Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pembunuhan Junko Furuta

Junko Furuta adalah seorang siswi SMA Jepang berusia 17 tahun yang diculik, diperkosa, disiksa, dan dibunuh. Penganiayaan terhadapnya dilakukan oleh empat remaja laki-laki—Hiroshi Miyano (18), Jō Ogura (17), Shinji Minato (16), dan Yasushi Watanabe (17)—selama periode 40 hari yang dimulai pada 25 November 1988. Di Jepang, kasus ini dikenal sebagai "kasus pembunuhan siswi SMA yang dikubur dalam drum beton" , karena jasadnya ditemukan di dalam drum yang diisi beton. Hukuman penjara yang dijatuhkan kepada para pelaku berkisar antara 7 hingga 20 tahun. Kejahatan yang kejam ini mengejutkan Jepang, dikatakan sebagai kasus kejahatan remaja terburuk dalam sejarah pascaperang negara tersebut.

wanita muda Jepang korban penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan
Diperbarui 19 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pembunuhan Junko Furuta

Junko Furuta
Furuta pada tahun 1988
Nama asal古田 順子
Lahir(1971-01-18)18 Januari 1971[1][2]
Misato, Saitama, Jepang
Meninggal4 Januari 1989(1989-01-04) (umur 17)
Adachi, Tokyo, Jepang
Sebab meninggalPembunuhan (renjatan)[3]
Penemuan jasad29 Maret 1989
Kōtō, Tokyo, Jepang

Junko Furuta (Jepang: 古田 順子code: ja is deprecated , Hepburn: Furuta Junko, 18 Januari 1971 – 4 Januari 1989) adalah seorang siswi SMA Jepang berusia 17 tahun yang diculik, diperkosa, disiksa, dan dibunuh. Penganiayaan terhadapnya dilakukan oleh empat remaja laki-laki—Hiroshi Miyano (18), Jō Ogura (17), Shinji Minato (16), dan Yasushi Watanabe (17)—selama periode 40 hari yang dimulai pada 25 November 1988. Di Jepang, kasus ini dikenal sebagai "kasus pembunuhan siswi SMA yang dikubur dalam drum beton" (女子高生コンクリート詰め殺人事件code: ja is deprecated , joshikōsei konkurīto-zume satsujin jiken), karena jasadnya ditemukan di dalam drum yang diisi beton. Hukuman penjara yang dijatuhkan kepada para pelaku berkisar antara 7 hingga 20 tahun. Kejahatan yang kejam ini mengejutkan Jepang, dikatakan sebagai kasus kejahatan remaja terburuk dalam sejarah pascaperang negara tersebut.[4]

Latar belakang

Furuta lahir pada 18 Januari 1971 dan dibesarkan di Misato, Prefektur Saitama, tempat ia tinggal bersama kedua orang tuanya, seorang kakak laki-laki, dan seorang adik laki-laki.[5] Pada saat ia dibunuh, Furuta berusia 17 tahun dan duduk pada tahun terakhir di SMA Yashio-Minami. Ia bekerja paruh waktu di sebuah pabrik percetakan plastik sejak Oktober 1988 untuk menabung demi perjalanan kelulusan yang telah lama ia rencanakan.[1] Selain itu, Furuta telah menerima tawaran kerja di sebuah toko elektronik tempat ia berencana bekerja setelah lulus sekolah. Furuta dikenal sebagai siswi yang ceria, berprestasi tinggi, dan jarang absen; ia disukai oleh teman-teman sekelas maupun para gurunya. Menurut kesaksian teman-temannya, Furuta bercita-cita menjadi seorang penyanyi idola.[2]

Pelaku pembunuhannya adalah empat remaja laki-laki: Hiroshi Miyano (宮野裕史code: ja is deprecated , Miyano Hiroshi, 18 tahun), Jō Ogura (小倉譲code: ja is deprecated , Ogura Jō, 17), Shinji[a] Minato (湊伸治code: ja is deprecated , Minato Shinji, 16), dan Yasushi Watanabe (渡邊恭史code: ja is deprecated , Watanabe Yasushi, 17), yang masing-masing dalam dokumen pengadilan disebut sebagai “A”, “B”, “C”, dan “D”. Dua remaja lain, Tetsuo Nakamura dan Koichi Ihara (keduanya berusia 16 tahun), disebut sebagai “E” dan “F”.[6][7]

Keempat pelaku utama telah putus sekolah pada musim panas 1988 dan mulai terlibat dalam dunia kejahatan terorganisasi sebagai chinpira, anggota rendahan yakuza. Mereka sering menggunakan rumah keluarga Minato di Adachi, Tokyo sebagai tempat berkumpul. Sejak Oktober, kelompok tersebut melakukan berbagai tindak kriminal, termasuk pencurian (menjambret tas dan mencuri mobil), penganiayaan, dan pemerkosaan.

