Kastel Windsor adalah sebuah kediaman kerajaan di Windsor di daerah (county) Berkshire, Inggris, sekitar 25 mil (40 km) di sebelah barat pusat kota London. Kastel ini memiliki kaitan erat dengan Inggris dan keluarga kerajaan Britania Raya penerusnya, serta mewujudkan hampir satu milenium sejarah arsitektur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kastel Windsor | |
|---|---|
| Windsor, Berkshire, di Inggris | |
Menara Bundar (kiri) dan Bangsal Atas dilihat dari Long Walk di Taman Agung Windsor | |
Lokasi di dalam Berkshire | |
| Koordinat | 51°29′0″N 00°36′15″W / 51.48333°N 0.60417°W / 51.48333; -0.60417[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kastel_Windsor¶ms=51_29_0_N_00_36_15_W_region:GB_type:landmark <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">51°29′0″N</span> <span class=\"longitude\">00°36′15″W</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">51.48333°N 0.60417°W</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">51.48333; -0.60417</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt5\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kastel_Windsor&params=51_29_0_N_00_36_15_W_region:GB_type:landmark\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">51°29′0″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">00°36′15″W</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">51.48333°N 0.60417°W</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">51.48333; -0.60417</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> |
| Jenis | Tiga bangsal halaman dengan sebuah menara utama bundar |
| Informasi situs | |
| Pemilik | Charles III atas hak Takhta |
| Operator | Rumah Tangga Kerajaan |
| Terbuka untuk umum | Akses terbatas |
| Riwayat situs | |
| Digunakan | Akhir abad ke-11 – sekarang |
| Bahan | Batu Bagshot Heath |
| Peristiwa | |
Penetapan salah | |
| Nama resmi | Kastel Windsor |
| No. referensi | 1006996 |
Penetapan salah | |
| Nama resmi | Kastel Windsor Termasuk Seluruh Bangunan di Dalam Tembok |
| Ditetapkan | 2 Oktober 1975 (1975-10-02) |
| No. referensi | 1117776 |
Penetapan salah | |
| Nama resmi | Lahan Kerajaan, Windsor: Kastel Windsor dan Taman Rumah |
| Ditetapkan | 31 Agustus 1999 (1999-08-31) |
| No. referensi | 1001434 |
Kastel Windsor adalah sebuah kediaman kerajaan di Windsor di daerah (county) Berkshire, Inggris, sekitar 25 mil (40 km) di sebelah barat pusat kota London. Kastel ini memiliki kaitan erat dengan Inggris dan keluarga kerajaan Britania Raya penerusnya, serta mewujudkan hampir satu milenium sejarah arsitektur.
Kastel aslinya dibangun pada abad ke-11, setelah invasi Norman ke Inggris oleh William sang Penakluk. Sejak masa Henry I (yang bertakhta pada 1100–1135), kastel ini telah digunakan oleh penguasa monarki dan merupakan istana yang paling lama dihuni di Eropa. Apartemen kenegaraan kastel yang mewah dari awal abad ke-19 digambarkan oleh sejarawan seni Hugh Roberts sebagai "serangkaian ruangan luar biasa dan tak tertandingi yang secara luas dianggap sebagai ekspresi paling indah dan terlengkap dari selera Georgia akhir".[1] Di dalam tembok kastel terdapat Kapel St George dari abad ke-15, yang dianggap oleh sejarawan John Martin Robinson sebagai "salah satu pencapaian tertinggi dari desain Gotik Tegak Lurus Inggris".[2]
Awalnya dirancang untuk memproyeksikan dominasi Norman di sekitar pinggiran London dan mengawasi bagian yang strategis dari Sungai Thames, Kastel Windsor dibangun sebagai motte-and-bailey, dengan tiga bangsal yang mengelilingi sebuah bukit gundukan di tengah. Secara bertahap digantikan dengan benteng batu, kastel ini menahan pengepungan yang berkepanjangan selama Perang Baron Pertama pada awal abad ke-13. Henry III menugaskan pembangunan istana kerajaan yang mewah di dalam kastel pada pertengahan abad tersebut, dan Edward III melangkah lebih jauh, membangun kembali istana itu untuk menciptakan kompleks bangunan yang lebih megah dalam apa yang kelak menjadi "proyek pembangunan sekuler termahal di seluruh Abad Pertengahan di Inggris".[3] Desain inti Edward bertahan melewati periode Tudor, di mana Henry VIII dan Elizabeth I semakin sering menggunakan kastel tersebut sebagai istana kerajaan dan pusat hiburan diplomatik.
Kastel Windsor bertahan melewati periode penuh gejolak Perang Saudara Inggris, ketika tempat ini digunakan sebagai markas militer oleh pasukan Parlemen dan penjara bagi Charles I. Pada masa Restorasi monarki tahun 1660, Charles II merombak sebagian besar Kastel Windsor dengan bantuan arsitek Hugh May, menciptakan serangkaian interior Barok yang mewah. Setelah periode penelantaran pada abad ke-18, George III dan George IV merenovasi dan membangun kembali istana Charles II dengan biaya yang sangat besar, menghasilkan desain apartemen kenegaraan seperti saat ini, yang dipenuhi dengan perabotan bergaya Rokoko, Gotik, dan Barok. Ratu Victoria membuat beberapa perubahan kecil pada kastel, yang menjadi pusat hiburan kerajaan selama sebagian besar masa pemerintahannya. Selama Perang Dunia Pertama, lahan bersejarah ini menginspirasi penamaan Wangsa Windsor sebagai nama kerajaan. Pada masa pemerintahan George VI, tempat ini digunakan sebagai tempat berlindung oleh keluarga kerajaan selama kampanye pengeboman Luftwaffe pada Perang Dunia Kedua. Restorasi ekstensif pada beberapa ruang kenegaraan dilakukan setelah kastel ini bertahan dari kebakaran pada tahun 1992. Saat ini, kastel tersebut menjadi objek wisata populer, tempat penyelenggaraan kunjungan kenegaraan, dan menjadi kediaman utama bagi Elizabeth II dari tahun 2011 hingga 2022.[4]

Lahan Kastel Windsor mencakup area seluas 13 acres[convert: unit tak dikenal][5] dan menggabungkan ciri-ciri benteng, istana, dan kota kecil.[6] Kastel yang ada saat ini dibangun melalui serangkaian proyek pembangunan bertahap, yang berpuncak pada pekerjaan rekonstruksi setelah kebakaran pada tahun 1992.[7] Kastel ini pada dasarnya memiliki desain Georgia dan Victoria yang dibangun di atas struktur abad pertengahan, dengan fitur-fitur Gotik yang diciptakan kembali dalam gaya modern. Sejak abad ke-14, arsitektur di kastel ini telah berupaya menghasilkan reinterpretasi kontemporer terhadap mode dan tradisi lama, yang berulang kali meniru gaya yang sudah ketinggalan zaman atau bahkan kuno.[8] Akibatnya, arsitek Sir William Whitfield menyebut arsitektur Kastel Windsor memiliki "kualitas fiktif tertentu", desain Picturesque dan Gotiknya menghasilkan "kesan seolah-olah pertunjukan teater sedang dipentaskan di sini", terlepas dari upaya pada akhir abad ke-20 untuk lebih menonjolkan struktur yang lebih tua guna meningkatkan kesan autentisitas.[9] Meskipun mendapat beberapa kritik, arsitektur dan sejarah kastel ini memberikannya "tempat di antara istana-istana besar Eropa".[10]
Di pusat Kastel Windsor terdapat Bangsal Tengah, sebuah halaman (bailey) yang dibentuk mengelilingi motte (bukit buatan) di tengah bangsal. Motte ini memiliki tinggi 50 kaki (15 m) dan terbuat dari kapur yang awalnya digali dari parit di sekitarnya. Menara utama, yang disebut Menara Bundar, di puncak motte didasarkan pada bangunan asli dari abad ke-12, yang diperpanjang ke atas sejauh 30 kaki (9,1 m) pada awal abad ke-19 di bawah arahan arsitek Jeffry Wyatville, untuk menghasilkan tinggi dan siluet yang lebih megah.[11] Interior Menara Bundar didesain ulang lebih lanjut antara tahun 1991 dan 1993 untuk menyediakan ruang tambahan bagi Arsip Kerajaan, dengan sebuah ruangan tambahan yang dibangun di ruang kosong peninggalan ekstensi Wyatville yang awalnya berongga.[11] Kenyataannya, Menara Bundar jauh dari bentuk silindris karena bentuk dan struktur motte di bawahnya. Tinggi menara saat ini telah dikritik karena tidak proporsional dengan lebarnya; arkeolog Tim Tatton-Brown, misalnya, menggambarkan hal ini sebagai mutilasi dari struktur abad pertengahan sebelumnya.[12]
Pintu masuk sebelah barat ke Bangsal Tengah kini terbuka, dan sebuah gerbang mengarah ke utara dari bangsal menuju Teras Utara.[13] Pintu keluar sebelah timur dari bangsal ini dijaga oleh Rumah Gerbang Norman.[13] Meskipun namanya demikian, rumah gerbang ini berasal dari abad ke-14; bangunan ini memiliki kubah tebal dan dihiasi dengan ukiran – termasuk topeng singa abad pertengahan yang masih bertahan, yang merupakan simbol tradisional keagungan – untuk membentuk pintu masuk yang mengesankan ke Bangsal Atas.[14] Wyatville mendesain ulang bagian luar rumah gerbang tersebut, dan kemudian pada abad ke-19 bagian dalamnya diubah secara besar-besaran untuk penggunaan perumahan.[15]

Bangsal Atas Kastel Windsor terdiri dari sejumlah bangunan utama yang dikelilingi oleh dinding halaman atas, membentuk sebuah pelataran dalam (quadrangle) di bagian tengah. Apartemen Kenegaraan membentang di sepanjang utara bangsal, dengan deretan bangunan di sepanjang dinding timur, apartemen pribadi kerajaan dan Gerbang Raja George IV di sebelah selatan, serta Menara Edward III di sudut barat daya. Motte dan Menara Bundar membentuk tepi barat bangsal tersebut. Di bawah Menara Bundar terdapat patung perunggu Charles II yang sedang menunggang kuda, yang terinspirasi oleh patung Charles I karya Hubert Le Sueur di London; patung Charles II di Windsor dicetak oleh Josias Ibach pada tahun 1679, dengan alas marmer yang menampilkan ukiran karya Grinling Gibbons.[16] Bangsal Atas berbatasan dengan Teras Utara, yang menghadap ke Sungai Thames, dan Teras Timur, yang menghadap ke Taman Rumah; kedua teras ini dibangun oleh Hugh May pada abad ke-17.[17] Teras Timur memiliki taman mawar formal pribadi, yang pertama kali ditata oleh George IV pada tahun 1820-an. Taman saat ini diperbarui oleh Pangeran Philip, Adipati Edinburgh, setelah digunakan sebagai area produksi taman kemenangan selama Perang Dunia II, yang sebagian dirawat oleh Putri Elizabeth dan Margaret. Diumumkan pada tahun 2020 bahwa, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, taman ini akan dibuka untuk umum dalam waktu terbatas.[18]
Secara tradisional, Bangsal Atas dinilai "pada dasarnya sebagai ciptaan abad kesembilan belas [yang] berdiri sebagai gambaran tentang apa yang dianggap sebagai kastel menurut pemikiran awal abad kesembilan belas", sebagai akibat dari desain ulang kastel secara ekstensif oleh Wyatville di bawah arahan George IV.[19] Dinding-dinding Bangsal Atas dibangun dari batu Bagshot Heath yang dilapisi bata biasa di bagian dalamnya, serta detail gotik dari Batu Bath berwarna kuning.[20] Bangunan-bangunan di Bangsal Atas dicirikan oleh penggunaan potongan-potongan kecil batu api (flint) pada mortar untuk sisipan batu (galleting), yang awalnya dimulai di kastel tersebut pada abad ke-17 untuk memberikan tampilan serupa pada struktur batu dari berbagai periode yang berbeda. Kaki langit Bangsal Atas dirancang agar tampak dramatis ketika dilihat dari kejauhan atau membentuk siluet terhadap cakrawala, menciptakan gambaran menara-menara tinggi dan benteng (battlements) yang dipengaruhi oleh gerakan picturesque pada akhir abad ke-18.[20] Pekerjaan arkeologi dan restorasi setelah kebakaran tahun 1992 telah menunjukkan sejauh mana struktur saat ini merepresentasikan bertahannya elemen-elemen dari dinding batu asli abad ke-12 dan seterusnya, yang disajikan dalam konteks perombakan akhir Wyatville.[21]

