Tafsir mimpi dalam Islam merupakan tindakan menafsirkan mimpi. Tindakan ini telah menjadi bagian dari kenabian sejak masa Nabi Ibrahim dan berlanjut ke masa Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad. Penafsiran mimpi hanya dapat dilakukan dengan dilandasi pengetahuan tentang mimpi yang baik dan mimpi yang buruk. Kemampuan menafsirkan mimpi merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada seseorang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Februari 2023) |
Tafsir mimpi dalam Islam merupakan tindakan menafsirkan mimpi. Tindakan ini telah menjadi bagian dari kenabian sejak masa Nabi Ibrahim dan berlanjut ke masa Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad. Penafsiran mimpi hanya dapat dilakukan dengan dilandasi pengetahuan tentang mimpi yang baik dan mimpi yang buruk. Kemampuan menafsirkan mimpi merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada seseorang.
Mimpi telah menjadi salah satu bentuk pewahyuan dari Allah kepada para nabi dan rasul. Allah telah mewahyukan mimpi kepada Nabi Ibrahim berupa penyembelihan putranya sendiri yaitu Ismail. Nabi Ibrahim kemudian menafsirkan mimpi ini sebagai perintah dari Allah. Dalil atas hal ini disebutkan pada Surah Ash-Shaffat ayat 100–102.[1]
Kemudian Allah menjadikan kemampuan untuk menafsirkan mimpi sebagai keistimewaan bagi Nabi Yusuf. Hal ini disebutkan dalam Surah Yusuf ayat 6 bersamaan dengan informasi terpilihnya Yusuf oleh Allah sebagai nabi.[2] Kemampuan Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi yang kemudian menjadikannya pejabat tertinggi di Mesir pada masanya.[3]
Beberapa ayat yang diwwahyukan kepada Nabi Muhammad juga melalui mimpi, misalnya ayat pertama hingga ketiga pada Surah Al-Kautsar. Ketiga ayat ini merupakan wahyu yang mula-mula diberikan kepada Nabi Muhammad tanpa perantaraan malaikat Jibril.[4]
Seorang pemula yang hendak mengadakan tafsir mimpi dalam Islam, harus mengetahui bahwa mimpi terbagi menjadi dua jenis. Mimpi jenis pertama adalah mimpi yang berasal dari Allah. Sementara mimpi yang kedua berasal dari setan. Pembeda jenis mimpi ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Mimpi yang berisi kebaikan berasal dari Allah. sementara mimpi yang berisi keburukan berasal dari setan. Di sisi lain, mimpi yang mengandung kabar gembira dan peringatan merupakan mimpi yang benar. Mimpi yang benar ini tidak hanya diterima oleh para nabi, tetapi dapat pula diterima oleh orang kafir dan orang fasik.[5]
Kemampuan Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi merupakan kelebihan ilmu yang diberikan oleh Allah kepadanya. Dengan kemampuan ini, perilaku Nabi Yusuf terbimbing ke kebenaran yang disertai dengan kesabaran. Karena mimpi yang ditafsirkannya merupakan takdir dari Allah.[6]