Bir adalah salah satu minuman tertua yang diproduksi manusia. Sejarah bir sering dikaitkan dengan sejarah peradaban manusia. Para ahli berpendapat bahwa penemuan biji-bijian dan pembuatan bir mengubah cara hidup masyarakat prasejarah, dari kehidupan nomaden menjadi menetap. Diperkirakan bir ditemukan pada sekitar 9500-6000 SM oleh peradaban masyarakat di wilayah Bulan Sabit Subur, delta Sungai Nil, dan delta Sungai Yangtze dan Sungai di Tiongkok secara independen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bir adalah salah satu minuman tertua yang diproduksi manusia. Sejarah bir sering dikaitkan dengan sejarah peradaban manusia. Para ahli berpendapat bahwa penemuan biji-bijian dan pembuatan bir mengubah cara hidup masyarakat prasejarah, dari kehidupan nomaden menjadi menetap. Diperkirakan bir ditemukan pada sekitar 9500-6000 SM oleh peradaban masyarakat di wilayah Bulan Sabit Subur, delta Sungai Nil, dan delta Sungai Yangtze dan Sungai di Tiongkok secara independen. [1]
Perkembangan roti dan bir mendorong munculnya peradaban manusia yang menetap (statis) dan perkembangan tekologi baru. Bir digunakan sebagai upah pekerja di Sumeria dan Mesir Kuno.[2][3]
Dari Timur Dekat dan Mesir, bir kemudian menyebar ke Yunani dan Romawi Kuno sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu. Bir terus diproduksi dan dijual dalam skala lokal hingga menyebar ke wilayah Eropa lainnya, dari Balkan, Jerman, hingga Inggris.[4] Pada abad ke-7 M, bir mulai diproduksi dan dijual oleh biara-biara yang terafiliasi dengan gereja.[5] Di masa ini, bir mulai dicampur dengan gruit dan hop, yang menghasilkan variasi rasa yang berbeda. Varian bir juga semakin banyak, dari yang berwarna terang hingga gelap pekat akibat campuran dan proses pembuatannya. Akibat Revolusi Industri, produksi bir mengalami industrialisasi pada abad ke-19.[6]
Industri bir telah tumbuh menjadi bisnis global yang terdiri atas beberapa perusahaan multinasional, pabrik bir regional, ratusan ribu produsen kecil dan industri rumahan. Pasar bir global diperkirakan bernilai $840 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan bernilai $1,2 triliun pada tahun 2030 menurut laporan Grand View Research.[7]
Bukti arkeologis menunjukkan fermentasi bir tertua berusia 13.000 tahun di Gua Ragefet di Pegunungan Karmel, Israel. Di sana tim peneliti menemukan residu bir dengan kekentalan mirip bubur di cobek batu, yang menunjukkan kemungkinan fermentasi bir dimulai jauh dari yang diperkirakan sebelumnya.[8]
Arkeolog dan sejarawan memperkirakan bangsa Sumeria adalah yang pertama menemukan dan membuat bir (brewing), didukung dengan bukti-bukti arkeologis dan temuan tulisan dalam bahasa Sumeria dan aksara paku yang dipahat di tablet tanah liat.[3] Sementara bukti arkeologis tertua ditemukan di Tiongkok pada Kebudayaan Yangshao (5000-2900 SM) dengan penemuan resep bir kuno yang mengandung barley.[1] Hal ini memperkuat teori bahwa praktik pembuatan bir dikembangkan oleh perabadan yang berbeda-beda secara independen.[3]