Pertempuran Sungai Bagradas, yang juga dikenal sebagai Pertempuran Tunis, adalah sebuah kemenangan yang diraih oleh pasukan Kartago pimpinan Xanthippus atas pasukan Romawi yang dipimpin oleh Marcus Atilius Regulus pada musim semi 255 SM, sembilan tahun setelah pecahnya Perang Punik Pertama. Pada tahun sebelumnya, angkatan laut Romawi yang baru saja dibangun berhasil membentuk keunggulan laut atas Kartago. Pasukan Romawi memanfaatkan keunggulan ini untuk menginvasi tanah air Kartago, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan negara Tunisia modern di Afrika Utara. Setelah berlabuh di Semenanjung Tanjung Bon dan menjalankan kampanye militer yang sukses, armada tersebut kembali ke Sisilia, meninggalkan Regulus bersama 15.500 prajurit untuk mempertahankan pangkalan terdepan di Afrika selama musim dingin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pertempuran Sungai Bagradas | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Punik Pertama | |||||||
Kampanye militer di Afrika Utara yang mencakup pertempuran ini; perkiraan lokasi pertempuran ditunjukkan oleh "5". | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Kartago | Romawi | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Xanthippus | Marcus Atilius Regulus (POW) | ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
16.000 12.000 infanteri 4.000 kavaleri 100 gajah |
15.500 15.000 infanteri 500 kavaleri | ||||||
| Korban | |||||||
| Setidaknya 800 tewas |
13.500 13.000 tewas 500 ditangkap | ||||||
Pertempuran Sungai Bagradas (nama kuno dari Medjerda), yang juga dikenal sebagai Pertempuran Tunis, adalah sebuah kemenangan yang diraih oleh pasukan Kartago pimpinan Xanthippus atas pasukan Romawi yang dipimpin oleh Marcus Atilius Regulus pada musim semi 255 SM, sembilan tahun setelah pecahnya Perang Punik Pertama. Pada tahun sebelumnya, angkatan laut Romawi yang baru saja dibangun berhasil membentuk keunggulan laut atas Kartago. Pasukan Romawi memanfaatkan keunggulan ini untuk menginvasi tanah air Kartago, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan negara Tunisia modern di Afrika Utara. Setelah berlabuh di Semenanjung Tanjung Bon dan menjalankan kampanye militer yang sukses, armada tersebut kembali ke Sisilia, meninggalkan Regulus bersama 15.500 prajurit untuk mempertahankan pangkalan terdepan di Afrika selama musim dingin.
Alih-alih mempertahankan posisinya, Regulus justru bergerak maju menuju kota Kartago dan mengalahkan pasukan Kartago dalam Pertempuran Adys. Pasukan Romawi menindaklanjuti keberhasilan ini dengan merebut Tunis, yang hanya berjarak 16 kilometer (10 mi) dari Kartago. Dalam keputusasaan, pihak Kartago memohon perdamaian, namun syarat-syarat yang diajukan Regulus sangatlah berat sehingga pihak Kartago memutuskan untuk terus melawan. Mereka menyerahkan tanggung jawab pelatihan pasukan mereka, dan pada akhirnya juga kendali operasional, kepada seorang jenderal tentara bayaran asal Sparta, Xanthippus.
Pada musim semi 255 SM, Xanthippus memimpin sebuah pasukan yang sangat mengandalkan kavaleri dan gajah perang untuk menghadapi pasukan Romawi yang lebih bertumpu pada infanteri. Pasukan Romawi tidak memiliki penangkal yang efektif untuk menghadapi gajah-gajah tersebut. Kavaleri Romawi yang kalah jumlah berhasil dipukul mundur dari medan perang. Setelah itu, kavaleri Kartago mengepung sebagian besar prajurit Romawi dan membinasakan mereka; sebanyak 500 orang selamat dan ditawan, termasuk Regulus. Sekitar 2.000 prajurit Romawi berhasil lolos dari kepungan dan mundur ke Aspis. Perang tersebut terus berlanjut selama 14 tahun berikutnya, yang sebagian besar terjadi di Sisilia atau di perairan sekitarnya, sebelum pada akhirnya dimenangkan oleh Romawi; syarat perdamaian yang ditawarkan kepada Kartago pada akhir perang lebih lunak dibandingkan yang pernah diusulkan oleh Regulus.

