The Dragon Republic adalah novel fantasi tahun 2019 karya penulis Amerika Serikat, R. F. Kuang. Novel ini merupakan buku kedua dalam trilogi The Poppy War, menyusul novel debutnya, The Poppy War (2018). Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 14 Desember 2020.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sampul edisi Indonesia | |
| Pengarang | R. F. Kuang |
|---|---|
| Judul asli | The Dragon Republic |
| Penerjemah | Meggy Soedjatmiko |
| Negara | Amerika Serikat |
| Bahasa | Inggris (asli) |
| Seri | The Poppy War |
Nomor rilis | ke-2 |
| Genre | Fantasi, fiksi sejarah |
| Penerbit | • Harper Voyager (Inggris) • Gramedia Pustaka Utama (Indonesia) |
Tanggal terbit | • 6 Agustus 2019 (Inggris) • 11 Desember 2020 (Indonesia) |
| Jenis media | Cetak |
| Halaman | 656 (Indonesia) |
| ISBN | ISBN 9786020649511 |
| Didahului oleh | 'The Poppy War |
| Diikuti oleh | 'The Burning God |
The Dragon Republic (diterbitkan di Indonesia dengan judul Republik Naga) adalah novel fantasi tahun 2019 karya penulis Amerika Serikat, R. F. Kuang.[1] Novel ini merupakan buku kedua dalam trilogi The Poppy War, menyusul novel debutnya, The Poppy War (2018).[2] Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 14 Desember 2020.[3]
Setelah peristiwa tragis dan penghancuran besar di akhir perang sebelumnya, Fang Runin (Rin) kini menjadi buronan yang dihantui oleh trauma berat dan rasa bersalah. Ia berjuang keras untuk mengendalikan amarah dewa Phoenix yang terus bergejolak di dalam dirinya, yang sering kali memaksanya bergantung pada obat-obatan untuk meredam kekuatan tersebut. Bersama sisa-sisa anggota unit Cike yang masih setia, Rin berkelana dengan satu misi utama yang menggerakkan hidupnya: membalas dendam kepada Maharani Su Daji yang ia anggap sebagai pengkhianat terbesar bagi bangsa Nikara.
Dalam upaya menggulingkan kekuasaan Maharani, Rin memutuskan untuk bersekutu dengan Yin Vaisra, Panglima Naga yang berambisi mengakhiri sistem monarki kuno dan mendirikan sebuah "Republik Naga" yang lebih demokratis. Aliansi ini mempertemukan kembali Rin dengan mantan teman sekaligus rivalnya, Yin Nezha. Sebagai senjata paling mematikan bagi pasukan pemberontak, Rin harus terjun ke dalam perang saudara yang brutal, menggunakan kekuatan apinya untuk merebut kota-kota penting demi mewujudkan tatanan dunia baru yang dijanjikan oleh sang Panglima.
Namun, Rin segera menyadari bahwa medan perang politik jauh lebih licik dan berbahaya daripada pertempuran fisik. Ia mulai terjebak dalam pusaran konspirasi di mana kekuatan asing mulai ikut campur dalam nasib negaranya, dan setiap sekutu memiliki agenda tersembunyi yang mematikan. Di tengah pengkhianatan yang mengintai di setiap sudut dan tuntutan dewa Phoenix yang semakin haus darah, Rin dipaksa menghadapi kenyataan pahit mengenai harga dari sebuah revolusi dan apakah ia hanya menjadi pion bagi penguasa baru yang tak kalah kejam dari sebelumnya.[4][5]