Sastri Yunizarti Bakry adalah seorang birokrat, penulis dan aktivis budaya asal Padang, Sumatera Barat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sastri Yunizarti Bakry | |
|---|---|
Sastri Bakry tahun 2025. | |
| Lahir | 20 Juni 1958 Pariaman, Sumatera Barat |
| Almamater | Universitas Andalas, Padang |
| Pekerjaan | Sastrawan, birokrat, aktivis |
| Karya terkenal | - Kekuatan Cinta, "Kebenaran Tanpa Rasa Takut", "Pemimpin Langit" |
| Orang tua | Zaidin Bakry Fatimah Noer |
Sastri Yunizarti Bakry (lahir 20 Juni 1958) adalah seorang birokrat, penulis dan aktivis budaya asal Padang, Sumatera Barat.[1][1][2]
Ia dikenal sebagai ketua SatuPena Sumatera Barat serta sebagai pendiri Sumbar Talenta Indonesia dan International Minangkabau Literacy Festival.[3]
Sastri lahir pada 20 Juni 1958 di Pariaman, Sumatera Barat,[1] putri dari pasangan Zaidin Bakry (alm.) dan Fatimah Noer. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara berpangkat kolonel.[4][5] Ia mengenyam pendidikan di SMA Don Bosco Padang.[6][7]
Sasti menempuh pendidikan di Universitas Andalas dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Akuntansi (S1), lalu melanjutkan ke jenjang Magister Sains (S2) di bidang Pembangunan Wilayah Pedesaan, pada universitas yang sama, kemudian menempuh pendidikan Akta V di Universitas Negeri Padang pada 1999.[1]
Sastri mengawali karier sebagai jurnalis dan redaktur media di Padang pada era 1980-an. Sejak 1990, ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan seperti anggota DPRD Sumatera Barat (1997-1999), Kepala Bawesda Kota Padang (2005-2009),[8] hingga Sekretaris DPRD Padang (2009). Berikutnya, ia dilantik menjadi Inspektur Khusus (2012-2016) pada Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri).[9][10] Setelah itu, ia menjadi Direktur Perencanaan dan Anggaran Daerah Ditjen Keuda Kemendagri (2017-2018).[11] Ia mengakhiri karier birokratnya dengan jabatan terakhir sebagai Widyaiswara Ahli Utama di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi.[12]
Ia juga aktif sebagai pegiat literasi melalui berbagai organisasi dan festival yang ia dirikan. Sebagai aktivis perempuan, Sastri juga sering menjadi pembicara di forum lokal, regional, nasional, dan internasional.[1]
Sepanjang 16–18 Maret 2012, Sastri berperan sebagai Ketua Pengarah Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) yang pertama, sebuah iven sastra internasional yang dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat. Kegiatan tersebut melibatkan 200 sastrawan dari 6 negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura dan Thailand.[13]
Sastri telah menulis sejak masih duduk di bangku SMP dalam bentuk puisi, cerpen, feature, artikel dan lainnya. Beberapa karya sastranya antara lain: