Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSastra Lisan Lampung
Artikel Wikipedia

Sastra Lisan Lampung

Sastra Lisan Lampung adalah bentuk ekspresi budaya masyarakat Provinsi Lampung yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi tutur. Sastra ini mencakup berbagai bentuk seperti pepaccur, hiwang, seloko, dan ceritera rakyat (folklor). Sastra lisan berfungsi sebagai media pendidikan moral, sarana komunikasi sosial, serta cerminan nilai-nilai adat masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

Wikipedia article
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sastra Lisan Lampung adalah bentuk ekspresi budaya masyarakat Provinsi Lampung yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi tutur. Sastra ini mencakup berbagai bentuk seperti pepaccur (pantun berbalas), hiwang (nyanyian tradisional), seloko (petuah adat), dan ceritera rakyat (folklor). Sastra lisan berfungsi sebagai media pendidikan moral, sarana komunikasi sosial, serta cerminan nilai-nilai adat masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.[1]

Sejarah dan Perkembangan

Sastra lisan di Lampung berkembang sejak masa kerajaan adat seperti Keratuan Pugung dan Sekala Brak, di mana tradisi tutur menjadi media utama dalam penyebaran nilai budaya dan hukum adat. Sebelum masyarakat Lampung mengenal tulisan Latin maupun Arab Pegon, tradisi lisan berperan penting dalam menjaga memori kolektif dan identitas sosial. Cerita rakyat, pepatah, dan pantun Lampung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat terhadap norma sosial dan sejarah nenek moyang.[2]

Bentuk-bentuk Sastra Lisan

Sastra Lisan Lampung terdiri atas berbagai bentuk yang kaya akan simbol dan nilai budaya.

Pepaccur

Pepaccur adalah bentuk pantun berbalas yang disampaikan secara lisan pada acara adat seperti pernikahan, penyambutan tamu, atau musyawarah kampung. Melalui pepaccur, masyarakat mengekspresikan sopan santun, kecerdasan, dan kepiawaian berbahasa. Biasanya, pepaccur dilakukan antara dua pihak dengan gaya humoris tetapi tetap menjunjung tinggi etika adat.[3]

Hiwang

Hiwang merupakan bentuk nyanyian atau tembang tradisional yang berisi pesan moral dan filosofi kehidupan. Liriknya sering menggunakan bahasa kiasan dan metafora alam, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Lampung yang religius dan harmonis dengan alam.[4]

Seloko dan Peribahasa

Seloko dan peribahasa Lampung merupakan bentuk sastra lisan yang berisi nasihat dan pedoman hidup. Biasanya digunakan oleh tokoh adat atau orang tua dalam acara resmi maupun pendidikan informal. Ucapan seperti “*Sai sekham sai igel*” (satu rasa satu langkah) menjadi contoh nilai solidaritas sosial yang diabadikan melalui sastra lisan.[5]

Fungsi Sosial dan Nilai Budaya

Sastra lisan Lampung memiliki peran penting dalam membentuk moral dan karakter masyarakat. Melalui pepaccur dan hiwang, masyarakat belajar tentang kesopanan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap leluhur. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga menjadi alat kontrol sosial yang menjaga keseimbangan antara individu dan masyarakat. Selain itu, sastra lisan menjadi sarana pelestarian bahasa dan memperkuat identitas kebudayaan daerah di tengah arus globalisasi.[1]

Pelestarian

Upaya pelestarian sastra lisan Lampung dilakukan melalui pendidikan budaya lokal di sekolah, festival sastra daerah, dan digitalisasi naskah tutur. Pemerintah daerah bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mencatat beberapa bentuk sastra lisan ini sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Langkah ini menjadi penting agar sastra lisan Lampung tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.[6]

Lihat pula

  • Bahasa Lampung
  • Kesenian Lampung
  • Adat Sai Batin
  • Tari Cangget

Referensi

  1. 1 2 Hasan, R. (2020). *Sastra Lisan Lampung: Fungsi Sosial dan Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lisan Lokal*. Bandar Lampung: Pustaka Sai Bumi.
  2. ↑ Sutrisno, B. (2019). *Fungsi Sosial Sastra Lisan dalam Masyarakat Adat Lampung*. Jurnal Antropologi Nusantara, 7(2), 134–149. https://doi.org/10.7454/jan.v7i2.1125
  3. ↑ Yulianti, E. (2020). *Estetika dan Etika dalam Pepaccur Lampung Pepadun*. Jurnal Sastra dan Bahasa Daerah, 5(1), 88–101. https://doi.org/10.23960/jsbd.v5i1.2301
  4. ↑ Rahmawati, E. (2018). *Makna Simbolik dalam Tradisi Hiwang Masyarakat Lampung Saibatin*. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, 14(1), 47–59. https://doi.org/10.22146/jspi.v14i1.2439
  5. ↑ Rizal, M. (2022). *Peran Seloko Lampung dalam Pembentukan Karakter Sosial*. Jurnal Kebudayaan Nusantara, 4(3), 204–217. https://doi.org/10.31002/jkn.v4i3.2468
  6. ↑ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2023). *Warisan Budaya Takbenda Provinsi Lampung*. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah dan Perkembangan
  2. Bentuk-bentuk Sastra Lisan
  3. Pepaccur
  4. Hiwang
  5. Seloko dan Peribahasa
  6. Fungsi Sosial dan Nilai Budaya
  7. Pelestarian
  8. Lihat pula
  9. Referensi

Artikel Terkait

Sastra Lampung

Sastra Melayu lama di Sumatra

Kebudayaan Lampung

serta warisan seni seperti kain tapis, tari cangget, dan sastra lisan pepaccur. Kebudayaan Lampung telah berkembang sejak masa kerajaan adat seperti Keratuan

Surat Lampung

aksara keturunan Kawi untuk menulis rumpun bahasa Lampung

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026