Senegalia rugata merupakan tumbuhan merambat berduri yang berasal dari Tiongkok dan wilayah Asia tropis, dan banyak dijumpai di dataran hangat India bagian tengah serta selatan. Spesies ini terkenal sebagai bahan utama pembuatan sampo, sementara daun dan pucuk mudanya kerap dikonsumsi. Temuan arkeobotani menunjukkan bahwa tanaman ini telah digunakan untuk perawatan rambut sejak masa pra-Harrapa di Banawali, sekitar 4500–4300 tahun yang lalu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Senegalia rugata | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Fabales |
| Famili: | Fabaceae |
| Genus: | Senegalia |
| Spesies: | S. rugata |
| Nama binomial | |
| Senegalia rugata | |
| Sinonim[1] | |
| |
Senegalia rugata merupakan tumbuhan merambat berduri yang berasal dari Tiongkok dan wilayah Asia tropis, dan banyak dijumpai di dataran hangat India bagian tengah serta selatan. Spesies ini terkenal sebagai bahan utama pembuatan sampo, sementara daun dan pucuk mudanya kerap dikonsumsi. Temuan arkeobotani menunjukkan bahwa tanaman ini telah digunakan untuk perawatan rambut sejak masa pra-Harrapa di Banawali, sekitar 4500–4300 tahun yang lalu.[2][1]
Tumbuhan ini dapat tumbuh sebagai perambat berkayu, semak, atau pohon kecil hingga ketinggian sekitar 5 meter (16 kaki), dan ditandai oleh banyak duri. Daunnya tersusun majemuk dengan dua pasang pinna. Bunganya berwarna krem hingga kuning pucat, dengan kuncup merah hingga merah keunguan yang berubah menjadi krem saat mekar. Polong bijinya memiliki ciri khas, yaitu ketika masih muda, polong tampak halus, tebal, dan berdaging, tetapi ketika mengering menjadi keriput, gelap, dan sangat keras.[3][4][5]
Spesies ini berasal dari berbagai wilayah di Asia, termasuk Tiongkok. Daerah asalnya mencakup Papua Nugini (bagian timur), Indonesia (Papua Barat, Kepulauan Kei, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Jawa, dan Sumatra), Filipina, Malaysia (Semenanjung), Thailand, Kamboja, Vietnam, Tiongkok (Guangdong dan Yunnan), Laos, Myanmar, India (Kepulauan Andaman dan Assam), Bangladesh, Nepal, serta kawasan Himalaya Timur. Tumbuhan ini juga telah dibawa dan menetap di sejumlah wilayah lain seperti Kaledonia Baru, Australia (Queensland), Jepang (Okinawa), Réunion, Madagaskar, Seychelles, Brasil bagian tenggara, dan Jamaika. Di banyak negara, termasuk Kaledonia Baru spesies ini bersifat invasif.[6][3][5][7]
Di Filipina, tanaman tersebut tumbuh di semak-semak dataran rendah hingga menengah. Di Provinsi Chiang Mai, Thailand, spesies ini ditemukan baik di area hutan maupun di kawasan permukiman. Di Tiongkok, S. rugata biasanya tumbuh di hutan atau semak belukar, terutama di dekat aliran air di lembah pada ketinggian sekitar 880 hingga 1.500 meter (2.890–4.920 kaki). Tumbuhan ini juga menjadi tanaman inang bagi larva kupu-kupu Pantoporia hordonia.[8][9][10]
Temuan dari situs pra-Harappa Banawali (2750–2500 SM) di Haryana menunjukkan adanya campuran tanaman ini dengan kacang sodot dan malaka, yang mengindikasikan bahwa praktik perawatan dan kebersihan di Asia Selatan telah memiliki asal-usul yang sangat kuno.[11]