Selat Gelasa atau dulu lebih dikenal dengan nama kolonial Selat Gaspar adalah sebuah selat yang memisahkan pulau Bangka dan Belitung. Selat ini adalah bagian dari dangkalan Sunda yang kedalamannya kurang dari 200 meter. Selat ini terkenal karena menjadi tempat banyak situs kapal karam. Selat ini sejak zaman dahulu berperan penting sebagai jalur pelayaran antara kapal-kapal dari arah Selat Malaka dan Tiongkok ke Jawa. Wilayah ini masuk ke dalam wilayah laut provinsi Bangka Belitung yang terdapat Pulau Gelasa, 2°24′42″S 107°4′10″E, kurang lebih 24 mil dari utara Pulau Tengah 2°52′0″S 107°4′0″E dan 18 mil dari Tanjung Brekat 2°34′21″S 106°50′43″E. Nama selat ini berasal dari Pulau Gelasa yang berada di dekat selat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Selat Gelasa | |
|---|---|
Perkemahan Fort Maxwell, didirikan pada tahun 1817 di Pulo Leat (Pulau Pongok), Selat Gelasa, oleh orang-orang yang selamat dari bangkai kapal missing name | |
| Jenis perairan | Selat |
| Terletak di negara | Indonesia |
| Referensi | Selat Gaspar: Indonesia National Geospatial-Intelligence Agency, Bethesda, MD, USA |
Selat Gelasa atau dulu lebih dikenal dengan nama kolonial Selat Gaspar adalah sebuah selat yang memisahkan pulau Bangka dan Belitung. Selat ini adalah bagian dari dangkalan Sunda yang kedalamannya kurang dari 200 meter. Selat ini terkenal karena menjadi tempat banyak situs kapal karam. Selat ini sejak zaman dahulu berperan penting sebagai jalur pelayaran antara kapal-kapal dari arah Selat Malaka dan Tiongkok ke Jawa. Wilayah ini masuk ke dalam wilayah laut provinsi Bangka Belitung yang terdapat Pulau Gelasa, 2°24′42″S 107°4′10″E / 2.41167°S 107.06944°E / -2.41167; 107.06944, kurang lebih 24 mil dari utara Pulau Tengah 2°52′0″S 107°4′0″E / 2.86667°S 107.06667°E / -2.86667; 107.06667 dan 18 mil dari Tanjung Brekat 2°34′21″S 106°50′43″E / 2.57250°S 106.84528°E / -2.57250; 106.84528.[1] Nama selat ini berasal dari Pulau Gelasa yang berada di dekat selat.
Selat Gelasa terletak di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung dan menjadi pemisah kedua pulau tersebut.[2] Perairan selat ini seluruhnya masuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.[3]
Perairan di selat ini telah dilayari sejak abad ke-7 Masehi. Pelayaran diadakan oleh para pedagang dari Tiongkok yang berdagang ke Sriwijaya dan Medang menggunakan kapal niaga. Para pedagang lain yang juga berlayar di selat ini ialah pedagang dari Semenanjung Arab, Persia dan India yang menuju ke Sriwijaya dan Medang, serta oleh para pedagang dari Sriwijaya ke Kerajaan Wijayapura di Kalimantan Barat. Pelayaran untuk perdagangan di selat ini dalam zaman kuno berlangsung hingga abad ke-13 Masehi.[4]
Selat ini merupakan salah satu perairan nasional di Indonesia yang menjadi lokasi gelaran sistem komunikasi kabel laut. Tingkat gelaran sistem komunikasi kabel laut merupakan salah satu yang terpadat dibandingkan perairan nasional lainnya di Indonesia. Sistem komunikasi kabel laut yang dibangun di selat ini menghubungkan sistem komunikasi dari selat Malaka dan laut Natuna menuju ke Daerah Khusus Ibukota Jakarta hingga ke Australia.[5]
Selat ini merupakan salah satu lokasi tenggelamnya kapal-kapal yang melalui perairan Nusantara. Karena itu, di dalam perairan selat ini dapat ditemukan reruntuhan kapal dan kargo yang menjadi muatan kapal yang tenggelam. Barang-barang temuan dari selat ini dinyatakan sebagai benda cagar budaya milik Indonesia karena lokasi selat yang berada dalam wilayah yurisdiksi Indonesia. Pengecualian yurisdiksi hanya berlaku untuk kapal ataupun pesawat terbang milik negara lain yang tenggelam di selat ini.[6]