Pada 8 November, kelompok ini menculik seorang perempuan berusia 19 tahun di Adachi dan memperkosanya secara bergiliran di sebuah hotel. Kemudian, pada 27 Desember, saat Furuta masih disekap, mereka kembali menculik perempuan lain berusia 19 tahun di kawasan yang sama dan memperkosanya di sebuah motel.[6][8][9]

Penculikan dan penyiksaan

Pada malam hari 25 November 1988, Miyano dan Minato berkeliling di kawasan Misato dengan sepeda motor, berniat merampok dan memperkosa perempuan yang mereka temui. Mereka melihat Furuta dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktunya. Atas perintah Miyano, Minato menendang Furuta hingga terjatuh dari sepedanya dan segera melarikan diri. Miyano kemudian berpura-pura sebagai saksi kebetulan, mendekati Furuta, dan menawarkan diri untuk menemaninya pulang. Setelah berhasil memperoleh kepercayaannya, Miyano menuntunnya ke sebuah gudang terdekat dan mengancamnya, mengaku sebagai anggota yakuza dan mengatakan bahwa ia hanya akan membiarkannya hidup jika Furuta mematuhi semua perintahnya.[6][8]

Malam itu juga, Miyano membawa Furuta dengan taksi menuju sebuah hotel di distrik Adachi, di mana ia memperkosanya. Ia kemudian menelepon rumah Minato dan dengan sombong menceritakan perbuatannya kepada Ogura. Ogura menasihatinya agar tidak membiarkan Furuta pergi. Pada dini hari 26 November, Miyano membawa Furuta ke sebuah taman dekat hotel, di mana Ogura, Minato, dan Watanabe telah menunggu. Mereka menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa mereka tahu tempat tinggalnya, dan bahwa yakuza akan membunuh keluarganya bila ia berusaha melarikan diri. Minato kemudian menyetujui agar Furuta dikurung di kamar lantai dua rumahnya di Adachi untuk diperkosa secara bergiliran. Furuta ditahan selama total 40 hari.[6][8]

Pada 27 November, orang tua Furuta melaporkan kehilangan putrinya kepada polisi. Untuk mencegah penyelidikan lebih lanjut, para penculik memaksa Furuta menelepon ibunya sebanyak tiga kali, mengatakan bahwa ia telah kabur dari rumah tetapi berada dalam keadaan aman dan tinggal bersama teman-temannya. Saat orang tua Minato berada di rumah tempat Furuta dikurung, ia dipaksa berperan sebagai pacar Minato.[10] Kepura-puraan ini segera dihentikan setelah jelas bahwa orang tua Minato tidak berniat melapor ke polisi. Mereka kemudian mengaku tidak berani campur tangan karena takut pada putra mereka yang semakin sering bertindak kasar.[11]

Pada malam 28 November, Miyano dan yang lain, bersama dua remaja lain, Nakamura dan Ihara, memperkosa Furuta secara bergiliran. Setelah itu, Miyano mencukur rambut kemaluan Furuta dengan pisau cukur dan membakar area vitalnya dengan korek api. Pada awal Desember, sebagai hukuman karena mencoba melarikan diri, mereka memukuli wajah Furuta berkali-kali, dan Miyano membakar pergelangan kakinya dengan pemantik. Mereka memaksa Furuta menari telanjang mengikuti musik, melakukan masturbasi di depan mereka, berdiri di balkon tengah malam hanya dengan pakaian tipis, serta memasukkan berbagai benda ke dalam vagina dan anusnya, termasuk batang logam dan botol. Ia juga dipaksa meminum alkohol, susu, dan air dalam jumlah besar, merokok dua batang rokok sekaligus, serta menghirup uap pengencer cat. Dalam satu insiden pada pertengahan bulan, Furuta dipukuli dengan dalih bahwa Miyano menginjak genangan air seninya. Miyano kemudian menyiramkan cairan pemantik ke paha dan tangan Furuta sebelum membakarnya berulang kali. Sejak saat itu, tak sanggup lagi menahan penyiksaan, Furuta kerap memohon agar dirinya dibunuh saja.[6][8]

