Uang kertas dua ribu rupiah (Rp2.000) adalah pecahan uang rupiah Indonesia. Pertama kali diperkenalkan pada 9 Juli 2009, uang ini menjadi alat pembayaran yang sah pada hari berikutnya dan telah dimodifikasi dua kali, pertama pada tahun 2016 dan kemudian pada tahun 2022. Semua uang kertas pecahan ini dicetak dengan kertas katun sejak diperkenalkan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| (Indonesia) | |
|---|---|
| Nilai | Rp2,000 |
| Panjang | 126 mm |
| Lebar | 65 mm |
| Berat | 90 g |
| Fitur keamanan | Benang pengaman, tinta ultraviolet, cetak intaglio, pelapis plastik, tanda air |
| Jenis kertas | Kertas katun |
| Tahun cetak | 2009-sekarang (dimodifikasi 2016, 2022) |
| Bagian depan | |
| Rancangan | Mohammad Husni Thamrin |
| Perancang | Bank Indonesia |
| Tanggal perancangan | 2022 |
| Bagian belakang | |
| Rancangan | Ngarai Sianok, tari piring, dan bunga cempaka |
| Perancang | Bank Indonesia |
| Tanggal perancangan | 2022 |
Uang kertas dua ribu rupiah (Rp2.000) adalah pecahan uang rupiah Indonesia. Pertama kali diperkenalkan pada 9 Juli 2009,[1] uang ini menjadi alat pembayaran yang sah pada hari berikutnya dan telah dimodifikasi dua kali, pertama pada tahun 2016 dan kemudian pada tahun 2022. Semua uang kertas pecahan ini dicetak dengan kertas katun sejak diperkenalkan.[2]
Uang kertas Rp2.000 pertama berwarna abu-abu dan menampilkan potret Pangeran Antasari di sisi depannya serta penggambaran tarian tradisional Dayak di sisi belakangnya. Fitur keamanannya meliputi tanda air Pangeran Antasari sendiri, benang pengaman dengan pengulangan kata "BI2000" yang bersinar merah di bawah cahaya hitam, mikroteks, gambar logo Bank Indonesia yang tembus pandang, cetakan relief, dan kode tunanetra berbentuk persegi panjang dengan ukiran intaglio di sisi kiri bawah sisi depannya.[3]
Edisi kedua uang kertas Rp2.000 diterbitkan pada 19 Desember 2016. Uang kertas berwarna hijau keabu-abuan ini, berukuran 141 mm × 65 mm (5,6 in × 2,6 in) dan berat 80 g (2,8 oz), menampilkan gambar pahlawan nasional Mohammad Husni Thamrin di sisi depannya dan gambar Ngarai Sianok, tarian tradisional tari piring, dan bunga cempaka[4] di sisi belakangnya. Fitur keamanannya meliputi mikroteks, cetak intaglio, gambar tembus pandang, benang pengaman, tanda air Pangeran Antasari, gambar laten, dan tinta ultraviolet.[5]
Uang kertas seri ini terkadang tertukar dengan uang kertas pecahan 20.000 rupiah yang lebih besar dari seri yang sama tahun 2016, yang warna, denominasi, desain, dan ukurannya serupa.[6] Bank Indonesia memperkirakan bahwa uang kertas ini, bersama dengan uang kertas lain dari seri 2016, akan berhenti menjadi alat pembayaran yang sah sekitar tahun 2025 atau 2026.[7][8]
Edisi ketiga uang kertas Rp2.000 diterbitkan pada tanggal 17 Agustus 2022, bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77.[9] Meskipun desain sisi depan dan belakangnya tetap sama, ukuran uang kertas tersebut diperkecil menjadi 126 mm × 65 mm (5,0 in × 2,6 in)[10] sementara skema warnanya dibuat berwarna-warni (berbeda dengan monokrom seri sebelumnya) dan beratnya meningkat menjadi 90 g (3,2 oz).[11] Fitur pengamannya meliputi benang pengaman,[12] seni tinta ultraviolet,[13] cetak intaglio, kode tunanetra,[14] lapisan plastik yang juga meningkatkan daya tahannya,[15] gambar logo Bank Indonesia yang tembus pandang, dan tanda air Mohammad Husni Thamrin.[16]
Dilaporkan bahwa uang kertas ini terkadang tertukar dengan uang kertas pecahan 50.000 rupiah yang lebih besar pada seri yang sama tahun 2022.[17]
| Tanda tangan | ||
|---|---|---|
| Tahun | Gubernur Bank Indonesia | Deputi Gubernur Bank Indonesia |
| 2009 | Deputi Gubernur Senior Miranda S. Goeltom | Budi Rochadi |
| 2010-2011 | Darmin Nasution | Budi Rochadi |
| 2012-2013 | Darmin Nasution | Ronald Waas |
| 2014-2016 | Agus Dermawan Wintarto Martowardojo | Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara |
| 2016-2018 | Agus Dermawan Wintarto Martowardojo | Sri Mulyani Indrawati |
| 2018-2021 | Perry Warjiyo | Sri Mulyani Indrawati |