Tarrare, kadang dieja Tarar, adalah seorang penghibur, prajurit, dan mata-mata asal Prancis yang dikenal karena nafsu makan dan kebiasaan makan yang luar biasa. Mampu melahap daging dalam jumlah besar, ia senantiasa merasa lapar; orang tuanya tidak sanggup menanggung kebutuhannya, sehingga ia diusir dari rumah ketika masih remaja. Ia kemudian berkelana di seluruh Prancis bersama sekelompok pelacur dan pencuri sebelum akhirnya menjadi pengiring bagi seorang charlatan. Dalam pertunjukannya, Tarrare menelan sumbat botol, batu, binatang hidup, bahkan sekeranjang penuh apel sekaligus. Ia kemudian membawa pertunjukan itu ke Paris, tempat ia bekerja sebagai pengamen jalanan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Tarrare | |
|---|---|
Makalah asli Dokter Pierre-François Percy tentang riwayat medis Tarrare, Mémoire sur la polyphagie (1804) | |
| Nama lain | Tarar |
| Lahir | ca1772 (1772) dekat Lyon, Prancis |
| Meninggal | Versailles, Prancis |
| Pengabdian | Republik Prancis Pertama |
| Dinas/cabang | Angkatan Darat Revolusioner Prancis |
| Lama dinas | 1792–1794 |
| Perang | Perang Koalisi Pertama |
Tarrare (pelafalan dalam bahasa Prancis: [taʁaʁ]; ca 1772 – 1798), kadang dieja Tarar, adalah seorang penghibur, prajurit, dan mata-mata asal Prancis yang dikenal karena nafsu makan dan kebiasaan makan yang luar biasa. Mampu melahap daging dalam jumlah besar, ia senantiasa merasa lapar; orang tuanya tidak sanggup menanggung kebutuhannya, sehingga ia diusir dari rumah ketika masih remaja. Ia kemudian berkelana di seluruh Prancis bersama sekelompok pelacur dan pencuri sebelum akhirnya menjadi pengiring bagi seorang charlatan (pesulap jalanan). Dalam pertunjukannya, Tarrare menelan sumbat botol, batu, binatang hidup, bahkan sekeranjang penuh apel sekaligus. Ia kemudian membawa pertunjukan itu ke Paris, tempat ia bekerja sebagai pengamen jalanan.
Pada awal Perang Koalisi Pertama, Tarrare bergabung dengan Angkatan Darat Revolusioner Prancis. Namun, bahkan setelah jatahnya diperbanyak hingga empat kali lipat dari porsi standar militer, nafsu makannya yang besar tak juga terpuaskan. Ia memakan apa pun yang dapat ditemukan di selokan dan tumpukan sampah, tetapi kondisinya tetap memburuk akibat kelaparan. Ia akhirnya dirawat di rumah sakit karena kelelahan dan dijadikan subjek dalam serangkaian eksperimen medis untuk menguji kapasitas makannya. Dalam percobaan tersebut, antara lain, ia memakan hidangan untuk lima belas orang dalam satu waktu, menelan hidup-hidup kucing, ular, kadal, dan anak anjing, serta menelan belut utuh tanpa mengunyahnya. Meskipun pola makannya amat tidak lazim, tubuhnya tetap kurus, dan selain kebiasaan makannya, ia tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan jiwa, kecuali apa yang digambarkan sebagai sifat apatis.
Jenderal Alexandre de Beauharnais kemudian memutuskan untuk memanfaatkan kemampuan Tarrare dalam bidang militer dengan menjadikannya kurir bagi tentara Prancis. Ia ditugaskan untuk menelan dokumen, menyeberangi garis musuh, dan mengambil kembali dokumen tersebut dari fesesnya setelah tiba dengan selamat di tujuan. Dalam misi pertamanya, ia tertangkap oleh pasukan Kerajaan Prusia, dipukuli dengan kejam, dan menjalani eksekusi palsu sebelum akhirnya dikembalikan ke barisan Prancis.