Sumber utama untuk hampir setiap aspek dari Perang Punik Pertama[note 1] adalah sejarawan Polibios (ca 200–ca 118 SM), seorang Yunani yang dikirim ke Romawi pada tahun 167 SM sebagai sandera.[3][4] Karya-karyanya mencakup sebuah panduan taktik militer yang kini telah hilang,[5] namun ia paling dikenal karena The Histories karyanya, yang ditulis beberapa waktu setelah tahun 167 SM, atau sekitar satu abad setelah Pertempuran Sungai Bagradas.[4][6] Karya Polibios secara luas dianggap objektif dan sebagian besar netral di antara sudut pandang Kartago dan Romawi.[7][8]
Catatan tertulis Kartago dihancurkan bersama dengan ibu kota mereka, Kartago, pada tahun 146 SM dan oleh karena itu, catatan Polibios mengenai Perang Punik Pertama didasarkan pada beberapa sumber Yunani Kuno dan Latin yang kini telah hilang.[9] Polibios adalah seorang sejarawan analitis dan sebisa mungkin mewawancarai langsung para peserta peristiwa yang ia tulis.[10][11] Hanya buku pertama dari empat puluh buku yang menyusun The Histories yang membahas Perang Punik Pertama.[12] Keakuratan catatan Polibios telah banyak diperdebatkan selama 150 tahun terakhir, tetapi konsensus modern pada umumnya menerimanya apa adanya, dan rincian pertempuran dalam sumber-sumber modern hampir sepenuhnya didasarkan pada interpretasi atas catatan Polibios.[12][13][14] Ia berada di staf Scipio Aemilianus ketika Scipio memimpin pasukan Romawi selama Perang Punik Ketiga dalam sebuah kampanye melintasi banyak lokasi yang menjadi tempat terjadinya peristiwa pada tahun 256–255 SM.[15] Sejarawan modern Andrew Curry menganggap bahwa "Polibios ternyata [menjadi sosok yang] cukup dapat diandalkan";[16] sementara ahli peradaban klasik Dexter Hoyos menggambarkannya sebagai "seorang sejarawan yang sangat berpengetahuan, rajin, dan berwawasan luas".[17] Sejarah-sejarah lain mengenai perang tersebut yang muncul belakangan memang ada, namun dalam bentuk fragmen atau ringkasan,[3][18] dan sejarah-sejarah tersebut biasanya mencakup operasi militer di darat dengan lebih rinci daripada yang di laut.[19] Sejarawan modern biasanya juga mempertimbangkan sejarah-sejarah dari era yang lebih belakangan karya Diodoros Sikeliotes dan Dio Cassius, meskipun ahli peradaban klasik Adrian Goldsworthy menyatakan bahwa "catatan Polibios biasanya lebih diutamakan ketika terdapat perbedaan dengan catatan-catatan kita yang lain."[11][note 2] Sumber lainnya meliputi prasasti, koin, bukti arkeologis, dan bukti empiris dari rekonstruksi seperti trireme Olympias.[21]
Pada tahun 264 SM negara Kartago dan Romawi berperang, memulai Perang Punik Pertama.[22] Kartago merupakan sebuah kekuatan maritim yang mapan di Mediterania Barat; Romawi baru saja menyatukan daratan utama Italia di selatan Sungai Arno di bawah kendalinya. Ekspansi Romawi ke Italia selatan mungkin membuat bentrokan dengan Kartago memperebutkan Sisilia dengan suatu dalih pada akhirnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Penyebab langsung dari perang tersebut adalah masalah kendali atas kota Messana di Sisilia (Messina modern).[23]
