Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Rumah Gadang

Rumah Gadang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak dijumpai di Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjuang oleh masyarakat setempat.

rumah tradisional di Indonesia
Diperbarui 17 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Rumah Gadang
Rumah Gadang yang ada di Nagari Pandai Sikek dengan dua buah Rangkiang di depannya

Rumah Gadang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak dijumpai di Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjuang oleh masyarakat setempat.[1]

Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di provinsi Sumatera Barat, tetapi tidak seluruh daerah di Sumatera Barat boleh didirikan rumah adat Minangkabau ini karena kesatuan administrasi negara berupa provinsi tidak sama dengan Alam Minangkabau (konsep spasial masyarakat adat Minangkabau). Masyarakat hanya boleh mendirikan rumah gadang di kawasan yang telah status sebagai nagari saja sehingga wilayah lain yang statusnya di bawah nagari seperti dusun, jorong, dan korong belum boleh mendirikannya.[2][3] Konsekuensinya, wilayah-wilayah seperti di Kabupaten Mentawai tidak bisa mendirikan rumah gadang karena tidak ada nagari di sana. Begitu juga pada kawasan yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga dahulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau.

Fungsi

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal keluarga besar di Minangkabau, terutama kaum perempuan.

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.

Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun-temurun[4] dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut.[5] Di halaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung (Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu Rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga, sedangkan pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, golongan pertama menganut prinsip pemerintahan yang hierarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan kedua anjuang seolah-olah mengapung di udara. Tidak jauh dari kompleks Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.

Arsitektur

Artikel utama: Arsitektur Minangkabau
Rumah gadang di suatu desa di Sumatera Barat, sekitar 1895.

Rumah adat ini memiliki keunikan bentuk arsitektur dengan bentuk puncak atapnya runcing yang menyerupai tanduk kerbau dan dahulunya dibuat dari bahan ijuk yang dapat tahan sampai puluhan tahun,[5] namun belakangan atap rumah ini banyak berganti dengan atap seng. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian, muka dan belakang. Bagian depan dari Rumah Gadang biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan umumnya bermotif akar, bunga, daun serta bidang persegi empat dan genjang.[1] Sedangkan bagian luar belakang dilapisi dengan belahan bambu. Rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan rumah dibuat besar ke atas, tetapi tidak mudah runtuh oleh guncangan,[1] dan setiap elemen dari Rumah Gadang mempunyai makna tersendiri yang dilatari oleh tambo yang ada dalam adat dan budaya masyarakat setempat.

Pada umumnya, Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada bagian depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet pada dinding.

Karena wilayah Minangkabau rawan gempa sejak dulunya karena berada di pegunungan Bukit Barisan, maka arsitektur Rumah Gadang juga memperhitungkan desain yang tahan gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Ketika gempa terjadi Rumah Gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tonggak atau tiang berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel, sehingga Rumah Gadang yang dibangun secara benar akan tahan terhadap gempa.

Ukiran

Ragam ukir khas Minangkabau pada dinding bagian luar dari Rumah Gadang

Pada bagian dinding Rumah Gadang di buat dari bahan papan, sedangkan bagian belakang dari bahan bambu. Papan dinding dipasang vertikal, sementara semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran, sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak papan pada dinding Rumah Gadang.[3][6]

Pada dasarnya ukiran pada Rumah Gadang merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. Motifnya umumnya tumbuhan merambat, akar yang berdaun, berbunga, dan berbuah. Pola akar biasanya berbentuk lingkaran, akar berjajaran, berhimpitan, berjalinan dan juga sambung menyambung. Cabang atau ranting akar berkeluk ke luar, ke dalam, ke atas, dan ke bawah.

Di samping motif akar, motif lain yang dijumpai adalah motif geometri bersegitiga, empat dan genjang. Motif daun, bunga, atau buah dapat juga diukir tersendiri atau secara berjajaran.

