar, lalu setelah berbaris, sesuai dengan posisi ketika perarakan masuk, imam bersama para pelayan membungkuk khidmat atau berlutut. Setelah itu, mereka berarak keluar gereja.
Perarakan keluar dapat diiringi nyanyian.