Menjelang tahun 256 SM, perang tersebut telah berkembang menjadi sebuah perjuangan di mana pihak Romawi berusaha untuk mengalahkan pihak Kartago secara meyakinkan dan, setidaknya, menguasai seluruh wilayah Sisilia.[23] Pihak Kartago menerapkan kebijakan tradisional mereka, yakni menunggu lawan mereka kelelahan, dengan harapan dapat merebut kembali sebagian atau seluruh wilayah kekuasaan mereka dan menegosiasikan perjanjian damai yang memuaskan kedua belah pihak.[24] Romawi pada dasarnya adalah kekuatan yang berbasis di darat dan telah menguasai sebagian besar Sisilia. Perang di sana telah mencapai jalan buntu, karena pihak Kartago berfokus untuk mempertahankan kota-kota mereka yang dibentengi dengan baik; kota-kota ini sebagian besar berada di pesisir sehingga dapat dipasok dan diperkuat tanpa pihak Romawi dapat menggunakan pasukan mereka yang lebih unggul untuk ikut campur.[25][26]

Fokus perang beralih ke laut, di mana pihak Romawi memiliki sedikit pengalaman; pada beberapa kesempatan sebelumnya ketika mereka merasa membutuhkan kehadiran angkatan laut, mereka mengandalkan skuadron kecil yang disediakan oleh sekutu mereka.[27][28] Pada tahun 260 SM, pihak Romawi mulai membangun sebuah armada menggunakan bangkai kapal quinquereme Kartago sebagai cetak biru untuk kapal-kapal mereka sendiri.[29] Frustrasi akibat kebuntuan yang terus berlanjut dalam perang darat di Sisilia, dikombinasikan dengan kemenangan angkatan laut di Mylae (260 SM) dan Sulci (258 SM), mendorong pihak Romawi untuk mengembangkan rencana menginvasi jantung wilayah Kartago di Afrika Utara dan mengancam ibu kota mereka (dekat dengan wilayah yang sekarang menjadi Tunis).[30] Kedua belah pihak bertekad untuk membangun supremasi laut dan menginvestasikan sejumlah besar dana dan tenaga kerja dalam memelihara dan meningkatkan ukuran angkatan laut mereka.[31][32]
Sudah menjadi prosedur jangka panjang Romawi untuk menunjuk dua orang pria setiap tahunnya, yang dikenal sebagai konsul, untuk masing-masing memimpin sebuah pasukan.[33] Armada Romawi yang terdiri dari 330 kapal perang ditambah sejumlah kapal angkut yang tidak diketahui jumlahnya berlayar dari Ostia, pelabuhan Romawi, pada awal tahun 256 SM, di bawah komando gabungan dari kedua konsul tahun tersebut, Marcus Atilius Regulus dan Lucius Manlius Vulso Longus.[34] Mereka mengangkut sekitar 26.000 legiuner dari pasukan Romawi di Sisilia.[35][36][37] Pihak Kartago menyadari niat Romawi dan mengerahkan semua kapal perang yang tersedia, berjumlah 350, di bawah pimpinan Hanno dan Hamilcar, di lepas pantai selatan Sisilia untuk mencegat mereka. Dengan total gabungan sekitar 680 kapal perang yang membawa hingga 290.000 awak kapal dan marinir, pertempuran ini kemungkinan merupakan pertempuran laut terbesar dalam sejarah berdasarkan jumlah kombatan yang terlibat.[38][39][40] Ketika mereka bertemu pada Pertempuran Tanjung Ecnomus, pihak Kartago mengambil inisiatif, berharap keunggulan keterampilan penanganan kapal mereka akan menjadi penentu.[41][42] Setelah pertempuran yang berkepanjangan dan kacau balau sepanjang hari, pihak Kartago dikalahkan, kehilangan 30 kapal yang tenggelam dan 64 ditangkap, berbanding dengan kerugian di pihak Romawi yang kehilangan 24 kapal yang tenggelam.[43]

