Abdoel Chalid Salim atau Ignatius Franciscus Michael Salim adalah seorang wartawan dan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia berhaluan kiri. Ia merupakan putra Sutan Muhammad Salim, seorang jaksa dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Dia juga merupakan adik Haji Agus Salim.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Abdoel Chalid Salim | |
|---|---|
Chalid Salim dengan dua adik perempuannya, 1910-an | |
| Lahir | (1902-11-24)24 November 1902 Tanjungpinang, Hindia Belanda |
| Meninggal | 10 Maret 1985(1985-03-10) (umur 82) Rijswijk, Zuid Holland, Belanda |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Nama lain | Ignatius Franciscus Michael Salim |
| Dikenal atas | Tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, mantan tahanan Diguli |
Abdoel Chalid Salim (24 November 1902 – 10 Maret 1985) atau Ignatius Franciscus Michael Salim[1] adalah seorang wartawan dan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia berhaluan kiri. Ia merupakan putra Sutan Muhammad Salim, seorang jaksa dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Dia juga merupakan adik Haji Agus Salim.
Setelah meninggalkan bangku sekolah MULO (1923) di Weltevreden, Chalid Salim pergi bekerja ke Lumajang. Setelah itu ia mengikuti saudaranya Jacob Salim di Pontianak. Di sini ia bekerja di kantor advokat dan aktif menulis di mingguan Halilintar Hindia. Kemudian ia pindah ke Medan, dan bekerja sebagai redaktur Pewarta Deli. Tulisannya banyak mengecam kebijakan pemerintah Hindia Belanda, seperti poenale sanctie, hingga kedoknya sebagai aktivis komunis terbongkar. Chalid dipenjara selama setahun di Medan, sebelum akhirnya dibuang ke Boven Digul. Ia mendekam di Digul selama 15 tahun (1928-1943), dan merupakan salah satu tahanan politik yang paling lama mendekam di kamp tersebut.[2] Salim dibaptis oleh Imam C. Meuwese pada 26 Desember 1942, beberapa bulan sebelum ia meninggalkan Tempat Pengasingan Boven Digoel, setelah serangkaian perdebatan panjang dan katekisasi yang diberikan oleh imam Keuskupan Agung Merauke tersebut.[3]