Apartemen Kenegaraan membentuk bagian utama dari Bangsal Atas dan terletak di sepanjang sisi utara pelataran dalam (quadrangle). Bangunan modernnya mengikuti fondasi abad pertengahan yang diletakkan oleh Edward III, dengan lantai dasar yang terdiri dari ruang pelayanan dan rubanah, serta lantai pertama yang jauh lebih megah membentuk bagian utama istana. Di lantai pertama, tata letak ujung barat Apartemen Kenegaraan utamanya adalah karya arsitek Hugh May, sedangkan struktur di sisi timur mewakili denah Jeffry Wyatville.[nb 1]
Interior Apartemen Kenegaraan sebagian besar didesain oleh Wyatville pada awal abad ke-19. Wyatville bermaksud agar setiap ruangan mengilustrasikan gaya arsitektur tertentu dan menampilkan perabotan serta seni rupa yang serasi dari periode tersebut.[23] Dengan beberapa perubahan selama bertahun-tahun, konsep ini terus mendominasi apartemen tersebut. Berbagai ruangan mengikuti gaya Klasik, Gotik, dan Rokoko, bersama dengan elemen Jacobethan di beberapa tempat.[24] Banyak ruangan di ujung timur kastel harus direstorasi setelah kebakaran tahun 1992, menggunakan metode "restorasi setara" – ruangan-ruangan direstorasi agar tampak mirip dengan penampilan aslinya, tetapi menggunakan bahan modern dan menyembunyikan perbaikan struktur modernnya.[25][nb 2] Ruangan-ruangan ini juga didesain ulang sebagian pada saat yang sama agar lebih sesuai dengan selera modern. Sejarawan seni Hugh Roberts memuji Apartemen Kenegaraan sebagai "serangkaian ruangan yang luar biasa dan tak tertandingi yang secara luas dianggap sebagai ekspresi terbaik dan paling lengkap dari selera Georgia akhir."[1] Yang lainnya, seperti arsitek Robin Nicolson dan kritikus Hugh Pearman, menggambarkannya sebagai "hambar" dan "sangat membosankan".[26]

Karya Wyatville yang paling terkenal adalah ruangan-ruangan yang didesain dengan gaya Rokoko. Ruangan-ruangan ini mengambil aspek yang luwes dan menyenangkan dari gerakan seni pertengahan abad ke-18 ini, termasuk banyak karya asli dari gaya Louis XV, tetapi memproyeksikannya dalam skala yang "sangat diperbesar".[27] Meskipun demikian, penyelidikan setelah kebakaran 1992 telah menunjukkan bahwa banyak fitur Rokoko dari kastel modern tersebut, yang awalnya diyakini sebagai perlengkapan abad ke-18 yang dipindahkan dari Carlton House atau Prancis, pada kenyataannya adalah tiruan abad ke-19 dalam bentuk plesteran dan kayu, yang didesain agar menyatu dengan elemen aslinya.[28] Ruang Resepsi Utama adalah yang paling menonjol dari desain Rokoko ini, dengan panjang 100 kaki (30 m) dan tinggi 40 kaki (12 m) serta menempati lokasi aula besar Edward III.[29] Ruangan ini, yang direstorasi setelah kebakaran, mencakup langit-langit Rokoko Prancis yang sangat besar, yang dikarakterisasikan oleh Ian Constantinides, kepala restorator, memiliki "kekasaran bentuk dan kekuranghalusan pengerjaan tangan ... yang sepenuhnya tertutupi oleh efek spektakuler ketika Anda berada di kejauhan".[30] Ruangan ini dihiasi dengan set permadani Gobelins Prancis yang telah direstorasi.[30] Meskipun didekorasi dengan lebih sedikit daun emas daripada pada tahun 1820-an, hasilnya tetap menjadi "salah satu mahakarya terbesar dekorasi era Perwalian (Regency)".[31] Ruang Gambar Putih, Hijau, dan Merah Kirmizi mencakup total 62 trofi: panel kayu berukir dan berlapis emas yang mengilustrasikan senjata dan rampasan perang, banyak di antaranya memiliki makna Masonic.[32] Direstorasi atau diganti setelah kebakaran, trofi-trofi ini terkenal karena "vitalitas, presisi, dan kualitas tiga dimensinya", dan aslinya didatangkan dari Carlton House pada tahun 1826, beberapa di antaranya diimpor dari Prancis dan yang lainnya diukir oleh Edward Wyatt.[32] Tekstil perabotan dari ruangan-ruangan ini, meskipun mewah, lebih sederhana daripada aslinya pada tahun 1820-an, baik karena alasan selera modern maupun biaya.[33]
Desain Wyatville mempertahankan tiga ruangan yang awalnya dibangun oleh May pada abad ke-17 yang bekerja sama dengan pelukis Antonio Verrio dan pemahat Grinling Gibbons. Ruang Kehadiran Ratu, Ruang Audiensi Ratu, dan Ruang Makan Raja didesain dengan gaya Barok Prancis-Italia, yang bercirikan "interior berlapis emas yang diperkaya dengan mural hias", yang pertama kali diperkenalkan ke Inggris antara tahun 1648 dan 1650 di Wilton House.[34] Lukisan-lukisan Verrio "sarat akan kiasan abad pertengahan" dan citra klasik.[35] Ruangan-ruangan ini dimaksudkan untuk menunjukkan "fusi barok" Inggris yang inovatif dari seni arsitektur, lukisan, dan ukiran yang sebelumnya terpisah.[36]

Segelintir ruangan di Apartemen Kenegaraan modern mencerminkan desain Gotik abad ke-18 atau Victoria. Ruang Makan Kenegaraan, misalnya, yang desain saat ini berasal dari tahun 1850-an tetapi rusak parah akibat kebakaran 1992, direstorasi ke penampilannya pada tahun 1920-an, sebelum dihilangkannya beberapa fitur berlapis emas pada pilasternya.[37] Tangga Utama karya Anthony Salvin juga berdesain pertengahan era Victoria dengan gaya Gotik, yang menanjak ke aula setinggi dua lantai yang diterangi oleh menara lentera dengan kubah Gotik abad ke-18 yang lebih tua yang disebut Vestibula Utama, yang didesain oleh James Wyatt dan dikerjakan oleh Francis Bernasconi.[38] Tangga tersebut telah dikritik oleh sejarawan John Martin Robinson sebagai desain yang jelas lebih inferior dibandingkan dengan tangga-tangga sebelumnya yang dibangun di lokasi yang sama oleh Wyatt dan May.[39]
Beberapa bagian dari Apartemen Kenegaraan hancur total akibat kebakaran 1992 dan area ini dibangun kembali dengan gaya yang disebut "Gotik Downesian", dinamakan berdasarkan arsiteknya, Giles Downes.[40][nb 3] Gaya tersebut terdiri dari "koherensi modernisme yang agak sederhana, tenang, dan sistematis yang dijahit menjadi sebuah reinterpretasi dari tradisi Gotik".[41] Downes berpendapat bahwa gaya tersebut menghindari "dekorasi hias yang berlebihan", dengan menekankan pada struktur Gotik yang organik dan mengalir.[42] Tiga ruangan baru dibangun atau dirombak oleh Downes di Windsor. Atap balok palu baru karya Downes di Aula St George adalah struktur kayu ek hijau (green-oak) terbesar yang dibangun sejak Abad Pertengahan, dan didekorasi dengan perisai berwarna cerah yang merayakan elemen heraldik dari Ordo Garter; desain tersebut berupaya menciptakan ilusi tinggi tambahan melalui pengerjaan kayu gotik di sepanjang langit-langit.[43] Lobi Lentera yang digunakan untuk menyambut para tamu menampilkan tiang-tiang kayu ek yang mengalir membentuk langit-langit berkubah, meniru bunga lili arum, dan merupakan lokasi tempat berdirinya kapel sebelum kebakaran yang dibangun untuk Ratu Victoria.[44][45] Kapel Pribadi yang baru ini relatif intim, hanya dapat menampung tiga puluh jemaah, tetapi menggabungkan elemen arsitektur atap Aula St George dengan Lobi Lentera dan struktur lengkungan berundak dari kubah kapel Henry VIII di Hampton Court.[46] Hasilnya adalah "jaringan dekorasi batu (tracery) yang tercetak rapat, bersinambung, dan luar biasa", melengkapi jendela kaca patri baru untuk memperingati insiden kebakaran tersebut, yang didesain oleh Joseph Nuttgen[47] dan Pangeran Philip.[45] Dapur Besar, dengan lentera atap dari abad ke-14 yang baru diekspos duduk berdampingan dengan perapian, cerobong asap, dan meja-meja Gotik karya Wyatville, juga merupakan hasil dari rekonstruksi setelah kebakaran tersebut.[48]
Lantai dasar Apartemen Kenegaraan masih mempertahankan berbagai fitur abad pertengahan yang terkenal. Rubanah (Undercroft) Besar dari abad ke-14 masih bertahan, dengan panjang sekitar 193 kaki (59 m) dan lebar 31 kaki (9,4 m), yang terbagi ke dalam 13 ruang utama (bay).[49] Pada saat kebakaran 1992, Rubanah tersebut telah dibagi menjadi ruangan-ruangan yang lebih kecil; area tersebut kini dibuka untuk membentuk satu ruang tunggal sebagai upaya untuk meniru rubanah di Fountains Abbey dan Rievaulx Abbey, meskipun lantainya tetap ditinggikan secara artifisial untuk kenyamanan penggunaan.[50] Lorong Larderie dari abad ke-14 yang "berkubah indah" membentang di sepanjang Halaman Dapur dan dihiasi dengan ukiran mawar kerajaan, menandai pembangunannya oleh Edward III.[51][nb 4]