Proses pembuatan

Menurut tradisinya, tiang utama Rumah Gadang yang disebut tonggak tuo yang berjumlah empat buah/batang diambil dari hutan secara gotong royong oleh anak nagari, terutama kaum kerabat, dan melibatkan puluhan orang. Batang pohon yang ditebang biasanya adalah pohon juha yang sudah tua dan lurus dengan diameter antara 40 cm hingga 60 cm. Pohon juha terkenal keras dan kuat. Setelah dibawa ke dalam nagari pohon tersebut tidak langsung dipakai, tetapi direndam dulu di kolam milik kaum atau keluarga besar selama bertahun-tahun.[butuh rujukan]

Setelah cukup waktu batang pohon tersebut diangkat atau dibangkit untuk dipakai sebagai tonggak tuo. Prosesi mengangkat/membangkit pohon tersebut disebut juga sebagai mambangkik batang tarandam (membangkitkan pohon yang direndam), lalu proses pembangunan Rumah Gadang berlanjut ke prosesi berikutnya, mendirikan tonggak tuo atau tiang utama sebanyak empat buah, yang dipandang sebagai menegakkan kebesaran.

Batang pohon yang sudah direndam selama bertahun-tahun tersebut kemudian menjadi sangat keras dan tak bisa dimakan rayap, sehingga bisa bertahan sebagai tonggak tuo atau tiang utama selama ratusan tahun. Perendaman batang pohon yang akan dijadikan tonggak tuo selama bertahun-tahun tersebut merupakan salah satu kunci yang membuat Rumah Gadang tradisional mampu bertahan hingga ratusan tahun melintasi zaman.

Adopsi

Keunikan bentuk atap Rumah Gadang yang melengkung dan lancip, telah menginspirasi beberapa arsitek di belahan negeri lain, seperti Ton van de Ven di Negeri Belanda yang mengadopsi desain Rumah Gadang pada bangunan The House of the Five Senses. Bangunan yang dioperasikan sejak tahun 1996 itu digunakan sebagai gerbang utama dari Taman Hiburan Efteling.[7] Bangunan setinggi 52 meter dan luas atap 4500 meter persegi itu merupakan bangunan berkonstruksi kayu dengan atap jerami yang terbesar di dunia menurut Guinness Book of Records.

Desain Rumah Gadang yang banyak terdapat di Negeri Sembilan juga diadopsi pada bangunan paviliun Malaysia di World Shanghai Expo 2010 yang diselenggarakan di Shanghai, China, pada tahun 2010.[8][9]

Simbol

Gonjong (bagian atap yang melengkung dan lancip) Rumah Gadang menjadi simbol atau ikon bagi masyarakat Minangkabau di samping ikon yang lain, seperti warna hitam-merah-kuning emas, rendang, dan lainnya. Hampir seluruh kantor pemerintahan di Sumatera Barat memakai desain Rumah Gadang dengan atap gonjongnya, walaupun dibangun secara permanen dengan semen dan batu. Ikon gonjong juga dipakai di bagian depan rumah makan Padang yang ada di berbagai tempat di luar Sumatera Barat. Logo-logo lembaga atau perkumpulan masyarakat Minang juga banyak yang memakai ikon gonjong dengan segala variasinya.

Ragam

Koto Piliang
Bodi Caniago

Secara umum, ada dua ragam rumah gadang menurut laras yang dianut suku atau nagari di mana rumah gadang didirikan, yaitu Koto Piliang dan Bodi Caniago.[10]

Rumah gadang laras Koto Piliang memiliki anjung di sisi kiri dan/atau kanan rumah gadang, sehingga disebut Rumah Rumah Baanjuang. Anjung merupakan bagian yang lebih tinggi pada bagian lain rumah. Hal ini dikarenakan kepemimpinan dalam laras Koto Piliang yang otokrasi (bertingkat-tingkat). Rumah gadang tipe ini banyak dibangun di luhak Tanah Datar.[10]

