Tanoto Foundation adalah organisasi filantropi independen milik keluarga yang beroperasi di Indonesia, Tiongkok, dan Singapura. Yayasan ini mulai menjalankan kegiatannya pada tahun 1981 dan secara resmi didirikan pada tahun 2001 oleh pengusaha Indonesia Sukanto Tanoto bersama istrinya, Tinah Bingei Tanoto.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
| Tanggal pendirian | 1981 |
|---|---|
| Pendiri | Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto |
| Status | Yayasan |
| Jenis | Organisasi filantropi |
| Kantor pusat | Singapore |
Wilayah layanan | Indonesia, China, Singapore |
Tanoto Foundation adalah organisasi filantropi independen milik keluarga yang beroperasi di Indonesia, Tiongkok, dan Singapura.[1] Yayasan ini mulai menjalankan kegiatannya pada tahun 1981 dan secara resmi didirikan pada tahun 2001 oleh pengusaha Indonesia Sukanto Tanoto bersama istrinya, Tinah Bingei Tanoto.[2]
Tanoto Foundation berdiri pada tahun 1981 dengan tujuan meningkatkan akses pendidikan dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat di Indonesia. Sejak awal, yayasan ini banyak menjalankan program di daerah pedesaan dan bekerja sama dengan pemerintah maupun organisasi internasional.[3]
Pada tahun 2024, yayasan ini mengumumkan pembaruan strategi yang mencakup lima target:[4]
Pada tahun 2010, Tanoto Foundation meluncurkan program Pelita Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah pedesaan Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran, kualifikasi dan kompetensi guru, serta penyediaan fasilitas sekolah yang memadai.[5] Pada tahun 2018, Pelita Pendidikan berganti nama menjadi PINTAR dan cakupannya diperluas hingga mencakup sekolah di wilayah perkotaan.
Di Jakarta, Tanoto Foundation membuka RPTRA Acacia (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) pada tahun 2016. Area seluas 2.400 meter persegi tersebut dilengkapi perpustakaan, taman bermain anak, ruang terbuka hijau, serta fasilitas serbaguna, yang dirancang untuk memperluas akses dan kesempatan bagi pengembangan anak usia dini.[6]
Tanoto Foundation juga dikenal sebagai salah satu penyedia beasiswa pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia. Hingga tahun 2018, lebih dari 7.000 mahasiswa di 28 perguruan tinggi telah menerima dukungan melalui program National Championship Scholarship. Pada tahun yang sama, program ini berganti nama menjadi TELADAN. Penerima beasiswa TELADAN mendapatkan pembiayaan biaya kuliah serta mengikuti program pengembangan kepemimpinan tambahan. Sebagai bagian dari fokus program pada pembinaan kepemimpinan, jumlah perguruan tinggi mitra kemudian difokuskan menjadi sembilan.
Pada tahun 2016, Tanoto Foundation menyetujui pendanaan untuk proyek percontohan antara UNDP Indonesia dan pemerintah provinsi Riau guna mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat lokal.[7]
Pada tahun 2018, Tanoto Foundation ditunjuk sebagai pemimpin perdana Klaster Pendidikan oleh Filantropi Indonesia, sebuah asosiasi sukarela yang terdiri dari lembaga filantropi dan instansi pemerintah yang dibentuk untuk mendorong kemitraan dalam meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional.
Tanoto Foundation juga berkontribusi dalam respons darurat setelah gempa dan tsunami Sulawesi tahun 2018, dengan menyediakan pesawat untuk membantu tim medis menjangkau wilayah terdampak serta mendonasikan IDR 1 miliar untuk obat-obatan dan kebutuhan lainnya.
Pada tahun 2020, Tanoto Foundation bekerja sama dengan Bank Dunia serta Bill & Melinda Gates Foundation dalam program Indonesia Human Capital Acceleration Multi-Donor Trust Fund (IHCA-MDTF), mendukung upaya pencegahan stunting, peningkatan kualitas pembelajaran, dan pengembangan modal manusia di Indonesia.[8]
Pada tahun 2023, Tanoto Foundation bersama UNESCO menyelenggarakan UNESCO Youth as Researchers and Tanoto Student Research Awards (YAR-TSRA) Knowledge Summit di Jakarta. Acara ini mempertemukan lebih dari seratus mahasiswa sebagai puncak dari program lokakarya selama dua belas minggu yang diadakan YAR-TSRA bekerja sama dengan enam universitas di Indonesia, dengan tujuan mendorong penelitian multidisiplin berbasis data dan rekomendasi kebijakan terkait topik seperti perubahan iklim, pendidikan inklusif, partisipasi anak muda, dan kecerdasan buatan (AI) berkelanjutan.[9]
Di Singapura, kegiatan Tanoto Foundation terutama berfokus pada penyaluran beasiswa pendidikan tinggi, pengembangan infrastruktur pendidikan, pengembangan seni dan budaya, serta pendanaan riset medis.
Pada tahun 2007, yayasan ini membantu mendirikan Tanoto Foundation Centre for Southeast Asian Arts di Nanyang Academy of Fine Arts.[10]
Tanoto Foundation juga mendukung penelitian medis terkait penyakit yang banyak ditemukan pada populasi Asia melalui beberapa inisiatif, antara lain:
Pada tahun 2016, Tanoto Foundation menyumbangkan RMB 100 juta untuk mendanai program pengembangan talenta selama sepuluh tahun antara Tiongkok dan negara-negara yang tergabung dalam Belt and Road Iniative.[13]
Pada tahun 2024, Tanoto Foundation menjadi bagian dari peluncuran China Early Childhood Development (ECD) Collaborative Fund, kolaborasi pertama di Asia yang menghimpun delapan lembaga filantropi untuk menciptakan perubahan langsung dan sistemik bagi jutaan anak usia dini di wilayah kurang terlayani.[14]