Singsot: Siulan Kematian adalah film horor supranatural Indonesia tahun 2025 yang diadaptasi dari film pendek berjudul sama yang mengangkat mitos Jawa tentang larangan bersiul di malam hari. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Wahyu Agung Prasetyo, serta dibintangi oleh Ardhana Jovin Aska Haryanto, Landung Simatupang, Jamaluddin Latif, Siti Fauziah dan Sri Isworowati.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Singsot: Siulan Kematian | |
|---|---|
Poster rilis di bioskop | |
| Sutradara | Wahyu Agung Prasetyo |
| Produser |
|
| Ditulis oleh | Wahyu Agung Prasetyo |
| Pemeran |
|
| Penata musik |
|
| Sinematografer | Fahrul Tri Hikmawan |
| Penyunting | Helmi Nur Rasyid |
Perusahaan produksi | |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 75 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa |
|
Singsot: Siulan Kematian adalah film horor supranatural Indonesia tahun 2025 yang diadaptasi dari film pendek berjudul sama yang mengangkat mitos Jawa tentang larangan bersiul di malam hari. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Wahyu Agung Prasetyo, serta dibintangi oleh Ardhana Jovin Aska Haryanto, Landung Simatupang, Jamaluddin Latif, Siti Fauziah dan Sri Isworowati.
Film ini ditayangkan di bioskop pada 13 Maret 2025, dan di Netflix pada 17 Juli 2025.[1][2]
Di sebuah desa kecil di pedalaman Jawa, ada sebuah mitos mengenai larangan bersiul setelah maghrib. Film diawali dengan seorang pria yang sedang menangkap burung dengan cara bersiul. Tidak lama setelahnya, ada suara siulan yang terdengar dari balik pepohonan dan tiba-tiba pria tersebut terseret dan terisap masuk ke dalam pepohonan. Ipung adalah seorang anak yang hidup bersama kakek dan neneknya di sebuah desa di Yogyakarta. Mereka tinggal di rumah sederhana di pinggir desa, dikelilingi sawah dan hutan lebat. Suatu hari, Ipung bersama dua temannya, Didit dan Kholis bersepeda bersama untuk mengejar layangan putus. Hari sudah hampir gelap dan layangan jatuh di tengah hutan. Ipung sebenarnya ingin mencari layangan tersebut, tetapi Kholis melarangnya dan mengajaknya pulang.
Ada sebuah mitos yang dipercaya masyarakat daerah situ, yaitu "singsot", larangan bersiul saat senja. Siulan saat senja dipercaya bisa memanggil "setan siulan" atau roh jahat yang haus darah, yang akan datang menjemput nyawa orang yang melanggarnya. Ipung yang tidak percaya dengan mitos tersebut tetap bersiul di malam hari. Hal tersebut membuat neneknya, Mbah Wedok menyuruh suaminya, Mbah Lanang, untuk menegur Ipung. Mbah Lanang menegur Ipung dan kemudian berangkat untuk ronda. Saat melewati rumah Mbah Darmo, Mbah Lanang mengetahui dari salah satu warga yang sedang di sana baru saja menemukan Mbah Darmo yang tergeletak di lantai. Belakangan diketahui bahwa ternyata Mbah Darmo telah meninggal. Keesokan harinya, pria yang di awal cerita terisap masuk ke dalam pepohonan sedang terbaring lemah di rumahnya. Pria tersebut bernama Agus Pete. Saat coba disuapi makanan oleh istrinya (Wiwik), Agus mendadak terbelalak ketakutan seperti melihat sesuatu yang menakutkan.
Ipung mulai melihat penampakan-penampakan supernatural dan sering bermimpi buruk. Saat acara pelayatan Mbah Darmo, para warga bergunjing mengenai Pete dan Wiwik. Dalam acara lomba burung, Mbah Lanang berbincang-bincang dengan Mbah Manto mengenai kejadian yang menimpa Mbah Darmo. Mbah Manto berpendapat bahwa kematian Mbah Darmo disebabkan karena matinya burung Mbah Darmo (Petruk), yang selama ini dianggap sebagai pelindungnya, serta ada keterkaitan dengan sakitnya Agus Pete. Mbah Lanang berkeyakinan bahwa pasti ada suatu pantangan yang dilanggar oleh Pete yang menyebabkan hal tersebut. Di rumah, nyawa Mbah Wedok terancam saat ada penampakan yang mirip seperti Ipung mencoba mencekiknya dan mendorongnya ke dalam sumur.