Berbeda dengan laras Koto Piliang, Rumah Gadang Bodi Chaniago tidak memiliki anjung. Sehingga lantai pada rumah gadang ragam ini terlihat sama tinggi. Hal ini dikarenakan kepemimpinan laras Bodi Chaniago yang demokrasi. Rumah Gadang ragam ini banyak ditemukan di Luhak Agam dan Luhak Limapuluh Kota. Walaupun begitu, pembagian ruang di dalamnya secara umum sama kedua laras ini.[10]

Selain menurut anjung nan ada pada rumah gadang, ada banyak ragam lainnya dari rumah gadang. Perbedaan di antara ragam-ragam rumah gadang dapat dilihat dari bentuk, dinding, jumlah ruangan, tonggak, serambi, bahkan gonjongnya.

Rumah Gadang di darek

Rumah gadang di darek mempunyai perbedaan dengan rumah gadang yang ada di kawasan rantau, baik yang di pesisir timur maupun pesisir barat. Perbedaan mencolok yaitu bentuk atapnya yang bergonjong, sehingga rumah gadang yang ada di darek biasanya disebut dengan rumah gadang bergonjong. Pendirian rumah gadang bergonjong di darek ada aturan adatnya sendiri. Rumah bergonjong hanya boleh dibangun di daerah yang sudah berstatus nagari.

Rumah Gadang Gajah Maharam

Rumah Gadang Gajah Maharam

Rumah gadang ragam ini bentuknya seperti gayang maharam, yaitu besar, lebar dan tampak kokoh. Rumah gadang ini terdiri dari banyak ruangan. Rumah ini merupakan rumah suku, bukan rumah saparuik. Gajah maharam lebih berfungsi sebagai rumah adat daripada rumah hunian. Gajah maharam difungsikan sebagai tempat pesta, baik pesta pernikahan maupun kematian. Ragam rumah gadang ini banyak ditemui di Luhak Tanah Datar.[11] Pintu masuk rumah gadang biasanya terletak di tengah, baik di depan maupun belakang.

Rumah Gadang Surambi Papek

Rumah Gadang Surambi Papek atau Lipek Pandan Bapamokok di Luak Agam dan Kota Bukittinggi

Rumah gadang ragam ini disebut juga sebagai rumah gadang bapamokok atau Rumah Gadang Lipek Pandan. Rumah gadang jenis ini banyak ditemukan di Luhak Agam. Rumah gadang ini mempunyai sayap pada sisi kiri dan kanan atapnya.[11] Pintu masuk rumah gadang ini terletak di belakang.

Rumah Gadang Rajo Babandiang

Rumah Gadang Tan Malaka di Pandam Gadang, Lima Puluh Kota marupokan rumah gadang rajo babandiang.

Rumah Gadang Rajo Babandiang merupakan rumah gadang keselarasan Bodi Chaniago yang ada banyak di Luhak Limapuluh Kota.[11] Dinamai rajo babandiang karena ada ruangan tambahan di bagian tepi yang berdampingan, tetapi tidak simestris dan agak mundur ke belakang. Pemasangan sederet tiang tambahan yang disebut tiang babisiak membuat ruang tadi agak mundur ke belakang hingga dinamakan sebagai rumah gadang bapaserek.

Nama lain dari rumah gadang ini adalah rumah gadang bagonjong limo. Hal ini karena bisanya ada lima gonjong di atapnya. Sebenarnya gonjong yang kelima merupakan gonjong tambahan untuk ruang tambahan hasil tiang babisiak tadi. Pada umumnya pintu masuk terletak di samping, antara ruang bergonjong keempat dengan kelima.

Rumah Gadang Batingkok atau Batingkek

Rumah Gadang Batingkek nan panah ado di Agam.

Rumah Gadang Batingkok atau Batingkek merupakan rumah gadang yang dibuat bertingkat. Rumah gadang jenis ini merupakan pengembangan dari rumah gadang gajah maharam, serambi papek, atau rajo babandiang. Ruang tambahan pada lantai kedua atau ketiga disebut sebagai ruang paranginan. Di antara jenis rumah gadang ini yang ternama, yaitu Istano Basa Pagaruyuang (Batusangkar), Rumah Gadang Sicamin (Biaro, Agam), dan Rumah Gadang Sutan Nan Kedoh (Koto Nan Ampek, Payakumbuh).