Bangsal Bawah terletak di bawah dan di sebelah barat Menara Bundar, yang dapat dicapai melalui Gerbang Norman. Pada awalnya sebagian besar berdesain abad pertengahan, sebagian besar Bangsal Bawah direnovasi atau direkonstruksi selama pertengahan era Victoria oleh Anthony Salvin dan Edward Blore, untuk membentuk "komposisi Gotik yang konsisten".[52] Bangsal Bawah menampung Kapel St George dan sebagian besar bangunan yang terkait dengan Ordo Garter.
Di sisi utara Bangsal Bawah terdapat Kapel St George. Bangunan besar ini adalah rumah spiritual bagi Ordo Garter dan berasal dari akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, didesain dengan gaya Gotik Tegak Lurus.[53] Bangku paduan suara kayu berhias merupakan desain abad ke-15, yang telah direstorasi dan diperluas oleh Henry Emlyn pada akhir abad ke-18, dan dihiasi dengan serangkaian pelat kuningan unik yang menunjukkan lambang kebesaran Ksatria Garter selama enam abad terakhir.[54] Di sisi barat, kapel ini memiliki pintu dan tangga era Victoria yang megah, yang digunakan pada acara-acara seremonial.[55] Jendela kaca patri timur berasal dari era Victoria, dan jendela oriel di sisi utaranya ditugaskan pembangunannya oleh Henry VIII untuk Catherine dari Aragon.[56] Kubah di depan altar menyimpan jenazah Henry VIII, Jane Seymour, dan Charles I, dengan Edward IV dimakamkan di dekatnya.[57] Kapel ini dianggap oleh sejarawan John Robinson sebagai "salah satu pencapaian tertinggi dari desain Gotik Tegak Lurus Inggris".[2]
Di ujung timur Kapel St George terdapat Kapel Lady, yang awalnya dibangun atas perintah Henry III pada abad ke-13 dan diubah menjadi Kapel Peringatan Albert antara tahun 1863 dan 1873 oleh George Gilbert Scott.[55] Dibangun untuk memperingati kehidupan Pangeran Albert, kapel berhias ini menampilkan dekorasi mewah serta karya marmer, mosaik kaca, dan perunggu oleh Henri de Triqueti, Susan Durant, Alfred Gilbert, dan Antonio Salviati.[55] Pintu timur kapel, yang ditutupi dengan hiasan besi, adalah pintu asli dari tahun 1246.[58]
Di ujung barat Bangsal Bawah terdapat Serambi Horseshoe (Tapal Kuda), yang aslinya dibangun pada tahun 1480, di dekat kapel untuk menampung para klerusnya. Bangunan ini menampung para vikaris paduan suara, atau klerk awam dari kapel tersebut.[59] Bangunan melengkung dari bata dan kayu ini konon didesain menyerupai bentuk bulu kaki kuda (fetlock), salah satu lencana yang digunakan oleh Edward IV. Gilbert Scott merestorasi bangunan ini secara besar-besaran pada tahun 1871 dan hanya sedikit dari struktur aslinya yang tersisa.[59] Deretan bangunan lain yang awalnya diperintahkan oleh Edward III berada di samping Horseshoe, yang menampilkan dekorasi batu (tracery) tegak lurus.[60] Templat:Per, bangunan tersebut digunakan sebagai kantor, perpustakaan, dan sebagai rumah bagi Dekan dan kanon.[60]
Di belakang Serambi Horseshoe terdapat Menara Curfew, salah satu bagian tertua yang masih bertahan dari Bangsal Bawah dan berasal dari abad ke-13.[55] Bagian dalam menara ini berisi bekas penjara bawah tanah, dan sisa-sisa pintu rahasia (sally port), pintu keluar rahasia bagi para penghuni pada saat pengepungan.[61] Lantai atas berisi lonceng kastel yang ditempatkan di sana pada tahun 1478, dan jam kastel dari tahun 1689. Atap kerucut bergaya Prancis ini adalah upaya abad ke-19 oleh Anthony Salvin untuk merombak menara tersebut mengikuti gaya rekreasi Carcassonne karya Eugène Viollet-le-Duc.[62]
Di sisi berlawanan dari kapel terdapat deretan bangunan termasuk penginapan bagi Ksatria Militer, dan kediaman Gubernur Ksatria Militer.[63] Bangunan-bangunan ini berasal dari abad ke-16 dan masih digunakan oleh para Ksatria, yang mewakili Ordo Garter setiap hari Minggu.[64] Di sisi selatan Bangsal tersebut terdapat gerbang Raja Henry VIII, yang menampilkan lambang kebesaran Catherine dari Aragon dan menjadi pintu masuk kedua ke kastel.
Posisi Kastel Windsor di atas tanah yang curam membuat taman-taman kastel memiliki skala yang terbatas.[65] Taman-taman kastel membentang ke timur dari Bangsal Atas melintasi sebuah teras dari abad ke-19.[66] Kastel Windsor dikelilingi oleh lahan taman yang luas. Area terdekat yang membentang di sebelah timur kastel adalah ciptaan abad ke-19 yang dikenal sebagai Taman Rumah (Home Park).[67] Taman Rumah tersebut mencakup lahan taman dan dua peternakan yang beroperasi, bersama dengan banyak pondok perkebunan yang sebagian besar ditempati oleh para pegawai dan lahan Frogmore. Long Walk, sebuah jalan raya berlapis dua baris pohon, membentang sejauh 265 mil (426 km)[68] di sebelah selatan kastel, dan memiliki lebar 240 ft (73 m).[69] Pohon-pohon elm asli dari abad ke-17 digantikan dengan pohon kastanye dan Platanus yang ditanam berselang-seling. Dampak dari Penyakit elm Belanda menyebabkan penanaman kembali secara besar-besaran setelah tahun 1945.[70]
Taman Rumah tersebut berbatasan dengan tepi utara Taman Agung Windsor yang lebih luas, menempati area sekitar 5.000 ekar (2.020 ha)[71] dan mencakup beberapa hutan berdaun lebar tertua di Eropa.[72] Di Taman Rumah, di sebelah utara kastel, berdiri sebuah sekolah swasta, St George's, yang menyediakan anggota paduan suara untuk kapel. Perguruan Tinggi Eton terletak sekitar setengah mil dari kastel, di seberang Sungai Thames, yang mencerminkan fakta bahwa perguruan tinggi tersebut merupakan yayasan kerajaan yang didirikan oleh Henry VI.
Pembangunan Kastel Windsor awalnya diperintahkan oleh William sang Penakluk pada dekade setelah Penaklukan Norman tahun 1066.[73] William mendirikan cincin pertahanan berupa kastel motte-and-bailey di sekitar London; masing-masing berjarak tempuh satu hari berjalan kaki – sekitar 20 mil (32 km) – dari Kota London dan dari kastel berikutnya, yang memungkinkan bala bantuan dikirimkan dengan mudah saat krisis.[73] Kastel Windsor, salah satu dari cincin pertahanan ini, memiliki arti penting yang strategis karena kedekatannya dengan Sungai Thames, sebuah rute utama abad pertengahan menuju London, dan Hutan Windsor, sebuah cagar perburuan kerajaan yang sebelumnya digunakan oleh raja-raja Saxon.[74] Pemukiman terdekat Clivore, atau Clewer, dulunya merupakan kediaman lama bangsa Saxon. Kastel kayu awalnya terdiri dari sebuah menara utama di atas 'motte', atau gundukan buatan manusia, yang dilindungi oleh dinding halaman (bailey) kecil, menempati sebuah inlier kapur, atau tebing curam, yang menjulang setinggi 100 ft (30 m) di atas sungai.[75] Halaman kayu kedua dibangun di sebelah timur menara utama, yang kelak membentuk Bangsal Atas.[76] Menjelang akhir abad tersebut, sebuah halaman lain telah dibangun di sebelah barat, menciptakan bentuk dasar dari kastel modern tersebut.[76][nb 5] Secara desain, Kastel Windsor paling mirip dengan Kastel Arundel, benteng pertahanan Norman awal lainnya yang kuat, tetapi desain halaman ganda juga ditemukan di Rockingham dan Kastel Alnwick.[78]
Windsor pada awalnya tidak digunakan sebagai kediaman kerajaan. Raja-raja Norman awal lebih suka menggunakan bekas istana Edward sang Pengaku di desa Old Windsor.[79] Raja pertama yang menggunakan Kastel Windsor sebagai tempat kediaman adalah Henry I, yang merayakan Pekan Pentakosta di kastel tersebut pada tahun 1110 selama periode ketidakamanan yang memuncak.[80] Pernikahan Henry dengan Adela, putri dari Godfrey dari Louvain, berlangsung di kastel tersebut pada tahun 1121. Selama periode ini, menara utama mengalami keruntuhan yang parah – bukti arkeologis menunjukkan bahwa sisi selatan motte ambles lebih dari 6 kaki (2 m).[81] Tiang-tiang pancang kayu ditancapkan untuk menopang motte dan menara utama kayu yang lama digantikan dengan menara utama cangkang batu yang baru, dengan kemungkinan adanya gerbang di sebelah timur laut dan sebuah sumur batu baru.[82] Sebuah chemise, atau dinding pelindung rendah, kemudian ditambahkan pada menara utama tersebut.[82]
Henry II naik takhta pada tahun 1154 dan memerintahkan pembangunan ekstensif di Windsor antara tahun 1165 dan 1179.[76] Henry meminta pagar kayu (palisade) yang mengelilingi bangsal atas diganti dengan dinding batu yang diselingi menara-menara persegi dan memerintahkan pembangunan Gerbang Raja (King's Gate) yang pertama.[76] Menara utama batu pertama mulai mengalami amblesan, dan retakan-retakan mulai muncul pada susunan batu di sisi selatan.[82] Henry mengganti menara utama tersebut dengan menara utama cangkang batu dan dinding chemise lainnya, tetapi memundurkan posisi dinding tersebut dari tepi motte untuk mengurangi tekanan pada gundukan itu, dan menambahkan fondasi yang masif di sepanjang sisi selatan untuk memberikan dukungan tambahan.[82] Di dalam kastel, Henry merombak akomodasi kerajaan.[76] Batu Bagshot Heath digunakan untuk sebagian besar pekerjaan, dan batu dari Bedfordshire untuk bangunan-bangunan internal.[83]

