Suzanna Ignatia Kühr, kemudian von Wolzogen Kühr adalah sastrawan dan sejarawan Belanda. Dalam karya-karyanya, ia mengkhususkan diri pada sejarah wanita.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suzanna Ignatia von Wolzogen Kühr | |
|---|---|
| Lahir | (1883-08-06)6 Agustus 1883 Surakarta, Hindia Belanda (kini Indonesia) |
| Meninggal | 18 April 1953(1953-04-18) (umur 69) Lunteren, Ede, Belanda |
| Pekerjaan | sejarawan, sastrawan, dosen |
| Bahasa | Belanda |
| Kebangsaan | |
| Kerabat | Jules von Wolzogen Kuhr (kakak) |
Suzanna Ignatia Kühr, kemudian von Wolzogen Kühr (6 Agustus 1883 – 18 April 1953) adalah sastrawan dan sejarawan Belanda.[1] Dalam karya-karyanya, ia mengkhususkan diri pada sejarah wanita.[2]
Suzanna Ignatia Kühr terlahir di Surakarta, Hindia Belanda (kini Indonesia), sebagai puteri dari Carl Adolf Hugo Kühr dan Wilhelmina Petronella Wijnmalen. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga teosofi yang makmur, dengan seorang saudari dan 4 saudara laki-laki, di mana salah satu saudaranya meninggal saat bayi.[1] Kakaknya Jules nantinya menjabat sebagai wali kota Bandung.
Kedua orang tuanya lahir di Nederlands-Indie, dan berasal dari keluarga pejabat. Mulai tahun 1902, nama marga salah satu leluhur wanitanya digabungkan ke nama marga dirinya, sehingga marganya menjadi von Wolzogen Kühr.[1]
Keluarga tersebut menggemari musik dan suka banyak membaca. Sang ayah adalah seorang Freemason dan ibunya aktif dalam Perhimpunan Teosofi, dan secara berkala menulis artikel di Theosofisch Maandblad van Nederlandsch-Indië. Pada tahun 1903, Suzanna von Wolzogen Kühr juga turut bergabung ke perhimpunan tersebut.[1]
Pada tahun 1904, keluarga tersebut pindah ke Belanda dan bertempat tinggal di Rijswijk. Mereka tinggal bersama sang nenek, yang sudah pindah ke Belanda setahun sebelumnya. Salah satu saudarinya tetap di Nederlands-Indië, karena terikat pekerjaan sebagai guru. Suzanna von Wolzogen Kühr lulus HBS di Hindia Belanda dan dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Belanda setelah menyelesaikan ujian gimnasium negara sebelumnya. Pada tahun 1907, ia mulai mempelajari sastra di Universitas Leiden, di mana salah satu dosennya adalah Gerrit Kalff.[1]
Pada tahun 1911, Von Wolzogen Kühr pindah ke Den Haag, dan menyelesaikan pendidikannya di tahun yang sama. Kalff memintanya melanjutkan penelitian promosi Elise Scheffer, yang telah meninggal di tahun sebelumnya. Pada bulan Juli 1918, ia dipromosikan dengan tulisan berjudul De Nederlandsche vrouw in de eerste helft der 18e eeuw, di mana ia meneliti sejumlah puisi, pamflet, novel, catatan perjalanan, dan gambar mengenai kehidupan wanita sehari-hari. Von Wolzogen Kühr percaya bahwa laki-laki banyak menulis tentang wanita, tetapi wanita sendiri jarang mendapat kesempatan untuk berbicara. Di tahun yang sama, ia menerbitkan 2 artikel di majalah Theosofia terbitan Nederlandse Theosofische Vereeniging.[1]
Pada tahun 1920, ia menerbitkan sekuel dari penelitian promosinya yang berjudul De Nederlandsche vrouw in de tweede helft der 18e eeuw. Menurut Von Wolzogen Kühr, inilah 'era baru bagi wanita', dan ia berbicara mengenai pergerakan wanita yang mulai bermunculan. Terdapat reaksi yang cukup stabil atas karyanya; kritik terbesar berangkat dari fakta bahwa ia terutama berfokus pada wanita kelas atas.[1]
Di tahun yang sama, penerbitan bukunya membuka jalan baginya untuk menjadi guru bahasa Belanda di Stedelijk Gymnasium Den Haag, dan menjadi dosen wanita pertama dan satu-satunya. Ia tetap aktis sebagai pengajar hingga tahun 1923 karena mengajukan cuti sakit. Di akhir hayatnya, ia menderita penyakit Basedow, yang mungkin sudah ada saat itu.[1] Pada tahun 1928, ia bertempat tinggal di Lunteren, Ede, bersama dengan ibunya, dan pada tahun 1930 menghuni rumah besar Suzette.[3] Von Wolzogen Kühr meninggal dunia di Lunteren dalam usia 69 tahun.[1]
Setelah sakit, Von Wolzogen Kühr dan karya-karyanya pun dilupakan.[2] Pada tahun 1980-an, karya-karyanya ditemukan lagi, dan banyak dipergunakan sebagai bahan sumber.[1]