Taman Sari adalah kelurahan yang terletak di kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Taman Sari | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Daerah Khusus Ibukota Jakarta | ||||
| Kota Administrasi | Jakarta Barat | ||||
| Kecamatan | Taman Sari | ||||
| Kodepos | 11150 | ||||
| Kode Kemendagri | 31.73.03.1001 | ||||
| Kode BPS | 3174060003 | ||||
| Luas | 0,68 km²[1] | ||||
| Jumlah penduduk | 16.856 jiwa (2024)[1] | ||||
| Kepadatan | 24.788 jiwa/km² (2024)[1] | ||||
| Jumlah RT | 106[1] | ||||
| Jumlah RW | 8[1] | ||||
| Jumlah KK | 6.194[1] | ||||
| Situs web | barat www | ||||
| |||||
Taman Sari adalah kelurahan yang terletak di kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia.[2]
Kelurahan ini memiliki peran historis yang penting karena usianya yang hampir sama dengan usia kota Jakarta itu sendiri, menjadikannya bagian dari "etalase panjang sejarah Jakarta" mulai dari era Sunda Kelapa (397—1527), Jayakarta (1527—1619), Batavia (1619—1942), Jakaruta Tokubetsu Shi (1942—1945), Djakarta (1945—1972) dan Jakarta (1972—sekarang).[2]
Pada 4 Maret 1621, pemerintah Stad Batavia (kota Batavia) dibentuk terbentang dari kawasan Sunda Kelapa sampai kawasan Menteng. Kawasan yang kini menjadi wilayah Kelurahan Tamansari menurut Zaenudin HM sejarawan Jakarta yang menulis buku, “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe” terbitan Ufuk Perres pada Oktober 2012, menyebutkan pada era Pemerintahan Hindia Belanda abad ke-19 dibangun Taman yang diberi nama “Wilhelmina Park”. “Wilhelmina Park” atau Taman Wilhelmina dibangun atas prakarsa Gubernur Jenderal Van De Bosch tahun 1834. Taman Wilhelmina adalah taman terbesar yang dibangun saat itu, terbentang dari kawasan Mangga Besar sampai ke Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal sekarang.
Taman ini dibangun sebagai penghormatan kepada Wilhelmina yang pada saat itu calon tunggal Ratu Belanda. Nama lengkapnya Wilhelmina Helena Puline Marie van Orange Nassau, lahir 31 Agustus 1880 – 28 November 1962, dan menjadi Ratu Belanda sejak 1890-1948. Adalah anak satu-satunya dari Raja Willem III dan istri keduanya Ratu Emma. Taman Wilhelmina selain taman bunga juga terdapat kebon sayur dan buah bagi orang Belanda, aliran Sungai Ciliwung yang bersih mengalir (pada waktu itu) juga menjadi daya tarik Taman Wilhelmina, terdapat Benteng (Citedal) Prins Frederik Hendrik dan Monumen Waterloo atau dikenal juga dengan nama “Atjeh Monumen”, sebuah monument pengingat gugurnya Tentara Belanda dalam perang melawan Kesultanan Aceh Darusalam.
Dalam perjalan sejarahnya yang sangat panjang kawasan Taman Wilhelmina beralih fungsi menjadi derah pemukiman, pertokoan dan termasuk didalamnya lokasi Masjid Istiqlal (1961) dulunya Benteng (Citedal) Prins Frederik Hendrik dan Gereja Katedral. Menurut Zaenudin HM tidak ada penjelasan sejarah terkait perubahan nama dari Taman Wilhelmina menjadi Taman Sari. Ini berlangsung dalam proses sosio-masyarakat yang sangat panjang, mungkin saja karena jejak Taman jadinya disebut Taman Sari.[3]
Versi lain dari cerita oral warga lokal menyebutkan Taman Sari berasal dari, “Prinsen Park”. Prinsen Park dibangun oleh Tan Hin Hie pada tahun 1913. Kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Tempat Hiburan Rakayat (THR) Lokasari adalah dulu dikenal nama Prinsen Park. Terdapat rumah produksi film, tempat nongkrong seniman. Artis-artis kenama seperti Bing Slamet, Eddy Sud, Laila Sari dan lain-lain adalah artis yang lahir dari Prinsen Park atau dikenal juga nama “Seniman Sawah Besar”.
Saat ini Taman Sari adalah pemukiman padat, daerah bisnis dan hiburan di Jakarta. Hal yang merepresentasikan kata “Taman”, selain penataan ruang yang menyediakan taman perkotaan (Urban Farming) juga secara substansial adalah kemajemukan warga Taman Sari. Heterogenitas warga dapat dilihat dari keragaman etnis, suku, dan agama yang mendiami wilayah Taman Sari.
Kelurahan Tamansari memiliki 9 Masjid, 7 Gereja dan 5 Vihara menghiasi jalan Tamansari. Menariknya walaupun heterogenitas warga tinggi, kohesi sosial seperti persaudaraan, kerjasama, gotong royong dan pergaulan lintas etnis, suku dan agama menjadi panorama warna-warni di Taman Sari.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1252 Tahun 1986 dan SK Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1746 tahun 1987, bahwa luas Wilayah Kelurahan Tamansari seluas 67,72 ha yang terdiri dari 8 RW dan 106 RT dengan perincian:[4]
| Lingkungan RW. 01 | 11,40 ha |
| Lingkungan RW. 02 | 9,30 ha |
| Lingkungan RW. 03 | 6,87 ha |
| Lingkungan RW. 04 | 7,92 ha |
| Lingkungan RW. 05 | 6,20 ha |
| Lingkungan RW. 06 | 8,82 ha |
| Lingkungan RW. 07 | 8,75 ha |
| Lingkungan RW. 08 | 8,46 ha |
Berikut ini merupakan batas wilayah Kelurahan Tamansari:
| Utara | Jalan Mangga Besar Raya, berbatasan dengan Kelurahan Tangki |
| Timur | Bekas rel kereta api, berbatasan dengan Kelurahan Karang Anyar (Sawah Besar) |
| Selatan | Jalan Tamansari IV, berbatasan dengan Kelurahan Maphar |
| Barat | Jalan Mangga Besar II (Kali Beton), berbatasan dengan Kelurahan Maphar |
Pada tahun 2016, Kelurahan ini dihuni oleh 16.856 penduduk yang terbagi dari 8.212 laki-laki dan 8.644 perempuan dengan seks rasio 95 dan 6.194 kepala keluarga.[1]