Raja John melakukan beberapa pekerjaan pembangunan di Windsor, tetapi terutama pada akomodasi alih-alih pertahanannya.[84] Kastel ini memainkan peran selama pemberontakan baron Inggris: kastel tersebut dikepung pada tahun 1214, dan John menggunakan kastel itu sebagai markasnya selama negosiasi sebelum penandatanganan Magna Carta di Runnymede yang tak jauh dari sana pada tahun 1215.[84] Pada tahun 1216, kastel tersebut dikepung kembali oleh pasukan baron dan Prancis di bawah komando Count dari Nevers, tetapi konstabel John, Engelard de Cigogné, berhasil mempertahankannya.[84]
Kerusakan yang terjadi pada kastel selama pengepungan kedua segera diperbaiki pada tahun 1216 dan 1221 oleh Cigogné atas nama penerus John, Henry III, yang semakin memperkuat pertahanannya.[85] Dinding Bangsal Bawah dibangun kembali dengan batu, lengkap dengan rumah gerbang di lokasi yang kelak menjadi Gerbang Henry VIII, antara tahun 1224 dan 1230.[76] Tiga menara baru, yaitu menara Curfew, Garter, dan Salisbury, dibangun.[84] Bangsal Tengah diperkuat secara besar-besaran dengan dinding batu di sebelah selatan, dilindungi oleh menara Edward III dan Henry III yang baru di setiap ujungnya.[76]
Kastel Windsor adalah salah satu dari tiga kediaman favorit Henry III dan ia berinvestasi besar-besaran pada akomodasi kerajaan, menghabiskan lebih banyak uang di Windsor daripada di propertinya yang lain.[86][nb 6] Setelah pernikahannya dengan Eleanor dari Provence, Henry memerintahkan pembangunan istana yang mewah pada tahun 1240–1263, yang berpusat di sekitar sebuah halaman di sepanjang sisi utara Bangsal Atas.[87] Istana ini ditujukan terutama untuk ratu dan anak-anak Henry.[76] Di Bangsal Bawah, raja memerintahkan pembangunan serangkaian bangunan untuk penggunaannya sendiri di sepanjang dinding selatan, termasuk sebuah kapel sepanjang 70 kaki (21 m), yang kemudian disebut Kapel Lady.[88] Ini adalah kapel termegah dari sekian banyak kapel yang dibangun untuk penggunaannya sendiri, dan sebanding dengan Sainte-Chapelle di Paris dalam hal ukuran dan kualitas.[89] Henry meminta Aula Besar yang terletak di sepanjang sisi utara Bangsal Bawah diperbaiki dan diperbesar dengan dapur baru dan memerintahkan pembuatan jalan setapak tertutup antara Aula dan dapur tersebut.[88] Karya ini dicirikan oleh nuansa religius dari dekorasi yang kaya, yang membentuk "salah satu titik puncak seni abad pertengahan Inggris".[90] Konversi tersebut menghabiskan biaya lebih dari £10.000.[85] Hasilnya adalah terciptanya pembagian di dalam kastel antara Bangsal Atas yang lebih pribadi dan Bangsal Bawah yang dikhususkan untuk wajah publik dari monarki.[58] Hanya sedikit pembangunan lebih lanjut yang dilakukan di kastel tersebut selama abad ke-13; Aula Besar di Bangsal Bawah hancur karena kebakaran pada tahun 1296, tetapi tidak dibangun kembali.[91]

Edward III lahir di Kastel Windsor dan menggunakannya secara ekstensif sepanjang masa pemerintahannya.[91] Pada tahun 1344, raja mengumumkan pendirian Ordo Meja Bundar yang baru di kastel tersebut.[3] Edward mulai membangun gedung baru di kastel untuk menampung ordo ini, tetapi tidak pernah selesai.[3] Para penulis sejarah menggambarkannya sebagai bangunan bundar, dengan diameter 200 kaki (61 m), dan kemungkinan berada di tengah Bangsal Atas.[92] Tak lama setelah itu, Edward meninggalkan ordo baru tersebut karena alasan yang masih belum jelas, dan sebagai gantinya mendirikan Ordo Garter, sekali lagi dengan Kastel Windsor sebagai markasnya, lengkap dengan para pendamping dari Ksatria Miskin Windsor.[3] Sebagai bagian dari proses ini, Edward memutuskan untuk membangun kembali Kastel Windsor, khususnya istana Henry III, dalam upaya untuk membangun sebuah kastel yang akan menjadi simbol kekuasaan kerajaan dan kekesatriaan.[93] Edward dipengaruhi baik oleh keberhasilan militer kakeknya, Edward I, maupun oleh kemerosotan otoritas kerajaan di bawah ayahnya, Edward II, dan bertujuan untuk menghasilkan arsitektur yang inovatif, "secara sadar estetis, berotot, dan kental akan nuansa militer".[94]
Edward menempatkan William dari Wykeham sebagai penanggung jawab keseluruhan atas pembangunan kembali dan desain kastel yang baru dan sementara pekerjaan berlangsung Edward tinggal di akomodasi sementara di Menara Bundar.[91] Antara tahun 1350 dan 1377 Edward menghabiskan £51.000 untuk merenovasi Kastel Windsor; ini adalah jumlah terbesar yang dihabiskan oleh penguasa monarki abad pertengahan Inggris mana pun pada satu operasi pembangunan, dan lebih dari satu setengah kali lipat pendapatan tahunan tipikal Edward yang sebesar £30.000.[95] Sebagian biaya kastel dibayarkan dari hasil uang tebusan menyusul kemenangan Edward pada pertempuran Crécy, Calais, dan Poitiers.[91] Kastel Windsor sudah menjadi bangunan yang substansial sebelum Edward mulai memperluasnya, membuat investasi tersebut menjadi jauh lebih mengesankan, dan sebagian besar pengeluaran dihabiskan untuk perabotan yang mewah.[96] Kastel tersebut merupakan "proyek pembangunan sekuler termahal di seluruh Abad Pertengahan di Inggris".[3]
Istana baru Edward terdiri dari tiga halaman di sepanjang sisi utara Bangsal Atas, yang disebut Serambi Kecil, Serambi Raja, dan Halaman Dapur.[97] Di bagian depan istana terdapat jajaran bangunan Aula St George, yang menggabungkan aula baru dan kapel baru. Jajaran bangunan ini memiliki dua rumah gerbang yang simetris, Rumah Gerbang Spicerie dan Rumah Gerbang Dapur. Rumah Gerbang Spicerie adalah pintu masuk utama ke istana, sementara Rumah Gerbang Dapur hanya mengarah ke halaman dapur.[98] Aula besar tersebut memiliki banyak jendela besar yang menghadap melintasi bangsal.[99] Jajaran bangunan itu memiliki garis atap yang tidak biasa dan menyatu serta, dengan atap yang lebih tinggi dari bagian istana lainnya, akan sangat menonjol.[100] Menara Mawar, yang didesain untuk penggunaan pribadi raja, melengkapi sudut barat dari jajaran bangunan tersebut.[97] Hasilnya adalah sebuah "istana yang besar dan secara arsitektur tampak menyatu ... seragam dalam berbagai hal, seperti garis atap, tinggi jendela, garis kornea, tinggi lantai, dan tinggi langit-langit".[101] Dengan pengecualian Aula, Kapel, dan Kamar Besar, interior baru semuanya berbagi tinggi dan lebar yang serupa.[102][nb 7] Namun, fitur-fitur pertahanannya terutama untuk pertunjukan, mungkin untuk memberikan latar belakang bagi turnamen jousting antara dua kelompok Ordo Garter.[94]

Edward juga memerintahkan pembangunan penginapan mandiri yang mewah untuk istananya di sekitar tepi timur dan selatan Bangsal Atas, yang menciptakan bentuk modern dari pelataran dalam.[8] Gerbang Norman dibangun untuk mengamankan pintu masuk barat ke Bangsal tersebut.[91] Di Bangsal Bawah, kapel diperbesar dan dirombak dengan bangunan-bangunan megah untuk para kanon yang dibangun di sampingnya.[91] Jam mekanis yang digerakkan oleh beban paling awal di Inggris dipasang untuk Edward III di Menara Bundar pada tahun 1354.[103] William dari Wykeham kemudian membangun New College, Oxford dan Winchester College, di mana pengaruh Kastel Windsor dapat dengan mudah terlihat.[91]
Kastel baru ini digunakan untuk menahan tawanan Prancis yang ditangkap pada Pertempuran Poitiers pada tahun 1357, termasuk Raja John II, yang ditahan untuk uang tebusan yang sangat besar.[104] Pada akhir abad tersebut, kastel ini juga disukai oleh Richard II. Richard melakukan pekerjaan restorasi di Kapel St George, pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh Geoffrey Chaucer, yang menjabat sebagai diplomat dan Pejabat Pekerjaan Raja.

Kastel Windsor terus disukai oleh para penguasa monarki pada abad ke-15, meskipun kekerasan politik semakin meningkat.[105] Henry IV merebut kastel tersebut selama kudetanya pada tahun 1399, meskipun gagal menangkap Richard II, yang telah melarikan diri ke London.[105] Di bawah pemerintahan Henry V, kastel ini menjadi tuan rumah kunjungan dari Kaisar Romawi Suci pada tahun 1417, sebuah acara diplomatik besar-besaran yang menguji batas kapasitas akomodasi kastel tersebut.[106]
Menjelang pertengahan abad ke-15, Inggris semakin terpecah antara faksi kerajaan yang bersaing, yaitu faksi Lancaster dan faksi York. Kastel-kastel seperti Windsor tidak memainkan peran yang menentukan selama Perang Mawar (1455–1485) yang diakibatkannya, yang terutama berlangsung dalam bentuk pertempuran sengit (pitched battles) antara faksi-faksi yang bersaing.[107] Henry VI, yang lahir di Kastel Windsor dan dikenal sebagai Henry dari Windsor, menjadi raja pada usia muda sembilan bulan.[108] Masa minoritasnya yang panjang, ditambah dengan meningkatnya ketegangan antara pendukung Henry dari faksi Lancaster dan faksi York, mengalihkan perhatian dari Windsor.[109] Pesta Garter dan kegiatan seremonial lainnya di kastel tersebut menjadi semakin jarang dan kurang dihadiri.[109]
Edward IV merebut kekuasaan pada tahun 1461. Ketika Edward menangkap istri Henry, Margaret dari Anjou, ia dibawa kembali untuk ditahan di kastel tersebut.[110] Edward mulai menghidupkan kembali Ordo Garter, dan mengadakan pesta yang sangat mewah pada tahun 1472.[111] Edward memulai pembangunan Kapel St. George yang sekarang pada tahun 1475, yang mengakibatkan pembongkaran beberapa bangunan tua di Bangsal Bawah.[112] Dengan membangun kapel agung tersebut, Edward berusaha menunjukkan bahwa dinasti barunya adalah penguasa permanen Inggris, dan mungkin juga secara sengaja berusaha menyaingi kapel serupa yang diperintahkan oleh Henry VI untuk dibangun di Perguruan Tinggi Eton di dekatnya.[109] Richard III hanya sebentar menggunakan Kastel Windsor sebelum kekalahannya pada Pertempuran Lapangan Bosworth pada tahun 1485, tetapi ia memindahkan jenazah Henry VI dari Biarawan Chertsey di Surrey ke kastel tersebut agar lebih mudah dikunjungi oleh para peziarah.[113]
Henry VII lebih banyak menggunakan Windsor. Pada tahun 1488, tak lama setelah mewarisi takhta, ia mengadakan pesta besar-besaran untuk Ordo Garter di kastel tersebut.[114] Ia menyelesaikan atap Kapel St George, dan mulai mengubah Kapel Lady timur yang lebih tua menjadi sebuah tempat ziarah yang diusulkan untuk Henry VI, yang kanonisasinya pada saat itu dianggap sudah dekat.[114] Pada akhirnya, Henry VI tidak dikanonisasi dan proyek tersebut dibatalkan, meskipun tempat ziarah tersebut terus menarik gelombang peziarah.[115] Henry VII tampaknya telah merombak Kamar Raja di dalam istana, dan membangun kembali atap Dapur Besar pada tahun 1489.[116] Ia juga memerintahkan pembangunan menara berlantai tiga di ujung barat istana, yang ia gunakan untuk apartemen pribadinya.[117] Windsor mulai digunakan untuk acara-acara diplomatik internasional, termasuk kunjungan megah Philip I dari Kastilia pada tahun 1506.[114] Edmund de la Pole, salah satu penuntut takhta dari faksi York yang masih hidup, dipenjarakan di Kastel Windsor pada masa pemerintahan Henry, sebelum eksekusinya pada tahun 1513.[118]

