Sanggar Dewata Indonesia adalah komunitas perupa asal Indonesia yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan seniman asal Bali pada 15 Desember 1970. Pendirinya antara lain Made Wianata, I Nyoman Gunarsa, Pande Gde Supada, Nyoman Arsana, dan Wayan Sika. Pembentukannya berawal dari Balai Banjar "Saraswati" di kampung Baciro, Yogyakarta.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Februari 2023) |
Sanggar Dewata Indonesia (disingkat SDI) adalah komunitas perupa asal Indonesia yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan seniman asal Bali pada 15 Desember 1970. Pendirinya antara lain Made Wianata, I Nyoman Gunarsa, Pande Gde Supada, Nyoman Arsana, dan Wayan Sika. Pembentukannya berawal dari Balai Banjar "Saraswati" di kampung Baciro, Yogyakarta.
Tujuan utama SDI adalah mengolah elemen estetik dari tradisi seni rupa Bali melalui perspektif baru agar dapat terhubung dengan praktik seni rupa modern.[1] Komunitas ini berupaya menciptakan kebersamaan sosial dalam menyusun program pameran, mengoordinasi kegiatan seni, dan mengadakan diskusi kritis di luar kerangka pengajaran formal.[2]
Awalnya, Sanggar Dewata Indonesia dimaksudkan sebagai wadah bagi para seniman Bali yang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Seiring waktu, komunitas ini berkembang menjadi lebih dinamis dan terbuka bagi kalangan perupa dari berbagai latar belakang. SDI berfungsi sebagai sarana untuk menjembatani para seniman dengan masyarakat seni rupa yang lebih luas.[1]
Pada 1 Oktober 1986, komunitas ini disahkan menjadi badan hukum dengan nama 'Yayasan Sanggar Dewata Indonesia'. Yayasan ini bersifat terbuka dan independen, berwawasan universal, serta berazaskan Pancasila. Tujuan yayasan, sebagaimana tercantum dalam akta notaris di Yogyakarta, meliputi:
Yayasan Sanggar Dewata Indonesia juga menjadi pelopor lahirnya dua penghargaan bergengsi di bidang seni, yaitu Lempad Prize dan Cokot Prize, yang diberikan kepada seniman profesional, budayawan, serta pendukung seni di Indonesia.[3]
Struktur organisasi SDI saat ini terbagi menjadi dua wilayah pengelolaan, yakni SDI Yogyakarta dan SDI Bali. Pembentukan SDI Bali pada awal 2000-an dilatarbelakangi oleh kepulangan sejumlah seniman diaspora Bali setelah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah koordinasi dan pelaksanaan kegiatan seni. Pengurus terakhir yang tercatat ialah Agus Putu Suyadnya sebagai Ketua SDI Yogyakarta dan I Made Palguna sebagai Ketua SDI Bali.
Dalam mengelola sumber daya seniman diaspora Bali, SDI menekankan nilai keterbukaan dan keberagaman, serta menjauhi sikap primordial. Komunitas ini mengusung semangat nasionalisme berasaskan Pancasila dengan berpijak pada filosofi lokal Bali, seperti konsep desa kala patra (kontekstualitas ruang, waktu, dan situasi) serta Rwa Bhineda (dualisme yang saling melengkapi). Pandangan ini menjadi dasar bagi sikap kritis seniman SDI dalam menghadapi transformasi seni rupa Indonesia dan dunia.
Konsep berkesenian SDI digagas oleh I Nyoman Gunarsa sejak awal pendiriannya. Ia menekankan pentingnya "semangat lokal" yang tidak hanya merepresentasikan kebudayaan daerah, tetapi juga mencerminkan semangat kebangsaan dan nasionalisme Pancasila. Menurut Gunarsa, identitas seniman Indonesia terbentuk dari multikulturalisme yang mampu berdialog dengan dunia internasional tanpa kehilangan jati diri.[3]
Pemikiran tersebut berpadu dengan kearifan lokal Bali yang menjadi landasan etika sosial seniman SDI, seperti tatas, tetes (kehati-hatian dalam bertindak), tat twam asi (toleransi), paras paros (saling menghargai pendapat), salunglung sabayantaka (persatuan), dan merakpak danyuh (menjaga persahabatan dalam perbedaan). Filsafat lokal ini menjadi ruang reflektif bagi perupa muda SDI dalam menghadapi perkembangan seni modern dan kontemporer di era digital, dengan tetap mempertahankan kesadaran sejarah dan tradisi sebagai dasar penciptaan seni serta pergaulan global.[4]