Sepanjang bulan Desember, kekejaman terhadap Furuta terus meningkat. Menjelang akhir bulan, ia mengalami kekurangan gizi parah karena hanya diberi sedikit makanan, dan pada akhirnya hanya susu. Luka-lukanya membuat ia tak mampu lagi berjalan ke toilet di lantai bawah, dan ia dibiarkan terbaring di lantai dalam kondisi lemah tak berdaya. Wajahnya bengkak hingga sulit dikenali akibat pukulan, dan luka-lukanya mulai mengeluarkan bau busuk.[6][8]

Pembunuhan dan penyelidikan

Pada 4 Januari 1989, setelah kalah dalam permainan mahjong pada malam sebelumnya, Miyano melampiaskan kemarahannya kepada Furuta. Ia menyalakan sebatang lilin dan meneteskan lelehan lilin panas ke wajah Furuta, menaruh dua potongan lilin di kelopak matanya, serta memaksanya meminum air seninya sendiri. Furuta kemudian diangkat dan ditendang hingga tubuhnya menghantam perangkat stereo, menyebabkan ia kejang-kejang hebat. Agar tangan mereka tidak berlumuran darah, para pelaku menutupi tangan dengan kantong plastik, lalu memukul Furuta menggunakan tinju dan bola besi pemberat olahraga, bahkan menjatuhkan bola tersebut ke perutnya beberapa kali. Miyano lalu menyiram tubuh Furuta dengan cairan pemantik dan membakarnya. Furuta sempat berusaha memadamkan api dengan gerakan lemah, tetapi akhirnya berhenti bergerak. Serangan itu berlangsung sekitar dua jam, dan Furuta dinyatakan meninggal pada pukul 10 pagi.[6][8]

Kurang dari 24 jam setelah kematiannya, kakak laki-laki Minato menghubunginya dan mengatakan bahwa Furuta tampak tidak bernyawa. Ketakutan bahwa kejahatan mereka akan terungkap, kelompok itu membungkus tubuh Furuta dengan selimut, memasukkannya ke dalam tas perjalanan besar, lalu menempatkannya di dalam drum logam dan mengisinya dengan semen basah. Sekitar pukul 8 malam tanggal 5 Januari, mereka mengangkut drum tersebut ke sebidang tanah kosong di dekat area konstruksi di pulau Wakasu, Kōtō, Tokyo, dan menelantarkannya di sana.[6][8]

Pada awal tahun 1989, Miyano dan Ogura ditangkap atas kasus penculikan dan pemerkosaan beramai-ramai terhadap seorang perempuan berusia 19 tahun pada Desember 1988. Ketika diinterogasi, Miyano keliru mengira bahwa Ogura telah mengakui pembunuhan Furuta dan bahwa polisi sudah mengetahui peristiwa tersebut. Karena itu, ia secara spontan memberi tahu lokasi tempat mereka menyembunyikan jasad Furuta. Polisi semula kebingungan mendengar pengakuan itu karena mereka tengah menyelidiki kasus pemerkosaan lain yang tidak terkait. Drum berisi jasad Furuta ditemukan pada 29 Maret, dan identitasnya dikonfirmasi melalui sidik jari. Minato, Watanabe, kakak Minato, Nakamura, dan Ihara turut ditangkap setelahnya.[6][8]