Sebagai akibat dari pertempuran tersebut, pasukan Romawi, yang dikomandoi oleh Regulus dan Longus, mendarat di Afrika dekat Aspis (Kelibia modern) di Semenanjung Tanjung Bon dan mulai menjarah pedesaan Kartago untuk mencari pasokan guna memberi makan 90.000 pendayung dan awak kapal, serta 26.000 legiuner mereka.[44][45] Mereka menangkap 20.000 budak, kawanan besar ternak, dan setelah sebuah pengepungan singkat, berhasil merebut kota Aspis.[46] Senat Romawi mengirimkan perintah agar sebagian besar kapal Romawi dan sebagian besar pasukan kembali ke Sisilia di bawah pimpinan Longus, kemungkinan karena kesulitan logistik untuk memasok lebih dari 100.000 orang selama musim dingin.[45] Regulus ditinggalkan bersama 40 kapal, 15.000 infanteri, dan 500 kavaleri untuk melewati musim dingin di Afrika.[47][48][49] Regulus adalah seorang komandan militer yang berpengalaman, pernah menjabat sebagai konsul pada tahun 267 SM, saat ia dianugerahi triumph atas kemenangannya melawan suku Salentini.[50][note 3] Perintahnya adalah untuk melemahkan pasukan Kartago sembari menunggu bala bantuan pada musim semi. Ia diharapkan dapat mencapai hal ini melalui serbuan dan dengan memicu pemberontakan di antara wilayah-wilayah taklukan Kartago, namun para konsul memiliki keleluasaan yang luas.[45] Regulus memilih untuk membawa pasukannya yang relatif kecil dan menyerang ke pedalaman.[52] Ia bergerak maju menuju kota Adys, sejauh 60 kilometer (40 mi) di tenggara Kartago, dan mengepungnya.[53] Sementara itu, pihak Kartago telah memanggil pulang Hamilcar dari Sisilia bersama 5.000 infanteri dan 500 kavaleri. Hamilcar dan dua jenderal yang sebelumnya tidak dikenal bernama Hasdrubal dan Bostar ditempatkan dalam komando gabungan atas sebuah pasukan yang kuat dalam kavaleri dan gajah serta berukuran kira-kira sama dengan pasukan Romawi.[54][55]
Pihak Kartago mendirikan sebuah kamp di atas bukit dekat Adys.[55] Pasukan Romawi melakukan mars malam dan melancarkan serangan fajar kejutan ke kamp tersebut dari dua arah. Setelah pertempuran yang kacau, pasukan Kartago kocar-kacir dan melarikan diri. Jumlah kerugian mereka tidak diketahui, meskipun gajah-gajah dan kavaleri mereka berhasil lolos dengan sedikit korban.[56] Pasukan Romawi menindaklanjutinya dengan merebut banyak kota, termasuk Tunis, yang hanya berjarak 16 km (10 mi) dari Kartago.[57][58] Dari Tunis, pasukan Romawi menyerbu dan membumihanguskan daerah di sekitar Kartago.[58] Banyak wilayah taklukan Kartago di Afrika mengambil kesempatan ini untuk bangkit memberontak. Kota Kartago dipenuhi oleh para pengungsi yang melarikan diri dari Regulus atau para pemberontak, dan persediaan makanan pun habis. Dalam keputusasaan, menurut sebagian besar sumber kuno, pihak Kartago memohon perdamaian.[59][58] Polibios memiliki pendapat berbeda dengan menyatakan bahwa Regulus-lah yang memprakarsai negosiasi, berharap untuk mendapatkan kejayaan karena mengakhiri perang sebelum para penerusnya tiba untuk menggantikannya. Terlepas dari hal itu, Regulus, yang melihat apa yang ia anggap sebagai Kartago yang telah kalah telak, menuntut syarat-syarat yang berat: Kartago harus menyerahkan Sisilia, Sardinia, dan Korsika; membayar seluruh biaya perang Romawi; membayar upeti kepada Romawi setiap tahun; dilarang menyatakan perang atau berdamai tanpa izin Romawi; membatasi angkatan lautnya hanya pada satu kapal perang; namun harus menyediakan 50 kapal perang besar kepada Romawi jika diminta. Merasa syarat-syarat ini sepenuhnya tidak dapat diterima, pihak Kartago memutuskan untuk terus melawan.[58][60][note 4]