Trauma oleh pengalaman itu, Tarrare bersedia menjalani prosedur apa pun yang mungkin dapat menyembuhkan nafsu makannya. Namun, semua upaya itu gagal, dan para dokter tidak mampu menahannya dalam pola makan yang teratur. Ia diam-diam keluar dari rumah sakit untuk mencari sisa-sisa jeroan di selokan, tumpukan sampah, dan di depan toko daging. Ia bahkan berusaha meminum darah pasien lain yang sedang menjalani buang darah serta mencoba memakan jenazah di kamar mayat rumah sakit. Setelah dicurigai telah memakan seorang balita berusia satu tahun, ia diusir dari rumah sakit.
Empat tahun kemudian, Tarrare muncul kembali di Versailles dalam keadaan menderita tuberkulosis berat dan meninggal tak lama setelahnya, setelah melalui masa panjang diare eksudatif yang parah.
Tarrare lahir di dekat Lyon sekitar tahun 1772.[1][2][note 1] Tanggal kelahirannya tidak tercatat, dan bahkan tidak diketahui apakah "Tarrare"merupakan nama aslinya atau hanya julukan belaka.[3]
Sejak kecil, Tarrare telah memiliki nafsu makan luar biasa, dan ketika menginjak usia remaja, ia mampu menghabiskan seperempat dari seekor sapi jantan, dengan berat yang hampir setara dengan tubuhnya sendiri, dalam satu hari saja.[4][5] Pada masa itu, orang tuanya sudah tidak mampu lagi menanggung kebutuhannya dan akhirnya mengusirnya dari rumah.[1][6] Selama beberapa tahun setelah itu, ia berkelana di berbagai daerah bersama sekelompok pencuri dan pelacur keliling,[7] hidup dari hasil mencuri dan mengemis demi mendapatkan makanan,[1] sebelum akhirnya memperoleh pekerjaan sebagai penghibur pembuka bagi seorang charlatan yang bepergian dari kota ke kota.[6][8]
Dalam pertunjukannya, Tarrare menarik perhatian penonton dengan menelan penyumbat botol, batu, serta binatang hidup, bahkan melahap satu keranjang apel utuh secara berurutan.[1][6] Ia makan dengan lahap yang tak terkendali dan amat menyukai daging ular.[2][8]
Pada tahun 1788, Tarrare pindah ke Paris untuk bekerja sebagai pengamen jalanan.[6] Secara umum, pertunjukannya tampak berhasil, tetapi dalam satu kesempatan, aksinya gagal dan menyebabkan sumbatan usus parah.[6] Para penonton kemudian membawanya ke rumah sakit Hôtel-Dieu, tempat ia dirawat menggunakan pencahar kuat.[6] Setelah pulih sepenuhnya, Tarrare menawarkan untuk mendemonstrasikan aksinya dengan menelan arloji dan rantai milik dokternya; sang ahli bedah, M. Giraud, tidak terkesan dan memperingatkannya bahwa jika ia benar-benar melakukannya, maka ia akan membedah Tarrare untuk mengambil kembali barang-barang tersebut.[6][8]
Meski memiliki kebiasaan makan yang luar biasa, Tarrare bertubuh ramping dan memiliki tinggi rata-rata.[9] Pada usia 17 tahun, berat badannya hanya sekitar 100 pon (45 kg; 7 st 2 pon).[1][5] Ia digambarkan memiliki rambut pirang yang sangat lembut serta mulut yang luar biasa lebar (sekitar sepuluh sentimeter antara rahangnya ketika terbuka penuh),[10] dengan gigi yang tampak menguning parah[9] dan bibir yang hampir tidak terlihat.[11][10] Ketika belum makan, kulit perutnya begitu kendur hingga ia dapat melilitkannya mengelilingi pinggangnya.[9][11] Namun ketika perutnya penuh, bagian perutnya menggembung "seperti balon raksasa".[6] Kulit pipinya tampak keriput dan menggantung longgar, dan ketika ditarik, ia mampu menampung hingga dua belas butir telur atau apel di dalam mulutnya.[10][12]
