Putu Sutawijaya adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karya senirupa yang dipamerkan di berbagai kota di Indonesia. Atas prestasinya, Putu menerima sejumlah penghargaan. Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah ilustrasi pada novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Putu Sutawijaya (lahir 27 November 1971) adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karya senirupa yang dipamerkan di berbagai kota di Indonesia. Atas prestasinya, Putu menerima sejumlah penghargaan. Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah ilustrasi pada novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata.[1]
Putu Sutawijaya lahir pada tanggal 27 November 1971 di Desa Angseri, Kabupaten Tabanan, Bali.[2] Sejak usia muda, dia sudah mengakrabi dunia seni, terutama senirupa. Mengawali debutnya sebagai perupa pada waktu duduk di bangku SMP. Saat itu, dia bahkan sudah mampu menjual karya-karya ilustrasi wajah-wajah indo dan oriental sebagai sampul novel ke penerbit lokal.[butuh rujukan] Sutawijaya kemudian melanjutkan pendidikan seni dari Sekolah Menengah Seni Rupa di Denpasar, Bali.[3] Ia menjual karya lukis khas Bali tradisionalnya ke Pasar Seni Sukawati.[butuh rujukan] Sutawijaya lulus SMSR di Batubulan, Gianyar, Bali.[2] Pada tahun 1991–1998, ia melanjutkan pendidikan tinggi pada Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.[2][4] Sutawijaya menamatkan pendidikannya di ISI Yogyakarta pada tahun 1998.[5] Langkah ini merupakan pijakan yang ia harus dia tempuh demi meninggalkan citra sebagai tukang gambar menuju eksistensi seorang seniman. Pengalaman estetiknya dimulai ketika ia membawa-bawa gulungan karya untuk diperlihatkan pada galeri-galeri kecil di Bali setiap libur semester, sebagai langkah awal memperkenalkan karya. Pengalaman inilah yang pada akhirnya mewarnai perkembangan estetiknya kemudian: antara ide kreativitas dan kemauan pasar. Perjuangan untuk mendapat apresiasi juga menjadi romantika tersendiri baginya.
Karena aktivitas hidupnya yang berkutat pada seni, mau tidak mau mendorongnya membuat karya seni yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia pun terus membuat karya-karya baru yang berbeda dengan mainstream masa itu. Salah satunya adalah penggunaan figur lelaki dalam karyanya. Kekhasannya yang lain, ia kerap menggunakan tinta India. Salah satu karyanya, Looking for Wings, (2002 menjadi perbincaraan kalangan penggiat senirupa di tanah air maupun mancanegara setelah terjual di balai lelang Sotheby’s dengan harga fantastis. Para pengamat senirupa menyebut, peristiwa yang sering dikenal sebagai "Insiden Mei 2007" ini telah menjadi pemicu ledakan senirupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia pada akhirnya diperhitungkan sebagai surga baru perburuan seni kontemporer, bersaing dengan Tiongkok dan India. Sejak itulah namanya berada di jajaran seniman kelas atas Indonesia.[6]
Pada tahun 1999, Sutawijaya menjadi lima terbaik dalam Philip Morris Indonesia Art Awards.[7] Pada tahun 2000, Sutawijaya memperoleh Penghargaan Lempad dari Sanggar Dewata Indonesia.[8]