Serudukan adalah jenis tabrakan yang terjadi ketika kendaraan yang bergerak maju menabrak bagian belakang kendaraan lain di depannya. Demikian pula, tabrakan kereta api dari belakang terjadi ketika sebuah kereta api menabrak bagian belakang kereta api di mukanya pada petak jalur yang sama. Faktor-faktornya meliputi kurangnya perhatian, mengekor kendaraan lain, mengerem mendadak, dan berkurangnya traksi karena jalan licin atau terkikis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Serudukan adalah jenis tabrakan yang terjadi ketika kendaraan yang bergerak maju menabrak bagian belakang kendaraan lain (seringkali dalam keadaan diam) di depannya. Demikian pula, tabrakan kereta api dari belakang terjadi ketika sebuah kereta api menabrak bagian belakang kereta api di mukanya pada petak jalur yang sama.[1] Faktor-faktornya meliputi kurangnya perhatian, mengekor kendaraan lain, mengerem mendadak, dan berkurangnya traksi karena jalan licin atau terkikis.
Menurut Badan Keselamatan Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA), serudukan menyumbang 7,5% dari kecelakaan mobil yang fatal. Namun, serudukan menyumbang 29% dari semua kecelakaan mobil, menjadikannya salah satu jenis kecelakaan mobil yang paling sering terjadi di Amerika Serikat.[2]
Menurut NHTSA pada tahun 2020, dari 419.400 orang yang terlibat dalam serudukan, kurang dari 1% meninggal dan lebih dari 99% mengalami luka-luka.[3]
Alasan umum yang menyebabkan serudukan adalah pengereman mendadak oleh mobil yang paling depan (misalnya, untuk menghindari seseorang yang menyeberang jalan) sehingga pengemudi di belakangnya tidak sempat mengerem dan bertabrakan dengannya. Kadangkala, mobil di belakang mungkin berjalan cepat daripada mobil di depannya (misalnya, saat melewati persimpangan), yang mengakibatkan tabrakan.
Secara umum, jika dua kendaraan memiliki struktur fisik yang sama, tabrakan dengan mobil lain serupa dengan menabrak benda diam (seperti tembok) dengan kelajuan setengahnya. Misalnya, menyeruduk mobil lain yang diam saat bergerak dengan kelajuan 50 km/h (31 mph) setara dengan menabrak tembok dengan kelajuan 25 km/h (16 mph). Hal yang sama berlaku untuk kendaraan yang ditabrak. Namun, jika salah satu kendaraan jauh lebih keras (misalnya mobil kecil menyeruduk truk besar), maka perlambatan akan mendekati kelajuan penuh untuk kendaraan yang kurang keras.
Konsekuensi medis umum dari serudukan kendaraan, bahkan dalam tabrakan dengan kecepatan sedang, adalah cedera leher. Dalam kasus yang lebih parah, cedera permanen seperti herniasi dapat terjadi. Penumpang paling belakang di mobil serba guna, yang berada sangat dekat dengan zona benturan, lebih mungkin terluka atau meninggal.[4]
Terkait dengan asuransi dan penegakan hukum, pengemudi mobil yang menyeruduk mobil lain hampir selalu dianggap bersalah karena membuntuti kendaraan lain, atau kurang perhatian. Kecuali, jika kendaraan yang diseruduk sedang dalam gigi mundur. Jika pengemudi mobil yang diseruduk mengajukan klaim terhadap pengemudi yang menyeruduknya, pengemudi kedua dapat bertanggung jawab atas semua kerusakan pada mobil pengemudi lain. Menurut data dari NHTSA, persentase kecelakaan tabrakan dari belakang dalam semua kecelakaan adalah 23–30%.[5]
Ford Pinto menjadi perhatian publik ketika muncul dugaan bahwa kecacatan dalam rancang bangunnya dapat menyebabkan kebakaran akibat kebocoran tangki yang diakibatkan oleh serudukan.[6]
Perkembangan modern dalam pengembangan sistem keselamatan otomatis diklaim telah mengurangi jumlah serudukan.[7][8][5]
