Sempur-hujan rimba adalah salah satu spesies burung dalam famili paruh-lebar (broadbill) khas Eurylaimidae yang ditemukan di Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan Sunda Besar. Burung ini terkadang dipisahkan menjadi dua spesies, satu yang hanya mencakup subspesies nominotipe, E. j. javanicus, dan satu lagi mencakup semua subspesies yang tersisa. Spesies ini mendiami berbagai macam hutan, bersama dengan tepi hutan, perkebunan karet, dan belukar Falcataria falcata, terutama di daerah dataran rendah. Sebagai burung bertubuh besar dan mencolok dengan panjang 215–230 cm (85–91 in), burung ini kecil kemungkinannya salah dikenali sebagai spesies lain. Sempur-hujan ini sebagian besar berwarna merah keunguan, dengan sayap hitam bergaris kuning, paruh biru terang, wajah kehitaman, serta dagu dan dada atas berwarna keabu-abuan. Betina dapat dibedakan dari jantan karena tidak memiliki kerah leher hitam, meskipun ciri ini kurang jelas pada pejantan dari Kalimantan dan Jawa. Meskipun penampilannya mencolok, burung ini biasanya sulit dilihat karena sifatnya yang lamban dan biasanya hanya disadari keberadaannya ketika bersuara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sempur-hujan rimba | |
|---|---|
| Jantan dari subspesies pallidus | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Eurylaimidae |
| Genus: | Eurylaimus |
| Spesies: | E. javanicus |
| Nama binomial | |
| Eurylaimus javanicus Horsfield, 1821 | |
| Persebaran sempur-hujan rimba; subspesies nominotipe berwarna hijau muda dan subspesies lainnya berwarna hijau tua | |
| Sinonim[2] | |
Sempur-hujan rimba (Eurylaimus javanicus) adalah salah satu spesies burung dalam famili paruh-lebar (broadbill) khas Eurylaimidae yang ditemukan di Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan Sunda Besar. Burung ini terkadang dipisahkan menjadi dua spesies, satu yang hanya mencakup subspesies nominotipe, E. j. javanicus, dan satu lagi mencakup semua subspesies yang tersisa. Spesies ini mendiami berbagai macam hutan, bersama dengan tepi hutan, perkebunan karet, dan belukar Falcataria falcata, terutama di daerah dataran rendah. Sebagai burung bertubuh besar dan mencolok dengan panjang 215–230 cm (85–91 in), burung ini kecil kemungkinannya salah dikenali sebagai spesies lain. Sempur-hujan ini sebagian besar berwarna merah keunguan, dengan sayap hitam bergaris kuning, paruh biru terang, wajah kehitaman, serta dagu dan dada atas berwarna keabu-abuan. Betina dapat dibedakan dari jantan karena tidak memiliki kerah leher hitam, meskipun ciri ini kurang jelas pada pejantan dari Kalimantan dan Jawa. Meskipun penampilannya mencolok, burung ini biasanya sulit dilihat karena sifatnya yang lamban dan biasanya hanya disadari keberadaannya ketika bersuara.
Spesies ini terutama memakan artropoda seperti ortoptera (belalang, belalang kerek, dan jangkrik), kepik sejati, dan kumbang, tetapi juga tercatat memangsa siput, kadal, katak, dan buah ara. Di daratan utama, perkembangbiakan umumnya terjadi pada musim kemarau; populasi di Kepulauan Sunda Besar memiliki musim berbiak yang lebih panjang yang berlangsung dari bulan Maret hingga November. Di Jawa, sempur-hujan rimba diperkirakan berbiak sepanjang tahun. Sarangnya yang besar dan compang-camping digantung pada pohon dengan ketinggian 6–21 m (20–69 ft) di atas tempat terbuka atau badan air. Satu sarang biasanya berisi dua atau tiga butir telur. Telurnya pada umumnya berwarna putih kusam dengan bercak ungu tua atau cokelat kemerahan, tetapi telur dari Jawa Barat berwarna putih kotor dengan corak padat berwarna cokelat karat hingga abu-abu lavender. Uni Internasional untuk Konservasi Alam, yang memisahkan sempur-hujan rimba menjadi dua spesies, mengklasifikasikan javanicus sebagai spesies hampir terancam dan subspesies lainnya sebagai spesies risiko rendah.
