Ratu Indonesia adalah kontes kecantikan yang pernah diadakan di Indonesia pada 1971–1977 dengan misi mempromosikaan pariwisata Indonesia ke kancah dunia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jenis | Kontes kecantikan |
|---|---|
| Organisasi induk |
|
| Markas besar | |
| Edisi pertama | 1971 |
| Edisi terakhir | 1977 |
Tokoh Penting |
|
Ratu Indonesia adalah kontes kecantikan yang pernah diadakan di Indonesia pada 1971–1977 dengan misi mempromosikaan pariwisata Indonesia ke kancah dunia.[1][2][3][4]
Kontes ini berubah nama menjadi Puteri Indonesia pada 1976 dan diselenggarakan untuk terakhir kalinya pada 1977.[5][6]
Pada 1992, Surjosumarno, salah satu tokoh penyelenggara kontes ini, turut mendirikan Yayasan Puteri Indonesia bersama pengusaha Mooryati Soedibyo, melahirkan kontes Puteri Indonesia yang masih berlangsung hingga hari ini.[7]
Dalam memoarnya, gubernur Ali Sadikin menyebut bahwa dirinyalah yang mencetuskan ide penyelenggaraan kontes semacam ini untuk mendorong pemajuan pariwisata Jakarta.
Muncul pikiran pada saya, mengapa di Indonesia tidak diadakan juga semacam perlombaan "Puteri Indonesia", seperti halnya yang terdapat di Thailand, di Malaysia, di Filipina. Apakah puteri-puteri Indonesia kurang cantik, kurang intelligent?code: id is deprecated
— Ali Sadikin, Bang Ali: Demi Jakarta (1966-1977)
Untuk mewujudkannya, Ali menugaskan Wim Tomasoa, pejabat Bapparda/Dinas Pariwisata DKI, agar merancang konsep dan format kontes. Ia dibantu antaranya oleh Adjie Damais dan Wardiman Djojonegoro, keduanya saat itu bawahan Ali di Balai Kota.[1][8]
Upaya inilah yang lantas melahirkan kontes-kontes seperti Ratu Djakarta dan Ratu Pariwisata, yang pada gilirannya melahirkan Ratu Indonesia.[9] Edisi pertamanya digelar pada Oktober 1971 dan dimenangkan oleh Herni Sunarja dari Jawa Barat.
Pada malam pemilihan Ratu Indonesia 1973, sekelompok orang dari Komite Anti Kemewahan melakukan demonstrasi di depan pintu Bali Room, Hotel Indonesia. Mereka menggelar poster-poster protes yang antaranya berbunyi: Ingat Penderitaan Rakyat, Stop Kemewahan, hingga Ratu Berpesta , Cukong Gembira.[10]
Meski kontes tetap dilanjutkan, tak pelak aksi ini jadi perbincangan. Surjosumarno, sang ketua penyelenggara, menjelaskan kepada media bahwa acara tahunan tersebut tidak menggunakan uang rakyat. Menurutnya, dana didapat dari sponsor dan pinjaman bank.[11]
Selain itu, sebagian pihak juga mempertanyakan kesesuaian kontes ini yang turut menyertakan parade baju renang dan pengumuman ukuran badan para kontestan.[12][13]
Sejak 1976, nama Ratu Indonesia diubah menjadi Puteri Indonesia. Untuk mengelolanya didirikan Yayasan Pembina Puteri Indonesia. Langkah ini disebut untuk memperjelas pengarahan dan garis tugas yang sebelumnya dikerjakan secara ad hoc.[5][14]
Puteri Indonesia 1977 jadi gelaran terakhir kontes ini. Setelah bertahun-tahun bertahan dengan berbagai kesulitan seperti masalah pendanaan dan terbatasnya minat peserta,[15][16] kontes ini akhirnya gulung tikar di tengah kondisi politik yang semakin tidak mendukung.[17]
Gubernur Ali Sadikin yang banyak memfasilitasi kontes ini tidak lagi menjabat sejak pertengahan 1977. Sementara itu, suara penolakan terhadap kontes kecantikan diamplifikasi oleh Daoed Joesoef yang sejak Maret 1978 dilantik jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Meski tidak tegas melarang, namun Daoed getol menyuarakan penolakannya dalam berbagai kesempatan, menyebut kontes semacam ini malah merendahkan kaum perempuan.[18][19][20]
Ditambah, Wim Tomasoa yang sejak awal merancang dan mengurusi kontes ini memang sudah lama sakit-sakitan dan meninggal dunia pada 7 April 1979.[21]
| Edisi | Tanggal | Lokasi | Ratu Indonesia | Runner-up | Jumlah Peserta | Referensi | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | ||||||