Tersangka

[[Adachi, Tokyo]], Jepang (Pembunuhan)"},"date":{"wt":"25 November 1988 – 4 Januari 1989"},"native_name":{"wt":"女子高生コンクリート詰め殺人事件"},"native_name_lang":{"wt":"ja"},"time":{"wt":""},"timezone":{"wt":""},"type":{"wt":"Pembunuhan, Pemerkosaan, Penyiksaan"},"weapons":{"wt":""},"motive":{"wt":"Penolakan asmara cinta, oleh Furuta kepada Miyano"},"victim":{"wt":"Junko Furuta"},"perps":{"wt":"* Hiroshi Miyano (berganti nama Hiroshi Yokoyama)\n* Jō Ogura (berganti nama Jō Kamisaku)\n* Shinji Minato\n* Yasushi Watanabe"},"verdict":{"wt":""},"convictions":{"wt":"* [[Penculikan]]\n* [[Penyiksaan]]\n* [[Pemerkosaan]]\n* Penelantaran\n* [[Pembunuhan]]\n{{Infobox event\n| title = \n| child = yes\n| sentence = '''Miyano:'''<br>20 tahun penjara (20 tahun penjara)<br>'''Ogura:'''<br>5–10 tahun dipenjara (10 tahun penjara)<br>'''Minato:'''<br>5–9 tahun di penjara (9 tahun penjara)<br>'''Watanabe:'''<br>5–7 tahun di penjara (7 tahun penjara)\n| blank_label = Kompensasi \n| blank_data = Orang tua Miyano membayar [[Yen|¥]]50 juta (sekitar [[US$]]350,000; ${{inflation|US|345000|1990|r=-4|fmt=c}} hari ini) kepada orang tua Furuta\n}}"}},"i":0}}]}' id="mwpA"/>
Pembunuhan Junko Furuta
Nama asli女子高生コンクリート詰め殺人事件
LokasiMisato, Saitama, Jepang (Penculikan)
Adachi, Tokyo, Jepang (Pembunuhan)
Tanggal25 November 1988 – 4 Januari 1989
Jenis serangan
Pembunuhan, Pemerkosaan, Penyiksaan
KorbanJunko Furuta
Pelaku
  • Hiroshi Miyano (berganti nama Hiroshi Yokoyama)
  • Jō Ogura (berganti nama Jō Kamisaku)
  • Shinji Minato
  • Yasushi Watanabe
MotifPenolakan asmara cinta, oleh Furuta kepada Miyano
Dakwaan
  • Penculikan
  • Penyiksaan
  • Pemerkosaan
  • Penelantaran
  • Pembunuhan
Pembunuhan Junko Furuta
HukumanMiyano:
20 tahun penjara (20 tahun penjara)
Ogura:
5–10 tahun dipenjara (10 tahun penjara)
Minato:
5–9 tahun di penjara (9 tahun penjara)
Watanabe:
5–7 tahun di penjara (7 tahun penjara)
KompensasiOrang tua Miyano membayar ¥50 juta (sekitar US$350,000; $660.000 hari ini) kepada orang tua Furuta

Pelaku kejahatan adalah empat remaja laki-laki: Miyano Hiroshi (宮野裕史, 18 tahun), Jō Kamisaku (小倉譲, 17 tahun), Minato Nobuharu (湊伸治, 16 tahun) , dan Watanabe Yasushi (渡邊恭史, 17 tahun).

Keempat remaja tersebut semuanya putus sekolah pada musim panas 1988, dan terlibat dalam kejahatan terorganisir sebagai chinpira (Yakuza berpangkat rendah). Mereka mulai menggunakan rumah keluarga Minato di Adachi, Tokyo, sebagai tempat nongkrong. Mulai bulan Oktober, mereka terlibat dalam berbagai kejahatan termasuk pencurian (perampasan dompet dan pencurian mobil), penyerangan, dan pemerkosaan. Pada tanggal 8 November, remaja tersebut menculik seorang wanita berusia 19 tahun di Adachi dan memperkosanya secara beramai-ramai di sebuah hotel di sana. Pada tanggal 27 Desember, selama Furuta dikurung, kelompok tersebut menculik seorang wanita berusia 19 tahun lainnya di Adachi dan memperkosanya secara beramai-ramai di sebuah motel.

Identitas para tersangka disegel oleh pengadilan, karena mereka semua adalah remaja di bawah usia 20 tahun. Jurnalis dari tabloid Shūkan Bunshun mengungkap identitas mereka dan mempublikasikannya, dengan alasan bahwa terdakwa tidak pantas untuk ditegakkan hak anonimitasnya, mengingat beratnya kejahatan tersebut. Pada bulan Juli 1990, semuanya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Distrik Tokyo atas penculikan dengan tujuan penyerangan seksual, pengurungan, pemerkosaan, penyerangan, pembunuhan, dan penelantaran mayat. Keempatnya mengajukan banding; pada bulan Juli 1991, tiga orang dijatuhi hukuman lebih lama oleh Pengadilan Tinggi Tokyo.