Henry VIII sangat menyukai Kastel Windsor, sebagai seorang pemuda yang "setiap hari melatih dirinya dalam memanah, bernyanyi, menari, bergulat, melempar palang (casting of the bar), bermain rekorder, seruling, virginal, dalam menggubah lagu dan membuat balada".[119] Tradisi Pesta Garter dipertahankan dan menjadi lebih mewah; ukuran rombongan kerajaan yang mengunjungi Windsor harus dibatasi karena jumlahnya yang terus bertambah.[120] Selama Ziarah Kasih Karunia, sebuah pemberontakan besar di utara Inggris yang menentang pemerintahan Henry pada tahun 1536, sang raja menggunakan Windsor sebagai pangkalan yang aman di selatan untuk mengelola respons militernya.[121] Sepanjang periode Tudor, Windsor juga digunakan sebagai tempat peristirahatan yang aman jika terjadi wabah di London.[122]
Henry membangun kembali rumah gerbang kastel utama pada sekitar tahun 1510 dan membangun lapangan tenis di dasar motte di Bangsal Atas.[123] Ia juga memerintahkan pembangunan sebuah teras panjang, yang disebut Dermaga Utara (North Wharf), di sepanjang dinding luar Bangsal Atas; terbuat dari kayu, teras ini dirancang untuk memberikan pemandangan yang luas ke arah Sungai Thames di bawahnya.[116] Desainnya mencakup tangga luar menuju apartemen raja, yang membuat kehidupan sang raja menjadi lebih nyaman, meskipun dengan mengorbankan pertahanan kastel yang menjadi jauh lebih lemah.[124] Di awal masa pemerintahannya, Henry telah memberikan Kapel Lady bagian timur kepada Kardinal Wolsey untuk dijadikan mausoleum masa depan Wolsey.[125] Benedetto Grazzini mengubah sebagian besar kapel ini menjadi desain Renaisans Italia, sebelum kejatuhan Wolsey dari kekuasaan mengakhiri proyek tersebut, dengan perkiraan orang-orang pada masa itu bahwa sekitar £60.000 (£295 juta dalam nilai tahun 2008) telah dihabiskan untuk pekerjaan itu.[126] Henry melanjutkan proyek tersebut, tetapi masih belum selesai ketika ia sendiri dimakamkan di kapel itu, dalam sebuah pemakaman yang rumit pada tahun 1547.[127]

Sebaliknya, Edward VI yang masih muda tidak menyukai Kastel Windsor.[128] Keyakinan Protestan Edward mendorongnya untuk menyederhanakan upacara Garter, menghentikan Pesta Garter tahunan di Windsor dan menghapus segala tanda praktik Katolik pada Ordo tersebut.[129] Selama pemberontakan dan perselisihan politik tahun 1549, Windsor kembali digunakan sebagai tempat berlindung yang aman bagi raja dan Adipati Somerset.[130] Edward pernah berkomentar saat tinggal di Kastel Windsor selama periode ini yang terkenal dengan ucapannya, "Kurasa aku berada di penjara, di sini tidak ada galeri, maupun taman untuk berjalan-jalan".[128] Di bawah pemerintahan Edward dan saudara perempuannya, Mary I, beberapa pekerjaan pembangunan terbatas terus dilakukan di kastel tersebut, dalam banyak kasus menggunakan sumber daya yang dipulihkan dari biara-biara Inggris.[131] Air dialirkan ke Bangsal Atas untuk membuat sebuah air mancur.[116] Mary juga memperluas bangunan yang digunakan oleh para Ksatria Windsor di Bangsal Bawah, dengan menggunakan batu dari Biara Reading.[116]
Elizabeth I menghabiskan sebagian besar waktunya di Kastel Windsor dan menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman saat krisis, "mengetahui bahwa tempat ini dapat bertahan dari pengepungan jika diperlukan".[132] Sepuluh meriam kuningan baru dibeli untuk pertahanan kastel.[133] Kastel ini menjadi salah satu lokasi favoritnya dan ia menghabiskan lebih banyak uang untuk properti ini daripada untuk istana-istananya yang lain.[134] Ia melakukan beberapa pekerjaan pembangunan yang sederhana di Windsor, termasuk berbagai macam perbaikan pada struktur yang ada.[135] Ia mengubah Dermaga Utara menjadi sebuah teras batu besar yang permanen, lengkap dengan patung, ukiran, dan sebuah rumah perjamuan luar ruangan yang berbentuk segi delapan, serta meninggikan ujung barat teras untuk memberikan privasi lebih.[136] Kapel tersebut dilengkapi kembali dengan bangku (stalls), sebuah galeri, dan langit-langit baru.[137] Sebuah jembatan dibangun di atas parit di selatan kastel untuk memungkinkan akses yang lebih mudah ke taman.[134] Elizabeth memerintahkan pembangunan jajaran bangunan galeri di ujung barat Bangsal Atas, di samping menara Henry VII.[138] Elizabeth semakin sering menggunakan kastel tersebut untuk kegiatan diplomatik, tetapi ruang terus menjadi tantangan karena properti ini tidak sebesar istana kerajaan yang lebih modern.[139] Arus kedatangan tamu asing ini diabadikan sebagai hiburan sang ratu dalam drama The Merry Wives of Windsor karya William Shakespeare.[140][nb 8]

James I menggunakan Kastel Windsor terutama sebagai basis untuk berburu, salah satu kegiatan favoritnya, dan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.[141] Banyak dari kesempatan ini melibatkan sesi minum-minum yang ekstensif, termasuk satu sesi dengan Christian IV dari Denmark pada tahun 1606 yang menjadi terkenal di seluruh Eropa karena perilaku mabuk para punggawa Inggris dan Denmark.[142][143] Kurangnya ruang di Windsor terus menjadi masalah, dengan rombongan Inggris dan Skotlandia James sering kali bertengkar memperebutkan kamar.[142]
Charles I adalah seorang penikmat seni, dan lebih memperhatikan aspek estetika Kastel Windsor daripada para pendahulunya.[144] Charles meminta agar kastel tersebut disurvei sepenuhnya oleh sebuah tim yang mencakup Inigo Jones pada tahun 1629, tetapi hanya sedikit dari pekerjaan yang direkomendasikan yang dilaksanakan.[137] Meskipun demikian, Charles mempekerjakan Nicholas Stone untuk memperbaiki galeri kapel dengan gaya Manneris dan membangun sebuah rumah gerbang di Teras Utara.[137] Christian van Vianen, seorang pandai emas Belanda yang terkenal, dipekerjakan untuk membuat layanan emas barok untuk altar Kapel St George. Pada tahun-tahun terakhir masa damai, Charles menghancurkan air mancur di Bangsal Atas, dengan maksud untuk menggantinya dengan patung klasik.[145]
Pada tahun 1642, Perang Saudara Inggris pecah, membagi negara menjadi pendukung Charles dari faksi Royalis, dan faksi Parlemen. Setelah Pertempuran Edgehill pada bulan Oktober, Parlemen menjadi khawatir bahwa Charles mungkin akan bergerak maju ke London.[146] John Venn mengambil alih Kastel Windsor dengan dua belas kompi prajurit infanteri untuk melindungi rute di sepanjang sungai Thames, dan menjadi gubernur kastel tersebut selama perang berlangsung.[146] Isi Kapel St George sangat berharga dan, bagi banyak pasukan Parlemen, gayanya dianggap terlalu gereja tinggi (high church) secara tidak pantas.[146] Penjarahan segera dimulai: baju zirah cincin (coat of mail) berhiaskan permata milik Edward IV dicuri; organ, jendela, dan buku-buku kapel dihancurkan; Kapel Lady dikosongkan dari barang-barang berharga, termasuk bagian-bagian komponen dari makam Henry VIII yang belum selesai.[147] Pada akhir perang, sekitar 3.580 ons (101 kg) perkakas perak dan emas telah dijarah.[146]
Pangeran Rupert dari Rhine, seorang jenderal Royalis terkemuka, berusaha membebaskan Kastel Windsor pada bulan November itu.[146] Pasukan kavaleri kecil Rupert mampu merebut kota Windsor, tetapi tidak mampu menembus tembok Kastel Windsor – pada akhirnya, Rupert terpaksa mundur.[148] Selama musim dingin tahun 1642–1643, Kastel Windsor diubah menjadi markas besar Earl Essex, seorang jenderal senior Parlemen.[148] Serambi Horseshoe diambil alih sebagai penjara bagi pasukan Royalis yang tertangkap, dan para kanon yang menetap diusir dari kastel.[148] Kapel Lady diubah menjadi magazen (gudang senjata).[149] Penjarahan oleh garnisun yang kurang dibayar terus menjadi masalah; 500 rusa kerajaan dibunuh di seluruh Taman Agung Windsor selama musim dingin, dan pagar-pagar dibakar sebagai kayu bakar.[148]
Pada tahun 1647, Charles, yang saat itu menjadi tawanan Parlemen, dibawa ke kastel tersebut untuk menjalani masa tahanan rumah, sebelum dipindahkan ke Hampton Court.[148] Pada tahun 1648, terdapat rencana pasukan Royalis yang tidak pernah dilaksanakan untuk merebut Kastel Windsor.[150] Dewan Angkatan Darat Parlemen pindah ke Windsor pada bulan November dan memutuskan untuk mengadili Charles atas tuduhan pengkhianatan.[150] Charles kembali ditahan di Windsor selama tiga minggu terakhir masa pemerintahannya; setelah eksekusinya pada bulan Januari 1649, jenazahnya dibawa kembali ke Windsor pada malam itu juga di tengah badai salju, untuk dimakamkan tanpa upacara di kubah makam di bawah Kapel St George.[151]
Restorasi monarki pada tahun 1660 menandai periode pertama perubahan signifikan pada Kastel Windsor selama bertahun-tahun. Perang saudara dan tahun-tahun Interregnum telah menyebabkan kerusakan parah pada istana-istana kerajaan di Inggris.[152] Pada saat yang sama, pergeseran "persyaratan fungsional, pola pergerakan, moda transportasi, selera estetika, dan standar kenyamanan" di kalangan istana kerajaan mengubah kualitas yang dicari dalam sebuah istana yang sukses.[152] Windsor merupakan satu-satunya istana kerajaan yang berhasil dimodernisasi sepenuhnya oleh Charles II pada tahun-tahun Restorasi.[152]
Akan tetapi, selama masa Interregnum, para penghuni liar telah menduduki Kastel Windsor. Akibatnya, "rumah Raja menjadi puing-puing; kaum fanatik, pencuri, dan penghuni liar, telah beraksi ... Orang-orang miskin telah menduduki banyak menara dan kabinet".[153] Tak lama setelah kembali ke Inggris, Charles menunjuk Pangeran Rupert, salah satu dari sedikit kerabat dekatnya yang masih hidup, untuk menjadi Konstabel Kastel Windsor pada tahun 1668.[154] Rupert segera mulai menata ulang pertahanan kastel, memperbaiki Menara Bundar, dan merekonstruksi lapangan tenis sungguhan (real tennis).[155] Charles berusaha mengisi kembali populasi rusa di Taman Agung Windsor dengan rusa yang didatangkan dari Jerman, tetapi kawanan tersebut tidak pernah kembali ke jumlah sebelum perang.[148] Rupert membuat apartemen untuk dirinya sendiri di Menara Bundar, yang didekorasi dengan jumlah senjata dan baju besi yang "luar biasa", dengan kamar-kamar pribadinya "digantungi dengan permadani (tapisserie), serta lukisan-lukisan yang aneh dan feminin".[156]

