Rarak adalah sebuah kesenian musik tradisional dari masyarakat Kuantan Singingi, Provinsi Riau, yang dimainkan dengan ensamble alat musik seperti oguang (gong), gondang (gendang), barabano (rebana), dan celempong. Selain sebagai hiburan, Rarak juga memiliki fungsi ritual dan sosial, serta dapat dimaknai sebagai sarana untuk merenungkan diri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Rarak adalah sebuah kesenian musik tradisional dari masyarakat Kuantan Singingi, Provinsi Riau, yang dimainkan dengan ensamble alat musik seperti oguang (gong), gondang (gendang), barabano (rebana), dan celempong. Selain sebagai hiburan, Rarak juga memiliki fungsi ritual dan sosial, serta dapat dimaknai sebagai sarana untuk merenungkan diri (dalam bahasa setempat "menghitung-hitung diri").[1][2]
Semua alat musik rarak dibunyikan dengan dipukul. Gong biasanya dipukul dengan memakai pelepah kelapa, calempong dipukul dengan kayu mati, dan gendang dipukul dengan jari tangan. Semua seniman rarak disebut tukang rarak. Kata "rarak" pada dasarnya mengandung 3 pengertian yang berbeda. Pertama, ditujukan pada alat musik tradisional yaitu oguang (gong), gondang (gendang), barabano (rebana) dan calempong. Kedua, kata “rarak” menunjukkan jenis perangkat atau kesatuan alat bunyi-bunyian tersebut, misalnya rarak oguang (rarak gong), rarak gondang godang atau rarak jalur, rarak calempong onam dan sebagainya. Ketiga, kata “rarak” merujuk pada lagu yang dibawakan oleh alat musik tersebut.[3][4]
Rarak berarti menghitung-hitung diri, semua alat rarak mempunyai tamsil dan maknanya sendiri. Makna dan kiasan itu menyangkut manusia dan dunianya, dalam pergaulan nasib dan peruntungannya. Oguang (gong) dipandang sebagai kiasan kepada orang yang besar bicara, pongah dan memandang diri serba lebih. Orang serupa ini hendaklah ditekan dengan adat, agar berkurang bualnya yang besar itu agar merasakan dirinya setaraf dengan orang lain. Tekanan atau peringatan adat itu dilambangkan dengan gong yang dipegang erat-erat ketika membunyikannya.[3]
Gondang atau gendang yang dua buah adalah lambang dari orang yang engkar tongkar (pembangkang). Keduanya sama-sama kosong, tidak ada isinya, tak ada apa-apa di dalamnya. Orang yang engkar dan tongkar harus diawasi dan dibatasi dengan adat. Hanya dengan ikatan adat (berbagai peraturan) orang yang engkar dan pembangkang dapat diarahkan kepada kebaikan. Hal ini dilambangkan dengan gendang tersebut yang diikat dengan rotan erat-erat. Jika gedang itu tidak diikat erat-erat, gendang itu tak ada gunanya. Demikian pula orang yang engkar dan tongkar, jika tidak dikendalikan dengan adat (peraturan), mereka akan menjadi sampah masyarakat atau orang yang tak berguna.[3]
Rarak tidak akan bisa berlangsung jika tidak ada calempong yang lima. Rarak tidak akan enak didengar jika tidak ada bunyi calempong yang menjalinnya. Sebab, calempong merupakan tajuk mahkota keindahan rarak yang mampu menembus suasana batin manusia dengan bunyinya yang indah. Oleh karena itu, calempong melambangkan kehidupan tidak akan indah dan sempurna jika tidak dilengkapi dengan nilai-nilai agama. Dunia baru mempunyai makna bila diarahkan pada pengabdian kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.[3]
Hampir semua alat musik tradisional rarak didatangkan dari Malaysia. Pasalnya, banyak orang Kuantan yang merantau ke negeri tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya memutuskan menetap di sana. Saat itu, rarak menjadi kenang-kenangan bagi setiap perantau yang pulang dari Malaysia. Pembelian alat-alat musik tradisional tersebut berakhir setelah kedatangan bangsa Jepang. Dengan kondisi tersebut, para seniman di Kuantan pun memutuskan untuk membuat sendiri alat-alat tersebut karena bahan-bahannya mudah didapat. Jenis rarak di Kuantan yang paling sederhana adalah rarak celempong manyiang.[1]
Alat musik tradisional rarak ini hanya terbuat dari kayu kering atau manyiang. Jenis rarak ini sering dibuat dan dibunyikan oleh para petani sambil menunggu ladang dan kebunnya. Selanjutnya ada juga rarak berupa gong dan celempong yang terbuat dari besi dan tembaga yang dilengkapi dengan gendang dan rebana. Hal tersebut membuat rarak dari kayu semakin sulit dijumpai. Sementara itu, terdapat lima jenis rarak di Kuantan Seingingi yang paling terkenal. Kelimanya dibedakan oleh alat musik, lagu, dan peranannya.[1]
Kelima jenis rarak tersebut di antaranya rarak oguang godang (rarak gong besar), rarak oguang kenek (rarak gong kecil), rarak gondang godang, rarak jaluar, atau rarak silek (rarak gendang besar), rarak celempong onam, dan rarak celempong tingka. Rarak bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga memberi peluang kepada pendengarnya untuk dapat mengkaji dan memikirkan dirinya. Sesuai artinya, rarak berarti 'menghitung-hitung diri'. Dengan mendengarkan rarak, diharapkan orang akan merenungkan dirinya dalam realita hidup.[1]