Abraham Lincoln menyampaikan pidato pelantikan keduanya pada hari Sabtu, tanggal 4 Maret 1865, saat pelantikan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada saat ketika kemenangan atas pemberontak di Perang Saudara Amerika sudah di depan mata dan perbudakan di seluruh A.S. hampir berakhir, Lincoln tidak berbicara tentang kebahagiaan, tetapi tentang kesedihan. Beberapa orang melihat pidato ini sebagai pembelaan dari pendekatannya yang pragmatis terhadap Rekonstruksi, di mana ia berusaha untuk menghindari perlakuan keras terhadap pemberontak yang kalah dengan mengingatkan para pendengarnya mengenai betapa salahnya kedua belah pihak dalam dalam membayangkan apa yang ada di depan mereka ketika perang dimulai empat tahun yang lalu. Meskipun begitu, Lincoln mengimbangi penolakan terhadap triumfalisme tersebut, dengan pengakuan bahwa perbudakan secara tak terbantahkan adalah kejahatan. Pidato tersebut diukir, beserta dengan Pidato Gettysburg, di Memorial Lincoln.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Abraham Lincoln menyampaikan pidato pelantikan keduanya pada hari Sabtu, tanggal 4 Maret 1865, saat pelantikan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada saat ketika kemenangan atas pemberontak di Perang Saudara Amerika sudah di depan mata dan perbudakan di seluruh A.S. hampir berakhir, Lincoln tidak berbicara tentang kebahagiaan, tetapi tentang kesedihan. Beberapa orang melihat pidato ini sebagai pembelaan dari pendekatannya yang pragmatis terhadap Rekonstruksi, di mana ia berusaha untuk menghindari perlakuan keras terhadap pemberontak yang kalah dengan mengingatkan para pendengarnya mengenai betapa salahnya kedua belah pihak dalam dalam membayangkan apa yang ada di depan mereka ketika perang dimulai empat tahun yang lalu. Meskipun begitu, Lincoln mengimbangi penolakan terhadap triumfalisme tersebut, dengan pengakuan bahwa perbudakan secara tak terbantahkan adalah kejahatan.[2] Pidato tersebut diukir, beserta dengan Pidato Gettysburg, di Memorial Lincoln.[3]