Charles sangat dipengaruhi oleh Gaya Louis XIV dan meniru desain Prancis di istananya di Winchester serta Rumah Sakit Kerajaan di Chelsea.[157] Di Windsor, Charles menciptakan "interior Barok paling mewah yang pernah dieksekusi di Inggris".[157] Sebagian besar pekerjaan pembangunan dibayar dari peningkatan pendapatan kerajaan dari Irlandia selama tahun 1670-an.[158] Etiket istana Prancis pada masa itu membutuhkan sejumlah besar ruangan yang saling terhubung secara linier (enfilade) untuk memenuhi protokol istana; kebutuhan akan ruang memaksa arsitek Hugh May untuk memperluas area hingga ke Teras Utara, dengan membangun kembali dan memperlebarnya dalam proses tersebut.[159] Bangunan baru ini disebut Gedung Bintang, karena Charles II menempatkan sebuah bintang Garter besar berlapis emas di sisinya.[159] May meruntuhkan dan membangun kembali dinding aula dan kapel Edward III, dengan menggabungkan jendela-jendela yang lebih besar namun tetap mempertahankan tinggi dan dimensi bangunan abad pertengahan tersebut.[159] Meskipun Kastel Windsor kini cukup besar untuk menampung seluruh staf istana, istana tersebut tidak dibangun dengan ruangan-ruangan untuk Dewan Raja, seperti yang dapat ditemukan di Whitehall.[160] Alih-alih demikian, Charles memanfaatkan jaringan jalan raya yang bagus yang muncul di sekitar Windsor untuk mengadakan pertemuan dewannya di Hampton Court ketika ia menginap di kastel tersebut.[160] Hasilnya menjadi "teladan" bagi bangunan-bangunan kerajaan selama dua puluh lima tahun berikutnya.[161] Hasil karya May menunjukkan kecenderungan abad pertengahan; meskipun terkadang dikritik karena "kemonotonannya", rekonstruksi May merupakan wujud simpati terhadap kastel yang ada sekaligus upaya yang disengaja untuk menciptakan versi abad ke-17 yang sedikit lebih sederhana dari sebuah kastel "neo-Norman".[162]
William III menugaskan Nicholas Hawksmoor dan Sir Christopher Wren untuk melakukan perombakan klasik terakhir yang berskala besar pada Bangsal Atas, tetapi kematian awal sang raja menyebabkan rencana tersebut dibatalkan.[163] Ratu Anne menyukai kastel tersebut, dan berusaha mengatasi kurangnya taman formal dengan memerintahkan Henry Wise untuk memulai pekerjaan pada Taman Maestricht di bawah Teras Utara, yang mana tidak pernah selesai.[163] Anne juga membuat arena pacuan kuda di Ascot dan memulai tradisi prosesi Royal Ascot tahunan dari kastel tersebut.[164]

George I kurang tertarik pada Kastel Windsor, dan lebih menyukai istana-istananya yang lain di St James's, Hampton Court, dan Kensington.[165] George II juga jarang menggunakan Windsor, dan lebih menyukai Hampton Court.[166] Banyak apartemen di Bangsal Atas diberikan sebagai hak istimewa "kebaikan dan perkenan" (grace and favour) untuk digunakan oleh janda-janda terkemuka atau teman-teman lain dari Takhta.[167] Adipati Cumberland paling banyak menggunakan properti tersebut dalam perannya sebagai Penjaga Taman Agung Windsor.[168] Menjelang tahun 1740-an, Kastel Windsor telah menjadi objek wisata awal; pengunjung yang lebih kaya yang mampu membayar penjaga kastel dapat masuk, melihat benda-benda langka seperti gading narwhal kastel tersebut, dan pada tahun 1750-an membeli buku panduan pertama tentang Windsor, yang diproduksi oleh George Bickham pada tahun 1753 dan Joseph Pote pada tahun 1755.[169][nb 9] Karena kondisi Apartemen Kenegaraan terus memburuk, bahkan masyarakat umum pun dapat mengunjungi properti tersebut secara rutin.[171]
George III membalikkan tren ini ketika ia naik takhta pada tahun 1760.[167] George tidak menyukai Hampton Court dan tertarik pada taman di Kastel Windsor.[167] George ingin pindah ke Rumah Penjaga (Ranger's House) di dekat kastel, tetapi saudaranya, Henry, sudah tinggal di sana dan menolak untuk pindah.[172] Sebagai gantinya, George harus pindah ke Pondok Atas (Upper Lodge), yang kemudian disebut Pondok Ratu (Queen's Lodge), dan memulai proses panjang merenovasi kastel serta taman-taman di sekitarnya.[172] Pada awalnya, suasana di kastel tersebut tetap sangat informal, dengan anak-anak setempat bermain di dalam Bangsal Atas dan Bawah, serta keluarga kerajaan sering terlihat saat mereka berjalan-jalan di sekitar pelataran.[171] Namun seiring berjalannya waktu, akses bagi pengunjung menjadi lebih terbatas.[165]
Selera arsitektur George bergeser selama bertahun-tahun.[173] Sewaktu muda, ia menyukai gaya Klasik, khususnya gaya Palladian, tetapi sang raja mulai menyukai gaya Gotik, baik sebagai akibat dari penggunaan gaya Palladian yang berlebihan dan penerapannya yang buruk, maupun karena bentuk Gotik telah mulai dipandang sebagai gaya desain Inggris nasional yang lebih jujur di tengah peristiwa Revolusi Prancis.[174] Bekerja sama dengan arsitek James Wyatt, George berusaha "mengubah bagian luar bangunan di Bangsal Atas menjadi istana Gotik, sambil mempertahankan karakter ruang-ruang kenegaraan Hugh May".[175] Bagian luar bangunan didesain ulang dengan fitur-fitur Gotik, termasuk benteng pertahanan (battlements) dan menara kecil (turrets) baru.[175] Di bagian dalam, pekerjaan konservasi dilakukan, dan beberapa ruangan baru dibangun, termasuk tangga Gotik baru untuk menggantikan versi abad ke-17 karya May, lengkap dengan langit-langit Vestibula Utama di atasnya.[176] Lukisan-lukisan baru dibeli untuk kastel tersebut, dan koleksi-koleksi dari istana kerajaan lain dipindahkan ke sana oleh raja.[177] Biaya pekerjaan tersebut mencapai lebih dari £150.000 (£100 juta dalam nilai tahun 2008).[178][179] Raja juga melakukan pekerjaan ekstensif di Taman Agung kastel, menata lahan pertanian Norfolk dan Flemish yang baru, membuat dua peternakan sapi perah, dan merestorasi Danau Virginia Water, serta gua buatan (grotto) dan bangunan hiasannya (follies).[180]
Pada akhir periode ini, Kastel Windsor menjadi tempat pengasingan kerajaan. Pada tahun 1788, raja pertama kali jatuh sakit saat jamuan makan malam di Kastel Windsor; didiagnosis menderita kegilaan, ia dipindahkan untuk sementara waktu ke Gedung Putih (White House) di Kew, tempat ia pulih untuk sementara waktu.[181] Setelah kambuh pada tahun 1801 dan 1804, kondisinya menjadi permanen semenjak tahun 1810 dan seterusnya, dan ia dikurung di Apartemen Kenegaraan Kastel Windsor, dengan pekerjaan pembangunan di kastel tersebut dihentikan pada tahun berikutnya.[182]

George IV naik takhta pada tahun 1820 dengan tujuan untuk membangun serangkaian istana kerajaan yang mencerminkan kekayaan dan pengaruhnya sebagai penguasa Inggris yang semakin kuat.[183] Kediaman George sebelumnya, Carlton House dan Paviliun Brighton, terlalu kecil untuk acara-acara istana yang besar, bahkan setelah perluasan yang mahal.[183] George memperluas Pondok Kerajaan (Royal Lodge) di taman kastel ketika ia masih menjadi Pangeran Wali (Prince Regent), dan kemudian memulai program pekerjaan untuk memodernisasi kastel itu sendiri setelah ia menjadi raja.[183]
George membujuk Parlemen untuk menyetujui anggaran sebesar £300.000 baginya untuk restorasi (£245 juta dalam nilai tahun 2008).[95][179] Di bawah bimbingan penasihat George, Charles Long, arsitek Jeffry Wyatville dipilih, dan pekerjaan dimulai pada tahun 1824.[184][nb 10] Preferensi Wyatville sendiri cenderung pada arsitektur Gotik, tetapi George, yang telah memelopori pengenalan kembali gaya Rokoko Prancis ke Inggris di Carlton House, lebih menyukai perpaduan periode dan gaya, dan menerapkan selera ini ke Windsor.[185] Teras-teras ditutup dari pengunjung untuk privasi yang lebih besar dan bagian luar Bangsal Atas dirombak total menjadi penampilannya saat ini.[186] Ketinggian Menara Bundar ditambah untuk menciptakan penampilan yang lebih dramatis; banyak ruangan di Apartemen Kenegaraan dibangun kembali atau dirombak; banyak menara baru dibangun, jauh lebih tinggi dari versi yang lebih lama.[187] Jajaran bangunan selatan di bangsal tersebut dibangun kembali untuk menyediakan akomodasi pribadi bagi raja, jauh dari ruang-ruang kenegaraan.[188] Patung Charles II dipindahkan dari tengah Bangsal Atas ke dasar motte.[188] Sir Walter Scott menangkap pandangan kontemporer ketika ia mencatat bahwa karya tersebut menunjukkan "banyak cita rasa dan perasaan terhadap arsitektur Gotik"; banyak komentator modern, termasuk Charles III, mengkritik karya Wyatville sebagai tindakan vandalisme terhadap desain awal May.[189] Pekerjaan tersebut belum selesai pada saat kematian George IV di tahun 1830, tetapi sebagian besar telah diselesaikan pada saat kematian Wyatville di tahun 1840. Total pengeluaran untuk kastel tersebut telah melonjak ke jumlah kolosal lebih dari satu juta pound sterling (£817 juta dalam nilai tahun 2008) pada akhir proyek.[95][179]