  • Hiroshi Miyano awalnya dijatuhi hukuman 17 tahun penjara, dan kembali dijatuhi hukuman 20 tahun, hukuman terlama yang biasanya diberikan di Jepang selain penjara seumur hidup. Orang tua Miyano menjual rumah keluarga mereka dan membayar orang tua Furuta sebesar ¥50 juta Yuan sebagai kompensasi, yang mana pembelaan putra mereka disajikan sebagai keadaan yang meringankan. Evaluasi psikologis yang diperintahkan pengadilan di persidangan menetapkan bahwa Miyano memiliki ketidakmampuan belajar yang "tidak mengganggu fungsi otaknya, tetapi menunda perkembangan emosinya". Setelah dibebaskan pada tahun 2009, ia mengubah nama belakangnya menjadi "Yokoyama". Dia dilaporkan membual tentang koneksi yakuza dan keterlibatannya dalam skema piramida. Pada tahun 2013, Miyano ditangkap karena dicurigai melakukan penipuan bank dan melakukan panggilan telepon palsu, tetapi tetap bungkam dan tidak dikenakan tuntutan.
  • Jō Ogura dijatuhi hukuman lima hingga sepuluh tahun penjara. Dia dibebaskan pada tahun 1999, dan mengubah nama belakangnya menjadi "Kamisaku". Dia bekerja di bidang TI setelah dibebaskan, tetapi beralih ke kejahatan terorganisir setelah masa lalunya diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Pada tahun 2004, Ogura ditangkap karena menyerang Takatoshi Isono, seorang kenalan yang menurutnya terlibat dengan pacarnya. Ogura mendorong Isono ke bagasi mobilnya dan mengantarnya ke bar ibunya di Misato, di mana dia menyerangnya selama empat jam. Ogura dijatuhi hukuman empat tahun penjara atas kejahatan tersebut, dan dibebaskan pada tahun 2009.
  • Shinji Minato awalnya dijatuhi hukuman lima hingga enam tahun penjara, dan kembali dijatuhi hukuman lima hingga sembilan tahun. Orang tua dan saudara laki-lakinya tidak dituntut. Setelah dibebaskan pada tahun 1998, Minato tinggal bersama ibunya. Pada tahun 2018, Minato (saat itu menganggur) ditangkap karena dicurigai melakukan percobaan pembunuhan setelah memukul bahu seorang pria berusia 32 tahun dengan tongkat logam dan menyayat lehernya dengan pisau di jalan di Kawaguchi, Saitama, selama perselisihan mengenai tempat parkir kendaraan. Pada tahun 2019, Minato divonis satu tahun enam bulan penjara, ditangguhkan dengan masa percobaan selama tiga tahun.
  • Yasushi Watanabe awalnya dijatuhi hukuman tiga hingga empat tahun penjara, dan kembali dijatuhi hukuman lima hingga tujuh tahun. Ia selanjutnya mengajukan banding atas putusan tersebut ke Mahkamah Agung Jepang, tetapi bandingnya ditolak pada bulan Juli 1992. Ia dibebaskan pada tahun 1996, dan meninggalkan kampung halamannya untuk tinggal bersama ibunya.

Pemakaman

Pemakaman Furuta diadakan pada tanggal 2 April 1989. Dalam upacara tersebut, salah satu temannya menyampaikan pidato yang ditulis oleh teman sekelas SMA-nya yang berbunyi;

Jun-chan, selamat datang kembali. Aku tidak pernah bermimpi kita akan bertemu lagi seperti ini. Anda menjadi sasaran kekejaman seperti itu, bukan? Anda telah melalui banyak hal, bukan? Saya kesal pada diri saya sendiri karena saya terus hidup, tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Kamu selalu lembut dan ceria, Jun-chan. Happi yang kami buat untuk festival budaya tampak indah bagi Anda. Saya tidak akan pernah melupakan itu. Kami sama sekali tidak akan membiarkan kematian Jun-chan sia-sia. Saat kita melangkah ke masa dewasa, kita akan berjuang untuk mewujudkan dunia dimana kejahatan keji seperti itu tidak ada lagi. Kami akan melakukan yang terbaik, menjaga Jun-chan di hati kami dan terus maju. Kepala sekolah bahkan membawa ijazahmu. Berkat ini, kami semua yang berjumlah 47 orang di Kelas 3-8 dapat lulus. Jun-chan... tidak ada lagi rasa sakit atau penderitaan sekarang. Beristirahatlah dengan tenang. Selamat tinggal, Jun-chan.