Sempur-hujan rimba dideskripsikan sebagai Eurylaimus javanicus oleh naturalis Amerika Thomas Horsfield pada tahun 1821 berdasarkan spesimen dari Jawa. Spesies ini merupakan spesies tipe dari genus Eurylaimus, yang dibuat khusus untuknya.[3] Nama genus tersebut, Eurylaimus, berasal dari bahasa Yunani Kuno ευρυς, euruscode: grc is deprecated , yang berarti lebar, dan λαιμος, laimoscode: grc is deprecated , yang berarti tenggorokan. Nama spesifik javanicus berasal dari Jawa, pulau tempat burung ini ditemukan.[4] Sempur-hujan rimba (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai banded broadbill) adalah nama umum resmi yang ditetapkan oleh Persatuan Ornitologi Internasional (IOU).[5] Nama umum berbahasa Inggris lainnya untuk spesies ini adalah Javan broadbill.[6] Spesies ini disebut takau rimbacode: ms is deprecated dalam bahasa Melayu dan Nok Phaya Paak Kwaang laay leuang dalam bahasa Thai.[7]
Sempur-hujan rimba adalah satu dari dua spesies yang saat ini ditempatkan dalam genus Eurylaimus, di dalam famili paruh-lebar khas Eurylaimidae, sebuah famili yang terdiri dari sepuluh spesies tropis asli Asia Tenggara.[5][8] Berdasarkan sebuah studi tahun 2017 oleh peneliti Brasil Alexandre Selvatti dan rekan-rekannya, kerabat terdekatnya adalah sempur-hujan darat. Kedua spesies ini berkerabat paling dekat dengan klade yang dibentuk oleh sempur-hujan sungai dan sempur-hujan dada-perak, dan ketiga genus tersebut membentuk klade saudara dari genus Sarcophanops. Klade yang lebih besar ini merupakan saudara dari klade yang dibentuk oleh sempur-hujan ekor-panjang dan sempur-hujan mas. Kedua klade ini adalah saudara bagi sempur-hujan Grauer. Kladogram berikut menunjukkan hubungan filogenetik di antara Eurylaimidae, berdasarkan studi di atas:[a][10]
| Eurylaimidae |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Empat subspesies dari sempur-hujan rimba saat ini diakui oleh IOU:[5]

Semua subspesies selain javanicus terkadang dipisahkan sebagai spesies tersendiri, E. harterti, berdasarkan morfologi, yang akan menjadikan spesies saat ini bersifat monotipik (hanya memiliki satu subspesies).[12] Menurut skema ini, subspesies nominotipe disebut sempur-hujan jawa,[1] dan ketiga subspesies dalam E. harterti (harterti, brookei, dan pallidus) disebut sempur-hujan rimba.[14]

Sempur-hujan rimba adalah burung bertubuh besar yang mencolok, dengan panjang 215–230 cm (85–91 in). Berat dari 10 spesimen pallidus dewasa dari Semenanjung Malaya adalah 651–950 g (23,0–33,5 oz), dengan burung jantan yang sedikit lebih berat daripada betina. Jika terlihat dengan jelas, spesies ini kemungkinannya sangat kecil untuk tertukar dengan burung lain. Burung ini mungkin disangka sebagai sempur-hujan dada-hitam, yang dapat dibedakan dari ukurannya yang lebih kecil, kepala yang hitam, dan kerah putihnya yang kontras.[12]
Pejantan dewasa dari subspesies nominatnya memiliki kepala berwarna merah-ungu mengilap, yang berubah menjadi hitam ke arah kekang (daerah antara mata dan paruh) dan pangkal paruh. Dagu, tenggorokan, dan penutup telinga berwarna sedikit lebih terang, dengan pita hitam yang melintang di leher; pita leher ini terkadang pudar atau tidak ada sama sekali pada pejantan dari Kalimantan dan Jawa. Bagian atas kepala berwarna hitam marun mengilap dan berubah menjadi abu-abu ke arah belakang leher. Punggung bagian atas berwarna cokelat tua dengan semburat marun; sisa punggungnya