Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSanggar Dewata Indonesia
Artikel Wikipedia

Sanggar Dewata Indonesia

Sanggar Dewata Indonesia adalah komunitas perupa asal Indonesia yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan seniman asal Bali pada 15 Desember 1970. Pendirinya antara lain Made Wianata, I Nyoman Gunarsa, Pande Gde Supada, Nyoman Arsana, dan Wayan Sika. Pembentukannya berawal dari Balai Banjar "Saraswati" di kampung Baciro, Yogyakarta.

Wikipedia article
Diperbarui 11 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks eksisting. (Februari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Sanggar Dewata Indonesia (disingkat SDI) adalah komunitas perupa asal Indonesia yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan seniman asal Bali pada 15 Desember 1970. Pendirinya antara lain Made Wianata, I Nyoman Gunarsa, Pande Gde Supada, Nyoman Arsana, dan Wayan Sika. Pembentukannya berawal dari Balai Banjar "Saraswati" di kampung Baciro, Yogyakarta.

Tujuan utama SDI adalah mengolah elemen estetik dari tradisi seni rupa Bali melalui perspektif baru agar dapat terhubung dengan praktik seni rupa modern.[1] Komunitas ini berupaya menciptakan kebersamaan sosial dalam menyusun program pameran, mengoordinasi kegiatan seni, dan mengadakan diskusi kritis di luar kerangka pengajaran formal.[2]

Latar belakang

Awalnya, Sanggar Dewata Indonesia dimaksudkan sebagai wadah bagi para seniman Bali yang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Seiring waktu, komunitas ini berkembang menjadi lebih dinamis dan terbuka bagi kalangan perupa dari berbagai latar belakang. SDI berfungsi sebagai sarana untuk menjembatani para seniman dengan masyarakat seni rupa yang lebih luas.[1]

Pada 1 Oktober 1986, komunitas ini disahkan menjadi badan hukum dengan nama 'Yayasan Sanggar Dewata Indonesia'. Yayasan ini bersifat terbuka dan independen, berwawasan universal, serta berazaskan Pancasila. Tujuan yayasan, sebagaimana tercantum dalam akta notaris di Yogyakarta, meliputi:

  • pembinaan kader seniman, budayawan, penari, dan karawitan Indonesia;
  • pencarian corak nasional yang bersumber pada nilai-nilai luhur budaya Indonesia;
  • pemberian dorongan bagi seniman untuk mengembangkan kreativitas seni budaya bangsa;
  • pemberian penghargaan kepada seniman dan budayawan Indonesia.

Penghargaan

Yayasan Sanggar Dewata Indonesia juga menjadi pelopor lahirnya dua penghargaan bergengsi di bidang seni, yaitu Lempad Prize dan Cokot Prize, yang diberikan kepada seniman profesional, budayawan, serta pendukung seni di Indonesia.[3]

Organisasi

Struktur organisasi SDI saat ini terbagi menjadi dua wilayah pengelolaan, yakni SDI Yogyakarta dan SDI Bali. Pembentukan SDI Bali pada awal 2000-an dilatarbelakangi oleh kepulangan sejumlah seniman diaspora Bali setelah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah koordinasi dan pelaksanaan kegiatan seni. Pengurus terakhir yang tercatat ialah Agus Putu Suyadnya sebagai Ketua SDI Yogyakarta dan I Made Palguna sebagai Ketua SDI Bali.

Dalam mengelola sumber daya seniman diaspora Bali, SDI menekankan nilai keterbukaan dan keberagaman, serta menjauhi sikap primordial. Komunitas ini mengusung semangat nasionalisme berasaskan Pancasila dengan berpijak pada filosofi lokal Bali, seperti konsep desa kala patra (kontekstualitas ruang, waktu, dan situasi) serta Rwa Bhineda (dualisme yang saling melengkapi). Pandangan ini menjadi dasar bagi sikap kritis seniman SDI dalam menghadapi transformasi seni rupa Indonesia dan dunia.

Konsep berkesenian

Konsep berkesenian SDI digagas oleh I Nyoman Gunarsa sejak awal pendiriannya. Ia menekankan pentingnya "semangat lokal" yang tidak hanya merepresentasikan kebudayaan daerah, tetapi juga mencerminkan semangat kebangsaan dan nasionalisme Pancasila. Menurut Gunarsa, identitas seniman Indonesia terbentuk dari multikulturalisme yang mampu berdialog dengan dunia internasional tanpa kehilangan jati diri.[3]

Pemikiran tersebut berpadu dengan kearifan lokal Bali yang menjadi landasan etika sosial seniman SDI, seperti tatas, tetes (kehati-hatian dalam bertindak), tat twam asi (toleransi), paras paros (saling menghargai pendapat), salunglung sabayantaka (persatuan), dan merakpak danyuh (menjaga persahabatan dalam perbedaan). Filsafat lokal ini menjadi ruang reflektif bagi perupa muda SDI dalam menghadapi perkembangan seni modern dan kontemporer di era digital, dengan tetap mempertahankan kesadaran sejarah dan tradisi sebagai dasar penciptaan seni serta pergaulan global.[4]

Referensi

  1. 1 2 1978-, Dahlan, Muhidin M.,. Almanak seni rupa Indonesia : secara istimewa Yogyakarta. [Jakarta]. ISBN 9789791436298. OCLC 848263279. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  2. ↑ "Pelaku Seni | Sanggar Dewata Indonesia". arsip.galeri-nasional.or.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-12-09. Diakses tanggal 2018-12-08.
  3. 1 2 Sucitra, I. Gede Arya; Sartini, Sartini (2020-08-31). "KONSEPSI LOKAL-GLOBAL SEBAGAI BASIS KULTURAL BERKESENIAN SANGGAR DEWATA INDONESIA". Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya. 48 (2): 118–130. ISSN 2550-0635.
  4. ↑ "[Pameran] SDI". Sangkring Art (dalam bahasa American English). 2019-12-11. Diakses tanggal 2022-07-05.

Pranala luar

  • Sanggar Dewata Indonesia di Instagram
Ikon rintisan

Artikel bertopik organisasi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Penghargaan
  3. Organisasi
  4. Konsep berkesenian
  5. Referensi
  6. Pranala luar

Artikel Terkait

I Nyoman Gunarsa

pelukis Indonesia

I Gusti Nyoman Lempad

Seniman Indonesia

Putu Sutawijaya

dalam Philip Morris Indonesia Art Awards. Pada tahun 2000, Sutawijaya memperoleh Penghargaan Lempad dari Sanggar Dewata Indonesia. Situs resmi Taman Ismail

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026