| Pertama | 11 Oktober 1971 | Gedung Hailai, Taman Impian Jaya Ancol | Herni Sunarja |
Endang Triwahjuni |
Melinda Susilarini Mohammad |
28 | [22][23] |
| Ke-2 | 2 Oktober 1972 | Bali Room, Hotel Indonesia | Irene Rebecca Soetanto |
Setyawati Samsidin |
Early Burhan Ali |
15 | [24] |
| Ke-3 | 7 Desember 1973 | Lydia Arlini Wahab |
Liza Sundoro |
Wiwid Nurwidyohening |
— | [25] | |
| Pada 1974 pemilihan ditiadakan. Lydia Arlini Wahab, Ratu Indonesia 1973, lantas dimahkotai kembali sebagai Ratu Indonesia 1974. Pengangkatan Lydia dilakukan bersamaan dengan malam penyerahan hadiah Ratu Jakarta 1974 di Merak Bar, Hotel Borobudur Jakarta. | [26] | ||||||
| Ke-4 | 20 Februari 1975 | Bali Room, Hotel Indonesia | Fransisca Warastuti |
Maureen Tenges |
Sosiawati Rahayu |
— | [27] |
| Ke-5 | 20 Februari 1976 | Balai Sidang Senayan | Yayu Yuliarti Rahayu |
Treesje Nugraheni Ratri Astuti |
Lily Chaerani Nainggolan |
21 | [5] |
| Ke-6 | Maret 1977 | Siti Mirza Nuriah Arifin |
Indri Hapsari Soeharto |
June Malaihollo |
14 | [14] | |
| Kompetisi | Tahun | Wakil Indonesia | Hasil | Keterangan | |
|---|---|---|---|---|---|
| Kontestan | Gelar Nasional | ||||
| Miss Universe | 1977 | Siti Mirza Nuria Arifin[28] | Puteri Indonesia Nusantara 1977 | - | Pengiriman kontestan dilakukan melalui kerja dengan Andi's Model Agency milik pengusaha Andi Nurhayati yang saat itu memegang lisensi Miss Universe di Indonesia |
| 1976 | Yayu Yuliarti Rahayuningsih[29] | Puteri Indonesia Nusantara 1976 | - | ||
| 1975 | Lydia Arlini Wahab[30] | Ratu Indonesia 1973–1974 | - | Pengiriman kontestan dilakukan oleh Indonesia International, badan ad hoc gabungan pihak swasta dan Badan Pembina Ratu Indonesia.[31] | |
| 1974 | Nia Kurniasih Ardikoesoema[32][33] | Ratu Indonesia Kepribadian 1973 | - | Pengiriman kontestan dilakukan secara mandiri oleh Badan Pembina Ratu Indonesia | |
| Miss International | 1977 | Indri Hapsari Soeharto[34] | Puteri Indonesia Duta 1977 | Runner-up 2 | |
| 1976 | Treesye Ratri Astuti | Puteri Indonesia Duta 1976 | - | ||
| 1975 | Sosiawati Rahayu[30] | Puteri Indonesia Wisata 1975 | - | ||
| 1974 | Lydia Arlini Wahab | Ratu Indonesia 1973–1974 | - | ||
| Miss Asia Quest | 1977 | Linda Emran[35][36] | Puteri Indonesia Kepribadian 1977 | Pemenang | |
| 1976 | Renny Rosmini Harman[37] | Puteri Indonesia Kepribadian 1976 | - | ||
| 1975 | Maureen Tenges[30] | Ratu Nusa Indonesia 1975 | Miss Photogenic | ||
| 1974 | Liza Sundoro[38][39][40] | Runner-up 2 Ratu Indonesia 1973 | Runner-up 3 | ||
| 1973 | Lely Herawati Soendoro[41][42] | – | Runner-up 2 | Lely, juara 3 Ratu Djakarta 1972, ditunjuk bertanding menggantikan Early Burhan Ali, runner-up 2 Ratu Indonesia 1972, yang mundur karena memilih menikah.[43][44] | |
| 1972 | Ike Rachmawati Sulaeman[45] | Ratu Indonesia Kesayangan 1972 | - | ||
| Queen of The Pacific | 1977 | June Malaihollo[46] | Puteri Indonesia Wisata 1977 | - | |
| 1976 | Lily Chaerani Nainggolan | Puteri Indonesia Wisata 1977 | Miss Goodwill | ||
| 1975 | Fransisca Warastoeti[47][48][49] | Ratu Indonesia 1975 | Pemenang | ||
| 1974 | Lydia Arlini Wahab[50] | Ratu Indonesia 1973–1974 | Miss Crowning Glory | ||
| 1973 | Irene Rebecca Soetanto[51][52] | Ratu Indonesia 1972 | Pemenang | ||
| 1972 | Herni Sunarja | Ratu Indonesia 1972 | Runner-up 2 | Prestasi Herni sempat dipersoalkan sejumlah warga negara Indonesia di Australia lewat surat pembaca di beberapa koran. Kepada Dinas Pariwisata DKI, pihak menyelenggara mengkonfirmasi capaian Herni dan menjelaskan bahwa hanya juara pertama yang mendapat mahkota.[53][54] | |
Mulai tahun 1971 dan tahun-tahun berikutnya, sebutan Ratu Pariwisata Indonesia dirobah menjadi Ratu Indonesia.