sebagian besar berwarna hitam, kecuali garis tengah yang berupa coretan-coretan kuning. Bulu primer berwarna cokelat tua, dengan tepi kuning tipis yang tampak sebagai garis kuning pada lipatan sayap. Sisa bulu penutup sayap berwarna kehitaman, dengan corak kekuningan. Bulu sekunder memiliki tepi kuning cerah pada batas luarnya yang membentuk bercak trapesium yang terlihat jelas pada sayap. Bagian bawah tubuhnya berwarna ungu-merah muda pucat hingga merah anggur, dengan semburat abu-abu pada dagu dan dada atas serta pita dada berwarna abu-abu murni. Ekornya berwarna hitam gelap dan memiliki bintik-bintik putih di bagian bawah, penutup bawah ekor berwarna kuning pucat dan tunggir memiliki pola hitam dan kuning yang bervariasi. Paruh birunya yang biru toska cemerlang berbentuk lebar dan bengkok, dengan tepi berwarna hijau atau hitam.[7][12] Spesies ini termasuk burung paruh-lebar dengan paruh terlebar, dengan lidah yang tebal, berbentuk hati, dan lebar yang memungkinkannya melumat dan "mengunyah" makanannya, sehingga membantu spesies ini mengonsumsi mangsa yang relatif besar.[15][16] Iris matanya berwarna kuning pucat pada javanicus dan biru safir pada semua subspesies lainnya, dan kakinya berwarna cokelat merah muda pucat hingga biru keabu-abuan terang dengan bulu-bulu hitam yang kusam.[7][12]
Burung betina mirip dengan jantan, namun dapat dibedakan dari tidak adanya pita leher serta kepala dan bagian bawah tubuh yang lebih abu-abu. Burung remaja memiliki kepala berwarna cokelat pucat, punggung atas cokelat, sayap cokelat tua, dan ekor hitam. Mereka memiliki alis (garis di atas mata) kuning mencolok yang melebar ke arah belakang leher menjadi kerah yang terputus, dan penutup telinganya memiliki garis-garis kuning yang sempit. Punggung bagian atas memiliki bintik-bintik kuning yang tidak beraturan, sedangkan punggung bagian bawah dan tunggirnya sebagian besar berwarna kuning. Sayapnya memiliki corak kekuningan seperti pada burung dewasa. Tenggorokannya kekuningan dengan garis-garis gelap pucat dan dipisahkan dari dada oleh garis putih kekuningan, dengan sisa bagian bawah tubuhnya berwarna kuning bernuansa merah muda. Paruhnya berwarna cokelat kejinggaan. Seiring bertambahnya usia burung remaja, warna kuning pada tubuh secara bertahap digantikan oleh merah muda keunguan, yang dimulai dari kepala dan sisi leher. Di Malaysia, proses mabung (pergantian bulu) telah teramati pada semua bulan kecuali Januari dan Februari, dan memuncak dari bulan Mei hingga Agustus. Bulu-bulu primer yang paling dekat dengan tubuh akan mabung lebih dulu, dan bulu yang lebih jauh akan mabung kemudian.[7][12]
Warna kemerahan pada bulu sempur-hujan rimba disebabkan oleh pigmen biologis 2,3-didehidro-papilioeritrinon, yang juga ditemukan pada sempur-hujan dada-hitam, sempur-hujan sungai, dan spesies Sarcophanops. Warna kuning pada bulu spesies ini disebabkan oleh karotenoid 7,8-dihidro-3′-dehidro-lutein, yang juga terdapat pada bulu sempur-hujan dada-hitam.[17]