Tubuh Tarrare terasa panas bila disentuh, dan ia selalu berkeringat deras; tubuhnya terus-menerus mengeluarkan bau tubuh yang busuk dan menyengat.[9][10] Bau tersebut digambarkan begitu kuat "hingga orang tak sanggup bertahan dalam jarak dua puluh langkah darinya".[10] Setelah makan, aroma tak sedap itu menjadi jauh lebih parah;[11][10] matanya tampak merah dan berurat,[9] uap hangat terlihat keluar dari tubuhnya,[10] dan ia menjadi lesu, disertai sendawa keras serta gerakan rahang seperti sedang menelan.[10] Ia menderita diare kronis yang dikatakan "bau busuknya melampaui segala gambaran".[10] Meski mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, Tarrare tidak tampak sering muntah atau bertambah berat badan.[13] Selain kebiasaan makannya yang aneh, orang-orang sezamannya tidak menemukan tanda-tanda gangguan mental atau perilaku abnormal pada dirinya,[13] selain sifat apatis dan "sepenuhnya tanpa semangat atau gagasan".[10][14]
Penyebab dari perilaku Tarrare tidak diketahui secara pasti. Walaupun terdapat beberapa kasus serupa yang tercatat pada masa yang sama, tidak ada satu pun subjek selain Tarrare yang pernah menjalani autopsi, dan hingga kini belum ditemukan kasus modern yang benar-benar menyerupainya.[15] Hipertiroidisme diketahui dapat menimbulkan nafsu makan ekstrem, penurunan berat badan yang cepat, keringat berlebih, intoleransi terhadap panas, serta rambut yang halus. Jan Bondeson berspekulasi bahwa Tarrare mungkin mengalami kerusakan pada amigdala; diketahui bahwa kerusakan amigdala pada hewan dapat memicu polifagia.[16]
Ketika Perang Koalisi Pertama meletus, Tarrare bergabung dengan Tentara Revolusi Prancis.[4][6] Namun, jatah makanan militer sama sekali tidak mampu memuaskan nafsu makannya yang luar biasa.[6] Ia kerap melakukan berbagai pekerjaan untuk sesama prajurit dengan imbalan sebagian dari jatah mereka, bahkan mengais sisa-sisa makanan di tumpukan kotoran,[5] tetapi semua itu tetap tak cukup untuk mengenyangkannya.[1]
Akhirnya, Tarrare dirawat di rumah sakit militer di Soultz-sous-Forêts karena kelelahan yang sangat parah.[1] Ia diberi jatah makanan empat kali lipat dari biasanya, tetapi rasa laparnya tak juga reda;[8] ia terus mengais sisa-sisa makanan di got dan tong sampah,[6] memakan makanan sisa pasien lain,[1] bahkan diam-diam masuk ke ruang apoteker untuk melahap tapal yang disimpan di sana.[1]
Para dokter militer tidak dapat memahami penyebab dari nafsu makannya yang luar biasa itu. Karena itu, Tarrare diperintahkan untuk tetap berada di rumah sakit militer guna mengikuti serangkaian eksperimen fisiologi yang dirancang oleh Dr. Courville (dokter bedah dari Resimen Husar ke-9)[note 2] dan Pierre-François Percy, kepala ahli bedah rumah sakit tersebut.[6]
"Anjing dan kucing lari ketakutan melihat sosoknya, seolah dapat meramalkan nasib mengerikan yang tengah menanti mereka."[9]
Percy
Courville dan Percy kemudian memutuskan untuk menguji kemampuan makan Tarrare. Mereka menyiapkan hidangan lengkap bagi lima belas buruh di dekat gerbang rumah sakit; meskipun biasanya staf rumah sakit menahan Tarrare agar tidak mendekati makanan, kali ini Courville membiarkannya tanpa gangguan.[6]
Tarrare pun melahap seluruh hidangan, dua pai daging besar, beberapa piring lemak dan garam, serta empat galon susu, kemudian seketika tertidur pulas.[2][17] Courville mencatat bahwa perut Tarrare menegang dan menggembung seperti balon besar.[6][17]
