Sukorejo adalah desa wisata berbasis seni dan budaya di Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Nama desa ini berasal dari dua bahasa. Dalam bahasa Jawa, nama ini ditulis sebagai bahasa Jawa: ꦱꦸꦏꦉꦗcode: jv is deprecated (Sukareja) yang berarti "tempat yang makmur dan ramai". Sementara itu, dalam bahasa Sanskerta, nama ini ditulis sebagai Sanskerta: सुखराजcode: sa is deprecated (Sukharāja) yang bermakna "kebahagiaan dan kemakmuran". Desa ini dikenal juga dengan sebutan Kampung Jawa Sukorejo (KJS), yang menampilkan kehidupan masyarakat pedesaan serta berbagai seni dan tradisi lokal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sukorejo | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Lambang Kampung Jawa Sukorejo (KJS) | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Tuban | ||||
| Kecamatan | Parengan | ||||
| Kode pos | 62366 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.23.09.2003 | ||||
| Luas | 8,64 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 4.568 jiwa | ||||
| Kepadatan | 529 jiwa/km² | ||||
| Situs web | http://www.sukorejo-parengan.desa.id | ||||
| |||||
Sukorejo adalah desa wisata berbasis seni dan budaya di Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Nama desa ini berasal dari dua bahasa. Dalam bahasa Jawa, nama ini ditulis sebagai bahasa Jawa: ꦱꦸꦏꦉꦗcode: jv is deprecated (Sukareja) yang berarti "tempat yang makmur dan ramai". Sementara itu, dalam bahasa Sanskerta, nama ini ditulis sebagai Sanskerta: सुखराजcode: sa is deprecated (Sukharāja) yang bermakna "kebahagiaan dan kemakmuran". Desa ini dikenal juga dengan sebutan Kampung Jawa Sukorejo (KJS), yang menampilkan kehidupan masyarakat pedesaan serta berbagai seni dan tradisi lokal.
Nama Sukorejo berasal dari gabungan kata Suko (suka atau senang) dan Rejo (ramai). Menurut sejarah lisan, nama ini disematkan karena dahulu wilayah ini menjadi pusat berkumpulnya para pemuda dari berbagai daerah untuk berlatih kesenian dan ilmu kanuragan.
Upaya pengembangan desa secara modern dimulai ketika Desa Sukorejo difasilitasi menjadi Desa Budaya oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Tuban pada 20 Maret 2020.[1] Dukungan diperkuat pada 22 November 2023 oleh Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, yang mendorong pengembangan desa wisata berbasis semangat OVOP (One Village One Product).[2]
Puncaknya, Desa Sukorejo diresmikan sebagai Desa Wisata Budaya pertama di Kabupaten Tuban pada 9 Desember 2024. Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala Disbudporapar Tuban dan dimeriahkan oleh pertunjukan seni seperti sandur, karawitan, reog, dan pencak silat.[3][4]
Menurut profil Kampung KB Sukorejo (2023), desa ini memiliki 4.568 jiwa yang tersebar di 873 kepala keluarga, terdiri dari 1.904 laki-laki dan 2.067 perempuan.[5] Berdasarkan data BPS Kecamatan Parengan Dalam Angka 2018, Desa Sukorejo memiliki luas 8,64 km².[6] Dengan data penduduk tahun 2023, kepadatan penduduk desa ini mencapai sekitar 529 jiwa/km².
Secara administratif, Desa Sukorejo terbagi menjadi 4 Dusun:
| No. | Foto Kepala Desa | Nama Kepala Desa |
|---|---|---|
| 1 | Wiwik Hartatik, SE. |
Berdasarkan data Jaringan Desa Wisata (Jadesta), Sukorejo termasuk dalam kategori Desa Wisata Rintisan dengan berbagai atraksi budaya, seperti pedalangan, tari, karawitan, sandur, wayang krucil, ritual kaleman, terbang bancahan, arak-arakan gunungan, sedekah bumi, dan pencak dor.[7] Desa ini juga menyediakan paket wisata edukasi yang meliputi pagelaran seni, kuliner lokal, dan fasilitas homestay di rumah-rumah warga.[8]
Festival Seni Sukorejo (FSS) adalah acara tahunan unggulan yang menjadi ikon desa. Selain menjadi panggung utama bagi kesenian rakyat, festival ini juga terbukti berhasil mendongkrak perekonomian warga melalui partisipasi puluhan pelaku UMKM lokal.[9]
Kehidupan seni di Sukorejo ditopang oleh sanggar-sanggar seni, salah satunya adalah Sanggar Seni Ngripto Raras. Sanggar ini menjadi pusat regenerasi pelaku seni dan pelestarian tradisi karawitan. Keberadaan sanggar pedalangan di desa ini juga disebut sebagai satu-satunya yang ada di Kabupaten Tuban.[4][20]
Tradisi syukuran dan sedekah bumi yang dikenal sebagai Manganan masih terus dilestarikan oleh warga sebagai wujud syukur dan sebagai bagian dari kearifan lokal.[21]
Berikut jadwal tradisi Manganan di Desa Sukorejo:
| No. | Hari | Lokasi |
|---|---|---|
| 1 | Kamis Pahing | Punden Gradangan |
| 2 | Jum'at Pon | Punden Kramat & Makam Gobak |
| 3 | Senin Legi | Punden Kaliwatu |
| 4 | Kamis Wage | Punden Sumberan |
| 5 | Jum'at Kliwon | Makam Jalak & Cilik |
| 6 | Senin Pon | Makam Katul |
Selain sebagai desa budaya, Sukorejo juga berstatus sebagai Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) binaan BKKBN. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup keluarga melalui kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.[5]
Kunjungan wisata seni dan budaya di Kampung Jawa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dalam kegiatan ini, wisatawan dari Duta Wisata dan Duta Tari Disbudporapar Kabupaten Tuban belajar berbagai kesenian khas, mulai dari karawitan, pencak dor, hingga tari tradisional. Menariknya, usai belajar para duta langsung praktik di Festival Seni Sukorejo, sehingga pengalaman terasa lebih hidup, nyata, dan berkesan. Kunjungan ini berlangsung pada Sabtu, 20 September 2025.