Kicauan spesies ini berupa nada wiyuu atau wiuk yang pendek, keras, dan khas, terkadang didahului dengan 4–9 nada wirr dan selalu diikuti dengan nada getar berderak yang bising dan berkecepatan tinggi selama 5–9 detik, yang nada awalnya meninggi sebelum turun dengan cepat. Kicauan ini sering kali disuarakan oleh dua burung secara bergantian, yang kemudian ditanggapi oleh pasangan burung di sekitarnya. Suara ini dapat dipicu oleh suara bising lain yang tiba-tiba, tetapi respons burung ini terhadap pemutaran rekaman suara biasanya lambat. Panggilan lainnya meliputi bunyi sengau wiy-u, cicitan kyiyow, kowrr, dan pekikan kik-ik-ik yang mirip dengan suara sempur-hujan sungai.[7][12] Panggilan pelan yang dibuat selama pertunjukan sayap terdengar kurang melengking dan bernada lebih rendah dibandingkan dengan panggilan serupa yang dihasilkan oleh sempur-hujan dada-hitam.[18]
Sempur-hujan rimba ditemukan di Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan Sunda Besar. Di Indochina, burung ini diketahui keberadaannya dari Vietnam bagian selatan dan tengah, sebagian besar Thailand bagian barat dan selatan, sebagian besar Kamboja tanpa menyertakan Tonlé Sap, Laos bagian selatan dan tengah, serta Perbukitan Tenasserim dan Perbukitan Karen di Myanmar bagian tenggara. Di Sunda Besar, spesies ini menghuni Sumatra, Kalimantan, Jawa, Belitung, Pulau Bangka, Kepulauan Natuna Utara, dan Kepulauan Riau. Spesies ini telah punah secara lokal di Singapura sekitar tahun 1928; laporan mengenai keberadaannya di Pulau Pinang belum dapat dikonfirmasi. Burung ini umumnya menetap, tetapi laporan mengenai satu individu atau lebih yang hidup di sebidang hutan sekunder pada bekas perkebunan karet di Kuala Lumpur selama periode tiga tahun menunjukkan bahwa spesies ini akan mengembara jika kehilangan habitat aslinya.[7][12]
Spesies ini menghuni beberapa jenis hutan, termasuk hutan primer, hutan yang ditebang secara selektif dan telah tumbuh kembali, hutan rawa gambut, hutan kerangas dataran tinggi, hutan rawa air tawar, tepi hutan, perkebunan karet, dan rumpun Falcataria falcata. Di daratan utama, burung ini paling umum dijumpai di hutan hijau abadi dan hutan gugur campuran, tetapi juga terlihat di taman-taman dan desa-desa sekitarnya, serta hutan sekunder. Di Jawa, burung ini biasanya terlihat di tepi hutan, terutama di lereng gunung. Meskipun utamanya merupakan spesies dataran rendah, sempur-hujan rimba dapat ditemukan hingga ketinggian 1.050–1.100 m (3.440–3.610 ft) di Semenanjung Malaya dan Sumatra, 1.100 m (3.600 ft) di Laos, 1.200 m (3.900 ft) di Kamboja, dan 1.220 m (4.000 ft) di Kalimantan. Di Jawa, burung ini umumnya dijumpai pada ketinggian 485–915 m (1.591–3.002 ft), tetapi kadang-kadang bisa setinggi 1.500 m (4.900 ft).[7][12]
Meskipun warnanya yang khas dan mencolok, sempur-hujan rimba secara umum sulit diamati karena kebiasaannya yang lamban dan biasanya hanya disadari akibat kicauannya yang keras.[12] Burung ini diketahui melakukan pertunjukan sayap dan membuka paruh yang serupa dengan sempur-hujan dada-hitam. Pertunjukan sayap meliputi mengangkat sayap sedikit ke atas punggung lalu membuka dan menutup bulu terbang secara perlahan, yang dilakukan setelah bernyanyi, mencari makan, atau sebagai respons terhadap pemutaran rekaman suara. Gerakan ini mungkin hanya melibatkan satu sayap dan terkadang dilengkapi dengan kibasan ekor. Pertunjukan membuka paruh dilakukan dengan cara membuka dan menutup paruh secara perlahan tanpa mengeluarkan suara. Pertunjukan-pertunjukan ini dilakukan baik saat sendirian maupun ketika ada sempur-hujan rimba lainnya, dan telah diamati berlangsung di dekat sarang. Pertunjukan tersebut juga terkadang disertai dengan panggilan pelan.[18]

