Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Baru baca riwayat halaman, ada ini, kira-kira cocok dimasukkan ke Wikipedia:Mati ketawa cara Wikipedia atau tidak ya? Hehehe.... ▪ ꧋ꦩꦣꦪ. Fazoffic ( ʖ╎ᓵᔑ∷ᔑ) 8 Desember 2022 08.31 (UTC)
Halo team, saya mau buat artikel baru mengenai https://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Jodysetiawan23
apakah sudah sesuai standar dan apakah bisa di bantu untuk whitelist link website tsb ? saya tidak bisa memasukan link tujuan karena di blacklist oleh pihak wikipedia Jodysetiawan23 (bicara) 4 April 2023 08.16 (UTC)
Hanya desa ini yang belum mempunyai artikelnya sendiri di Karangtengah, Cianjur. Apa aja22 (bicara) 25 Desember 2023 15.49 (UTC)
TPQ AL ULFAH merupakan tempat pendidikan ilmu keagamaan Islam di dukuh Tegalan, Juwiran, Juwiring, Klaten Dani Safa Adi Nugraha (bicara) 3 Februari 2025 16.00 (UTC)
Mohon maaf, mengapa Identitas warga kami dihapus, Tolong kembalikan segera Dani Safa Adi Nugraha (bicara) 4 Februari 2025 09.05 (UTC)
Halo bung @Ariandi Lie tolong ubah halaman Bak Pasir menjadi halaman yang ada tombolnya itu, agar orang orang bisa membuat halaman yang akan di publish di halaman pengguna sendiri, kalau gini agak susah orang mau bikinnya soalnya gantian. Mmkterasi (bicara) 12 Maret 2025 16.12 (UTC)
| Yoyo Dasriyo | |
|---|---|
Dikarenakan tingginya tingkat penyalahgunaan, parameter gambar dihilangkan dari penampilan | |
| Lahir | Yodo Dasrio Garut, Jawa Barat, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pekerjaan | Penulis skenario, sutradara, wartawan |
| Karya terkenal |
|
Yoyo Dasriyo (lahir dengan nama Yodo Dasrio) adalah seorang penulis skenario, sutradara, dan wartawan asal Garut, Jawa Barat, Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu kreator cerita drama keluarga dan religi yang populer di televisi Indonesia pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Karyanya banyak dikenal karena kedekatannya dengan nilai-nilai kemanusiaan, kesederhanaan, dan realitas masyarakat kelas bawah.
Yoyo Dasriyo memulai kariernya sebagai jurnalis dan penulis fiksi di berbagai media lokal dan nasional. Ia kemudian dikenal luas setelah menjadi salah satu penulis skenario utama untuk serial televisi legendaris seperti Keluarga Cemara, yang tayang di RCTI dan dikenal sebagai salah satu drama keluarga paling ikonik di Indonesia.
Selain Keluarga Cemara, Yoyo juga berkontribusi dalam penulisan naskah untuk berbagai sinetron dan cerita televisi lainnya seperti Lupus Si Boy Anak Jalanan, serta menjadi bagian dari pengembangan awal serial Tukang Bubur Naik Haji.
Sebagai penulis, gaya khas Yoyo Dasriyo adalah menempatkan moralitas, relasi keluarga, dan dilema sosial sebagai inti dari cerita. Dialog-dialog karyanya dikenal liris, reflektif, dan menyentuh sisi kemanusiaan penonton. Ia juga dikenal sebagai mentor bagi banyak penulis muda yang bekerja di industri televisi swasta.
Yoyo Dasriyo membawa pendekatan yang humanis dalam menulis skenario, dengan sentuhan sastra dan nilai-nilai religius yang kuat namun tidak menggurui. Ia sering mengangkat latar kehidupan rakyat biasa—pedagang kecil, guru, petani, dan masyarakat kampung—dengan nada puitis dan penuh empati.
Karyanya dianggap memberi arah baru dalam industri sinetron Indonesia, yang pada masa itu banyak didominasi oleh cerita percintaan remaja dan kekerasan verbal.
