Siti Danilah Salim, akrab dipanggil Tante Du adalah seorang pejuang kemerdekaan dan hak perempuan, penulis dan wartawan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Siti Danilah Salim | |
|---|---|
| Lahir | 21 Desember 1897 Tanjungpinang, Riau, Hindia Belanda |
| Meninggal | 15 Juli 1989(1989-07-15) (umur 91) |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pekerjaan | Penulis, wartawan |
| Dikenal atas | Pejuang kemerdekaan dan hak perempuan |
| Suami/istri | Sjamsuddin Sutan Makmur |
Siti Danilah Salim, akrab dipanggil Tante Du (21 Desember 1897 – 15 Juli 1989) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan hak perempuan, penulis dan wartawan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Siti Danilah adalah putri dari pasangan Sutan Mohamad Salim (ayah), seorang kepala jaksa di Riau (Hoofddjaksa Riouw pada masa penjajahan Belanda) yang berasal dari Koto Gadang, Agam, dengan Siti Zainab (ibu). Dua orang saudara Siti Danilah juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, yaitu H. Agus Salim dan Chalid Salim. Setamat dari Europesche Lagere School di Riau, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs Medan. Setamat dari MULO pada usia 17, Siti Danilah bekerja di kantor pos dan bea cukai. Selama tinggal di Medan, ia bekerja di percetakan De Evolutie sebagai juru koreksi.[butuh rujukan]
Bergabung dengan percetakan De Evolutie memunculkan keminatan ia terhadap dunia literasi. Awalnya, Siti Danilah menulis esai dan puisi berbahasa Belanda dengan nama pena "Kemuning". Tulisan ia dalam bahasa Indonesia pertama kali dimuat dalam Majalah Neratja. Selain berkarier di bidang literasi, ia aktif dalam kegiatan organisasi dan Jong Sumatera Bond. Selama berkiprah di Jong Sumatera Bond, Siti Danilah menulis di majalah Jong Sumatra. Mengikuti suami, Siti Danilah pindah ke Semarang dan mendapatkan pekerjaan di Majalah Pestaka, Suratkabar Bahagia. Ia juga bergabung dengan organisasi Isteri Indonesia dan terpilih sebagai ketua Isteri Indonesia cabang Semarang selama lima tahun. Setelah bercerai dengan suami, Siti Danilah kembali ke Batavia dan menjadi anggota pengurus besar Isteri Indonesia serta ketua cabang Kwitang.[butuh rujukan]
Pada masa pendudukan jepang, , ia bersama suaminya, Sjamsuddin Sutan Makmur mengelola surat kabar Harian Rakyat dengan menggunakan nama samaran Bang Golok. Siti Danilah juga aktif dalam organisasi Perkoempoelan Istri. Pada sekitar tahun 1947 atau masa revolusi kemerdekaan ia menjabat sebagai Wakil Ketua Partai Wanita Rakyat yang diketuai oleh Ibu Mangunsarkoro. Siti Danilah juga mengkritik Soekarno dalam persoalan pernikahan di Majalah Isteri Indonesia.[butuh rujukan]
Pada tahun 1920, Siti Danilah menikah dengan seorang pegawai dan bercerai 18 tahun kemudian. Ia menikah dengan Sjamsuddin Sutan Makmur, seorang jurnalis Cahaya Timur pada masa pendudukan Jepang yang nantinya menjadi menteri Indonesia setelah masa kemerdekaan.[1]