Makanan sempur-hujan rimba mencakup artropoda, vertebrata kecil, dan buah-buahan. Mangsa utamanya adalah ortoptera (belalang, katydid, dan jangkrik) dengan panjang rata-rata 55 mm (2,2 in). Burung ini juga memakan kepik sejati (Hemiptera), siput, laba-laba, dan kumbang seperti kumbang tanah (Carabidae), kumbang gelap (Tenebrionidae), dan kumbang moncong sejati (Curculionidae). Buah-buahan kecil seperti beringin Ficus juga dimakan, meskipun perannya dalam pola makan spesies ini belum diketahui secara pasti. Burung paruh-lebar ini telah tercatat memakan kadal dengan panjang hingga 10 cm (3,9 in) serta katak, dengan menelan kepalanya terlebih dahulu.[7][12]
Sebagaimana burung paruh-lebar lainnya, spesies ini mencari makan dengan pergerakan yang lamban. Spesies ini memiliki ujung paruh yang bergerigi dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berburu secara diam-diam, terbang dari tempat bertengger yang tinggi untuk kemudian menyambar mangsa dari dahan terdekat serta dari bagian bawah daun. Kecuali saat melakukan gerakan kepala untuk memeriksa yang sering kali tertuju ke arah atas, burung ini umumnya tidak bergerak sama sekali. Burung ini telah diamati melakukan penerbangan yang tak beraturan dan mengepak-ngepak untuk memungut mangsanya sebelum bertengger kembali, serta dapat menangkap mangsa di udara dengan cara yang lebih elok. Pasangan serta kawanan kecil yang diperkirakan merupakan kelompok famili akan beraktivitas sepanjang hari, dan sesekali bergabung dengan kawanan pencari makan campuran.[7][12]
Di Semenanjung Malaya, perkawinan sempur-hujan rimba biasanya berlangsung pada musim kemarau menyusul Muson Asia Timur. Satu-satunya sarang yang pernah tercatat dari Myanmar terpantau di Tenasserim pada 21 Maret. Di Semenanjung Malaysia, sarang telah terlihat pada bulan Februari dan Maret, serta burung remaja dari awal April hingga awal September, yang mengindikasikan masa bertelurnya berlangsung dari bulan Maret hingga Mei dan di bulan Juli. Pengamatan sarang dan burung remaja di Thailand terjadi pada waktu yang lebih lambat dibandingkan dengan di Malaysia, yang mencerminkan masa berlalunya musim hujan. Di Laos, burung remaja telah terlihat pada bulan Juni, yang menunjukkan bahwa perkawinan terjadi di awal musim hujan dan bukannya di musim kemarau layaknya di sisa wilayah semenanjung lainnya. Musim berkembang biak lebih panjang di Kepulauan Sunda Besar, yakni berlangsung dari bulan Maret hingga November. Di Kalimantan, burung dewasa telah terpantau mengumpulkan bahan sarang pada bulan Maret, dan burung yang baru belajar terbang terlihat pada bulan September; burung jantan dengan testis yang membesar telah dikumpulkan dari bulan Maret hingga Juli. Musim berkembang biak sempur-hujan rimba terutama berlangsung sangat panjang di Sumatra dan Jawa. Burung remaja telah teramati pada bulan Maret, Juli, September, dan November di Sumatra, sedangkan telurnya telah dikumpulkan dari Belitung pada bulan April. Di Jawa, spesies ini mungkin berkembang biak sepanjang tahun, dengan catatan sarang yang dikumpulkan pada bulan April, Juni, dan Desember, serta burung remaja antara bulan Maret dan Desember.[7][12]
