Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Serat Darmagandhul

Serat Darmagandhul adalah suatu karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

Wikipedia article
Diperbarui 20 Desember 2024

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Untuk kegunaan lain, lihat Dharma.
Serat Darmagandhul
PengarangAnonim, dengan nama samaran Ki Kalamwadi (berdasarkan Babad Kadhiri)
NegaraIndonesia
BahasaJawa
SubjekMistisisme Jawa
GenreSuluk
Tanggal terbit
16 Desember 1900

Serat Darmagandhul (bahasa Jawa: ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦣꦂꦩꦒꦟ꧀ꦝꦸꦭ꧀code: jv is deprecated ) adalah suatu karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

Penulis

Darmagandhul ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata, sama dengan 16 Desember 1900). Sebagian ada yang berpendapat bahwa pengarang sesungguhnya adalah Ronggowarsito dengan nama samaran Kalamwadi, yang dalam bahasa Jawa dapat pula berarti kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi). Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang terjadi antara Ki Kalamwadi dan muridnya Darmagandhul. Namun teori itu mudah terbantah, karena Ronggowarsito telah meninggal 29 tahun sebelumnya. Sampai saat ini penulisnya masih perlu diteliti identitas sebenarnya.

Isi

Dialog diawali dari pertanyaan Darmagandhul kepada gurunya mengenai kapan terjadinya perubahan agama di Jawa. Disebutkan bahwa Ki Kalamwadi kemudian memberikan keterangan-keterangan berdasarkan penjelasan dari gurunya, yang bernama Raden Budi. Cerita dan ajaran yang diuraikan oleh Ki Kalamwadi memuat berbagai hal; antara lain jatuhnya kerajaan Majapahit, berbagai peranan Walisongo dan tokoh-tokoh lainnya pada awal masa peralihan Majapahit-Demak, topik-topik dalam ajaran agama Islam, serta terjadinya benturan berbagai budaya baru dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa saat itu.

Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya. Kitab yang dimaksud adalah Babad Kadhiri yang ditulis pada tahun 1832 oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya. GWJ. Drewes, seorang orientalis Belanda, mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyediakan tema utama dan ide bagi penulisan Serat Darmagandul.[butuh rujukan]

Pembagian isi

Menurut versi KRT Tandhanagara,[1] Suluk Darmagandhul memiliki 17 pupuh dalam 133 halaman, dengan perincian sebagai berikut:

Pupuh I
Pupuh II
Pupuh III
Pupuh IV
Pupuh V
Pupuh VI
Pupuh VII
Pupuh VIII
Pupuh IX
Pupuh X
Pupuh XI
Pupuh XII
Pupuh XIII
Pupuh XIV
Pupuh XV
Pupuh XVI
Pupuh XVII
Dhandhanggula: 58 bait
Asmaradana: 88 bait
Dhandhanggula: 52 bait
Pangkur: 86 bait
Sinom: 43 bait
Dhandhanggula: 42 bait
Sinom: 63 bait
Pangkur: 176 bait
Asmaradana: 33 bait
Dhandhanggula: 58 bait
Mijil: 74 bait
Kinanthi: 33 bait
Megatruh: 37 bait
Pocung: 25 bait
Asmaradana: 21 bait
Girisa: 15 bait
Kinanthi: 41 bait

Referensi

  1. ↑ Tandhanagara, K.R.T., Surakarta, 1959. Carita Adêge Nagara Islam Ing Dêmak Bêdhahe Nagara Majapahit. "Sadu Budi", Sala.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Penulis
  2. Isi
  3. Pembagian isi
  4. Referensi

Artikel Terkait

Sabdapalon

(dalam Darmagandhul, agama orang Jawa disebut agama Agama Budhi, yang dahulu ajaran Buddha berdampingan dengan ajaran Hindu). Serat Damarwulan dan Serat Blambangan

Suluk Gatholoco

Darmogandul ini menimbulkan spekulasi keterkaitan antara suluk ini dengan Serat Darmagandhul, kitab yang juga kritis terhadap penyebaran Islam di Jawa. Arti kata

Majapahit

Kemaharajaan Jawa yang terbesar di Nusantara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026