Rumah Gadang Surambi Aceh

Rumah Gadang Surambi Aceh Bagonjong Duo

Rumah Gadang Surambi Aceh merupakan ragam rumah gadang yang paling tersebar di daerah Solok dan Solok Selatan. Sesuai namanya, ciri khas rumah gadang ini nampak dari adanya serambi pada bagian depan rumah yang sekaligus menjadi pintu masuk. Hal ini terpengaruh dengan Arsitektur Aceh pada masa wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh sudah membentang hingga pesisir barat Sumatera Barat. Pada masa itu, tujuan adanya serambi adalah sebagai tempat menerima tamu, khususnya yang orang kolonial.[12] Menurut jumlah gonjong yang ada pada serambinya, Rumah Gadang Surambi Aceh terbagi menjadi dua jenis, yaitu:[12]

  • Rumah Gadang Surambi Aceh Bagonjong Ciek
  • Rumah Gadang Surambi Aceh Bagonjong Duo

Rumah Gadang Surambi Aceh kini masih banyak dijumpai di Sumatera Barat, khusunya di Solok dan Solok Selatan. Selain itu, di kawasan Saribu Rumah Gadang, Nagari Sungai Pagu, Solok Selatan, ragam ini masih banyak dipakai. Pada bangunan modern, rumah gadang ini sudah diadopsi pada hotel Bumiminang, hal itu nampak pada bagian pintu utamanya yang seakan-akan membentuk Serambi Bagonjong Duo.

Rumah Gadang di Rantau

Rumah gadang di rantau, pasisir barat ataupun timur, dibangun berbeda dengan rumah gadang yang ada di darek karena adat yang mengaturnya. Ciri bangunannya berbentuk rumah panggung besar dengan tangga terletak di tengah rumah serta atap yang tidak bergonjong. Atap yang dibangun terkadang dibuat agak melengkung seperti Rumah Lontiak, atau bahkan tidak melengkung sama sekali seperti Rumah Tungkuih Nasi. Karena tidak ada gonjongnya inilah, masyarakat sering menganggapnya bukan rumah gadang.[13]

Rumah di daerah rantau biasanya terpengaruh arsitektur luar seperti Aceh, Malayu,[14] Nieh, bahkan Ulando.[15] Walaupun seperti itu, pembangunan rumah gadang ini masih tetap berkaitan dengan aturan adat Minangkabau yang matrilineal.

Kajang Padati

Rumah Gadang Kajang Padati di Padang

Rumah Gadang Kajang Padati merupakan rumah gadang yang ada di kawasan rantau pesisir barat, khususnya Kota Padang.[16] Dinamakan kajang pedati karena bentuknya serupa dengan penutup pedati (kajang padati). Rumah gadang ragam ini sangat berbeda dengan yang ada di darek. Perbedaan yang paling menonjol nampak pada atapnya yang bukan bergonjong, tetapi agak melengkung sedikit di atasnya. Hal ini karena padang merupakan kawasan rantau. Bentuk rumah gadang ini dipengaruhi oleh arsitektur kolonial yang pernah menguasai Padang dahulunya, seperti Aceh. Pengaruh Aceh di antaranya terlihat pada bentuk tangga disertai ukiran-ukiran yang ada.[17]

Rumah gadang biasanya terbuat daru kayu laban, banio, dan rasak. Dalam pembangunannya, rumah ini dibangun dengan orientasi menghadap ke sungai. Kini rumah gadang kajang padati sudah sangat jarang dibangun. Namun, masih banyak di sekitar Kuranji dan Pauh.[18] Sebagai upaya pelestariannya, rumah gadang kajang padati pun sudah mulai diadaptasi dalam bangunan-bangunan milik pemerintah Kota Padang, salah satunya pada Balaikota Padang.

