Penjara Sednaya yang memiliki nama sebutan "Rumah Pembantaian Manusia", adalah penjara yang digunakan untuk memenjarakan ribuan tahanan politik selama masa pemerintahan rezim presiden Assad di Suriah. Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) memperkirakan pada Januari 2021 bahwa 30.000 tahanan dibunuh secara brutal oleh rezim Assad di Sednaya melalui penyiksaan, penganiayaan dan eksekusi massal sejak pecahnya perang saudara Suriah, sementara Amnesty International memperkirakan pada Februari 2017 bahwa antara 5.000 dan 13.000 orang telah dieksekusi di luar hukum di Sednaya antara September 2011 dan Desember 2015.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

penjara | |
|---|---|
| سجن صيدنايا (ar) | |
| Tempat | |
Koordinat: 33°39′54″N 36°19′43″E / 33.66500°N 36.32861°E / 33.66500; 36.32861 | |
| Negara | Suriah |
| Kegubernuran di Suriah | Kegubernuran Rif Dimashq |
| District of Syria (en) | Al-Tall District (en) |
| Subdistrict of Syria (en) | Sidnaya Subdistrict (en) |
| Biara | Sednaya |
| Negara | Suriah |
| Sejarah | |
| Pembuatan | 1987 |
| Pembubaran | 8 Desember 2024 |
Penjara Sednaya (Bahasa Arab: سجن صيدنايا Sijn Ṣaydnāyā) yang memiliki nama sebutan "Rumah Pembantaian Manusia", adalah penjara yang digunakan untuk memenjarakan ribuan tahanan politik selama masa pemerintahan rezim presiden Assad di Suriah.[1][2] Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) memperkirakan pada Januari 2021 bahwa 30.000 tahanan dibunuh secara brutal oleh rezim Assad di Sednaya melalui penyiksaan, penganiayaan dan eksekusi massal sejak pecahnya perang saudara Suriah, sementara Amnesty International memperkirakan pada Februari 2017 bahwa antara 5.000 dan 13.000 orang telah dieksekusi di luar hukum di Sednaya antara September 2011 dan Desember 2015.[3]
Proses pembangunan Penjara Sednaya dimulai pada tahun 1978, ketika pemerintah Suriah menyita tanah seluas 1,4 km persegi yang berjarak 30 km dari Damaskus dari warga sekitar dan menyerahkannya kepada Kementerian Pertahanan untuk dibangunkan penjara. Pembangunan dimulai pada tahun 1981 dan selesai pada tahun 1986, dan tahanan pertama tiba pada tahun 1987.[4][5]
Pada tanggal 5 Juli 2008, telah terjadi kerusuhan di dalam penjara yang dipicu oleh kemarahan tahanan akibat penggeledahan yang dilakukan sipir. Menurut seorang tahanan yang menjadi informan dari organisasi Human Rights Watch melalui telepon seluler di dalam penjara, para petugas sipir menghina narapidana dan menginjak-injak Al-Qur'an yang mereka lempar ke lantai.[6]
Para tahanan, yang sebagian besar adalah penganut Islam, memprotes dengan cara berkelahi dengan para sipir yang juga merupakan anggota polisi militer. Polisi militer dilaporkan membalas dengan melepaskan tembakan ke arah mereka. Human Rights Watch memperoleh nama sembilan tahanan yang diyakini tewas mulai dari: Zakaria Affash, Mohammed Mahareesh, Abdulbaqi Khattab, Ahmed Shalaq, Khalid Bilal, Mo’aid Al – Ali, Mohannad Al – Omar dan Khader Alloush, sementara Komite hak asasi manusia Suriah melaporkan jika sebanyak 25 orang mungkin telah tewas. Seorang anggota polisi militer juga dipastikan tewas setelah dimakamkan di desa Mare`, di sebelah Aleppo.[7]
Setelah berbulan-bulan protes anti pemerintah di tahun 2011, banyak tahanan penjara baik itu dari golongan sekuler maupun islamis dibebaskan dengan amnesti. Zahran Alloush, Abu Shadi Aboud (saudara Hassan Aboud) dan Ahmed Abu Issa adalah nama-nama terkenal dari beberapa tahanan yang dibebaskan. Setelah dibebaskan, banyak yang mengangkat senjata melawan pemerintah dan menjadi pemimpin kelompok pemberontak Islam termasuk Jaysh al-Islam, Ahrar ash-Sham dan Brigade Suqour al-Sham dalam Perang Saudara Suriah.[8] Beberapa narapidana sudah mendekam di penjara itu sejak 1980-an. ADMSP meyakini lebih dari 30.000 tahanan dieksekusi atau meninggal akibat disiksa dan kurangnya mendapat perawatan medis atau makanan antara 2011 dan 2018.[9]

Setelah jatuh Assad pada Desember 2024, Raed Al-Saleh menyebut eksekusi mati di Penjara Sednaya dilakukan setiap hari. Menurut The White Helmets, sekitar 50 hingga 100 orang dieksekusi setiap hari di Sednaya sebelum Assad tumbang. Jenazah para tahanan pun diperlakukan dengan tidak manusiawi. Al-Saleh menyebut timnya menemukan jenazah yang berada di dalam oven. Menurut laporan organisasi-organisasi hak asasi manusia, para tahanan di Sednaya dieksekusi dengan cara digantung secara massal, disiksa hingga mati, atau sengaja tidak diberi makanan atau air minum hingga tewas.Menurut keterangan The White Helmets, pihaknya telah membantu membebaskan 20.000 hingga 25.000 tahanan dari Sednaya sejak Minggu Desember 2024.[2]

Pihak berwenang Suriah pada tahun 2025 mengatakan mereka telah menangkap seorang mantan pejabat militer yang dituduh mengeksekusi tahanan di penjara Sednaya yang terkenal kejam selama pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad. Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, kementerian dalam negeri mengatakan bahwa cabang kontra-terorisme provinsi Damaskus telah menangkap Mayor Jenderal Akram Salloum al-Abdullah. Menurut lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris, lebih dari 200.000 orang telah meninggal di penjara-penjara Suriah, termasuk melalui eksekusi dan penyiksaan.[10]
Sekitar 31.000 orang telah dibebaskan dari penangkapan sewenang-wenang atau penghilangan paksa dari total 136.000 orang. Masih ada sekitar 105.000 orang yang belum diketahui keberadaannya. Abdul Ghany mengatakan bahwa penelitian organisasinya selama 14 tahun terakhir, termasuk pemeriksaan ribuan sertifikat kematian, telah memungkinkan di Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah untuk mengumumkan bahwa sebagian besar dari mereka, yaitu 105.000 orang yang tersisa, telah dibunuh."[11]