Wiwik yang diberi petunjuk oleh Pakdhe Tirto terus melakukan ritual-ritual demi menyelamatkan suaminya. Mbah Manto dengan kekuatan supranaturalnya melihat bahwa penyebab dari jatuhnya korban di kalangan warga disebabkan karena Jurig Pesugihan bernama Ganda Rumbing. Semua ini disebabkan karena Agus Pete dan Wiwik telah melakukan ritual pesugihan Kutut Manggung demi agar bisa mengentaskan mereka dari kemiskinan. Akan tetapi karena melanggar syarat dan ketentuan, roh Pete ditahan di alam gaib sehingga tubuhnya mirip seperti orang lumpuh. Agus Pete diizinkan keluar dengan syarat bisa membawa orang untuk menggantikannya. Jika dalam 40 hari, dia tidak bisa mencari penggantinya, maka Agus Pete tidak akan kembali selamanya. Agus Pete mencoba menarget Mbah Darmo sebagai orang untuk menggantikannya, tetapi sayangnya Mbah Darmo meninggal duluan. Karena Mbah Lanang mempunyai pelindung berupa telur emas, maka Ipung menjadi incaran Pete selanjutnya.
Ipung mulai melihat penampakan demit dan Agus Pete di sekolah. Di rumah, Mbah Wedok secara diam-diam melakukan ritual pelarungan telur emas milik suaminya dengan harapan terbebas dari segala gangguan makhluk halus, tetapi malah jatuh sakit tidak lama kemudian. Wiwik yang datang untuk mengembalikan rantang milik Mbah Wedok melihat wajah pucat Ipung dan memberikan sebuah minuman jamu kepadanya. Setelah meminum jamu tersebut, Ipung langsung masuk di dunia gaib dan terkurung di dalam sebuah rumah. Mbah Lanang segera melabrak Tirto dan Agus Pete untuk mengembalikan cucunya yang hilang. Mbah Manto kemudian memberikan sebuah ukiran berbentuk burung yang terbuat dari kayu kepada Mbah Lanang agar bisa menolong Ipung. Dengan ukiran kayu tersebut, Mbah Lanang masuk ke dalam dunia gaib dan memandu Ipung untuk kembali ke alam manusia. Saat perjalanan, mereka dihadang oleh Agus Pete yang membuat mereka terpisah. Agus Pete mencoba membunuh Ipung dengan cara mencekiknya, tetapi berhasil digagalkan oleh Mbah Lanang yang kemudian dicekik oleh Pete.
Keesokannya, Agus Pete sadar dan kembali beraktivitas. Merasa rencananya berjalan lancar, Pete bermain-main dengan burung miliknya dan memeriksa salah satu sangkar burungnya. Pete sangat kaget saat melihat melihat kepala istrinya berada di dalam sangkar burung tersebut, sehingga membuatnya lari terbirit-birit sambil berteriak minta tolong. Di tempat lain, Mbah Lanang tanpa alas kaki berjalan perlahan dan sampai di depan rumahnya.
Setelah Singsot dirilis pada tahun 2016 dan meraih beberapa penghargaan, Wahyu Agung Prasetyo berkeinginan untuk mengangkatnya ke layar lebar. Untuk film ini, Wahyu menulis ulang skenarionya, di mana durasinya menjadi lima kali film orisinalnya.[3] Sebagai pemeran, Siti Fauziah yang pernah berkolaborasi dengan Wahyu dalam film pendek viral berjudul Tilik dipilih untuk memerankan Wiwik dalam film ini.[3]
Pengambilan gambar film ini banyak dilakukan di Yogyakarta. Lokasi tersebut dipilih dengan tujuan menghadirkan atmosfer otentik yang sesuai cerita, di mana larangan bersiul saat maghrib menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.[4]