Dalam kesempatan lain, Tarrare diberi seekor kucing hidup. Tanpa ragu, ia merobek perut kucing itu dengan giginya, meneguk darahnya, lalu memakan seluruh tubuhnya kecuali tulangnya, sebelum akhirnya memuntahkan sisa bulu dan kulitnya.[2][8] Setelah kejadian itu, staf rumah sakit memberinya berbagai hewan lain seperti ular, kadal, dan anak anjing, semuanya dimakan tanpa sisa;[9] ia bahkan menelan seekor belut utuh tanpa mengunyah, setelah lebih dulu menghancurkan kepalanya dengan gigi. [2]
Setelah beberapa bulan menjalani berbagai percobaan medis, otoritas militer mulai mendesak agar Tarrare dikembalikan ke tugas aktif.[9] Dr. Courville, yang masih berhasrat melanjutkan penelitiannya terhadap kebiasaan makan dan sistem pencernaan Tarrare, kemudian mengajukan gagasan kepada Jenderal Alexandre de Beauharnais bahwa kemampuan serta perilaku unik Tarrare dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.[9] Sebagai uji coba, sebuah dokumen dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu kecil yang kemudian ditelan oleh Tarrare. Dua hari kemudian, kotak itu ditemukan kembali di dalam kotorannya, dan naskah di dalamnya masih dalam keadaan terbaca.[9][17] Courville lalu mengusulkan kepada de Beauharnais agar Tarrare dijadikan kurir militer, yang dapat membawa pesan melewati wilayah musuh tanpa risiko ditemukan, bahkan jika tubuhnya diperiksa sekalipun.[9]
Tarrare kemudian dipanggil oleh de Beauharnais untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para komandan Tentara Rhein.[9] Setelah berhasil menelan kotak itu, ia diberi sebuah gerobak berisi sekitar 30 pon (14 kg) paru-paru dan hati sapi mentah sebagai hadiah,[2] yang langsung dilahapnya di depan para jenderal yang menyaksikan.[9][18]
Usai pertunjukan yang berhasil itu, Tarrare secara resmi dipekerjakan sebagai mata-mata untuk Tentara Rhein. Walaupun Jenderal de Beauharnais yakin akan kemampuan fisik Tarrare dalam membawa pesan di dalam tubuhnya, ia tetap meragukan kondisi mental sang pria dan awalnya enggan memercayakan dokumen militer penting kepadanya.[19] Sebagai tugas pertamanya, Tarrare diperintahkan membawa pesan kepada seorang kolonel Prancis yang ditawan oleh pasukan Prusia di dekat Neustadt.[9] Ia diberi tahu bahwa dokumen tersebut amat penting secara strategis, padahal sebenarnya de Beauharnais hanya menulis pesan singkat yang meminta sang kolonel untuk mengonfirmasi penerimaan surat itu dan, bila memungkinkan, mengirimkan balasan berisi informasi mengenai pergerakan pasukan Prusia.[19]
Tarrare menyeberangi garis pertahanan Prusia di malam hari dengan menyamar sebagai petani Jerman.[19] Namun karena ia tak bisa berbahasa Jerman,[11] kecurigaan segera muncul di antara penduduk setempat, yang kemudian melaporkannya kepada otoritas Prusia. Ia tertangkap di luar Landau. Pemeriksaan hingga telanjang tidak menemukan apa pun yang mencurigakan, dan meskipun ia dicambuk oleh para prajurit Prusia, Tarrare menolak mengungkap misinya.[19] Ia kemudian dihadapkan kepada komandan Prusia setempat, Jenderal Zoegli, dan kembali bungkam hingga akhirnya dijebloskan ke penjara.[19] Setelah 24 jam penahanan, Tarrare menyerah dan mengakui rencana yang dijalaninya.[19] Ia dirantai di sebuah jamban, dan setelah tiga puluh jam sejak kotak itu ditelan,[17] benda tersebut akhirnya keluar dari tubuhnya.[19] Zoegli murka ketika mengetahui bahwa dokumen yang diklaim Tarrare berisi intelijen penting ternyata hanyalah pesan kosong dari de Beauharnais. Tarrare pun dibawa ke tiang gantungan dan tali sudah dilingkarkan di lehernya.[19] (Beberapa sumber menyatakan bahwa Jenderal Zoegli tidak pernah mendapatkan kotak itu karena Tarrare sempat mengambil serta memakan kembali kotoran yang mengandungnya sebelum sempat disita oleh pihak Prusia.[5][17]) Pada saat terakhir, Zoegli akhirnya mengurungkan eksekusi itu. Tarrare diturunkan dari tiang gantungan, dipukuli dengan keras, lalu dilepaskan di dekat garis pertahanan Prancis.[19]