Daoed Joesoef mengajak berpikir para ibu, apakah kira-kira masih perlu dipertahankan adanya pemilihan segala bentuk "Ratu" untuk negeri ini. Sebab menurut Menteri P dan K, hal tersebut tidak ada gunanya. Hal itu hanya akan merusak moral, serta menimbulkan anggapan yang keliru bagi masyarakat. Pemilihan Ratu itu sendiri dapat menimbulkan anggapan yang keliru pada diri anak itu sendiri. Wanita itu tentu menilai bahwa masyarakat sangat menghargai dirinya karena kecantikannya. Padahal kecantikan seorang wanita atau pria bukan dibuat oleh segala macam alat kecantikan. Tetapi hal itu adalah ciptaan Tuhan.
...Pada pemilihan Puteri Indonesia terakhir, para pemenangnya disiapkan untuk mengikuti pemilihan mis-mis tingkat internasional. Misalnya Puteri Indonesia Nusantara Siti Mirza Nuriah Arifin dipersiapkan untuk pemilihan Miss Universe.
...Yuliarti Rahayuningsih , 28 tahun. Sarjana farmasi ITB ini baru dilantik jadi apoteker bulan April lalu. Ia pernah mengikuti lomba Miss Universe 1976 di Hongkong, dan pulang dengan tangan hampa...
...Lidya Arlini Wahab (Ratu Indonesia 1973-1974) akan dikirim dalam pemilihan Miss Universe di El Salvador, Amerika Selatan dan Maureen Tenges (Ratu Indonesia Nusa 1975) akan dikirim pada pemilihan Miss Asia 1975, April ini. September nanti, Sosiawati Rahayu, Ratu Indonesia Wisata, turut dalam pemilihan International Pageant di Tokyo.
...terbentuk sebuah badan bernama Indonesia International. Diprakarsai Dr. AA Bengu dari Merpati Nusantara Airlines (dan tentu saja direktur MNA Marsekal Santoso mendukung penuh), Surya Winata pemilik Kebayoran Inn, spesialis ratu-ratu Wim Tomasoa sebagai konsultan, Nelson Tobing (bekas suami Rima Melati nomor 2) sebagai koordinator pelaksana, dan Charles See dari Hollywood yang khusus membantu banyak dalam soal kontes internasional ini.
Dan bagaimana dengan nonah Indonesia, insinyur Nia Kurniasih itu? Pendeknya dia telah dapat pengalaman bagaimana berebut mau jadi Nonah Alam Semesta?
...banyak Ratu yang mengingkari janjinya diatas kertas tanpa kena tuntutan .Misalnya Early Burhan Ali dan Setiawati Samsidin (runner-up Ratu Indonesia 1972), dimana keduanya buru-buru menikah sedang kontraknya dengan Diparda DKI maupun BPRI/Ditjen Pariwisata belum berakhir
...Pada pemilihan Puteri Indonesia terakhir, para pemenangnya disiapkan untuk mengikuti pemilihan mis-mis tingkat internasional... Puteri Pariwisata June Malaihollo telah turut Miss Moomba di Melbourne dan tidak menang.
Lydia mengalihkan pembicaraan tentang dia pernah dipilih sebagai Miss Crowning Glory dalam Moomba Festival tahun ini di Australi. "Katanya sih karena rambut saya ini, saya dipilih", kata Lydia, "barangkali dianggap bagus".;