Ratu Victoria dan Pangeran Albert menjadikan Kastel Windsor sebagai kediaman kerajaan utama mereka, meskipun Victoria di awal masa pemerintahannya mengeluh bahwa kastel tersebut "membosankan dan melelahkan" serta "seperti penjara", dan ia lebih menyukai Osborne dan Balmoral sebagai tempat liburan.[190] Pertumbuhan Imperium Britania dan ikatan dinasti Victoria yang erat dengan Eropa menjadikan Windsor sebagai pusat pertemuan bagi banyak kunjungan diplomatik dan kenegaraan, yang didukung oleh kereta api baru dan kapal uap pada periode tersebut.[191] Bahkan, dikatakan bahwa Windsor mencapai puncak kehidupan sosialnya pada era Victoria, dengan diperkenalkannya undangan kepada banyak tokoh terkemuka untuk "makan malam dan menginap" (dine and sleep) di kastel tersebut.[192] Victoria sangat memperhatikan detail tentang bagaimana Kastel Windsor dijalankan, termasuk hal-hal kecil terkait acara sosial.[193] Hanya sedikit pengunjung yang merasa nyaman dalam acara-acara ini, baik karena desain kastel maupun formalitas kerajaan yang berlebihan.[194] Pangeran Albert meninggal di Ruang Biru di Kastel Windsor pada tahun 1861 dan dimakamkan di Mausoleum Kerajaan yang dibangun di dekat Frogmore, di dalam area Taman Rumah.[195] Kamar sang pangeran dipertahankan sama persis seperti saat kematiannya dan Victoria menjaga kastel tersebut dalam keadaan berkabung selama bertahun-tahun, sehingga ia dikenal sebagai "Janda dari Windsor", sebuah frasa yang dipopulerkan dalam puisi terkenal karya Rudyard Kipling.[196] Ratu menghindari penggunaan Istana Buckingham setelah kematian Albert dan sebaliknya menggunakan Kastel Windsor sebagai kediamannya saat menjalankan urusan resmi di dekat London.[197] Menjelang akhir pemerintahannya, drama, opera, dan hiburan lainnya secara perlahan mulai diadakan di kastel itu lagi, untuk mengakomodasi keinginan Ratu akan hiburan sekaligus keengganannya untuk terlihat di depan umum.[198]
Beberapa perubahan kecil dilakukan di Bangsal Atas di bawah pemerintahan Victoria. Anthony Salvin membangun kembali tangga utama Wyatville, sementara Edward Blore membangun sebuah kapel pribadi baru di dalam Apartemen Kenegaraan.[199] Salvin juga membangun kembali Ruang Makan Kenegaraan setelah terjadi kebakaran hebat pada tahun 1853.[200] Ludwig Gruner membantu mendesain Ruang Audiensi Pribadi Ratu di jajaran bangunan selatan.[201] Blore dan Salvin juga melakukan pekerjaan ekstensif di Bangsal Bawah, di bawah arahan Pangeran Albert, termasuk Tangga Seratus (Hundred Steps) yang mengarah turun ke kota Windsor, membangun kembali menara Garter, Curfew, dan Salisbury, rumah-rumah Ksatria Militer dan membuat Rumah Penjaga (Guardhouse) baru.[202] George Gilbert Scott merombak Serambi Horseshoe pada tahun 1870-an.[52] Rumah Gerbang Norman diubah menjadi kediaman pribadi bagi Sir Henry Ponsonby.[203] Akan tetapi, Kastel Windsor tidak mendapat manfaat dari banyak perbaikan kecil di era tersebut, karena Victoria tidak menyukai lampu gas, dan lebih menyukai lilin; penerangan listrik hanya dipasang di bagian-bagian terbatas kastel pada akhir pemerintahannya.[194] Kastel tersebut memang terkenal dingin dan berangin pada masa pemerintahan Victoria,[203] tetapi kastel itu dihubungkan ke waduk di dekatnya, dengan air yang secara andal dialirkan melalui pipa ke bagian dalam untuk pertama kalinya.[204]
Banyak perubahan di bawah pemerintahan Victoria dilakukan pada area taman dan bangunan di sekitarnya. Peternakan Susu Kerajaan (Royal Dairy) di Frogmore dibangun kembali dengan gaya Tudor tiruan (mock Tudor) pada tahun 1853; Peternakan Susu milik George III dibangun kembali dengan gaya Renaisans pada tahun 1859; Peternakan Flemish era Georgia dibangun kembali, dan Peternakan Norfolk direnovasi.[205] Long Walk ditanami pohon-pohon segar untuk menggantikan stok yang terkena penyakit.[67] Undang-Undang Pendekatan Kota dan Kastel Windsor, yang disahkan oleh Parlemen pada tahun 1848, mengizinkan penutupan dan pengalihan rute jalan-jalan lama yang sebelumnya membentang melintasi taman dari Windsor ke Datchet dan Old Windsor.[206] Perubahan-perubahan ini memungkinkan keluarga kerajaan untuk memagari area taman yang luas guna membentuk "Taman Rumah" (Home Park) pribadi yang tidak dilewati oleh jalan umum.[204] Ratu memberikan hak tambahan untuk akses publik ke sisa area taman sebagai bagian dari pengaturan ini.[204]
Edward VII naik takhta pada tahun 1901 dan segera mulai memodernisasi Kastel Windsor dengan "antusiasme dan semangat".[207] Banyak ruangan di Bangsal Atas dirapikan dan didekorasi ulang untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, di mana Edward "mengintip ke dalam lemari; membongkar laci; membereskan kamar yang dulunya digunakan oleh Pangeran Permaisuri (Prince Consort) dan tidak pernah disentuh sejak kematiannya; mengirimkan banyak peti berisi relik dan ornamen ke ruangan khusus di Menara Bundar ... menghancurkan patung-patung dan patung dada John Brown ... membuang ratusan 'foto berwarna tua yang tidak berguna' ... [dan] menata ulang lukisan-lukisan".[208] Penerangan listrik ditambahkan ke lebih banyak ruangan, bersama dengan pemanas sentral; saluran telepon dipasang, beserta garasi untuk mobil yang baru saja ditemukan.[209] Perlombaan lari maraton dimulai dari Kastel Windsor pada ajang Olimpiade 1908,[nb 11] dan pada tahun 1911 perintis penerbang Thomas Sopwith mendaratkan sebuah pesawat udara di kastel itu untuk pertama kalinya.[210]
George V melanjutkan proses modernisasi yang lebih bertahap, dibantu oleh istrinya, Mary dari Teck, yang memiliki minat kuat pada perabotan dan dekorasi.[211] Mary mencari dan memperoleh kembali barang-barang perabotan yang telah hilang atau dijual dari kastel tersebut, termasuk banyak yang dibagikan oleh Edward VII, dan juga memperoleh banyak karya seni baru untuk melengkapi ruang-ruang kenegaraan.[212] Ratu Mary juga merupakan pencinta segala sesuatu yang berbentuk miniatur, dan sebuah rumah boneka yang terkenal dibuat untuknya di Kastel Windsor, didesain oleh arsitek Edwin Lutyens dan diisi perabotannya oleh para perajin dan desainer terkemuka pada tahun 1930-an.[213] George V berkomitmen untuk mempertahankan standar tinggi kehidupan istana di Kastel Windsor, mengadopsi moto bahwa segala sesuatu harus "yang terbaik".[214] Staf dalam jumlah besar masih dipertahankan di kastel tersebut, dengan sekitar 660 pelayan bekerja di properti itu selama periode tersebut.[213] Sementara itu, selama Perang Dunia Pertama, sentimen anti-Jerman mendorong raja untuk mengubah nama dinastinya dari nama Jerman Wangsa Saxe-Coburg dan Gotha menjadi Wangsa Windsor pada tahun 1917.[215]
Edward VIII tidak banyak menghabiskan masa pemerintahannya di Kastel Windsor.[215] Ia terus menghabiskan sebagian besar waktunya di Fort Belvedere di dalam area Taman Agung Windsor, tempat ia tinggal ketika masih menjadi Pangeran Wales.[215] Edward membuat lapangan terbang (aerodrom) kecil di kastel tersebut di Smith's Lawn, yang kini digunakan sebagai lapangan golf.[215] Masa pemerintahan Edward berlangsung singkat dan ia menyiarkan pidato turun takhtanya kepada seluruh penjuru Imperium Britania dari kastel tersebut pada bulan Desember 1936, serta mengadopsi gelar Adipati Windsor.[215] Penerusnya, George VI, juga lebih menyukai rumah aslinya sendiri, Pondok Kerajaan (Royal Lodge) di Taman Agung, tetapi pindah ke Kastel Windsor bersama istrinya, Elizabeth.[215] Sebagai raja, George menghidupkan kembali Layanan Garter tahunan di Windsor, yang mengacu pada catatan upacara abad ke-17 yang dicatat oleh Elias Ashmole, tetapi memindahkan acara tersebut ke Pekan Ascot pada bulan Juni.[216]
Saat pecahnya Perang Dunia Kedua pada tahun 1939, kastel tersebut dipersiapkan untuk kondisi masa perang. Banyak staf dari Istana Buckingham dipindahkan ke Windsor demi keamanan, keamanan diperketat dan jendela-jendela digelapkan.[217] Terdapat kekhawatiran besar bahwa kastel itu mungkin akan rusak atau hancur selama perang; karya seni yang lebih penting dipindahkan dari kastel untuk disimpan dengan aman, lampu gantung yang berharga diturunkan ke lantai untuk mengantisipasi kerusakan akibat bom, dan serangkaian lukisan karya John Piper ditugaskan pembuatannya dari tahun 1942 hingga 1944 untuk merekam penampilan kastel tersebut.[218] Raja dan ratu serta anak-anak mereka, Putri Elizabeth dan Margaret, tinggal di dalam kastel demi keamanan, dengan atap di atas kamar mereka diperkuat secara khusus jika terjadi serangan.[219] Raja dan ratu setiap hari berkendara ke London, lalu kembali ke Windsor untuk tidur, meskipun pada saat itu hal ini adalah rahasia yang dijaga dengan sangat baik, karena untuk tujuan propaganda dan moral dilaporkan bahwa raja masih tinggal secara penuh waktu di Istana Buckingham.[219] Kastel tersebut juga digunakan sebagai fasilitas penyimpanan; misalnya, satu-satunya air berat murni pada saat itu diselamatkan dari Prancis saat menghadapi ancaman kekalahan Prancis yang akan segera terjadi pada tahun 1940, dan sebagian besar darinya dikirim ke kastel untuk disimpan di rubanah berdampingan dengan Permata Mahkota.[220] Setelah perang, raja menghidupkan kembali acara "makan malam dan menginap" (dine and sleep) di Windsor, menyusul komentar bahwa kastel itu telah menjadi "hampir seperti museum yang luas dan kosong"; meskipun demikian, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan kondisi Kastel Windsor ke keadaannya sebelum perang.[221]
Pada bulan Februari 1952, Elizabeth II naik takhta dan memutuskan untuk menjadikan Windsor sebagai tempat peristirahatan akhir pekannya yang utama.[222] Apartemen pribadi yang belum ditempati secara layak sejak era Ratu Mary direnovasi dan dimodernisasi lebih lanjut, kemudian Ratu, Pangeran Philip, dan kedua anak mereka mulai menempatinya.[222] Akan tetapi, menjelang awal tahun 1990-an, terjadi penurunan kualitas yang nyata di Bangsal Atas, khususnya di Apartemen Kenegaraan.[223] Generasi perbaikan dan penggantian telah mengakibatkan "berkurangnya kekayaan dekorasi yang pertama kali diterapkan pada ruangan-ruangan tersebut", sebuah "penyusutan bertahap dari efek getaran (vibrancy) aslinya, karena setiap perubahan mengulangi versi yang lebih pudar dari versi sebelumnya".[224] Sebuah program pekerjaan perbaikan untuk mengganti pemanas dan kabel di Bangsal Atas dimulai pada tahun 1988.[225] Pekerjaan juga dilakukan untuk menopang motte Menara Bundar setelah amblesan baru terdeteksi pada tahun 1988, yang mengancam runtuhnya menara tersebut.[226]