Layaknya burung paruh-lebar pada umumnya, sarang sempur-hujan rimba lazimnya dibuat pada ketinggian 6–21 m (20–69 ft) di atas area terbuka atau perairan, bergantung pada pohon mati maupun hidup seperti dipterokarpa dan Koompassia excelsa. Sarang juga pernah tercatat dibangun pada tumbuhan epifit seperti Pandanus, pakis, dan bambu. Sarangnya secara umum digantung di cabang yang menyamping di dekat batang, namun terkadang juga dikaitkan pada daun yang lebat dan ujung bambu. Sarang pernah diamati dibangun berdekatan dengan sarang lebah dari spesies seperti lebah madu raksasa (Apis dorsata) dan lebah peluh Halictidae, di mana strategi ini juga tampak pada sempur-hujan dada-hitam dan mungkin bertujuan untuk memberikan perlindungan. Satu sarang di Kalimantan tercatat dibangun selama kurun waktu 18 hari, dengan keterlibatan kedua individu dewasa dalam pembuatannya. Sarang ini berukuran besar, kasar, dan berbentuk oval atau seperti buah pir, dengan total panjang 75–90 cm (30–35 in) termasuk bagian ekornya yang menjuntai. Bahan yang digunakan untuk membuat sarang antara lain dedaunan, ranting, akar, serat, lumut, tulang daun, batang rumput, dan tumbuhan lumut.[7][12] Kedua jenis kelamin telah teramati mengumpulkan material pembuat sarang.[18] Ruang di bagian dalamnya dilapisi oleh dedaunan dan batang rumput yang tebal, sementara bagian luarnya dihiasi oleh lumut kerak, tumbuhan lumut, lumut hijau, kotoran serangga, kepompong, dan jaring laba-laba, yang diduga untuk memberikan kamuflase. Pintu masuk ke sarang dinaungi oleh tritisan miring. Sebuah sarang asal Sabah terukur setinggi 25 cm (9,8 in), lebar 225 cm (89 in), dan sedalam 15 cm (5,9 in), beserta area pintu masuk yang berukuran 54 mm × 58 mm (2,1 in × 2,3 in).[7][12]
Telur sempur-hujan rimba berbentuk oval dan berukuran 261 mm–315 mm × 171 mm–222 mm (10,3 in–12,4 in × 6,7 in–8,7 in). Telurnya memiliki permukaan yang halus serta agak mengilap dan biasanya berwarna putih kusam dihiasi bercak ungu tua atau cokelat kemerahan, yang cenderung lebih lebat pada ujung yang membesar; telur di Jawa Barat berwarna putih kotor, terkadang dihiasi semburat merah muda, dengan pola warna cokelat karat tebal hingga abu-abu lavender yang terpusat di sisi yang lebih lebar. Setiap kumpulan telur lazimnya berisikan dua atau tiga butir telur, walau adakalanya lebih dari itu. Proses pengeraman dapat berlangsung sebelum sarang sepenuhnya selesai dibangun, dan satu sesi pengeraman pernah tercatat berdurasi 1,8 jam. Hanya sedikit yang diketahui terkait proses penetasan dan asuhan induk pada spesies ini, tetapi kedua induk terus memasok 70–80% makanan untuk anaknya selama 13 minggu usai meninggalkan sarang, yang porsinya menurun ke kisaran 20–30% menjelang usia 20 minggu.[7][12]
Uni Internasional untuk Konservasi Alam, yang membagi sempur-hujan rimba menjadi dua spesies terpisah, mengklasifikasikan spesies javanicus berada pada status hampir terancam dan keseluruhan subspesies lainnya di tingkat berisiko rendah. Meskipun penyebarannya terfragmentasi dan langka di Jawa bagian tengah maupun timur, javanicus juga telah teramati di sejumlah kawasan lindung seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Populasinya tidak mungkin melampaui 10.000 individu dewasa dan disinyalir terus mengalami penyusutan. Ancaman utama bagi subspesies tersebut mencakup hilangnya habitat serta maraknya perdagangan burung dalam sangkar. Subspesies selebihnya tergolong tidak umum hingga cukup umum di kawasan lokal sepanjang sebaran habitatnya, tetapi pernah digambarkan sebagai spesies yang langka di Brunei dan amat sangat jarang dijumpai di Thailand utara. Populasi burung yang menghuni Semenanjung Malaya dikategorikan sebagai hampir terancam. Mereka hidup di berbagai kawasan lindung.[1][12][14]