Tungkuih Nasi

Rumah Gadang Tungkuih Nasi merupakan rumah gadang yang bisa ditemukan di kawasan rantau pesisir barat Sumatera,[15] seperti di Pariaman, Padang, dan Pasisia Selatan. Serupa dengan rumah gadang kajang padati, rumah gadang ini tidak memakai gojong pada atapnya. Sesuai namanya, bentuk atapnya seakan-akan menyerupai bungkus atau pembungkus nasi.[17] Salah satu bangunan yang ternama yaitu Rumah Gadang Mande Rubiah di Lunang Silaut, Pesisir Selatan.

Bentuk atap rumah gadang di Negeri Sembilan yang sedikit melengkung dengan tidak meruncing seperti gonjong.

Rumah Bumbung Panjang

Lihat pula: Rumah Tradisional Negeri Sembilan

Rumah Bumbung Panjang Negeri Sembilan dianggap sebagai jenis Rumah Gadang yang ada di Negeri Sembilan, Malaysia. Rumah tradisional ini dibangun oleh keturunan Minangkabau yang berasimilasi dengan Orang Asli.[19] Rumah tradisional ini merupakan evolusi dari Rumah Gadang di Sumatera Barat, Indonesia, yang telah dipadukan dengan unsur arsitektur Melayu setempat.[20][21] Ciri khas rumah ini dapat terlihat pada bentuk atap yang memanjang serta melentik di kedua ujungnya, tetapi tidak melengkung tajam seperti gonjong pada Rumah Gadang.[19][22]

Galeri

Gonjong dengan atap ijuk
  • Rumah gadang di dekat Benteng Fort de Kock.
    Rumah gadang di dekat Benteng Fort de Kock.
  • Anjungan di TMII
    Anjungan di TMII
  • Rumah Gadang Kampai
    Rumah Gadang Kampai
  • Istana Pagaruyung
    Istana Pagaruyung
  • Rangkiang
    Rangkiang
  • Balairung
    Balairung
  • Jembatan beratap
    Jembatan beratap
Adaptasi gonjong pada bangunan modern
  • Rumah Makan Padang
    Rumah Makan Padang
  • Jam Gadang
    Jam Gadang
  • Balai kota di Bukittinggi
    Balai kota di Bukittinggi
  • Hotel di Jakarta
    Hotel di Jakarta
  • Gerbang Universitas Andalas
    Gerbang Universitas Andalas
  • Kantor Gubernur Sumbar
    Kantor Gubernur Sumbar
  • Museum Adityawarman
    Museum Adityawarman
  • Pengadilan di Maninjau
    Pengadilan di Maninjau
  • Rektorat UNP
    Rektorat UNP
  • Istana Silinduang Bulan
    Istana Silinduang Bulan
  • Rumah gadang di Lintau
    Rumah gadang di Lintau
Bangunan dengan atap gonjong di luar negeri
  • Istana Ampang Tinggi di Negeri Sembilan
    Istana Ampang Tinggi di Negeri Sembilan
  • Istana Nurul Iman di Bandar Seri Begawan
    Istana Nurul Iman di Bandar Seri Begawan
  • Restoran di Rotterdam
    Restoran di Rotterdam
  • Paviliun Malaysia di Expo 2010, Shanghai
    Paviliun Malaysia di Expo 2010, Shanghai
  • Gerbang lapangan di Jelebu
    Gerbang lapangan di Jelebu
Adaptasi dan transformasi bentuk atap gonjong
  • Masjid Negeri Sembilan
    Masjid Negeri Sembilan
  • The House of the Five Senses
    The House of the Five Senses
  • Rektorat Universitas Andalas
    Rektorat Universitas Andalas