Pada 20 November 1992, kebakaran besar terjadi di Kastel Windsor, berlangsung selama 15 jam dan menyebabkan kerusakan luas di Bangsal Atas.[227] Kapel Pribadi di sudut timur laut Apartemen Kenegaraan sedang direnovasi sebagai bagian dari program pekerjaan jangka panjang di dalam kastel tersebut, dan diyakini bahwa salah satu lampu sorot yang digunakan dalam pekerjaan itu membakar tirai di dekat altar pada pagi harinya.[228] Api menyebar dengan cepat dan menghancurkan sembilan ruang kenegaraan utama serta merusak parah lebih dari 100 ruangan lainnya.[228] Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk mengendalikan kobaran api, sementara staf kastel berusaha menyelamatkan karya seni berharga dari kastel tersebut.[229] Banyak ruangan yang terdekat dengan lokasi kebakaran telah dikosongkan sebagai bagian dari pekerjaan renovasi, dan hal ini berkontribusi pada keberhasilan evakuasi sebagian besar koleksi.[228]
Api menyebar melalui rongga atap dan upaya terus dilakukan sepanjang malam untuk mengendalikan kobaran api tersebut, dengan risiko besar bagi 200 petugas pemadam kebakaran yang terlibat.[230] Baru pada sore harinya kobaran api mulai dapat dikendalikan, meskipun kebakaran tersebut terus berlanjut hingga malam hari sebelum secara resmi dinyatakan padam keesokan paginya.[231] Selain kerusakan akibat api dan asap, salah satu efek tak terduga dari pemadaman kebakaran tersebut adalah kerusakan akibat air yang cukup besar pada kastel; lebih dari 1,5 juta galon air digunakan untuk memadamkannya, yang dalam banyak hal menyebabkan masalah restorasi yang lebih kompleks daripada kebakaran itu sendiri.[5][232]
Dua masalah besar bagi Kastel Windsor muncul pascakebakaran tersebut. Yang pertama adalah perdebatan politik di Inggris mengenai siapa yang harus membiayai perbaikan itu.[233] Secara tradisional, sebagai properti Takhta, Kastel Windsor dipelihara, dan jika perlu diperbaiki, oleh pemerintah Inggris sebagai ganti atas keuntungan yang dihasilkan oleh Crown Estate.[234] Lebih jauh lagi, seperti istana kerajaan berpenghuni lainnya, kastel tersebut tidak diasuransikan atas alasan ekonomi.[235] Akan tetapi, pada saat terjadinya kebakaran, pers Inggris dengan keras berpendapat agar sang Ratu sendiri diwajibkan membiayai perbaikan tersebut dari penghasilan pribadinya.[233] Sebuah solusi ditemukan di mana biaya pekerjaan restorasi akan didanai dengan membuka Istana Buckingham untuk umum pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, dan dengan memberlakukan biaya baru untuk akses publik ke lahan taman yang mengelilingi Windsor.[236] Masalah besar kedua berkaitan dengan cara memperbaiki kastel tersebut. Beberapa pihak mengusulkan agar ruangan-ruangan yang rusak direstorasi ke penampilan aslinya, tetapi yang lain lebih mendukung agar kastel diperbaiki dengan menggabungkan desain modern.[237] Keputusan yang diambil adalah sebagian besar mengikuti arsitektur sebelum kebakaran dengan beberapa perubahan untuk mencerminkan selera dan biaya modern, tetapi pertanyaan baru bermunculan mengenai apakah restorasi tersebut harus dilakukan dengan standar restorasi "autentik" atau "setara".[25] Metode modern digunakan di Windsor untuk memproduksi kembali penampilan yang setara dengan sebelum kebakaran, yang sebagiannya disebabkan oleh faktor biaya.[238] Program restorasi tersebut selesai pada tahun 1997 dengan total biaya £37 juta (£67 juta dalam nilai tahun 2015).[179][239]

Kastel Windsor, bagian dari Kawasan Istana Kerajaan Berpenghuni, dimiliki oleh Charles III atas hak Takhta,[240] dan manajemen sehari-harinya dikelola oleh Rumah Tangga Kerajaan.[241] Dalam hal populasi, Kastel Windsor adalah kastel berpenghuni terbesar di dunia dan istana yang paling lama ditempati di Eropa, tetapi juga tetap berfungsi sebagai rumah kerajaan.[242] Hingga tahun 2006, sekitar 500 orang tinggal dan bekerja di kastel tersebut.[243] Sebelum kematiannya, Elizabeth II semakin sering menggunakan kastel tersebut sebagai istana kerajaan sekaligus rumah akhir pekannya.[244] Dalam beberapa tahun terakhir, Kastel Windsor telah menjadi tuan rumah kunjungan dari Presiden Mbeki dari Afrika Selatan, Raja Abdullah II dari Yordania, dan para presiden Amerika Serikat seperti Obama,[245] Trump, dan Biden.[246] Kastel ini tetap menjadi lokasi seremonial yang penting. Upacara Waterloo dilaksanakan di hadapan penguasa monarki setiap tahun, dan upacara tahunan Ordo Garter berlangsung di Kapel St George.[247] Saat Ratu sedang menetap di sana, upacara Pergantian Penjaga (Guard Mounting) dilakukan setiap hari.[248] Prosesi Royal Ascot berangkat dari kastel setiap tahun selama pertemuan tahunan tersebut.[249]
Selama masa pemerintahan Elizabeth II, banyak hal yang dilakukan, tidak hanya untuk merestorasi dan memelihara struktur bangunan, tetapi juga untuk mengubahnya menjadi objek wisata utama Britania Raya, yang menyimpan sebagian besar karya seni dari Koleksi Kerajaan. Pekerjaan arkeologi di kastel tersebut terus berlanjut, menyusul investigasi terbatas pada tahun 1970-an, pekerjaan di Menara Bundar dari tahun 1988 hingga 1992, dan investigasi pascakebakaran 1992.[250] Sepanjang tahun 2007, sebanyak 993.000 turis mengunjungi kastel tersebut.[251] Hal ini harus dicapai dengan berkoordinasi terkait masalah keamanan dan peran kastel sebagai istana kerajaan yang masih beroperasi.[241] Pada akhir tahun 2011, dua turbin air besar dipasang di bagian hulu kastel di Sungai Thames untuk menyediakan tenaga hidroelektrik bagi kastel dan lahan di sekitarnya.[252] Pada bulan April 2016, Royal Collection Trust mengumumkan proyek senilai £27 juta untuk mengembalikan aula pintu masuk asli kastel bagi pengunjung, serta sebuah kafe baru di rubanah abad ke-14.[253] Pintu masuk baru tersebut dibuka pada akhir tahun 2019.[254] Mulai bulan Maret 2020, Ratu dan suaminya, Pangeran Philip, Adipati Edinburgh, berlindung di Windsor selama Pandemi COVID-19 bersama sejumlah kecil staf dalam apa yang dikenal sebagai 'HMS Bubble' – sebuah rujukan kelakar terhadap aturan Pemerintah Inggris tentang 'gelembung' dukungan rumah tangga selama pandemi.[255] Pandemi tersebut juga membuat mereka merayakan Natal di Kastel Windsor, bukan di Sandringham House, untuk pertama kalinya sejak tahun 1987.[256] Pangeran Philip meninggal di Kastel Windsor pada 9 April 2021.[257]
Pada Hari Natal 2021, ketika Ratu Elizabeth sedang tinggal di Kastel Windsor, Jaswant Singh Chail yang berusia 19 tahun menerobos masuk ke taman menggunakan tangga tali dan membawa sebuah busur silang. Sebelum sempat memasuki bangunan mana pun, Chail ditangkap dan kemudian ditahan berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Mental. Ia telah mengunggah sebuah video di internet yang mengancam akan membunuh Ratu.[258] Chail kemudian mengakui bahwa tujuannya adalah untuk membalas dendam atas Pembantaian Amritsar tahun 1919. Ia mengaku bersalah atas dakwaan berdasarkan pasal dua Undang-Undang Pengkhianatan 1842.[259]
Pada 7 Mei 2023, halaman rumput di Taman Rumah tepat di seberang Teras Timur kastel menjadi lokasi Konser Penobatan, dalam rangka perayaan penobatan Charles III dan Camilla. Ini merupakan konser ruang terbuka pertama yang dipentaskan di kastel tersebut dan mencakup penampilan oleh Lionel Richie, Katy Perry, Andrea Bocelli, Sir Bryn Terfel, Take That, dan Paloma Faith.[260][261] Konser tersebut dihadiri oleh para anggota keluarga kerajaan, bersama dengan 20.000 penonton dari kalangan masyarakat umum.
Pada 18 November 2024, penyusup bertopeng menembus keamanan di lahan Kastel Windsor, di dekat Adelaide Cottage, tempat Pangeran dan Putri Wales, beserta anak-anak mereka, dilaporkan sedang tertidur. Orang-orang tersebut menggunakan truk curian untuk menabrak gerbang sebelum mencuri sebuah truk pikap dan sepeda quad dari sebuah lumbung di Peternakan Shaw. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran keamanan, karena terjadi di dekat pintu keluar yang umum digunakan menyusul penarikan petugas bersenjata baru-baru ini dari pintu masuk publik. Kepolisian Lembah Thames membuka penyelidikan atas insiden tersebut.[262]
Pada 1 Juni 2025, seorang pria berusia 30-an ditangkap atas dugaan masuk tanpa izin setelah dilaporkan memanjat tembok pembatas di dekat Gerbang Kota tak lama setelah pukul 13.00. Ia kedapatan membawa Narkoba Kelas A. Ia tidak memasuki area dalam kastel, dan pihak berwenang menyatakan tidak ada indikasi niat untuk melukai. Ia dibebaskan dengan uang jaminan sementara polisi melanjutkan penyelidikan mereka.[263]
Pada 28 Januari 2026, Kastel Windsor menjadi tuan rumah pemutaran perdana Finding Harmony: A King’s Vision, pertama kalinya sebuah pemutaran perdana film diadakan di kediaman kerajaan.[264][265]

The Queen spent 10 more nights at Windsor Castle than Buckingham Palace in 2011, 35 in 2012, 59 in 2013, 52 in 2014, and 71 in 2015