Calon majikan Furuta di masa depan memberi orang tuanya seragam yang akan dia kenakan di posisinya, dan seragam itu ditempatkan di peti matinya. Saat wisuda, kepala sekolah menyerahkan ijazahnya kepada orang tuanya. Lokasi di Wakasu tempat ditemukannya jenazahnya kini menjadi kawasan industri.[12]

Dampak

Kasus tersebut meraih perhatian seluruh negara terhadap pendakwaan dan rehabilitasi terhadap para terdakwa muda, khususnya dalam konteks kaum muda yang berubah menjadi dewasa, dan menjadi dikenal di media.

Sekitar tiga buku berbahasa Jepang telah menulis tentang insiden tersebut.[13]

Dalam budaya populer

Sebuah film eksploitasi, Joshikōsei konkurīto-zume satsujin-jiken (女子高生コンクリート詰め殺人事件code: ja is deprecated , Kasus Pembunuhan Gadis SMA Terbungkus Semen), yang berkisah tentang insiden tersebut dibuat oleh Katsuya Matsumura pada 1995. Yujin Kitagawa (kemudian anggota dari duo musik Yuzu) memainkan peran pelaku utamanya.[14][15]

Film lainnya, Concrete (コンクリートcode: ja is deprecated , alias Schoolgirl in Cement, 2004), berdasarkan pada salah satu buku tentang insiden tersebut.

Seiji Fujii menulis sebuah novel tentang kasus tersebut, 17-sai, yang diturunkan menjadi sebuah manga karya Youji Kamata. Berseberangan dengan apa yang benar-benar terjadi, novel tersebut menampilkan akhir bahagia bagi gadis tersebut, yang selamat dan para penculiknya dihukum penjara selama beberapa tahun. Waita Uziga (pengarang Mai-chan's Daily Life) juga membuat sebuah manga kontroversial, Shin Gendai Ryoukiden, tentang kasus tersebut, dengan konten yang lebih sadis dan mentah.

Dalam Industri Musik, Nama Junko Furuta diabadikan kedalam sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Danilla Riyadi.[16] Dan Mr. Kitty membuat lagu berjudul "44 Days" yang terinspirasi dari kasus tersebut.

Lihat pula

  • flagPortal Jepang
  • Portal Biografi
  • Kasus pembunuhan Hello Kitty
  • Pembunuhan Abby Choi
  • Pembunuhan Eno Farihah
  • Pembunuhan Engeline

Catatan

  1. ↑ Beberapa sumber menuliskan nama depannya sebagai "Nobuharu", pembacaan alternatif dari kanji 伸治.