Referensi

  1. 1 2 3 Navis, A.A., Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 3, Grasindo, ISBN 979-759-551-X.
  2. ↑ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (n.d.). Rumah Gadang: Arsitektur Tradisional Minangkabau (PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 29. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Habibi, Gantino (2018). Rumah Gadang Yang Tahan Gempa (PDF). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. hlm. 15. ISBN 978-602-437-268-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Graves, Elizabeth E., (2007), Asal-usul elite Minangkabau modern: respons terhadap kolonial Belanda abad XIX/XX, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-461-661-1.
  5. 1 2 Dawson, Barry; Gillow, John (1994), The Traditional Architecture of Indonesia, London: Thames and Hudson, ISBN 0-500-34132-X.
  6. ↑ Siat, Hasni; Rusmita, Rusmita; Mutia, Riza (1998). Ukiran Tradisional Minangkabau (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 11. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ "Wow, Bangunan Asli Indonesia Ini Dijiblak Negara Lain" Liputan6.com, 25 Maret 2015. Diakses 16 Agustus 2015.
  8. ↑ "Rumah Gadang Digunakan Malaysia di Forum Dunia" Diarsipkan 2017-04-22 di Wayback Machine. JPNN.com, 07 Mei 2010. Diakses 09 Agustus 2015.
  9. ↑ "Mini Malaysia to be presented at Shanghai Expo" China Daily, 09 April 2010. Diakses 09 Agustus 2015.
  10. 1 2 3 Bahauddin, A., Hardono, S., Abdullah, A., & Maliki, N. Z. (2013). The Minangkabau House–A Vision Of Sustainable Culture And Architecture. International Journal of Design & Nature and Ecodynamics, 8(4), 311-324
  11. 1 2 3 Moussay, Gérard. (1995). Dictionnaire minangkabau : indonésien - français. Harmattan. ISBN 2738431267. OCLC 901816337.
  12. 1 2 Abdullah, M., Antariksa, A., & Suryasari, N. (2015). Pola Ruang Dalam Bangunan Rumah Gadang Di Kawasan Alam Surambi Sungai Pagu–Sumatera Barat. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur, 3(1).
  13. ↑ Hasan, H., & Hasan, H. (2004). Ragam rumah adat Minangkabau: falsafah, pembangunan, dan kegunaan. Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.
  14. ↑ Yunus, Shahrul Kamil; Shahminan, Raja Nafida Raja; Surat, Mastor (2014). "IDENTITI RUMAH TRADISIONAL NEGERI SEMBILAN MELALUI EVOLUSI REKA BENTUK". Journal of Design + Built. 7. ISSN 1985-6881.
  15. 1 2 Susilo, W. H. (2014). Budaya masyarakat dalam membangun rumah vernakular di Pesisir Pantai. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 27(1), 55-64.
  16. ↑ "Melihat Lebih Dekat Rumah Gadang Kajang Padati, Warisan Indonesia yang Hampir Punah". Liputan6. 27 Agustus 2023. Diakses tanggal 27 Mei 2025.
  17. 1 2 Setijanti, P., Silas, J., & Firmaningtyas, S. (2012). Eksistensi Rumah Tradisional Padang dalam Menghadapi Perubahan Iklim dan Tantangan Jaman. Simposium Nasional RAPI XI FT UMS. ISSN : 1412-9612
  18. ↑ Aryanti, D. (2009). Tipologi Rumah Tradisional Padang (Studi Kasus: Kecamatan Kuranji/Nagari Pauh IX)[pranala nonaktif permanen]. Jurnal Universitas Bung Hatta, Padang.
  19. 1 2 Ismail, N. H., Yunus, S. K., & Surat, M. (2016). Reka Bentuk Rumah Tradisional Negeri Sembilan Dipengaruhi oleh Adat dan Kedaerahan. Wacana Seni Journal of Arts Discourse, 15.
  20. ↑ Masri, M. (2012). The misconceptions of Negeri Sembilan traditional architecture. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 68, 363-382.
  21. ↑ Ismail, N. H., Surat, M., Shahminan, R. N. R., & Yunus, S. K. (2014). IDENTITI RUMAH TRADISIONAL NEGERI SEMBILAN MELALUI EVOLUSI REKA BENTUK. Journal of Design+ Built, 7.
  22. ↑ Bahauddin, A., Hardono, S., Abdullah, A., & Maliki, N. Z. (2012). The Minangkabau house: architectural and cultural elements. WIT Transactions on Ecology and the Environment, 165, 15-25.