Sebagian besar warga negara laki-laki Romawi wajib mengikuti dinas militer dan akan bertugas sebagai infanteri, dengan kelompok minoritas yang lebih kaya menyediakan komponen kavaleri. Secara tradisional, saat berperang, pihak Romawi akan mengumpulkan dua legiun, masing-masing terdiri dari 4.200 infanteri[note 5] dan 300 kavaleri. Sebagian kecil infanteri bertugas sebagai skirmisher bersenjatakan lembing. Sisanya dilengkapi sebagai infanteri berat, dengan baju zirah, perisai besar, dan pedang tusuk pendek. Mereka dibagi ke dalam tiga barisan, yang mana barisan depan juga membawa dua lembing, sementara barisan kedua dan ketiga menggunakan tombak tusuk. Baik sub-unit legiuner maupun legiuner secara individu bertempur dalam formasi yang relatif terbuka. Sebuah pasukan biasanya dibentuk dengan menggabungkan sebuah legiun Romawi dengan sebuah legiun yang berukuran dan berperlengkapan sama yang disediakan oleh sekutu Latin mereka.[63] Tidak begitu jelas bagaimana 15.000 infanteri di Sungai Bagradas disusun, namun mereka kemungkinan mewakili empat legiun yang sedikit kekurangan personel: dua dari Romawi dan dua dari sekutu.[64] Regulus tidak menarik pasukan satupun dari kota-kota yang memberontak melawan Kartago. Dalam hal ini ia berbeda dari jenderal-jenderal lainnya, termasuk jenderal Romawi, yang memimpin pasukan melawan Kartago di Afrika. Alasan di balik hal ini tidak diketahui. Secara khusus, kesulitan dalam mengangkut kuda[65] telah membatasi pasukan kavalerinya menjadi hanya 500 personel, dan kegagalannya untuk menutupi kekurangan ini sangat membingungkan.[66][67]
Warga negara Kartago bertugas di dalam pasukan mereka hanya jika ada ancaman langsung terhadap kota tersebut. Ketika mereka bertugas, mereka bertempur sebagai infanteri berat berbaju zirah lengkap yang dipersenjatai dengan tombak tusuk panjang, meskipun mereka terkenal kurang terlatih dan kurang disiplin. Dalam kebanyakan situasi, Kartago merekrut orang asing untuk mengisi pasukannya. Banyak yang berasal dari Afrika Utara yang menyediakan beberapa jenis petarung termasuk: infanteri formasi rapat yang dilengkapi dengan perisai besar, helm, pedang pendek, dan tombak tusuk panjang; skirmisher infanteri ringan bersenjatakan lembing; kavaleri kejut formasi rapat yang membawa tombak; serta skirmisher kavaleri ringan yang melemparkan lembing dari jarak jauh dan menghindari pertarungan jarak dekat.[68][69] Spanyol dan Galia sama-sama menyediakan infanteri berpengalaman dalam jumlah kecil; pasukan tanpa baju zirah yang akan menyerang dengan ganas, namun memiliki reputasi sering mundur jika pertempuran berlangsung lama.[68][70][note 6] Infanteri Libya dalam formasi rapat dan milisi warga akan bertempur dalam formasi padat yang dikenal sebagai falangs.[69] Pengumban sering kali direkrut dari Kepulauan Balearik, meskipun tidak jelas apakah ada dari mereka yang hadir di Tunis.[68][71] Pihak Kartago juga menggunakan gajah perang; Afrika Utara memiliki gajah hutan Afrika asli pada saat itu.[70][72][note 7]

Pihak Kartago merekrut para petarung dari seluruh kawasan Mediterania, dan pada sekitar waktu ini, sekelompok besar rekrutan dari Yunani tiba di Kartago.[74] Di antara mereka terdapat seorang komandan tentara bayaran asal Sparta, Xanthippus.[67] Polibios menyatakan bahwa ia telah mengikuti metode pelatihan Sparta dan ia mengetahui cara menempatkan sekaligus memanuver sebuah pasukan. Ia meninggalkan kesan yang baik pada prajurit pasukan Kartago, dan mampu meyakinkan Senat Kartago bahwa elemen terkuat dari pasukan mereka adalah kavaleri dan gajah mereka, serta agar dapat dikerahkan untuk hasil terbaik, mereka harus bertempur di tanah datar yang terbuka. Sejarawan John Lazenby berspekulasi bahwa ia mungkin pernah menghadapi gajah sebelumnya ketika Pyrrhos dari Epirus menyerang Sparta pada tahun 270-an SM.[75] Xanthippus diserahi tanggung jawab atas pelatihan selama musim dingin, meskipun sebuah komite yang terdiri dari para jenderal Kartago tetap memegang kendali operasional. Ketika prospek pertempuran yang menentukan semakin dekat, dan ketika keterampilan Xanthippus dalam memanuver pasukan menjadi semakin nyata, kendali penuh pun diserahkan kepadanya. Apakah hal ini merupakan keputusan dari Senat, para jenderal, atau dipaksakan kepada mereka oleh keinginan pasukan, yang mencakup banyak warga negara Kartago, tidaklah jelas.[76][77]
Xanthippus memimpin pasukannya yang terdiri atas 100 gajah, 4.000 kavaleri, dan 12.000 infanteri – infanteri ini mencakup 5.000 veteran dari Sisilia serta banyak milisi warga[78] – keluar dari Kartago dan mendirikan kamp di dekat pasukan Romawi di sebuah kawasan dataran terbuka. Lokasi persisnya tidak diketahui, namun diasumsikan berada di dekat Tunis. Pasukan Romawi yang terdiri dari sekitar 15.000 infanteri dan 500 kavaleri bergerak maju untuk menemui mereka, dan mendirikan kamp yang berjarak sekitar 2 km (1 mi). Keesokan paginya, kedua belah pihak bersiap untuk bertempur.[79][80] Xanthippus menempatkan milisi warga Kartago di bagian tengah formasinya; dengan para veteran Sisilia dan infanteri yang baru saja disewa dibagi di kedua sisi mereka; serta dengan kavaleri yang dibagi rata di kedua sisi sayap tersebut. Gajah-gajah tersebut dikerahkan dalam satu barisan di depan bagian tengah infanteri.[81][82] Pasukan Romawi menempatkan infanteri legiuner mereka di bagian tengah, yang diatur dalam formasi yang lebih dalam dan lebih padat dari biasanya. Polibios menganggap formasi ini sebagai formasi anti-gajah yang efektif, tetapi juga menunjukkan bahwa hal itu memperpendek garis depan infanteri Romawi dan membuat mereka rentan dikepung dari arah sayap. Skirmisher infanteri ringan diposisikan di depan legiun, dan 500 kavaleri dibagi di antara kedua sayap.[53][83] Regulus tampaknya berharap untuk menembus barisan gajah dengan infanterinya yang dikumpulkan, menaklukkan falangs Kartago di bagian tengah mereka, dan dengan demikian memenangkan pertempuran sebelum ia harus mengkhawatirkan serangan di bagian sayap.[84]

Pertempuran dibuka dengan serangan-serangan oleh kavaleri dan gajah Kartago. Kavaleri Romawi, yang kalah jumlah telak, segera disapu bersih. Para legiuner Romawi bergerak maju, berteriak, dan memukulkan gagang pedang pada perisai mereka dalam upaya untuk menakuti gajah-gajah tersebut.[85] Sebagian dari sayap kiri Romawi tumpang tindih dengan barisan gajah, dan mereka menyerang infanteri sayap kanan Kartago, yang kemudian kocar-kacir dan melarikan diri kembali ke kamp mereka, dengan dikejar oleh pihak Romawi.[82] Bagian dari pasukan Romawi ini kemungkinan besar terdiri dari sekutu Latin. Sisa infanteri Romawi lainnya mengalami kesulitan menghadapi gajah-gajah tersebut, yang tidak gentar oleh kebisingan mereka dan terus merangsek masuk, menimbulkan jatuhnya korban jiwa serta kekacauan yang cukup besar. Setidaknya sebagian legiuner berhasil menerobos barisan gajah, dan menyerang falangs Kartago. Namun mereka terlalu tidak beraturan untuk dapat bertempur secara efektif, sehingga falangs tersebut tetap bertahan kokoh. Beberapa unit kavaleri Kartago kini kembali dari pengejaran mereka dan mulai menyerang atau melakukan manuver tipuan terhadap bagian belakang dan sayap pasukan Romawi. Pasukan Romawi berusaha untuk bertempur di segala sisi, yang akhirnya menghentikan momentum pergerakan maju mereka.[85][86]
Pasukan Romawi tetap bertahan kokoh, kemungkinan sebagian karena formasi padat mereka yang membuat mereka berhimpitan rapat satu sama lain, namun gajah-gajah terus mengamuk melewati barisan mereka, dan kavaleri Kartago menahan mereka di tempat dengan melemparkan proyektil ke bagian belakang dan sayap mereka. Kemudian Xanthippus memerintahkan barisan falangs untuk menyerang. Sebagian besar pasukan Romawi berdesakan di suatu ruang di mana mereka tidak dapat memberikan perlawanan yang efektif dan akhirnya dibantai. Regulus dan sebagian kecil pasukan berhasil menerobos keluar dari kepungan, tetapi mereka dikejar dan tak lama kemudian ia bersama 500 orang yang selamat terpaksa menyerah.[note 8] Sebanyak kurang lebih 13.000 pasukan Romawi terbunuh. Pihak Kartago kehilangan 800 prajurit dari pasukan di sayap kanan mereka yang dipukul mundur; kerugian dari sisa pasukan mereka lainnya tidak diketahui.[53][89][90] Sebanyak 2.000 prajurit Romawi selamat, berasal dari sayap kiri yang berhasil menerobos ke dalam kamp Kartago; mereka melarikan diri dari medan perang dan mundur ke Aspis.[67] Ini merupakan satu-satunya kemenangan Kartago dalam sebuah pertempuran darat besar selama perang tersebut.[79]
Xanthippus, yang takut akan rasa iri dari para jenderal Kartago yang telah ia lampaui prestasinya, mengambil bayarannya dan kembali ke Yunani. Regulus meninggal dalam penawanan Kartago; para penulis Romawi di kemudian hari mengarang kisah tentang dirinya yang menunjukkan kebajikan heroik saat menjadi tawanan.[91] Pihak Romawi mengirimkan sebuah armada untuk mengevakuasi prajurit mereka yang selamat dan pihak Kartago berusaha untuk menghadangnya. Dalam Pertempuran Tanjung Hermaeum yang terjadi di lepas pantai Afrika, pihak Kartago kalah telak, kehilangan 114 kapal yang ditangkap dan 16 yang tenggelam.[92][93] Armada Romawi, pada gilirannya, hancur lebur oleh badai ketika kembali ke Italia, 384 kapal tenggelam dari total 464 kapal mereka[note 9] dan 100.000 orang tewas,[93][94] mayoritasnya merupakan sekutu Latin non-Romawi.[47] Perang berlanjut selama 14 tahun ke depan, yang sebagian besar terjadi di Sisilia atau perairan di sekitarnya, sebelum diakhiri dengan kemenangan Romawi; syarat-syarat perdamaian yang ditawarkan kepada Kartago lebih lunak dibandingkan yang pernah diusulkan oleh Regulus.[95] Pertanyaan tentang negara mana yang akan menguasai Mediterania barat tetap terbuka, dan hubungan mereka pun menegang. Ketika Kartago mengepung kota Saguntum yang dilindungi oleh Romawi di Iberia timur pada tahun 218 SM, hal tersebut memicu meletusnya Perang Punik Kedua dengan Romawi.[96]