Dicrurus forficatus adalah spesies burung pengicau dari famili Dicruridae yang berwarna hitam dengan sedikit kilau hijau kebiruan serta memiliki jambul khas di dahi dan ekor bercabang. Spesies ini terdiri dari dua subspesies yang berbeda, yaitu D. f. forficatus, yang endemik di Madagaskar dan D. f. potior, yang lebih besar, ditemukan di Kepulauan Komoro. Burung ini menghuni di hutan dataran rendah, baik yang kering maupun lembap, serta sabana terbuka. Populasinya umum, dan Uni Internasional untuk Konservasi Alam menilainya sebagai spesies dengan status “perhatian paling kecil”.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Dicrurus forficatus | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Dicruridae |
| Genus: | Dicrurus |
| Spesies: | D. forficatus |
| Nama binomial | |
| Dicrurus forficatus (Linnaeus, 1766) | |
| Subspecies | |
| |
| Sinonim | |
|
Lanius forficatus Linnaeus, 1766 | |
Dicrurus forficatus adalah spesies burung pengicau dari famili Dicruridae yang berwarna hitam dengan sedikit kilau hijau kebiruan serta memiliki jambul khas di dahi dan ekor bercabang. Spesies ini terdiri dari dua subspesies yang berbeda, yaitu D. f. forficatus, yang endemik di Madagaskar dan D. f. potior, yang lebih besar, ditemukan di Kepulauan Komoro. Burung ini menghuni di hutan dataran rendah, baik yang kering maupun lembap, serta sabana terbuka. Populasinya umum, dan Uni Internasional untuk Konservasi Alam menilainya sebagai spesies dengan status “perhatian paling kecil”.
Pada 1760, ahli zoologi Prancis Mathurin Jacques Brisson mendeskripsikan srigunting jambul berdasarkan spesimen dari Madagaskar, memberi nama Prancis Le grand gobe-mouche noir hupé de Madagaskar dan Latin Muscicapa Madagascariensis nigra major cristata. Nama Latin ini tidak mengikuti sistem binomial sehingga tidak diakui secara resmi. Pada 1766, Carolus Linnaeus menambahkan spesies ini dalam edisi kedua belas Systema Naturae, memberi nama binomial Lanius forficatus dan mengutip Brisson. Nama spesifik forficatus berarti "berbentuk gunting" dalam bahasa Neo-Latin. Saat ini, spesies ini termasuk dalam genus Dicrurus yang diperkenalkan oleh Louis Pierre Vieillot pada 1816.[2][3][4]
Nama umum drongo dalam bahasa Inggris, yang kini digunakan untuk semua anggota famili srigunting atau Dicruridae, berasal dari bahasa Malagasi, khususnya dialek Betsimisaraka. Di Madagaskar sendiri, burung ini lebih sering disebut railovy dalam bahasa Malagasi.[5]
Jantan dan betina dewasa hampir sepenuhnya berwarna hitam dengan kilau biru-hijau, menampilkan ciri khas berupa bulu memanjang di dahi. Ekor bercabang juga menjadi ciri khas burung dewasa. Subspesies D. f. potior lebih besar dan memiliki bulu ekor yang lebih lebar.[6]
Subspesies nominatif Dicrurus f. forficatus endemik di Madagaskar, tersebar di seluruh pulau dan beberapa pulau pesisir besar seperti Nosy-Bé, sedangkan D. f. potior hanya ditemukan di Kepulauan Komoro. Habitat aslinya meliputi hutan kering subtropis atau tropis, hutan dataran rendah lembap, serta sabana kering, umumnya pada ketinggian di bawah 1.000 meter.[6]