Lihat pula

  • Rumah Gadang Kajang Padati
  • Rumah Tradisional Negeri Sembilan
  • Rumah Lontiok

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Minangkabau houses.
  • l
  • b
  • s
Arsitektur Indonesia
Rumah adat
    Jawa
    • Alun-alun
    • Rumah Jawa
    • Joglo
    • Keraton
    • Panggangpe
    • Pendopo
    • Rumah kalang
    • Saka guru
    • Tumpang sari
    Bali
    • Arsitektur Bali Aga
    • Bale kulkul
    • Pura Bali
    • Rumah tradisional Bali
    • Bhoma
    • Candi bentar
    • Menara Meru
    • Paduraksa
    • Padmasana
    • Wantilan
    Minangkabau
    • Rumah gadang
    • Rangkiang
    • Balairung
    • Surau
    • Tabuah
    • Gobah
    • Lapau
    Batak
    • Siwaluh Jabu Karo
    • Ruma Bolon Toba
    • Bagas Godang Mandailing
    • Rumah Bolon Simalungun
    • Geriten
    • Gorga
    • Jambur
    • Singa
    • Sopo
    Dayak
    • Liang
    • Rumah panjang
    • Sandung
    Sunda
    • Rumah tradisional Sunda
    • Rumah adat Badui
      • Sulah nyanda
    • Leuit
    • Julang ngapak
    • Suhunan
      • Capit gunting
      • Jolopong
    • Kabuyutan
    Sumatera Selatan
    • Baghi
    • Limas
    • Rakit
    • Ulu
    Nusa Tenggara Timur
    • Sumba
    • Rote
    • Flores
    Daerah lain
    • Aceh
    • Banjar
    • Enggano
    • Gayo
    • Melayu
    • Mentawai
    • Nias
    • Papua
    • Sasak
    • Toraja
    • Bangka-Belitung
    Hindu-Buddha
    • Monumen kuno Jawa
    • Candi
    • Candi bentar
    • Paduraksa
    Islam
    • Bedug
    • Masjid di Indonesia
    • Tajug
    Kolonial Belanda
    Awal
    • Gaya Hindia
    • Gaya Kekaisaran Hindia
    Modern
    • Albert Aalbers
    • Cosman Citroen
    • Frans Ghijsels
    • Han Groenewegen
    • Henri Maclaine Pont
    • Gaya Hindia Baru
    • Nieuwe Zakelijkheid
    • Periode Overgangse (gaya arsitektur)
    • Pieter Moojen
    • Thomas Karsten
    • Wolff Schoemaker
    Lainnya
    • Bangunan gereja di Indonesia
    • Arsitektur Tionghoa-Indonesia (Kelenteng · Ruko · Pecinan · Makam · Feng Shui)
    Pasca-kolonial
    & kontemporer
    1950-an–1970-an
    • Ab Gmelig Meyling
    • Frederich Silaban
    • Gaya Jengki
    • Liem Bwan Tjie
    • Arsitektur pasca kemerdekaan di Indonesia
    • Arsitektur resor dan vila di Indonesia
    • Soejoedi Wirjoatmodjo
    1970-an–sekarang
    • Arsitektur kontemporer Indonesia
    Kategori

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Fungsi
    2. Arsitektur
    3. Ukiran
    4. Proses pembuatan
    5. Adopsi
    6. Simbol
    7. Ragam
    8. Rumah Gadang di darek
    9. Rumah Gadang di Rantau
    10. Galeri
    11. Referensi
    12. Lihat pula
    13. Pranala luar

    Artikel Terkait

    Daftar rumah tradisional di Indonesia

    artikel daftar Wikimedia

    Rumah adat di Indonesia

    artikel daftar Wikimedia

    Rumah tradisional Sunda

    rumah tradisional di Indonesia

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026