Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sutan Pangurabaan Pane

Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang guru, penulis, wartawan, dan seniman Batak. Atas kemampuannya dalam bahasa Batak, Melayu, Arab, dan Belanda, Sutan Pangurabaan pernah menjadi juru tulis Belanda. Ia menjembatani komunikasi antara Belanda dengan Si Singamangaraja XII selama Perang Toba II. Ia juga merupakan salah satu pendiri dan tokoh Muhammadiyah di Sipirok, Angkola.

sastrawan, penulis, tokoh pers Tapanuli
Diperbarui 11 Januari 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ini adalah nama Batak Angkola, marganya adalah Pane.
Sutan Pangurabaan Pane
Lahirca 1885
Sipirok, Angkola, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda
Meninggal11 Januari 1955(1955-01-11) (umur 69–70)
Jakarta
Nama pena
  • Sutan Pangurabaan
  • Sutan P.
Pekerjaan
  • Guru
  • Penulis
  • Wartawan
  • Seniman
PendidikanKwekschool voor Inlandsche Onderwijzers Padang Sidempuan
Pasanganboru Siregar
Anak6 (termasuk Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Lafran Pane)
Orang tua
  • Dja Enda Pane (ayah)
  • boru Siregar (ibu)
KerabatSyekh Badurrahman Pane (amang tobang)

Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang guru, penulis, wartawan, dan seniman Batak. Atas kemampuannya dalam bahasa Batak, Melayu, Arab, dan Belanda, Sutan Pangurabaan pernah menjadi juru tulis Belanda. Ia menjembatani komunikasi antara Belanda dengan Si Singamangaraja XII selama Perang Toba II.[1] Ia juga merupakan salah satu pendiri dan tokoh Muhammadiyah di Sipirok, Angkola.[2]

Kehidupan awal

Sutan Pangurabaan Pane merupakan lulusan kweekschool (sekolah guru) di Padang Sidempuan. Sekolah itu awalnya bernama Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers Tano Bato, yang dirintis oleh Willem Iskander Nasution. Di sekolah itu, Sutan Pangurabaan dididik oleh Charles Adrian van Ophuijsen.

Setelah lulus dari sekolah guru, Sutan Pangurabaan ditempatkan di Muara Sipongi. Ia ditugaskan untuk mengelola sekolah formal yang baru didirikan Belanda di tempat itu. Karena tidak setuju dengan penjajahan Belanda di Muara Sipongi, Sutan Pangurabaan memutuskan meninggalkan profesinya sebagai guru di sekolah Belanda. Ia memilih pindah ke Sibolga dan menjadi wartawan.

Karier

Sejak tahun 1914, ia menjadi wartawan untuk surat kabar Poestaha. Pada tahun 1921, ia mendirikan organisasi Muhammadiyah di Sipirok. Pada tahun 1927, ia mendirikan dan memimpin surat kabar berbahasa Batak Angkola, Sipirok-Pardomoean. Pada tahun 1931, ia mendirikan dan memimpin surat kabar berbahasa Indonesia Surya di Sibolga. Pada 1 Januari 1937, ia mendirikan perusahaan transportasi bus Sibualbuali, mengambil nama Gunung Sibualbuali di desa kelahirannya. Bus ini melayani rute pulang pergi dari Sipirok menuju Padang Sidempuan, Sibolga, Tarutung, Pematang Siantar, Medan, Pekanbaru, Palembang, Jambi, dan Lampung.[3]

Pergerakan politik

Sutan Pangurabaan pernah memimpin Partai Indonesia (Partindo) cabang Tapanuli (1913-1936) dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) (1937-1942).

Karya

  • Tolbok Haleon (terbit pada tahun 1916 di Padang Sidempuan)
  • Roekoen iman dohot roekoen Islam (terbit pada tahun 1933)
  • Nasotardago (terbit pada tahun 1940)

Referensi

  1. ↑ "Sutan Pangurabaan Pane Satrawan dan Intelektual Serbabisa dari Sipirok". Gapura News. 31 Mei 2019. Diakses tanggal 17 Oktober 2022.
  2. ↑ "Buku Sutan Pangurabaan Pane, Ayah Pendiri HMI Lafran Pane Diseminarkan". Antara News Sumatera Utara. 5 Desember 2019. Diakses tanggal 17 Oktober 2022.
  3. ↑ "Sutan Pangurabaan Pane Juragan Media Cetak dari Sipirok". Apa Kabar Sidimpuan. 19 Januari 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Oktober 2022. Diakses tanggal 17 Oktober 2022.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal
  2. Karier
  3. Pergerakan politik
  4. Karya
  5. Referensi

Artikel Terkait

Orang Minangkabau

penduduk pribumi Sumatra yang berasal dari Dataran Tinggi Minangkabau di Sumatra bagian barat

Lafran Pane

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Ulama Minangkabau

yang intens dengan Islam, setidaknya sejak abad ke-13, telah melahirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyebaran Islam di Nusantara. Di Minangkabau, ulama

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026