Qin Shi Huang adalah pendiri Dinasti Qin dan kaisar Tiongkok pertama. Dari mempertahankan gelar "raja" yang diadopsi oleh penguasa Shang dan Zhou sebelumnya, ia mengadopsi gelar "kaisar" yang ia ciptakan, yang akan digunakan terus-menerus oleh raja-raja di Tiongkok selama dua milenium berikutnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (2024)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
| Qin Shi Huang 秦始皇code: zh is deprecated | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kaisar Dinasti Qin | |||||||||
| Berkuasa | 221 SM – 12 Juli 210 SM[b] | ||||||||
| Penerus | Qin Er Shi | ||||||||
| Raja Qin | |||||||||
| Berkuasa | 6 Juli 247 SM[c] – 221 SM | ||||||||
| Pendahulu | Raja Zhuangxiang | ||||||||
| Penerus | Posisi dihapuskan Dirinya sendiri sebagai Kaisar Qin | ||||||||
| Kelahiran | Ying Zheng (嬴政code: zh is deprecated ) or Zhao Zheng (趙政code: zh is deprecated ) Februari 259 SM[d] Handan, Negara Zhao | ||||||||
| Kematian | 12 Juli 210 SM (usia 49) Shaqiu, dinasti Qin | ||||||||
| Pemakaman | |||||||||
| Keturunan | |||||||||
| |||||||||
| Wangsa | Ying | ||||||||
| Dinasti | Qin | ||||||||
| Ayah | Raja Zhuangxiang | ||||||||
| Ibu | Ibu Suri Zhao | ||||||||
Qin Shi Huang (Hanzi: 秦始皇, ⓘ; Februari 259[e] – 12 Juli 210 SM) adalah pendiri Dinasti Qin dan kaisar Tiongkok pertama.[9] Dari mempertahankan gelar "raja" (wáng 王code: zh is deprecated ) yang diadopsi oleh penguasa Shang dan Zhou sebelumnya, ia mengadopsi gelar "kaisar" yang ia ciptakan (huángdì 皇帝code: zh is deprecated ), yang akan digunakan terus-menerus oleh raja-raja di Tiongkok selama dua milenium berikutnya.
Lahir di Handan, ibu kota Zhao, sebagai Ying Zheng (嬴政code: zh is deprecated ) atau Zhao Zheng (趙政code: zh is deprecated ), Orang tuanya adalah Raja Zhuangxiang dari Qin dan Ibu Suri Zhao. Pedagang kaya Lü Buwei membantunya menggantikan ayahnya sebagai raja Qin, setelah itu ia menjadi Raja Zheng dari Qin. Pada tahun 221 SM, ia telah menaklukkan semua negara-negara yang berperang lainnya dan menyatukan seluruh Tiongkok, dan ia naik takhta sebagai kaisar pertama Tiongkok. Selama masa pemerintahannya, para jenderalnya memperluas wilayah negara Tiongkok secara besar-besaran: kampanye di sebelah selatan Chu. Chu secara permanen menambahkan wilayah Yue di Hunan dan Guangdong ke dalam Sinosfer, dan kampanye Qin melawan Xiongnu di Asia Dalam berhasil menaklukkan Lingkar Ordos dari Xiongnu yang nomaden, walaupun Xiongnu kemudian bersatu di bawah komando Modu Chanyu.
