Pusat Sejarah Salvador de Bahia adalah kawasan bersejarah di kota Salvador, Brasil, yang berasal dari masa pendiriannya pada 1549 sebagai ibu kota pertama Brasil. Kawasan ini menghadapi kemunduran ekonomi dan infrastruktur, sehingga pada 2008–2010 pemerintah Brasil menyusun rencana perbaikan yang melibatkan melibatkan beberapa pihak dengan dukungan UNESCO.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Situs Warisan Dunia UNESCO | |
|---|---|
Pemandangan Pusat Sejarah Salvador de Bahia | |
| Lokasi | Salvador, Bahia, Brasil |
| Referensi | 309 |
| Pengukuhan | 1985 (Sesi ke-9) |
Pusat Sejarah Salvador de Bahia adalah kawasan bersejarah di kota Salvador, Brasil, yang berasal dari masa pendiriannya pada 1549 sebagai ibu kota pertama Brasil. Kawasan ini menghadapi kemunduran ekonomi dan infrastruktur, sehingga pada 2008–2010 pemerintah Brasil menyusun rencana perbaikan yang melibatkan melibatkan beberapa pihak dengan dukungan UNESCO.[1]
Bahia, yang terletak di ujung selatan kawasan timur Laut Brasil, merupakan negara bagian terbesar di wilayah tersebut dengan luas sekitar 560.000 kilometer persegi dan populasi lebih dari 15 juta jiwa. Kepadatan penduduknya, yakni 24,8 jiwa per kilometer persegi, hampir setara dengan rata-rata nasional. Secara keseluruhan, Bahia adalah negara bagian terpadat keempat di Brasil. Ibu kota sekaligus kota terbesar Bahia adalah Salvador, atau São Salvador da Bahia de Todos os Santos. Pusat sejarahnya yang ramai secara budaya, Pelourinho, telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. UNESCO mencatat bahwa Salvador, sebagai ibu kota pertama dari 1549 hingga 1763, Salvador menjadi tempat pertemuan budaya Eropa, Afrika, dan pribumi Amerika Selatan.[2] Salvador terletak di pesisir timur laut Brasil, dan merupakan kawasan kolonial, menampilkan perpaduan arsitektur religius, sipil, dan militer yang dibangun antara abad ke-17 hingga abad ke-19. Kawasan ini digambarkan sebagai "kota kolonial par excellence di timur laut Brasil". Pusat bersejarah Salvador terletak di bagian lama kota dan mencakup Largo do Pelourinho, sebuah alun-alun yang pada masa kolonial menjadi tempat tiang hukuman bagi para budak. Sejak 1558, ribuan budak dibawa ke Salvador untuk bekerja di perkebunan tebu. Dari komunitas bantuan diri para budak dan orang kulit hitam merdeka inilah muncul Gereja Ordo Ketiga Bunda Rosario Orang Kulit Hitam pada abad ke-18. Di kawasan Pelourinho, situs penting lainnya mencakup Katedral Salvador yang disucikan pada tahun 1654, serta Gereja dan Biara São Francisco. Situs lain meliputi Istana Rio Branco dan Elevador Lacerda. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1985, dan sebagai cagar budaya nasional sejak 1984. Lebih dari 800 bangunan telah mengalami renovasi bangunan dan interior.[3]
Pusat Bersejarah Salvador de Bahia dilindungi melalui sejumlah peraturan pada tingkat pemerintah pusat, negara bagian, dan kota. Perlindungan dari pemerintah pusat diatur oleh Dekrit Hukum 25/1937 dan dilaksanakan oleh Instituto do Patrimônio Histórico e Artístico Nacional (IPHAN). Pada tingkat negara bagian, Undang-Undang 3660/1978 memberikan kewenangan kepada Instituto do Patrimônio Artístico e Cultural da Bahia (IPAC). Di tingkat kota, Undang-Undang 3289/1983 menetapkan ketentuan perlindungan khusus yang menciptakan area pelestarian budaya serta mewajibkan peninjauan bersama oleh ketiga otoritas pemerintah terhadap setiap rencana pembangunan di wilayah tersebut. Rencana induk kota tahun 2008, yaitu Plano Diretor Urbano de Salvador memperkuat penetapan kawasan warisan yang sudah diakui oleh IPHAN maupun yang tercakup dalam peraturan perlindungan kota. Selain itu, dibentuk Escritório Técnico de Licenciamento e Fiscalização (ETELF) untuk memastikan koordinasi dan pengawasan terpadu antara ketiga tingkat pemerintahan dalam pengelolaan kawasan bersejarah.[4]
Pada tahun 2010, pemerintah menyusun Plano de Reabilitação Participativo do Centro Antigo de Salvador, sebuah rencana perbaikan yang bertujuan menangani masalah ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kota yang tidak terselesaikan dalam program perbaikan sebelumnya dari tahun 1960-an hingga 1990-an. Program-program terdahulu terlalu menitikberatkan pada pengembangan pariwisata di Pelourinho, yang pada akhirnya menyebabkan berkurangnya fungsi pengelolaan dan bisnis di pusat bersejarah, memicu berkurangnya jumlah penduduk, serta mempercepat kemunduran kualitas kawasan perkotaan.[4]