Referensi

  1. 1 2 古田順子の両親の現在や生い立ち!女子高生コンクリート事件の被害者まとめ [Junko Furuta's parents' current status and upbringing! Summary of victims of high school girl concrete incident]. MATOMEDIA [Matomedia]|Entertainment/gossip/incident summary (dalam bahasa Jepang). 4 January 2020. Diakses tanggal 16 April 2021.
  2. 1 2 古田順子の生い立ちや両親の現在~飯島愛コンクリート事件関与のデマも総まとめ [Kehidupan awal Junko Furuta dan kondisi terkini orang tuanya — ringkasan hoaks yang mengaitkan kasus tersebut dengan Ai Iijima]. NewSee (dalam bahasa Jepang). 10 Desember 2019. Diakses tanggal 1 Januari 2020.
  3. ↑ Weekly Asahi Geinō 1989-04-20, page 174
  4. ↑ 古田順子の生い立ちや両親の現在~飯島愛コンクリート事件関与のデマも総まとめ [Junko Furuta's upbringing and the present of her parents-A summary of the hoaxes involved in the Ai Iijima Concrete Incident]. NewSee (dalam bahasa Jepang). 10 December 2019. Diakses tanggal 1 January 2020.
  5. ↑ douga bubble (26 Desember 2017). 女子高生コンクリ殺人 当時の報道6 [“Pembunuhan murid SMA yang dikubur dalam beton” – laporan pada masa itu (bagian 6)] (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari asli tanggal 9 Desember 2019. Diakses tanggal 11 April 2019.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 東京地方裁判所 平成元年(合わ)72号 判決 - 大判例 [Putusan Pengadilan Distrik Tokyo No. 72 Tahun 1989 - Preseden Besar]. daihanrei.minorusan.net (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 25 April 2024.
  7. ↑ 孤独死、再犯、結婚…遠い償い「女子高生コンクリート詰め殺人」加害者の“その後”から考える社会への問い [Kematian sepi, pelanggaran ulang, pernikahan... penebusan yang jauh: refleksi sosial dari “pembunuhan siswi SMA dalam beton”]. TBS NEWS DIG (dalam bahasa Jepang). 6 Januari 2025. Diakses tanggal 11 Februari 2025.
  8. 1 2 3 4 5 6 7 8 裁判例結果詳細 [Teks lengkap putusan Pengadilan Tinggi Tokyo dalam kasus Junko Furuta] (dalam bahasa Jepang). Tokyo High Court. 12 Juli 1991.
  9. ↑ Tanihara, Keisuke; Kojima, Satoru; Nakajima, Yutaka; Mizuno, Takeya (1 Juli 2005). 「元少年」殺人犯の再犯と実名報道 : 女子高生コンクリート詰め殺害事件の準主犯格少年をめぐるマス・メディアの報道(前編) [Pelaku pembunuhan yang dulunya remaja dan pelaporan nama asli: liputan media atas kasus pembunuhan siswi SMA dalam beton dan kasus penganiayaan tahun 2004 (Bagian 1)]. Information and Communication Studies (dalam bahasa Jepang). 33. Universitas Bunkyo: Fakultas Informasi dan Komunikasi: 331–344.
  10. ↑ Hawkins, Kristal (21 Februari 2013). "Japanese Horror Story: The Torture of Junko Furuta". Crime Library. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Februari 2013. Diakses tanggal 7 Agustus 2015.
  11. ↑ Wijers-Hasegawa, Yumi (29 Juli 2004). "Man who killed as child back in court". The Japan Times.
  12. ↑ "JKコンクリート詰め41日間もまわされ続けた畜生事イ牛の全て。犯人達の現在がヤバすぎ・・・ ※実写化 動画あり※" [All of the animal cows that have been passed around for 41 days packed in JK concrete. The current state of the culprits is too dangerous...]. Samsara Bulletin (dalam bahasa Jepang). 19 October 2017. Diakses tanggal 20 November 2019.
  13. ↑ 渥美饒兒『十七歳、悪の履歴書-女子高生コンクリート詰め殺人事件』作品社、2003年。ISBN 4878935723.
    門野晴子『女子高生コンクリート詰め殺人事件―彼女のくやしさがわかりますか?』おんな通信社編、社会評論社、1990年。
    佐瀬稔『うちの子が、なぜ!―女子高生コンクリート詰め殺人事件』草思社、1990年。 ISBN 479420390X.
  14. ↑ Joshikôsei konkuriito-dume satsujin-jiken di IMDb (dalam bahasa Inggris)
  15. ↑ "Filme mit Beteiligung von Yujin Kitagawa" (dalam bahasa German). Diarsipkan dari asli tanggal 2009-06-11. Diakses tanggal 2008-03-09. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  16. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-01-03. Diakses tanggal 2019-01-03.
  • "Torture and Murder in Tokyo". The Japan Times Weekly Overseas Edition. 1989-08-19.

Pranala luar

  • Dokumen pengadilan( Diarsipkan 2012-04-25 di Wayback Machine.) (Jepang)
  • Joshikôsei konkuriito-dume satsujin-jiken di IMDb (dalam bahasa Inggris)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Penculikan dan penyiksaan
  3. Pembunuhan dan penyelidikan
  4. Tersangka
  5. Pemakaman
  6. Dampak
  7. Dalam budaya populer
  8. Lihat pula
  9. Catatan
  10. Referensi
  11. Pranala luar

Artikel Terkait

Pemerkosaan

jenis penyerangan secara seksual biasanya melibatkan hubungan seksual tanpa persetujuan

Ianfu

pelacur paksa untuk Tentara Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II

Pendudukan Jepang di Hindia Belanda

Pendudukan Jepang di Hindia Belanda selama Perang Dunia II, 1942-1945

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026