Spektroskopi astronomi adalah cabang dari astronomi observasional yang mempelajari sifat dan komposisi objek langit berdasarkan analisis spektrum cahaya yang mereka pancarkan, serap, atau pantulkan. Teknik ini telah menjadi alat utama dalam memahami struktur, gerak, dan komposisi kimia bintang, galaksi, nebula, dan objek langit lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Spektroskopi astronomi adalah cabang dari astronomi observasional yang mempelajari sifat dan komposisi objek langit berdasarkan analisis spektrum cahaya yang mereka pancarkan, serap, atau pantulkan. Teknik ini telah menjadi alat utama dalam memahami struktur, gerak, dan komposisi kimia bintang, galaksi, nebula, dan objek langit lainnya.
Penggunaan spektroskopi dalam astronomi bermula pada awal abad ke-19, saat Joseph von Fraunhofer menemukan garis-garis gelap dalam spektrum Matahari, yang kini dikenal sebagai garis Fraunhofer. Pada pertengahan abad ke-19, astronom seperti William Huggins dan Angelo Secchi mulai menggunakan spektroskopi untuk mengklasifikasikan bintang dan mendeteksi elemen kimia di dalamnya.[1]
Spektroskopi astronomi bekerja dengan memecah cahaya dari objek langit menjadi spektrum komponennya menggunakan alat seperti prisma atau grating difraksi. Spektrum ini kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi garis emisi atau absorpsi, yang menunjukkan adanya unsur-unsur kimia tertentu.
Dengan menganalisis pergeseran spektral (seperti efek Doppler), astronom juga dapat menentukan kecepatan radial suatu objek relatif terhadap Bumi.[2]
Tiga jenis spektrum utama dalam spektroskopi astronomi:
Spektroskopi digunakan dalam berbagai studi astronomi, antara lain:
Beberapa instrumen spektroskopi penting: