The Poppy War adalah novel fantasi tahun 2018 karya penulis Amerika Serikat, R. F. Kuang, yang diterbitkan oleh Harper Voyager. Sebagai karya fantasi grimdark, alurnya mengambil inspirasi dari politik Tiongkok pertengahan abad ke-20, dengan konflik yang didasarkan pada Perang Tiongkok-Jepang Kedua, serta atmosfer yang terinspirasi oleh Dinasti Song. Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Oktober 2019.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pengarang | R. F. Kuang |
|---|---|
| Judul asli | The Poppy War |
| Penerjemah | Meggy Soedjatmiko |
| Negara | Amerika Serikat |
| Bahasa | Inggris (asli) |
| Seri | The Poppy War |
Nomor rilis | ke-1 |
| Genre | Fantasi, fiksi sejarah |
| Penerbit | • HarperCollins (Inggris) • Gramedia Pustaka Utama (Indonesia) |
Tanggal terbit | • 1 Mei 2018 (Inggris) • 28 Oktober 2019 (Indonesia) |
| Jenis media | Cetak |
| Halaman | 568 (Indonesia) |
| ISBN | ISBN 9786020634951 |
| Diikuti oleh | 'The Dragon Republic |
The Poppy War (diterbitkan di Indonesia dengan judul Perang Opium) adalah novel fantasi tahun 2018 karya penulis Amerika Serikat, R. F. Kuang, yang diterbitkan oleh Harper Voyager.[1][2] Sebagai karya fantasi grimdark, alurnya mengambil inspirasi dari politik Tiongkok pertengahan abad ke-20, dengan konflik yang didasarkan pada Perang Tiongkok-Jepang Kedua, serta atmosfer yang terinspirasi oleh Dinasti Song.[3] Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Oktober 2019.[4]
Sekuelnya, The Dragon Republic (Republik Naga), dirilis pada Agustus 2019, dan buku ketiga, The Burning God (Sang Dewi Api), dirilis pada November 2020.[5]
Direktur editorial Harper Voyager, David Pomerico, memperoleh hak penerbitan novel ini setelah melalui proses lelang yang sengit tepat pada hari ulang tahun Kuang yang ke-20.[6]
Fang Runin, yang akrab disapa Rin, adalah seorang anak yatim piatu perang yang dibesarkan oleh keluarga penyelundup opium di wilayah selatan Kekaisaran Nikara. Demi menghindari pernikahan paksa yang diatur orang tua angkatnya, Rin belajar dengan giat untuk mengikuti Keju, ujian nasional tingkat tinggi untuk masuk ke akademi militer. Keberhasilannya menempati peringkat pertama di provinsinya membuat Rin diterima di Sinegard, akademi militer paling bergengsi di kekaisaran, yang terletak di ibu kota.
Di Sinegard, Rin harus menghadapi diskriminasi dan perundungan dari teman-teman sekelasnya yang berasal dari kalangan bangsawan karena latar belakangnya yang miskin dan warna kulitnya yang gelap. Di tengah tekanan tersebut, ia menjalin persahabatan dengan Chen Kitay dan persaingan sengit dengan Yin Nezha. Rin kemudian menarik perhatian Master Jiang, seorang guru eksentrik yang membimbingnya dalam seni samanisme—kemampuan kuno untuk berkomunikasi dengan para dewa dan memanggil kekuatan supranatural yang selama ini dianggap sebagai mitos.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Federasi Mugen melancarkan invasi besar-besaran terhadap Kekaisaran Nikara, memulai perang ketiga yang brutal. Rin dipaksa untuk meninggalkan kehidupan akademinya dan terjun ke medan pertempuran yang penuh kekerasan. Ia kemudian bergabung dengan Cike, sebuah unit elit pembunuh rahasia yang terdiri dari para samanis yang dipimpin oleh Altan Trengsin. Di tengah kehancuran perang, Rin harus berjuang menguasai kekuatan api dari dewa Phoenix yang berbahaya untuk menyelamatkan negaranya, meski hal itu mengancam kemanusiaan dan kewarasannya sendiri.