Setelah peristiwa itu, Tarrare sangat berkeinginan untuk menghindari tugas militer lebih lanjut dan kembali ke rumah sakit. Ia mengatakan kepada Percy bahwa ia bersedia mencoba cara apa pun yang mungkin untuk menyembuhkan nafsu makannya yang tak terkendali.[19] Percy mencoba mengobatinya dengan laudanum, tetapi tidak membuahkan hasil; berbagai upaya lanjutan menggunakan cuka anggur dan pil dari tembakau juga gagal sepenuhnya.[17][19] Setelah kegagalan itu, Percy memberinya sejumlah besar telur rebus lembut, tetapi nafsu makan Tarrare tetap tidak berkurang.[20]
Upaya untuk membuatnya menjalani pola makan terkontrol pun tak berhasil; Tarrare sering menyelinap keluar dari rumah sakit untuk mencari jeroan di sekitar toko daging, bahkan berkelahi dengan anjing liar demi potongan daging busuk di selokan, gang, atau tumpukan sampah.[2][17][20] Ia juga beberapa kali tertangkap sedang meminum darah dari pasien yang menjalani buang darah dan mencoba memakan jenazah di kamar mayat rumah sakit tersebut.[2][17][20] Beberapa dokter mulai meyakini bahwa Tarrare mengalami gangguan jiwa dan mendesak agar ia dipindahkan ke rumah sakit jiwa, tetapi Percy yang masih tertarik dengan potensi ilmiah dari kasus itu menolak, sehingga Tarrare tetap dirawat di rumah sakit militer.[20]
Beberapa waktu kemudian, seorang balita berusia empat belas bulan dilaporkan hilang dari rumah sakit, dan Tarrare segera dicurigai telah memakan anak itu, mengingat riwayatnya yang gemar menelan hewan kecil. Percy tidak dapat, atau mungkin tidak mau, membelanya, dan para staf rumah sakit pun mengusir Tarrare secara paksa. Ia pergi dari rumah sakit itu dan tidak pernah kembali lagi.[17][20]
Empat tahun kemudian, pada tahun 1798, M. Tessier dari rumah sakit Versailles menghubungi Percy untuk memberitahukan bahwa salah satu pasien mereka ingin menemuinya. Pasien itu ternyata adalah Tarrare, yang kini terbaring lemah dan tak berdaya di ranjang.[20] Tarrare menceritakan kepada Percy bahwa dua tahun sebelumnya ia telah menelan sebuah garpu emas, yang menurutnya kini tersangkut di dalam tubuhnya dan menjadi penyebab kelemahannya. Ia berharap Percy dapat menemukan cara untuk mengeluarkan benda tersebut. Namun, Percy segera menyadari bahwa Tarrare sebenarnya menderita tuberkulosis yang sudah parah.[20]
Sebulan kemudian, Tarrare mulai mengalami diare eksudatif yang tak kunjung berhenti, dan tak lama sesudahnya ia meninggal dunia.[20]
Jenazahnya membusuk dengan sangat cepat sehingga para ahli bedah rumah sakit menolak untuk melakukan pembedahan.[20] Namun Tessier, yang diliputi rasa ingin tahu, memutuskan untuk menyelidiki bagaimana kondisi usus Tarrare berbeda dari manusia pada umumnya; ia juga ingin memastikan apakah garpu emas itu benar-benar ada di dalam tubuhnya.[20]
Hasil otopsi menunjukkan bahwa kerongkongan Tarrare melebar secara tidak normal, dan ketika rahangnya dibuka, para ahli bedah dapat melihat langsung ke saluran lebar yang menuju ke lambung.[21] Tubuhnya penuh dengan nanah,[17] hati dan kantung empedu-nya membesar secara tidak wajar,[17] dan lambungnya sangat besar, dipenuhi tukak[11] serta menempati hampir seluruh rongga perutnya.[17][20] Garpu emasnya tak pernah ditemukan.[22]