Yoyo Dasriyo dikenang sebagai salah satu pelopor naskah drama keluarga Indonesia yang jujur, dalam, dan membumi. Ia banyak dihormati di kalangan jurnalis dan penulis skenario karena konsistensinya menjaga kualitas narasi dan integritas nilai dalam dunia hiburan.
Pada tahun 2025, kisah hidup dan pemikiran kreatifnya diangkat dalam buku biografi berjudul Bung Yodas: Jurnalis, Seniman, Leluhur Kata dari Garut karya Janur M. Bagus.
Oleh: Janur M. Bagus Dalam perjalanan saya sebagai jurnalis, saya telah berjumpa dengan banyak pemimpin—datang dan pergi, sebagian menyisakan jejak formalitas, sebagian lagi meninggalkan makna yang mendalam. Di antara mereka, ada satu nama yang tak pernah hilang dari ingatan: AKBP Wirdhanto Hadicaksono. Pertemuan pertama kami terjadi di masa yang tidak biasa—di tengah pandemi COVID-19, ketika beliau menjabat sebagai Kapolres Garut. Saat krisis menghebat, ketika ketakutan menjadi udara harian, dan kepercayaan publik goyah di berbagai penjuru, beliau hadir sebagai sosok yang tenang, teguh, dan penuh empati. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau memimpin dengan keseimbangan yang langka: tegas namun tidak menakutkan, disiplin namun tetap manusiawi. Beliau bukan hanya memerintahkan barisan, tetapi juga menyentuh hati warga. Ia tak sekadar menegakkan protokol, tapi juga menyambangi pedagang kecil, membantu masyarakat yang terdampak, dan terlibat langsung dalam gerakan solidaritas yang membesarkan hati. Dalam situasi serba darurat itu, salah satu capaian besar yang patut dikenang adalah pengungkapan sindikat uang palsu senilai Rp 2,7 miliar—kasus besar yang berhasil dibongkar saat sebagian besar perhatian publik tersedot pada wabah dan krisis ekonomi. Di tengah kecamuk, beliau menunjukkan bahwa ketajaman strategi dan keberanian bertindak tak boleh surut, justru harus menjadi jangkar bagi rasa aman masyarakat. Dan kini, bertahun kemudian, saya kembali bertemu beliau. Kali ini bukan di tengah liputan darurat, melainkan di ruang kerjanya sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jawa Barat, amanah baru yang belum lama ia emban. Namun, yang paling mengesankan bukanlah ruang atau jabatan itu sendiri—melainkan kerendahan hati yang masih utuh, dan ketulusan yang tetap menyala. Tak ada jarak. Tak ada formalitas yang membekukan. Yang hadir adalah percakapan hangat, reflektif, dan penuh kesadaran akan pentingnya kolaborasi lintas peran. Saya merasa seperti kembali berbicara dengan sahabat lama—yang meski kini mengemban tanggung jawab lebih besar, tetap konsisten menjaga integritas dan idealisme yang sama. Pertemuan ini menguatkan keyakinan saya bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi atau pangkat. Ia adalah tentang cara hadir, tentang kepekaan, tentang keberanian memilih yang benar ketika keadaan tidak mudah. Dan itu semua saya temukan dalam sosok Pak Wirdhanto. Sebagai jurnalis, saya percaya bahwa hubungan antara media dan aparat bukan sekadar formalitas, melainkan ruang kepercayaan yang saling menguatkan. Di tengah derasnya disinformasi, relasi semacam ini adalah harapan—bahwa publik dapat tetap berpikir jernih, bahwa negara tetap bisa dipercaya, bahwa cerita-cerita baik tetap layak ditulis dan disebarluaskan. Terima kasih, Pak Wirdhanto.
Anda bukan hanya pemimpin yang menjalankan tugas, Anda adalah teladan yang menghidupkan makna kepemimpinan sejati. Semoga amanah baru ini menjadi jalan baru dalam pengabdian yang makin terang dan berarti. Janur M Bagus (bicara) 6 Agustus 2025 14.58 (UTC)