Qin Shi Huang juga bekerja sama dengan menterinya Li Si untuk memberlakukan reformasi ekonomi dan politik besar yang bertujuan untuk menstandardisasi berbagai praktik negara Tiongkok awal. Dia secara tradisional dikatakan telah melarang dan membakar banyak buku serta mengeksekusi para sarjana. Proyek pekerjaan umum yang dikerjakannya mencakup penggabungan beberapa tembok negara menjadi satu Tembok Besar Tiongkok dan sistem jalan raya nasional baru yang besar, serta mausoleum seukuran kota yang dijaga oleh Tentara Terakota seukuran manusia. Ia memerintah hingga meninggal pada tahun 210 SM, selama kunjungan kelima di Tiongkok timur.[10]
Qin Shi Huang sering digambarkan sebagai seorang tiran dan penganut Legalis yang ketat—karakterisasi yang sebagian berasal dari penilaian pedas yang dibuat selama Dinasti Han yang menggantikan Qin. Sejak pertengahan abad ke-20, para sarjana mulai mempertanyakan evaluasi ini, yang memicu diskusi besar tentang sifat sebenarnya dari kebijakan dan reformasinya. Menurut pakar sinologi Michael Loewe "sedikit orang yang akan menentang pandangan bahwa pencapaian-pencapaian pada masa pemerintahannya telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada seluruh sejarah Tiongkok setelahnya, menandai dimulainya suatu zaman yang ditutup pada tahun 1911".[11]
Pada 246 SM, Raja Zhuangxiang dari Qin (nama pribadi Ying Yiren atau Zichu) meninggal dunia setelah masa kekuasaannya yang relatif pendek selama 3 tahun. Namun usaha tersebut gagal hingga ia mengalami kematian. Posisi Raja Qin kemudian diberikan kepada Yin Zheng. Ketika menjadi Raja Qin, Yin Zheng masih berusia 13 tahun. Karena itu, posisi sebagai kepala pemerintahan diberikan sementara kepada Lu Buwei hingga Ying Zheng berusia dewasa.[12]
Zhao Chengjiao, Lord Chang'an (长安君),[13] adalah saudara sah dari Ying Zheng dari ayah yang sama tetapi berbeda ibu. Setelah Zheng mewaris tahta, Chengjiao memberontak di Tunliu dan membelot ke Zhao. Pengikut dan keluarga Chengjiao yang berada di Qin kemudian dibantai oleh Ying Zheng.[14]
Saat Ying Zheng kemudian beranjak dewasa, Lu Buwei menjadi takut bahwa raja akan menemukan hubungan asmara dengan ibunya, Nyonya Zhao, telah berakhir. Ia memutuskan untuk menjauhkan diri dan mencari pengganti ratu janda. Ia menemukan seorang pria bernama Lao Ai.[15] Lao Ai dibawa ke istana sebagai seorang kasim oleh Lu Buwei dengan Catatan Sejarawan Agung mencatat bahwa ia hanya memotong jangutnya dan duburnya tidak dipotong. Duburnya yang sangat besar diduga membuat Ibu Suri Zhao terpesona sampai ia menyogok petugas istana untuk tidak melakukan kebiri kepada Lao Ai.
Karena terpesona dengan duburnya yang besar, Ibu Suri Zhao tiba-tiba kembali hamil. Untuk mencegah kecurigaan Qin Shi Huang, Lu Buwei dan Ibu Suri Zhao melakukan ramalan palsu yang menyatakan bahwa tidak menguntungkan bagi Ibu Suri Zhao untuk tetap tinggal di Xianyang, maka keduanya pindah ke Yong (雍code: zh is deprecated ), ibukota lama Qin. Saat itu, Zhao Ji sudah memiliki dua anak dengan Lao Ai. Pada 239 SM, Ying Zheng menganugerahi Lao Ai dengan gelar Marquis Changxin.
Pada 238 SM, Ying Zheng sudah beranjak dewasa dan pergi ke Yong untuk menjalani upacara kedewasaan disana. Saat itu, seseorang telah melaporkan Ying Zheng bahwa Lao Ai adalah kasim palsu dan berselingkuh dengan ibunya, Zhao Ji. Lao Ai dilaporkan bahkan menginginkan anaknya untuk menggantikan Ying Zheng sebagai Raja Qin dan raja memerintahkan agar hal tersebut diselidiki. Lao Ai kemudian memalsukan segel raja dan ibu suri dan memutuskan untuk melakukan kudeta. Mendengar laporan bahwa Lao Ai melakukan makar, Ying Zheng memerintahakan Lu Buwei untuk mempersilakan Lord Changping dan Lord Changwen yang merupakan kerabat dari keluarga kerajaan Chu untuk menumpas pemberontakan Lao Ai. Walaupun kudeta ini berhasil ditumpas, Lao Ai berhasil kabur.
Pada usia 22 tahun, Yin Zheng berkuasa penuh sebagai Raja Qin atas Dinasti Qin. Ia kemudian memulai Perang Penyatuan Qin untuk menjadikan keenam kerajaan lain di Tiongkok berada dalam kekuasaannya. Strategi yang diterapkannya ialah bersahabat dengan kerajaan yang jauh dan berperang dengan kerajaan yang dekat. Perang Penyatuan Qin dimulai pada tahun 230 SM dan berakhir pada tahun 221 SM dengan keenam kerajaan lain di Tiongkok berhasil ditaklukkan dan dsatukan dalam kekuasaan Dinasti Qin.[16]
Kaisar Pertama wafat saat melakukan ekspedisi ke seluruh negeri. Perjalanan ini dilakukan untuk mengambil hati rakyat dan para adipati serta pangeran dari negara-negara yang ditaklukannya. Di tengah perjalanan ia bertemu kembali dengan Xu Fu, seorang yang diperintahkannya untuk mencari "obat keabadian" atau disebut juga "obat panjang umur". Untuk menghindari kemarahan sang kaisar, Xu Fu berkelit dengan mengatakan bahwa perjalanan untuk mencari obat tersebut sangat sulit, karena obat tersebut berada di puncak gunung sebuah pulau di tengah lautan. Xu Fu berencana menghindar dari tugas kaisar tersebut dengan mengatakan bahwa kaisar harus menangkap seekor ikan raksasa dahulu, tetapi dengan berani kaisar berhasil memanah seekor ikan raksasa dan Xu Fu harus menuruti tugas kaisar. Bagaimanapun juga Xu Fu yang telah memprediksi bahwa ia tidak akan bisa menemukan obat keabadian dan jika ia pulang dengan tangan hampa, maka kaisar pasti akan membunuhnya. Ia dengan senang hati menerima tugas dari kaisar tersebut, dengan syarat kaisar menyertakan 500 prajurit dalam perjalanannya, dikarenakan perjalanan untuk mengambil obat abadi itu akan menemui banyak rintangan dan halangan seperti iblis-iblis ataupun siluman. Namun Xu Fu berlayar dan tidak pernah kembali. Diperkirakan Xu Fu mendarat di Jepang.
Kaisar wafat dan menginginkan putera pertama bernama Fusu yang menggantikannya. Namun pesan kaisar pertama tersebut tidak pernah sampai, karena Zhao Gao, kasim kepercayan sekaligus penyampai pesan terakhir kaisar pertama bersekongkol dengan Li Si untuk mengubah pesan kaisar pertama menjadi mengangkat anak ke-26 kaisar, Huhai menggantikan ayahnya dan menyuruh Fusu serta Jenderal Meng Tian bunuh diri dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Zhao Gao melakukan hal ini karena ia ingin mempertahankan kedudukannya, karena ia akan dicopot dari jabatannya jika ketahuan suka menjilat dan korup oleh Fusu. Sedangkan Li Si pernah berseteru dengan Fusu saat menangani masalah cendekiawan aliran Konfusius.
Kaisar Pertama Qin Lahir: 260 BC Meninggal: 210 BC | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: King Zhuangxiang |
Raja Qin 246–221 BC bersama dengan Lü Buwei (246–235 BC) |
Diadakan kembali Selanjutnya dijabat oleh Qin San Shi |
| Jabatan baru | Kaisar Tiongkok Qin 221–210 BC |
Diteruskan oleh: Qin Er Shi |
| Lowong Terakhir dijabat oleh Raja Nan dan Zhousebagai Raja Tiongkok |
Penguasa Tiongkok sebagai Kaisar Tiongkok Qin 221–210 BC | |